love romance

love romance
eps. 12



"Memang selalu begitu!" sela Sergei Ivanovich. "Kita orang Rusia


memang selalu begitu. Barangkali juga itu ciri baik kita-kemampuan melihat kekurangan sendiri; tapi kita terlalu melebih-lebihkan ha!


itu, dan kita menghibur diri dengan ironi yang selalu siap di ujung


lidah. Saya hanya bisa mengatakan bahwa kalau badan seperti halnya


zemstvo itu diberikan kepada orang Eropa lainnya-orang Jerman atau


orang Inggris, misalnya, dari situ mereka akan beroleh kemerdekaan,


sedangkan kita, ya begitulah, cuma ketawa-tawa."


"Tapi apa yang mesti kita lakukan?" kata Levin dengan nada


bersalah. "Ini pengalaman saya yang terakhir. Dan saya sudah berusaha


dengan sepenuh hati. Tidak mampu. Tidak sanggup."


"Tidak mampu," kata Sergei Ivanovich. "Kamu tidak memandang


persoalan itu seperti seharusnya."


"Barangkali," jawab Levin murung.


"Kamu tahu tidak, abang kita Nikolai ada di sini lagi?"


Abang Nikolai adalah kakak sedarah Konstantin Levin dan


kakak sekandung Sergei Ivanovich. Ia orang yang sudah rusak, yang


menghambur-hamburkan sebagian besar kekayaannya, bergaul dengan


kalangan yang paling aneh dan buruk, dan bermusuhan dengan saudara-


saudaranya.


"Apa katamu?" seru Levin ngeri. "Dari mana kamu tahu?"


"Prokofii melihatnya di jalan."


"Di sini, di Moskwa? Di mana dia? Kamu tahu?" Levin berdiri dari


kursi, seolah hendak pergi seketika itu juga.


"Aku menyesal mengatakan ini padamu," kata Sergei Inavovich


sambil menggelengkan kepala, sehingga membikin adiknya gundah.


"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu di mana ia tinggal,


mengiriminya eek lewat Trubin, juru bayarku. Dan inilah jawabannya."


Dan Sergei Ivanovich pun memberikan surat dari bawah penindih


kertas kepada adiknya.


Levin membaca surat yang tertulis dengan tulisan aneh yang sudah


dikenalnya itu: "Saya minta dengan hormat untuk tidak mengganggu


saya. Itulah yang saya tuntut dari kedua saudara saya yang santun.


Nikolai Levin."


Levin selesai membaca, dan tanpa mengangkat kepala dan terus


memegang surat, ia pun berdiri di hadapan Sergei Ivanovich.


yang malang itu dengan kesadaran bahwa keinginan demikian akan


berakibat jelek.


"Dia rupanya mau menghinaku," sambung Sergei Ivanovich.


"Tapi menghinaku ia tak mampu, dan aku dengan tulus memang mau


membantunya, walaupun aku tahu itu tak bisa kulakukan."


"Ya, ya," ulang Levin. "Saya mengerti dan sangat menghargai


sikapmu terhadap dia; tapi saya akan pergi menemui dia."


"Kalau kamu mau, pergilah, tapi aku tak menyarankan," kata Sergei


Ivanovich. "Dalam hubungan denganku, aku samasekali tak takut,


ia tak bakal bikin kamu bertengkar denganku; tapi untuk kamu, aku


nasihatkan untuk tidak menemuinya. Membantu dia tidak mungkin.


Tapi terserahlah, lakukan apa yang kamu mau."


"Barangkali memang mustahil membantu dia, tapi aku merasa,


terutama saat ini-tapi, yah, itu soal lain-aku merasa tak bisa tenang."


"Tentang itu aku tak mengerti," kata Sergei Ivanovich. "Cuma satu


yang kumengerti," tambahnya. "Yaitu pelajaran tentang kepasrahan. Aku


sekarang mulai dengan cara lain dan dengan sadar memerhatikan apa


yang dinamakan kekejian, sesudab abang Nikolai jadi seperti sekarang


ini.. .. Kamu tabu, apa yang telah ia. lakukan .... "


"Ya, ya, itu mengerikan, ya, mengerikan!" ulang Levin berkali-kali.


Sesudah menerima alamat kakaknya dari pesuruh Sergei Ivanovich,


seketika itu juga Levin bermaksud pergi menjumpai Nikolai, ta pi sesudah


berpikir sebentar ia memutuskan untuk menunda kepergiannya sampai


petang. Pertama-tama, demi ketenangan jiwa, perlu ia memutuskan


soal yang jadi alasan kedatangannya ke Moskwa. Dari rumah kakaknya,


Levin pergi ke kantor Oblonskii, dan sesudah mendapat kabar tentang


keluarga Shcherbatskii ia pun pergi ke tempat di mana ia bisa bertemu


dengan Kitty..


.


.


.


.


terimakasih atas dukungan teman-teman sekalian, jangan lupa tekan tombol like ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š