
.
.
.
Pukul empat, dengan jantung berdentam-dentam, Levin turun dari
kereta sewaan di depan Taman Zoologi, dan dengan melewat sepotong
jalan kecil ia pun menuju ke perbukitan dan lapangan skats; ia barangkali
sudah tabu bakal bertemu dengan Kitty di sana, karena dilihatnya kereta
keluarga Shcherbatskii ada di pintu-masuk.
Hari terang bersalju. Di depan pintu-masuk berderet-deret kereta,
kereta salju, gerobak sewa, dan polisi militer. Kaum bangsawan, dengan
topi berkilauan karena sinar matabari yang benderang, berkerumun di
pintu-masuk dan jalan-jalan kecil yang sudah dibersihkan, di antara
gubuk-gubuk Rusia yang berhiaskan patung-patung pangeran. pohon-pohon birk tua keriting dengan ranting-rantingnya yang bergelantungan
karena dibebani salju tampak bagai berhiaskan jubah misa baru yang
megah.
Levin berjalan menyusuri jalan kecil menuju ke lapangan skats
sambil berkata pada diri sendiri: "Tidak boleh gelisah, harus tenang.
Maumu apa? Kenapa kamu? Diam kamu, bodoh," demikian katanya
dalam hati. Tapi makin keras ia mencoba menenangkan diri, makin
tercekik pemapasannya. Seorang kenalan melihat dan memanggilnya,
tapi Levin tak kenal siapa dia .. Ia menghampiri perbukitan di mana
terdengar derik-derik rantai kereta luncur yang sedang naik-turun,
gemuruh kereta luncur yang tengah berselancar, dan riuh-rendah suara
gembira. Ia berjalan beberapa langkah lagi, maka terhamparlah lapangan
skats di hadapannya, dan di antara orang-orang yang sedang bermain
skats, ia langsung mengenal dia.
Ia melibat dia ada di sini, dengan kegembiraan dan sekaligus keta-
kutan mencekam jantungnya. Gadis itu tengah berdiri bercakap-cakap
dengan seorang perempuan di ujung lapangan skats. Tak ada hal yang
mencolok pada pakaian ataupun gerak-geriknya, tapi bagi Levin begitu
mudah mengenal dia di tengah orang banyak, semudah ia menemukan
bunga mawar di tengah jelatang. Sekeliling gadis itu terlihat seolah
bercahaya karena kehadirannya. Senyumnyalah yang telah menerangi
sekitarnya. "Sanggupkah aku pergi ke sana, menyeberang lapangan es,
dan menemui dia?" demikian pikir Levin. Tempat gadis itu berdiri terasa
seperti tempat suci yang tak bisa dijangkaunya. Sesaat ia hampir-bampir
berbalik dan pergi lagi dari situ: begitu mengerikan keadaan itu baginya.
Ia harus memaksakan diri dan menimbang apakah di sekitar gadis itu
berlalu-lalang banyak orang, dan apakah ia sendiri sanggup ke sana
bermain skats. Ia pun turun, tapi lama ia tak mampu memandang gadis
itu, seolab gadis itu matahari, tapi toh ia memandangnyajuga.
Pada hari dan jam itu, di atas lapangan es itu, berkumpul anggota
suatu kelompok yang semuanya saling kenal. Di kelompok ini terdapat
jago-jago skats yang sedang memamerkan kebolebannya, ada juga yang
kaku takut-takut, dan ada juga anak-anak dan orang dewasa yang
bermain skats demi kesehatan semata; semuanya, menurut perasaan
Levin, adalab orang-orang babagia yang terpilib, karena mereka berada
di situ, di dekat Kitty. Semua yang tengah bermain agaknya benar-
benar cuek saja meluncur dan melewati Kitty, bahkan dengan enteng saja bersenda-gurau dengannya, sewaktu menikmati es dan cuaca yang
sedang bagus-bagusnya.
Nikolai Shcherbatskii, saudara sepupu Kitty yang mengenakan jas
pendek dengan pantalon sempit, sedang duduk di bangku dengan sepatu
skats sudah terpasang. Melihat Levin, ia berseru:
"Haa, pemain skats Rusia nomor satu! Sudah lama? Esnya sedang
bagus sekali, pasanglah sepatu."
"Saya tak bawa sepatu," jawab Levin, heran sendiri dengan
keberanian dan keakrabannya bicara takjauh dari Kitty, dan sekejap pun
ia tak berhenti mencuri lihat gadis itu, walaupun tidak memandangnya.
Ia merasa bahwa matahari telah memihak dirinya. Kitty ada di sudut.
Dengan wajah kosong ia tegakkan kakinya yang ramping terbungkus
sepatu tinggi itu, agaknya dengan rasa enggan, lalu meluncur ke dekat
Levin. Seorang anak laki-laki berbaju Rusia, sambil melambai-lambaikan
kedua tangannya dan membungkukkan badan, meluncur melewati dia.
Kitty meluncur tak terlalu kencang; ia keluarkan kedua tangannya dari
dalam mufta, 13 siap untuk jalan. Sambil melihat Levin yang dikenalnya
ia tersenyum, sekalipun merasa canggung. Setelah membuat gerakan
melingkar, ia mendorong badannya dengan tolakan kakinya yang lentur
dan langsung meluncur ke arah Shcherbatskii, lalu sambil berpegangan
tangan Shcherbatskii dan tersenyum ia pun mengangguk kepada Levin.
Ia lebih cantik
Ketika
daripada yang dibayangkan Levin.
memikirkan gadis itu, Levin dengan gamblang bisa membayangkan seluruh sosoknya, terutama kejelitaannya, dengan wajah
kanak-kanaknya yang cerah dan polos, dengan kepalanya yang mungil
berambut pirang, yang dengan bebas bertengger di bahu perawannya
yang anggun. Wajah kanak-kanaknya beserta keindahan tubuhnya yang
halus membentuk kejelitaan luarbiasa yang terekam dengan baik dalam
benaknya. Tapi yang secara tiba-tiba selalu memukau Levin pada diri
gadis itu adalah ekspresi matanya yang lembut, tenang dan tulus, dan
terutama senyumnya yang selalu membawa Levin ke dunia ajaib, di
mana ia merasakan dirinya terharu dan luruh, seperti kadang diingatnya
di masa kecil lulu.
"Sudah lama di sini?" tanya Kitty sambil mengulurkan tangan..
.
.
.