
Ia menggunakan kata "kamu" untuk Stepan Arkadyich, dan Stepan
Arkadyich memandang istrinya dengan rasa terimakasih, lalu beranjak
hendak memegang tangannya, tapi sang istri menjauh dengan rasa
muak.
"Alm ingat anak-anak, dan karena itu kulakukan segala yang
mungkin di dunia ini untuk menyelamatkan mereka; tapi aku sendiri
tak tahu bagaimana harus menyelamatkan mereka: apakah dengan
menjauhkan mereka dari ayahnya, atau dengan meninggalkan mereka
pada ayahnya yang cabul-ya, pada ayahnya yang cabul .... Coba katakan,
apakah sesudah ... yang terjadi itu, apa mungkin kita hidup bersama lagi?
Apa itu mungkin? Coba katakan, apa itu mungkin?" Dolly mengulang-
ulang dengan suara ditinggikan. "Sesudah suamiku, ayah anak-anakku,
menjalin hubungan asmara dengan guru anak-anaknya sendiri .... "
"Lalu apa yang mesti kuperbuat?" kata Stepan Arkadyich dengan
suara mengibakan. Ia sendiri tak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Dan
ia makin merundukkan kepala.
"Anda, bagi saya sekarang ini, mesum, menjijikkan!" Pekikan Dolly
makin lama makin meluap. "Airmata Anda itu hanya air! Anda tidak
pernah mencintai saya; dalam diri Anda itu, tidak ada nurani atau
kemuliaan! Anda, buat saya, memuakkan, mesum, asing, ya, betul-betul
asing!" ucap Dolly dengan rasa nyeri dan marah ketika mengucapkan
kata asing yang buatnya sendiri terasa mengerikan.
Stepan Arkadyich memandangnya, dan kemarahan yang terpancar
di wajah istrinya pun membuat dia takut dan sekaligus heran. Ia tak habis
pikir bahwa rasa belas-kasihan kepada istrinya itujustru membuat sang
istri jengkel. Dolly melihat bahwa yang ditunjukkan Stepan Arkadyich
kepada dia adalah sesal, dan bukan cinta. "Tidak, ia membenciku. Ia tak
bakal memaafkan aku," pikir Stepan Arkadyich.
"Ini mengerikan! Mengerikan!" ujarnya.
Pada waktu itu terdengar seorang anak menjerit di kamar lain,
agaknya karena jatuh; Darya Aleksandro mendengar-dengarkan, dan
wajahnya pun tiba-tiba melunak.
Agaknya, untuk beberapa detik, ia tak ingat dirinya sendiri, seakan-
akan ia tak tahu berada di mana dan apa yang harus dilakukannya, tapi
kemudian ia segera bangkit dan menuju ke ke pintu.
"Tapi dia mencintai anakku," pikir Stepan Arkadyich ketika melihat
perubahan di wajah istrinya mendengar jeritan anak itu, "anakku;
bagaimana bisa ia membenciku?"
"Dolly, sepatah kata lagi saja," kata Stepan Arkadyich sambil mem-
buntuti istrinya.
"Kalau Anda membuntuti saya, akan saya panggil orang-orang,
anak-anak! Biar semua orang tahu bahwa Anda itu ********! Sekarang
saya akan pergi, dan tinggallah Anda di sini bersama gendak Anda!"
Dan dengan membanting pintu Dolly pun keluar.
Stepan Arkadyich menarik napas, mengusap muka, dan dengan
langkah perlahan keluar dari kamar. "Matvei bilang: semua bakal heres;
tapi ini? Aku bahkan tak melihat kemungkinan itu. Ah, ah, mengerikan
sekali! Dan dengan kampungan sekali ia memekik," katanya pada diri
sendiri, teringat pekikan dan kata-kata istrinya: ******** dan gendak.
"Dan barangkali anak-anak perempuan itu mendengarnya! Kampungan
sekali, mengerikan!" Beberapa detik lamanya Stepan Arkadyich berdiri
seorang diri, mengusap mata, menarik napas, dan sesudah menegapkan
Hari itu Jumat, dan di kamar makan orang Jerman tukang arloji
sedang memutar jam. Stepan Arkadyich ingat leluconnya sendiri tentang
tukang jam yang botak dan teliti itu, katanya, "Orang Jerman itu selama
hidup diputar agar bisa memu1tar jam," dan ia pun tersenyum. Stepan
Arkadyich suka sekali lelucon yang baik. "Tapi barangkali juga semuanya
bakal heres! Bagus juga kata-kata itu: semuanya bakal beres," pikirnya.
"Ini harus diceritakan."
"Matvei! Siapkan bersama Maria kamar untuk Anna Arkadevna,"
serunya kepada Matvei yang barn muncul.
"Baik, Tuan."
Stepan Arkadyich mengenakan mantel bulu dan keluar ke beranda.
"Tuan tidak akan makan di rumah?" kata Matvei yang meng-
antarkan.
"Kalau terpaksa. Ambil ini ll>uat bayar-bayar," katanya sambil mem-
berikan uang sepuluh rube! dari dompetnya. "Cukup?"
"Cukup atau tak cukup, jelas perlu diatasi," kata Matvei sambil
menutup pintu dan melangkah ke beranda.
Sementara itu Darya Aleksandrovna yang sudah menenangkan
anaknya, dan dari bunyi kereta mengerti bahwa suaminya telah pergi,
kembali masuk ke kamar tidur. iKamar itu, baginya, satu-satunya tempat
pelarian dari segala urusan rumah yang langsung menerpanya begitu
ia keluar dari dalam kamar. Sekarang ini pun, dalam waktu singkat,
ketika ia keluar dan masuk ke kamar anak-anak, perempuan Inggris dan Matryona Filimonovna sudah mengajukan beberapa pertanyaan
mendesak yang hanya dia seorang yang bisa menjawabnya: apa yang
mesti dikenakan kepada anak-anak untukjalan-jalan? Apa mereka mesti
diberi susu? Apa tak perlu memanggil koki yang lain?
"Ah, jangan ganggu, jangan ganggu aku!" kata Dolly, dan sekembali
ke kamartidur ia pun duduk lagi di tempat yang tadi didudukinya sewaktu
bicara dengan sang suami, sambil menjalinkan kedua tangannya, dan
cincin-cincinnya merosot dari jari-jarinya yang kurus, dan mulailah
ia memilah-milah dalam ingatannya seluruh percakapan dengan
suaminya. "Dia sudah pergi sekarang! Tapi apa mungkin ia mengakhiri
hubungannya dengan dia?" pikirnya. "Bertemukah ia dengannya?
Kenapa tadi tidak kutanyakan itu padanya? Tidak, tidak, tak mungkin
kami sejalan lagi. Kalaupun kami tinggal di satu rumah, kami orang
lain. Orang lain untuk selamanya!" ucapnya mengulangi kata itu, yang
bagi dia mengerikan, dalam makna khusus. "Padahal dulu betapa aku
mencintainya, ya Tuhan, betapa aku mencintainya!. .. Alangkah cintanya
aku! Sekarang ini pun, apa aku tidak mencintainya lagi? Apakah tak lebih
dari biasanya aku mencintainya? Mengerikan, dan yang penting, itu ... ,"
demikian ia memulai, tapi tak meneruskan jalan pikirannya, karena
Matryona Filimonovna sudah muncul di pintu.
"Nyonya perintahkanlah memanggil koki," katanya, "biar dia me-
nyiapkan makan siang; kalau tidak, nanti seperti kemarin, sampai jam
enam anak-anak tak makan."
"Baiklah, sebentar lagi aku keluar mengaturnya. Apa sudah minta
dikirim susu segar?"
Darya Aleksandrovna pun sili>uk dengan berbagai urusan sehari-
hari, dan untuk sementara ia menenggelamkan kesedihannya dalam
urusan itu.