love romance

love romance
0.7 sahabat masa lalu



Levin hampir seumur dengao Oblonskii, dan bukan hanya sekali


Oblonskii bicara "kamu" sewaktu mereka minum sampanye bersama.


Levin adalah teman dan sahabatnya di masa remaja. Mereka saling


menyayangi, walaupun di antara mereka terdapat perbedaan watak dan


selera, dan mereka saling menyayangi seperti umumnya sahabat yang


saling menyayangi di masa remajanya. Walaupun demikian, seperti


kadang terjadi di antara orang-orang yang memilih jenis pekerjaan


berbeda, masing-masing, sekalipun membenarkan pekerjaan pihak


lainnya, dalam hati membencinya. Masing-masing merasa bahwa


hidup yang ditempuhnya itulah yang sejati, sedangkan yang ditempuh


sahabatnya hanya maya. Melihat Levin, tak sanggup Oblonskii menahan


senyuman mengejek ringan. Sudah beberapa kali Stepan Arkadyich


melihat Levin datang ke Moskwa dari desa di mana ia mengerjakan sesuatu, tapi ia tak pernah paham apa yang dikerjakan itu, dan juga


tak tertarik. Levin datang ke Moskwa selalu dalam keadaan gundah,


kemrungsung, dalam situasi sulit, dan merasa gusar terhadap situasi


itu, serta seringkali membawa pandangan baru yang tak terduga.


Stepan Arkadyich menertawakan hal itu dengan hati senang. Ini


persis seperti Levin yang dalam hati membenci gaya hidup kota dan


pekerjaan sahabatnya, yang ia anggap omong-kosong belaka. Ia pun


menertawakannya. Tapi perbedaannya, kalau Oblonskii tertawa dengan


penuh keyakinan dan tanpa dibuat-buat, seperti semua orang, Levin


tertawa hambar dan terkadang disertai rasa marah.


"Lama kami tunggu," kata Stepan Arkadyich ketika masuk ke


ruangannya dan melepaskan tangan Levin, seakan-akan dengan sikap


itu ia menunjukkan bahwa di ruangan itu bahaya telah lewat. "Sungguh


senang aku melihatmu,'' sambungnya. "Nah, apa kabar? Bagaimana?


Kapan kamu datang?"


Levin diam saja sambil mengamati dua teman Oblonskii yang tak


dikenalnya, terutama tangan Grinevich yang elok, dengan jemari yang


amat putih dan panjang-panjang, dengan kuku yang amat panjang,


kuning melengkung, dan dengan manset kemeja yang amat besar dan


mengkilat, sehingga tangan itu seolah menelan perhatiannya dan tak


memberinya kebebasan untuk berpikir. Oblonskii kontan melihat sikap


Levin itu, dan ia pun tersenyum ..


"Ah, ya, perkenalkan," katanya. "Ini sahabatku: Filip lvanich


Nikitin dan Mikhail Stanislavich Grinevich," dan kemudian tentang


Levin: "anggota dewan zemstvo" anggota baru, pesenam yang sanggup


mengangkat beban lima pun dengan sebelah tangan, petemak, pemburu,


dan sahabatku, Konstantin Dmitrich Levin, saudara Sergei Ivanich


Koznishov."


"Senang berkenalan dengan Anda," kata orang tua itu.


"Saya mendapat kehormatan bisa mengenal saudara Anda, Sergei


berkuku panjang.


Levin mengerutkan dahi, menjabat tangan itu dengan sikap dingin,


dan langsung bicara dengan Oblonskii. Walaupun ia menaruh hormat yang sebesar-besarnya kepada saudara kandungnya, pengarang yang


terkenal di seluruh Rusia, ia tak terima bahwa orang bicara dengan dia


bukan sebagai Konstantin Levin, tapi sebagai saudara Koznishov yang


termasyhur.


"Bukan, aku bukan anggota zemstvo lagi. Dengan semua anggota aku


bertengkar, dan aku tak pergi ke sidang lagi," katanya kepada Oblonskii.


"Ah, masa?!" kata Oblonskii sambil tersenyum. "Tapi bagaimana


duduk perkaranya? Karena apa?"


"Panjang ceritanya. Akan kuceritakan kapan-kapan saja," kata Levin,


tapi seketika itujuga ia mulai bercerita. "Yah, pendeknya, akujadi yakin


bahwa zemstvo tak punya kegiatan, dan memang tak mungkin punya,"


katanya memulai, seolah-olah sudah ada orang yang menyinggungnya.


"Di satu pihak, itu cuma permainan, orang bermain parlemen, sedangkan


aku sudah tidak cukup muda tapi belum cukup tua pula untuk main-main dengan semua itu; dan di pihak lain (ia tergagap), itu adalah alat


coterie uyezd buat cari fulus. lalu dengan perwalian, pengadilan, dan


sekarang zemstvo, bukan dalam bentuk suap, tapi dalam bentuk gaji


yang tidak pada tempatnya," katanya penuh semangat, seolah-olah di


antara mereka yang hadir ada yang membantahnya.


"Ha, ha! Aku lihat kamu balik sampai ke tahap baru lagi, tahap


konservatif," kata Stepan Arkadyich. "Tapi, yah, tentang itu nantilah."


"Ya, nanti. Aku ini perlu bertemu kamu," kata Levin sambil menoleh-


noleh ke arah tangan Grinevich dengan rasa benci.


Stepan Arkadyich tersenyum tipis.


"Tapi kamu pernah bilang tak sudi Iagi mengenakan pakaian Eropa,


kan?" katanya sambil mengamati pakaian baru Levin, yang agaknya


buatan penjahit Prancis. "Nah, aku lihat tahap baru lagi."


Wajah Levin kontan memerah, tapi tak seperti merahnya wajah


orang dewasa-sedikit saja, hampir-hampir tak terlihat, seperti merahnya


wajah anak-anak, yang terasa lucu karena ada rona malunya, dan justru


karena itu lebih menunjukkan rasa malunya dan lebih merah lagi sampai


hampir mengeluarkan airmata. Dan betapa aneh rasanya melihat wajah


cakap dan berani berona kanak-kanak itu, sehingga Oblonskii berhenti


menatapnya.


.


.


.


.


jangan lupa tekan tombol like😊😊


terimakasih banyak sebelumnya