
Happy Reading :D
~*~
"Nilai kau memang membaik tapi peringkat mu turun. Ini baru semester awal dan donatur yang memberikan Beasiswa itu juga mempertanyakan penurunan peringkat. Belum lagi terdengar kau bermasalah dengan murid baru. Memang murid itu tidak mempersalahkannya tapi sikap mu itu di pandang buruk. Tolong perhatikan lagi, aku akan memberi pengertian pada yayasan agar memberikan mu waktu untuk mengejar peringkat yang turun..." Pria itu mengangguk dan membungkuk, memberi hormat pada gurunya.
˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗*****˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗
Jungkook menatap rapornya. Nilai yang sudah susah payah ia naikan, kini harus ia terima secara sia˗sia. Seseorang datang menghampirinya. Biasanya dia selalu menunggu kedatangan gadis itu tapi untuk sekarang ia ingin sendiri.
"Apa yang terjadi ? Kenapa sejak kemarin kau terus menghindar ?" Jungkook menghela nafasnya. Ia harus berfikiran jernih dan tidak boleh seperti ini. Mungkin kemarin amarah yang mengendalikannya, hingga fokusnya pada belajar menghilang.
"Tidak ada yang terjadi. Aku tak apa˗apa..." Jungkook tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana kook˗ah ? Aku baru saja datang..." Jungkook menatap Sherra. Ingin sekali ia mengatakan semua yang ia rasakan seperti biasanya tapi semua itu tertahan. Jungkook teringat kalau Sherra sedang dekat dengan Taehyung. Ia tak akan melarang Sherra tapi ia juga tidak bisa menerima itu. Jadi ia memilih menghindar.
"Aku mau ke perpustakaan. Tidak usah temani aku, hari ini aku akan sibuk Sherra˗ya... Mian!" Jungkook memegang kedua bahu gadis itu dan menunjukan aegyo yang sangat lucu.
"Hahaha... Kau selalu saja. Ya sudah! Fighting oh?!?" Jungkook mengangguk.
"Ne! FIGHTING!!!" Ucap Jungkook dan melambaikan tangan ke arah Sherra seraya pergi dari sana.
Ia tersenyum lemah saat tidak ada orang yang memperhatikannya. Dunia terlalu cemburu melihatnya jika ia mendapatkan segala yang ia usahakan dengan mudah. Jungkook menghela nafasnya sebelum ia kembali bangkit dari keterpurukan menghindarkan semua amarah dan egoisnya.
Jungkook mengambil buku˗buku yang akan ia pelajari tapi seseorang menghentikannya. Jungkook menatap orang itu. Meski enggan melihatnya, Jungkook lebih baik mengabaikannya dari pada memunculkan amarah yang bergejolak di hatinya.
"Jungkook˗ah, Mianhae... Kau belum memaafkan ku sejak kemarin..." Sebenarnya Jungkook kesal karena gadis itu selalu mengikutinya beberapa hari ini.
"Heeiiiyooo~~~" Jungkook mendesah lelah. Ia meletakan buku˗buku di atas meja.
"Jika aku memaafkan mu, apa kau akan berhenti mengganggu ?" Jungkook fokus pada buku˗bukunya tapi setidaknya pria itu merespon apa yang Rachel katakan.
"Biarkan aku menebus kesalahan ku, Jungkook˗ah~" Jungkook menahan tawanya yang hampir muncul ke permukaan wajahnya. Gadis itu terdengar memelas. Bukannya waktu itu dia sangat menghina Jungkook. Lalu apa rencana gadis itu sekarang.
"Lihatlah~ Kau seperti tak tahu malu..." Jungkook mengucapkan itu dengan gumaman yang terdengar jelas oleh Rachel tapi gadis itu hanya membiarkannya saja.
"Ini... Kau bisa membacanya. Kalau kau ingin mengalahkan ku, kita bisa mempelajari hal yang sama... dan di sana aku bisa tahu kalau kau hebat dari ku atau tidak" Jungkook menatap sebuah buku yang di berikan Rachel lalu melirik Rachel dari ujung matanya.
"Huh! Kau menghina ku atau kau ingin membantu ku. Bagi ku saat itu keluar dari mulut mu, aku akan benar˗benar kesal. Jadi ku harap kau tidak mengganggu ku. Setidaknya bersikap lah sebagai hantu!!" Jungkook mengatakan itu dengan nada biasa saja. Rachel tertawa di dalam hati. Bagaimana bisa saat Jungkook berkata seperti itu, membuat pria itu terlihat menggemaskan di mata Rachel.
"Nee! Aku akan bersikap seperti hantu yang akan terus membayangi mu. FIGHTING Jungkook˗ah~~" Rachel berbisik pelan sekali sebelum ia keluar dari perpustakaan itu dan meninggalkan Jungkook yang hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah lelah di kendalikan amarah. Dia akan terus mencoba mengabaikan kekesalannya.
˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗*****˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗
Jam istirahat sudah berbunyi, ini sudah hari ke empat Rachel selalu membawa kotak makan yang ia buat sendiri untuk Jungkook. Gadis itu berjalan menuju perpustakaan. Ia tahu kalau pria itu sering menghabiskan waktunya dengan buku.
"Jungkook˗ah~ Makanlah... Kau pasti lapar" Rachel meletakan kotak bekalnya itu di samping Jungkook.
Pria itu hanya menghela nafas beratnya. Menutup bukunya dan bangkit dari duduknya. Pria itu mengambil kotak bekal itu lalu berjalan menuju penjaga perpustakaan.
"Siang buk~~" penjaga perpustakaan itu hanya tersenyum.
"Wae ? Kau sudah mau pergi ? Kenapa cepat sekali??"
"Ibuk sudah makan?" penjaga itu menggeleng.
"Menu apa lagi yang akan kau berikan hari ini ?"
"Ini. Makan saja~ kalau tidak enak, buang saja. Aku pergi dulu..." Rachel menghela nafasnya.
Selalu saja Jungkook memberikan kotak bekal itu kepada orang lain di depannya. Ada saatnya Rachel benar˗benar kesal karena Jungkook yang selalu mengabaikannya. Bahkan Rachel memilih untuk Jungkook yang memakinya, menatapnya sinis. Daripada mengabaikannya seperti dia hanya angin yang tak dapat di lihat.
"Bisakah kau menghentikan semuanya ??? Kenapa kau tidak bisa memaafkan ku ? Apa aku terlalu membuatmu terhina ? Apa dengan menghina mu, aku bisa berbicara dengan mu?!?" Jungkook menghentikan langkahnya saat mendengar setiap perkataan Rachel.
"Mianhae! Aku minta maaf dan aku tidak akan mengganggu jalan mu lagi! Aku minta maaf, aku tidak akan membuat kedua teman ku mengganggu mu lagi!!!" Jungkook menghela nafasnya. Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap mata Rachel yang sudah berkaca˗kaca.
Pria itu terpaku di tempatnya saat Rachel berjalan ke arahnya. Gadis itu dengan air yang menggenang di pelupuk matanya, terus melangkahkan kaki jenjangnya dan berhenti tepat di hadapan Jungkook. Gadis itu menyatukan kedua tangannya, membuat permohonan.
"Apa kau tidak bisa memaafkan ku ?"
"Kau datang dengan angkuh. Tatapan mu penuh kesombongan. Cara bicara mu juga begitu. Lalu ada apa sekarang ? mengemis ? Kenapa tiba˗tiba kamu meminta maaf pada ku ? apa kau ingin benar˗benar menghina ku ? Apa kau menjadikan ku taruhan ?" Mata Jungkook memerah. Fikirannya terhadap Rachel selalu saja buruk. Ia mencoba untuk berpikiran postif tapi melihat gadis itu semuanya menghilang. Dia sudah muak dengan tekanan anak˗anak orang kaya seperti Rachel.
"Kenapa kau berfikir seperti itu ? Aku minta maaf pada mu karena aku merasa salah. Aku tidak pernah menjadi kan mu taruhan. Tidak bisakah kau menatap kebaikan ku ini sebagai rasa bersalah ku pada mu, huh?"
"Maaf ? Rasa bersalah ? Kau minta maaf karena kau bisa mengalahkan ku dan menyadarkan kalau aku lebih bodoh dari mu ? huh ?"
"Aniya~~h..." ucap Rachel melemah. Air matanya sudah mulai menetes saat mata merah Jungkook menatapnya tajam.
"Apa yang kau pikirkan saat kau ingin mengalahkan ku dan kau tahu saat itu aku memperjuangkan nilai ku ? dan juga saat Ujian semester kemarin. Kau pasti juga sudah memikirkannya! Kau ingin menyingkirkan ku ? Kau ingin memperlihatkan pada ku kalau kau berkuasa. Begitu kan ?"
Mereka berdua sama˗sama mengeluarkan air mata. Mereka berdua sama˗sama berada di titik jenuh. Mereka berdua sama˗sama kesal. Mereka berdua masih mencari jati diri masing˗masing. Perdebatan mereka akan menjadi pengalaman untuk mereka.
"Menyenangkan ...?" Rachel menggelengkan kepalanya.
"Seberapa menyenangkan itu buat mu ? Berapa banyak kau menertawakan aku saat kau melihat peringkat ku turun karena kau berhasil mengalahkan ku ?" Jungkook berteriak di depan Rachel. Ia berusaha memendam dan mengendalikan emosinya tapi Rachel terus memancingnya.
"Aku minta maaf..." Rachel menyatukan tangannya dan menggenggam tangannya sendiri. Meletakan genggaman tangan di atas kepalanya. Ia memohon meminta maaf pada Jungkook dengan air mata yang berlinang.
"Aku tahu kau mendengarnya! Kau tahu kalau beasiswa ku terancam. Kau mengabaikan ku dulu dan kau minta maaf pada ku karena itu kan ?!?" Rachel memejamkan matanya saat mendengar Jungkook melampiaskan semua kekesalannya.
"Apa itu mungkin untuk aku menatap kebaikan mu ? Apa mungkin aku terus menatap mu dengan baik sementara beasiswa ku terancam hanya karena mu?!? Bahkan disaat kau sudah tahu kalau aku benar˗benar membutuhkan itu ?!? Saat kau tahu kalau aku dari keluarga miskin ! Bagaimana kau bisa melakukan ini pada ku ?!?"
"Mianhae..." Rachel hanya bisa menggumamkan kata itu. Ia tak berhak untuk menyanggah semua perkataan Jungkook. Kali ini ia akan mendengar semua keluh kesahnya. Ia merasa menjadi orang yang benar˗benar jahat saat mendengar semua perkataan Jungkook.
"Lalu kenapa kau terus datang ? kenapa ? Bukankah itu memalukan ??" Rachel terus merunduk dengan air mata yang benar˗benar tak bisa berhenti.
"Kenapa kau menangis ? untuk membuktikan kau benar˗benar merasa bersalah ?" Rachel menggelengkan kepalanya pelan.
"Itu sangat menggelikan. Jadi mulai sekarang... Aku harap kau tidak mengganggu ku lagi!" itu kata˗kata terakhir Jungkook sebelum melangkah pergi meninggalkan Rachel yang terduduk lesu di lantai sekolah.
Rachel benar˗benar merasakan di pukul ratusan kali. Ia terduduk lemas setelah mendengar semua yang di rasakan Jungkook. Ia tak pernah jahat kepada temannya. Ia tidak pernah ingin berbuat jahat. Sekarang ia merasa jahat dan ia menyesal memilih kembali bersekolah dari pada meneruskan pendidikannya ke SNU.
"Mianhae Kook˗ah~~"
˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗*****˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗
Sherra membuka lokernya dan kembali terkejut melihat cokelat tanpa bunga, tapi sebagai gantinya ada boneka beruang kecil yang lucu. Gadis itu tersenyum tapi kini senyumnya menghilang karena masih bingung dengan siapa yang memberikan semua itu padanya. Tiba˗tiba ponselnya berbunyi, Sherra memutar matanya malas saat melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya.
'Taetae idiot'
"Astaga!!"
"Wae ? Kenapa kau menyimpan nama ku seperti itu ?" Sherra terkejut dengan kedatangan Taehyung yang tiba˗tiba. Pria itu mengurung Sherra di antara tangannya dan pintu loker Sherra. Menatap gadis itu dengan jarak yang sangat dekat dan Smirk yang muncul di wajahnya.
"Minggir." Sherra menutup pintu lokernya. Taehyung tersenyum dan mengubah posisinya memberi jarak untuk Sherra yang terlihat tidak nyaman.
"Aaa!!! Itu menyakitkan! Aku bahkan selalu makan di kedai mu tapi kau menyimpan nomor ku dengan nama 'Taetae Idiot'. Bisakah kau mengubah nama ku, Chingu ?" Sherra hanya menatap Taehyung tajam. Pria itu sangat pandai membuatnya merasakan jantung dan hatinya Jungkir balik.
"Bagaimana kita bisa berteman ?" Sherra memutar matanya malas tapi pria itu terus tersenyum licik kepadanya.
"Ku bilang minggir. Aku harus pergi ke kelas!" Baru saja Sherra ingin melangkahkan kakinya pergi tapi Taehyung kembali bersuara membuat Sherra menghentikan langkahnya.
"Jangan seperti itu. Sekarang aku ingin tahu kau meng˗save nama Jimin dengan apa ?" Sherra terlihat gugup dan menatap Taehyung karena terkejut membawa nama Jimin dalam pembicaraan mereka.
Taehyung mengulurkan tangannya. "Bisakah aku melihat ponsel mu ?"
Sherra menghela nafasnya kesal dan segera mengambil ponselnya yang berada di saku lalu mengganti nama Taehyung di kontaknya. Lalu memperlihatkan kontak nama Taehyung yang telah berubah, dari 'Taetae Idiot' menjadi 'Kim Taehyung'
Taehyung mengangguk dan tersenyum seraya matanya tak lepas dari Sherra.
"Aku tidak bisa menyelesaikannya tanpa menyebut nama Jimin." Gumam Taehyung.
"Sudah puas ?!?" Sherra menunjukan ponselnya dan memperlihatkan kontak Taehyung yang sudah ia simpan dengan rapih. Kemudian Sherra kembali melangkahkan kakinya.
"Aku melihat Jungkook bertengkar dengan Arra. Bagaimana ? Beasiswanya ?" Sherra menatap Taehyung lagi karena terkejut. Lalu kembali berjalan ke arah Taehyung dan memukul kepala pria itu sebelum Sherra berlari meninggalkan Taehyung yang meringis kesakitan.
"Kenapa kau selalu memukul ku?!? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah ?!?" Kesal Taehyung.
"Kau itu terlambat memberi tahu ku! Bodoh!" pekik Sherra karena sudah berada jauh dari Taehyung. Taehyung hanya terkekeh pelan melihat Sherra berlari setelah mendengar nama Jungkook.
"Setidaknya aku sudah dekat dengan mu, Sherra˗ya" gumam Taehyung.
>.<
>.<
>.<
>.<
>.<
TBC