love romance

love romance
eps. 11



Mendengar percakapan kakaknya dengan sang profesor, ia melihat


bahwa mereka menghubungkan soal-soal ilmiah dengan soal-soal yang lebih bersifat pribadi; beberapa kali mereka sudah hampir mendekati


duduk soalnya, tapi tiap kali mereka hampir mendekati soal yang


paling pokok, ia merasa pada saat itu juga mereka, dengan tergesa-gesa,


menjauhinya dan kembali masuk ke dalam detail yang rumit, ke dalam


reservasi, kutipan, isyarat, dan referensi orang-orang ternama, dan


hanya dengan susah-payah ia sanggup memahami isi percakapannya.


"Saya tak sependapat," kata Sergei lvanovich dengan ungkapan yang


jelas dan tepat dan dengan diksi indah yangjadi cirinya. "Bagaimanapun,


saya tak sependapat dengan Case bahwa semua gambaran saya mengenai


dunia luar ini bersumber pada kesan. Pengertian mengenai hal-ihwal


yang paling asasi itu saya peroleh bukan melalui sensasi (perasaan),


karena tidak ada organ khusus yang bertugas menyampaikan pengertian


itu."


"Ya, tapi mereka itu, Wurst, Knaust, dan Pripasov, akan menjawab


Anda dengan mengatakan bahwa kesadaran Anda mengenai hal-ihwal


itu bersumber pada seluruh sensasi yang ada, dan bahwa kesadaran


mengenai hal-ihwal itu adalah akibat sensasi. Wurst bahkan sudah


mengatakan bahwa di mana tak ada sensasi, di situ tak ada pengertian


tentang hal-iliwal."


"Saya akan mengatakan sebaliknya," kata Sergei Ivanovich ....


Tapi di sini kembali Levin merasa bahwa sesudah mendekati


soal yang paling penting, mereka kembali menjauh. Karena itu ia pun


memutuskan untuk mengajukan pertanyaan kepada profesor.


"Kalau begitu, jika indera saya ini hancur, jika raga saya mati, tidak


mungkinkah ada suatu eksistensi?" demikian ia bertanya.


Profesor dengan kesal dan seolah tersengat nyeri kepala karena


selaan itu menoleh kepada sang penanya yang aneh itu, yang lebih


mirip burlak12 daripada filsuf, lalu mengalilikan pandangan matanya


kepada Sergei Ivanovich seakan bertanya: ini omongan apa? Tapi Sergei


Ivanovich, yang bicaranya tak sesukar dan seberat profesor, dan memiliki


cukup ruangan dalam benaknya untuk memberikan jawaban kepada


profesor, dan bersamaan itu memaklumi titik pandang sederhana dan


wajar yang melatarbelakangi pertanyaan itu, hanya tersenyum, dan


katanya:


"Kita tak punya data," kata profesor menekankan, lalu melanjutkan argumentasinya. "Tidak," katanya. "Saya sedang mencoba menunjukkan


bahwa jika sensasi itu dasarnya adalah kesan, seperti sudah dikatakan


Pripasov, maka kita harus membedakan dengan tegas kedua pengertian


itu."


Levin sudah tak mendengarkan lagi, dan ia hanya menanti kapan


profesor itu pergi.


Ketika profesor sudah pergi, barn Sergei lvanovich melayani sauda-


ranya:


"Aku senang sekali kamu datang. Lama tak ke sini. Bagaimana usa-


hamu?"


Levin tabu, usaba itu sedikit saja menarik minat kakaknya, dan


kakaknya bertanya banya untuk sekadar basa-basi. Karena itu ia hanya


menjawab tentang penjualan gandum dan urusan uang.


Levin ingin menyampaikan kepada kakaknya bahwa ia bemiat kawin


dan meminta nasihat. Ia bahkan sudah mantap dengan keputusannya itu.


Tapi melihat kakaknya, dan mendengar percakapan kakaknya dengan


profesor tadi, dan apalagi ketika ia mendengar nada bicara sang kakak


yang tanpa disengaja terasa seperti ada maunya, sewaktu ia bertanya


tentang soal-soal usaha (harta ibu mereka belum dibagi, dan Levin jadi


penguasa bagiannya sendiri dan bagian kakaknya), Levin pun entah


bagaimana merasa tak sanggup lagi bicara dengan kakaknya tentang


keputusannya itu. Ia merasa kakaknya tak bakal melihat persoalan itu


seperti yang diharapkannya.


"Lalu bagaimana urusan zemstvo kalian itu?" tanya Sergei lvanovicb


yang sangat tertarik dengan soal zemstvo, dan menganggap soal itu


sangat penting.


"Terus-terang saya, saya tak tahu .... "


"Lo? Kamu kan anggota dewan legislatif?"


"Tidak, bukan anggota lagi; saya sudab keluar," jawab Konstantin


Levin. "Dan tidak lagi mendatangi sidang-sidang."


"Sayang!" ucap Sergei Ivanovicb sambil mengerutkan dahi.


Untuk membenarkan sikap dirinya, Levin mulai bercerita tentang


apa yang terjadi dalam sidang-sidang di uyezdnya