
Mendengar percakapan kakaknya dengan sang profesor, ia melihat
bahwa mereka menghubungkan soal-soal ilmiah dengan soal-soal yang lebih bersifat pribadi; beberapa kali mereka sudah hampir mendekati
duduk soalnya, tapi tiap kali mereka hampir mendekati soal yang
paling pokok, ia merasa pada saat itu juga mereka, dengan tergesa-gesa,
menjauhinya dan kembali masuk ke dalam detail yang rumit, ke dalam
reservasi, kutipan, isyarat, dan referensi orang-orang ternama, dan
hanya dengan susah-payah ia sanggup memahami isi percakapannya.
"Saya tak sependapat," kata Sergei lvanovich dengan ungkapan yang
jelas dan tepat dan dengan diksi indah yangjadi cirinya. "Bagaimanapun,
saya tak sependapat dengan Case bahwa semua gambaran saya mengenai
dunia luar ini bersumber pada kesan. Pengertian mengenai hal-ihwal
yang paling asasi itu saya peroleh bukan melalui sensasi (perasaan),
karena tidak ada organ khusus yang bertugas menyampaikan pengertian
itu."
"Ya, tapi mereka itu, Wurst, Knaust, dan Pripasov, akan menjawab
Anda dengan mengatakan bahwa kesadaran Anda mengenai hal-ihwal
itu bersumber pada seluruh sensasi yang ada, dan bahwa kesadaran
mengenai hal-ihwal itu adalah akibat sensasi. Wurst bahkan sudah
mengatakan bahwa di mana tak ada sensasi, di situ tak ada pengertian
tentang hal-iliwal."
"Saya akan mengatakan sebaliknya," kata Sergei Ivanovich ....
Tapi di sini kembali Levin merasa bahwa sesudah mendekati
soal yang paling penting, mereka kembali menjauh. Karena itu ia pun
memutuskan untuk mengajukan pertanyaan kepada profesor.
"Kalau begitu, jika indera saya ini hancur, jika raga saya mati, tidak
mungkinkah ada suatu eksistensi?" demikian ia bertanya.
Profesor dengan kesal dan seolah tersengat nyeri kepala karena
selaan itu menoleh kepada sang penanya yang aneh itu, yang lebih
mirip burlak12 daripada filsuf, lalu mengalilikan pandangan matanya
kepada Sergei Ivanovich seakan bertanya: ini omongan apa? Tapi Sergei
Ivanovich, yang bicaranya tak sesukar dan seberat profesor, dan memiliki
cukup ruangan dalam benaknya untuk memberikan jawaban kepada
profesor, dan bersamaan itu memaklumi titik pandang sederhana dan
wajar yang melatarbelakangi pertanyaan itu, hanya tersenyum, dan
katanya:
"Kita tak punya data," kata profesor menekankan, lalu melanjutkan argumentasinya. "Tidak," katanya. "Saya sedang mencoba menunjukkan
bahwa jika sensasi itu dasarnya adalah kesan, seperti sudah dikatakan
Pripasov, maka kita harus membedakan dengan tegas kedua pengertian
itu."
Levin sudah tak mendengarkan lagi, dan ia hanya menanti kapan
profesor itu pergi.
Ketika profesor sudah pergi, barn Sergei lvanovich melayani sauda-
ranya:
"Aku senang sekali kamu datang. Lama tak ke sini. Bagaimana usa-
hamu?"
Levin tabu, usaba itu sedikit saja menarik minat kakaknya, dan
kakaknya bertanya banya untuk sekadar basa-basi. Karena itu ia hanya
menjawab tentang penjualan gandum dan urusan uang.
Levin ingin menyampaikan kepada kakaknya bahwa ia bemiat kawin
dan meminta nasihat. Ia bahkan sudah mantap dengan keputusannya itu.
Tapi melihat kakaknya, dan mendengar percakapan kakaknya dengan
profesor tadi, dan apalagi ketika ia mendengar nada bicara sang kakak
yang tanpa disengaja terasa seperti ada maunya, sewaktu ia bertanya
tentang soal-soal usaha (harta ibu mereka belum dibagi, dan Levin jadi
penguasa bagiannya sendiri dan bagian kakaknya), Levin pun entah
bagaimana merasa tak sanggup lagi bicara dengan kakaknya tentang
keputusannya itu. Ia merasa kakaknya tak bakal melihat persoalan itu
seperti yang diharapkannya.
"Lalu bagaimana urusan zemstvo kalian itu?" tanya Sergei lvanovicb
yang sangat tertarik dengan soal zemstvo, dan menganggap soal itu
sangat penting.
"Terus-terang saya, saya tak tahu .... "
"Lo? Kamu kan anggota dewan legislatif?"
"Tidak, bukan anggota lagi; saya sudab keluar," jawab Konstantin
Levin. "Dan tidak lagi mendatangi sidang-sidang."
"Sayang!" ucap Sergei Ivanovicb sambil mengerutkan dahi.
Untuk membenarkan sikap dirinya, Levin mulai bercerita tentang
apa yang terjadi dalam sidang-sidang di uyezdnya