love romance

love romance
eps. 13



.


.


.


Pukul empat, dengan jantung berdentam-dentam, Levin turun dari


kereta sewaan di depan Taman Zoologi, dan dengan melewat sepotong


jalan kecil ia pun menuju ke perbukitan dan lapangan skats; ia barangkali


sudah tabu bakal bertemu dengan Kitty di sana, karena dilihatnya kereta


keluarga Shcherbatskii ada di pintu-masuk.


Hari terang bersalju. Di depan pintu-masuk berderet-deret kereta,


kereta salju, gerobak sewa, dan polisi militer. Kaum bangsawan, dengan


topi berkilauan karena sinar matabari yang benderang, berkerumun di


pintu-masuk dan jalan-jalan kecil yang sudah dibersihkan, di antara


gubuk-gubuk Rusia yang berhiaskan patung-patung pangeran. pohon-pohon birk tua keriting dengan ranting-rantingnya yang bergelantungan


karena dibebani salju tampak bagai berhiaskan jubah misa baru yang


megah.


Levin berjalan menyusuri jalan kecil menuju ke lapangan skats


sambil berkata pada diri sendiri: "Tidak boleh gelisah, harus tenang.


Maumu apa? Kenapa kamu? Diam kamu, bodoh," demikian katanya


dalam hati. Tapi makin keras ia mencoba menenangkan diri, makin


tercekik pemapasannya. Seorang kenalan melihat dan memanggilnya,


tapi Levin tak kenal siapa dia .. Ia menghampiri perbukitan di mana


terdengar derik-derik rantai kereta luncur yang sedang naik-turun,


gemuruh kereta luncur yang tengah berselancar, dan riuh-rendah suara


gembira. Ia berjalan beberapa langkah lagi, maka terhamparlah lapangan


skats di hadapannya, dan di antara orang-orang yang sedang bermain


skats, ia langsung mengenal dia.


Ia melibat dia ada di sini, dengan kegembiraan dan sekaligus keta-


kutan mencekam jantungnya. Gadis itu tengah berdiri bercakap-cakap


dengan seorang perempuan di ujung lapangan skats. Tak ada hal yang


mencolok pada pakaian ataupun gerak-geriknya, tapi bagi Levin begitu


mudah mengenal dia di tengah orang banyak, semudah ia menemukan


bunga mawar di tengah jelatang. Sekeliling gadis itu terlihat seolah


bercahaya karena kehadirannya. Senyumnyalah yang telah menerangi


sekitarnya. "Sanggupkah aku pergi ke sana, menyeberang lapangan es,


dan menemui dia?" demikian pikir Levin. Tempat gadis itu berdiri terasa


seperti tempat suci yang tak bisa dijangkaunya. Sesaat ia hampir-bampir


berbalik dan pergi lagi dari situ: begitu mengerikan keadaan itu baginya.


Ia harus memaksakan diri dan menimbang apakah di sekitar gadis itu


berlalu-lalang banyak orang, dan apakah ia sendiri sanggup ke sana


bermain skats. Ia pun turun, tapi lama ia tak mampu memandang gadis


itu, seolab gadis itu matahari, tapi toh ia memandangnyajuga.


Pada hari dan jam itu, di atas lapangan es itu, berkumpul anggota


suatu kelompok yang semuanya saling kenal. Di kelompok ini terdapat


jago-jago skats yang sedang memamerkan kebolebannya, ada juga yang


kaku takut-takut, dan ada juga anak-anak dan orang dewasa yang


bermain skats demi kesehatan semata; semuanya, menurut perasaan


Levin, adalab orang-orang babagia yang terpilib, karena mereka berada


di situ, di dekat Kitty. Semua yang tengah bermain agaknya benar-


benar cuek saja meluncur dan melewati Kitty, bahkan dengan enteng saja bersenda-gurau dengannya, sewaktu menikmati es dan cuaca yang


sedang bagus-bagusnya.


Nikolai Shcherbatskii, saudara sepupu Kitty yang mengenakan jas


pendek dengan pantalon sempit, sedang duduk di bangku dengan sepatu


skats sudah terpasang. Melihat Levin, ia berseru:


"Haa, pemain skats Rusia nomor satu! Sudah lama? Esnya sedang


bagus sekali, pasanglah sepatu."


"Saya tak bawa sepatu," jawab Levin, heran sendiri dengan


keberanian dan keakrabannya bicara takjauh dari Kitty, dan sekejap pun


ia tak berhenti mencuri lihat gadis itu, walaupun tidak memandangnya.


Ia merasa bahwa matahari telah memihak dirinya. Kitty ada di sudut.


Dengan wajah kosong ia tegakkan kakinya yang ramping terbungkus


sepatu tinggi itu, agaknya dengan rasa enggan, lalu meluncur ke dekat


Levin. Seorang anak laki-laki berbaju Rusia, sambil melambai-lambaikan


kedua tangannya dan membungkukkan badan, meluncur melewati dia.


Kitty meluncur tak terlalu kencang; ia keluarkan kedua tangannya dari


dalam mufta, 13 siap untuk jalan. Sambil melihat Levin yang dikenalnya


ia tersenyum, sekalipun merasa canggung. Setelah membuat gerakan


melingkar, ia mendorong badannya dengan tolakan kakinya yang lentur


dan langsung meluncur ke arah Shcherbatskii, lalu sambil berpegangan


tangan Shcherbatskii dan tersenyum ia pun mengangguk kepada Levin.


Ia lebih cantik


Ketika


daripada yang dibayangkan Levin.


memikirkan gadis itu, Levin dengan gamblang bisa membayangkan seluruh sosoknya, terutama kejelitaannya, dengan wajah


kanak-kanaknya yang cerah dan polos, dengan kepalanya yang mungil


berambut pirang, yang dengan bebas bertengger di bahu perawannya


yang anggun. Wajah kanak-kanaknya beserta keindahan tubuhnya yang


halus membentuk kejelitaan luarbiasa yang terekam dengan baik dalam


benaknya. Tapi yang secara tiba-tiba selalu memukau Levin pada diri


gadis itu adalah ekspresi matanya yang lembut, tenang dan tulus, dan


terutama senyumnya yang selalu membawa Levin ke dunia ajaib, di


mana ia merasakan dirinya terharu dan luruh, seperti kadang diingatnya


di masa kecil lulu.


"Sudah lama di sini?" tanya Kitty sambil mengulurkan tangan..


.


.


.