LOVE FOR THE TWINS

LOVE FOR THE TWINS
03. Welcome Back



Sudah dua hari ia berada di Negara yang berbeda tapi yang ia lakukan hanya tidur di dalam kamarnya dan berendam di kamar mandinya. Ia meminta rumah minimalis saja pada pamannya. Om Adam. Meski pamannya menawarkan penthouse kepadanya, ia lebih tertarik dengan rumah.


Gadis itu juga tak melakukan apa˗apa untuk persiapan kuliahnya di SNU yang masih ada waktu dua bulan lagi karena sekertaris ayahnya dulu sudah mempersiapkan semuanya. Perusahaan ayahnya juga di kendalikan oleh kakak dari ayahnya. Steffan Leitel Swan. Pria yang memegang kendali dari tiga perusahaan. Sekertaris ayahnya yang dulu juga mengatur semuanya seraya menunggu Rachel siap menjadi penerus ayahnya.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu menganggu ketenangannya. Di rumahnya yang baru, ia hanya memperbolehkan dua pelayan saja yang bekerja. Rumah minimalisnya tidak bisa di katakan sederhana. Rumahnya memang tidak bertingkat tetapi sangat luas dan ada kolam renang di dalamnya.


"Nona Muda~~~ Dua teman Nona datang" Gadis itu menghela nafanya kesal. Ia sedang merendamkan badannya dengan aroma terapi karena ia sangat lelah meski tidak beraktifitas.


"Suruh mereka tunggu di ruang tamu!!!" pekik Gadis itu yang sudah keluar dari bath upnya dan berjalan meraih handuk dan keluar untuk memakai baju.


Tanpa melihatpun ia sudah tahu siapa yang datang. Mereka sudah mengatakannya sejak kedatangannya tapi gadis itu selalu menyuruh pelayannya untuk tidak memperbolehkan siapapun datang untuk bertamu kecuali sekertaris ayahnya dan pamannya.


Tidak butuh waktu sepuluh menit. Gadis itu keluar dari kamarnya seraya menggulung rambutnya yang panjang, mengikatnya asal˗asalan. Ia mengenakan baju kaos putih kebesaran dan hotpans berwarna cerah. Matanya menatap malas dua pria yang sedang asik menonton tv di ruang tamunya. Tanpa permisi, gadis itu segera menjatuhkan badannya di sofa di antara kedua pria itu yang membuat mereka terkejut.


"Hyaa! Badan kau berat!" Gadis itu hanya memutar matanya malas dan terlihat tak peduli.


"Kau saja terlalu kurus!!! Bagaimana dengan calon istri mu besok! Pasti kau tidak bisa mengangkatnya..." Gadis itu. Rachel. Mengucapkannya secara acuh tak acuh, membuat pria yang satu lagi terkekeh pelan.


"Hei~ kalian baru saja bertemu tapi sudah bertengkar!!"


"Ya karena Taehyung tidak playboy seperti mu Park Jimin!" Pria yang tadi menggerutu sekarang tertawa lebar.


"Wah ternyata kau di sana tumbuh menjadi seorang playboy Jiminie??" Jimin hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli.


"hmm Taehyung˗ah, kenapa kau memakai seragam?" Tanya Rachel yang kini terfokus dengan teman lamanya.


"Aku baru pulang sekolah." Singkat pria itu yang tubuhnya bersandar di sofa nyaman itu.


"Wah parah! Masih mending aku yang tumbuh sebagai playboy dari pada kau yang bodoh! Kami sudah melamar untuk kuliah dan kau masih saja di kelas yang sama!" Taehyung menatap Jimin tidak suka.


"Seandainya aku masih di sekolah yang sama dengan kalian, mungkin aku sudah tamat! Di sini aku bersekolah, di sekolah seni. Jadi tambah satu tahun pendidikan lagi!!!" Jelas Taehyung yang membuat Rachel ataupun Jimin mengangguk meski tak peduli.


Gadis itu kembali ke kamarnya. Ia mengganti bajunya dengan Skiny Jeans dan kaos putihnya ia lampisi kemeja. Tiba˗tiba pintu kamarnya terbuka dan di sana gadis itu bisa melihat dua sahabatnya sedang berdiri di ambang pintu. Jimin masuk tanpa izin dari sang empunya, sedangkan Taehyung sudah membuka mulutnya untuk bersuara!


"HYAA! Park Jimin! Ini Korea bukan Kanada! Kau harus mintak izin dulu untuk ke kamar wanita!" Jimin terlihat acuh tapi saat melihat tatapan tajam Rachel, pria itu segera berjalan mendekati Taehyung yang masih setia berdiri di ambang pintu.


"Taetae˗ya sepertinya kedatangan si boncel itu akan mempersulit hidup mu! Ajarkan dia agar dia tidak membuat kesalahan lagi..."


"Oke Nona Muda!" Sahut keduanya dan Rachel hanya terkekeh sambil berujar. "Wah kalian sudah cocok untuk menjadi pembantu ku!!" gadis itu terus tertawa membuat dua pria itu meninggalkannya di dalam kamar.


Rachel mengambil tas sampingnya di dalam lemari dan berjalan keluar untuk menari dua sahabatnya itu. Dua pria itu sedang mengacak˗acak kulkasnya untuk mengambil buah. Dua pelayannya itu hanya bisa menatap Taehyung dan Jimin dengan tatapan takut.


"kalian tidak perlu takut dengan dua kunyuk ini ya..." ucap Rachel pada pelayannya yang di balas dengan tubuh pelayan itu membukuk, tanda mereka mengerti. Sedangkan Jimin dan Taehyung hanya mengumpat saat mereka di sebut kunyuk oleh Rachel.


"Hya! Rachel! Kau mau kemana ?" Tanya Jimin yang menatap heran gadis itu yang sudah rapih.


"Aku lapar, aku ingin makan di luar. Taehyung kau mau menemani ku kan?" Taehyung hanya mengangguk dengan semangat.


"Hei! Kau ingin meninggalkan ku! Memangnya kau pergi mau naik apa?!?"


"Aku ada motor" sahut Rachel santai.


"Kau naik motor? Memangnya kau sudah punya SIM ? lalu bagaimana dengan kertu tanda penduduk mu ? kau baru di sini dan kau harus pergi bersama ku!!" Jimin menahan Taehyung dan Rachel yang ingin pergi.


"Yak Taehyung˗ah, kau tahu ? Aku sudah bosan dengan kakek nyinyir sepertinya!" Ucap Rachel kepada Taehyung, lalu mereka berdua tertawa membuat Jimin terlihat jengkel.


"Ini! Lihat saja! Bahkan kartu tanda penduduk ku dengan nama Korea, di sana juga sudah ada SIM, ada kartu kredit dan ada beberapa uang tunai. Periksa saja pak polisi~~" Rachel menyerahkan dompet berwarna merah dengan motif snoopy kepada Jimin.


Pria itu hanya menunjukan cengirannya kepada Rachel. Lalu memperhatikan kartu tanda penduduk milik Rachel.


"Choi Arra ? marga mu Choi ? kenapa aku tidak tahu?" Jimin menggaruk pelipisnya karena bingung.


"Aku sudah pernah bilang dengan kalian waktu itu kalau aku punya ibu asli Korea jadi tentu saja aku punya marga dari keluarga ibu ku!"


"Lalu Nama Rachel mu tidak di pakai lagi?" Rachel mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan pertanyaan Jimin.


"Aku hanya ingin beradaptasi dengan Negara ini dan dengan nama ku yang berasal dari Negara ini! Bisa kah kau diam?!?" ucap Rachel yang merebut dompetnya dari tangan Jimin.


"Yak! Ms.Swan! Ajak aku juga ya???" Rachel tertawa saat Jimin menunjukan wajah memelasnya lagi. Taehyung juga ikut tertawa, ia merindukan dua sahabatnya ini yang sudah tidak berjumpa untuk waktu yang lama.


"Memangnya kalian ke sini naik apa?"


"Dengan motor ku bersama Taehyung."


"Aku bersama mu saja Arra˗ya..." Rachel tersenyum saat Taehyung memanggil nama itu untuk yang pertama kali.


"Hya! Mana bisa begitu! Kau bawa saja motor ku, biar aku bersama Rachel!" Jimin terlihat tidak mau mengalah.


"Kalian ini!!" Umpat Rachel dengan sangat pelan dan menggelengkan kepalanya pelan saat melihat mereka berdua berdebat.


"Taehyung˗ah, kau tahu tempat makanan yang enak ?" Taehyung berfikir sejenak dengan Rachel menatap taehyung.


"Kedai sup di dekat sekolah ku, bagaimana ?" sahut Taehyung saat terfikir seorang gadis yang beberapa hari ini tidak ia lihat.


"Boleh, aku ingin mencobanya..."Ucap Rachel yang mengeluarkan motornya dari garasi di samping rumahnya.


Mereka bertiga terus berbincang di atas motor dengan kecepatan di bawah rata˗rata tentunya. Canda tawa saling mereka lemparkan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Apalagi saat mereka melewati sekolah Taehyung yang terlihat masih sangat ramai walaupun jam pelajaran sudah berakhir sejak siang tadi.


Siswa˗siswa di sana menatap aneh Taehyung yang bisa tertawa. Karena sepanjang pengetahuan mereka Taehyung jarang sekali tertawa seperti itu, bahkan teman saja ia tak punya. Pria itu sangat menyebalkan untuk di jadikan teman. Jadi banyak yang tidak betah untuk sekedar bertahan di sisinya. Mendengar candaannya yang kasar dan garing membuat mereka menjauh.


Kini melihat Taehyung yang sedang di bonceng. Belum lagi seorang gadis cantik yang sejak tadi menjadi sorotan karena terus melempar tawanya yang meledak sambil mengendarakan motor besar itu.


"Hyaaa~~ Sepertinya Taehyung di sini sangat di kenal. Buktinya sejak tadi kita di perhatikan Jimin˗ah" ucapan Rachel membuat Taehyung tertawa.


"Tentu saja. Kita bertigakan selalu menjadi peran utama di manapun kita berada!!" Ucap Jimin lalu di susul tawa yang meledak˗ledak oleh dua temannya. Sikap Jimin yang Starsindrom dan selalu ingin di perhatikan banyak orang membuat Taehyung menatap semua orang sama seperti Jimin. Selalu bersandiwara bagai artis yang tidak dapat peran.


Setelah melewati banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Akhirnya mereka sampai di depan kedai sup itu. Terlihat sepi dari luar membuat Rachel menatap Taehyung. Seolah mengatakan 'Kau yakin ini tempatnya?' lewat tatapan itu. Taehyung hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam kedai itu mendahului teman˗temannya.


"Ahjuma..."


"Aah~~ Taehyung˗ah~ Kau kemari... Ayo silahkan duduk..." Rachel tampak tersenyum saat wanita paruh baya itu menyambut mereka dengan senyum ramahnya. Rachel juga merasa iri saat Taehyung terlihat dekat dengan wanita itu.


"Aku membawa dua sahabat ku yang baru pulang ke korea kemarin. Jadi mereka ingin mencoba sup buatan ahjuma sekarang..." Taehyung terlihat sangat antusias membuat wanita paruh baya itu tersenyum di wajahnya yang masih cantik dengan umur yang sudah menua.


"oh begitu, kalau begitu tunggu sebentarnya. Aku akan membuat yang spesial untuk kalian..."


"Kami menunggunya ahjuma... masakan mu pasti sangat enak" Jimin mengedipkan satu matanya, membuat dua temannya menatapnya jijik sedangkan ahjuma itu hanya tertawa melihat sifat Jimin yang unik.


"Hya!! dia bahkan sudah bersuami dan kau menggodanya.." Bisik Rachel setelah wanita paruh baya itu pergi. Taehyung hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan aneh sahabatnya itu yang tak pernah bisa hilang.


"Tunggu sebentar ya... aku mau ke toilet" ucap Taehyung saat matanya menangkap sosok yang menjadi tujuannya ke sini.


"Jangan lama˗lama!" ucap Jimin yang hanya di balas dengan anggukan oleh Taehyung.


Gadis berambut pirang itu sedang mencuci piring di wastafel yang tak jauh dari kamar mandi. Taehyung sengaja berjalan lambat saat gadis itu membalikan tubuhnya menghadap taehyung yang ada di belakang tadinya.


"Hya! Kau? Bukannya kau bilang tidak akan mengganggu ku?!?" pekikan gadis itu membuat Jimin dan Rachel menoleh ke arah Taehyung yang masih terlihat oleh mereka dari jarak jauh.


"Apa aku mengganggu mu?" Tanya Taehyung pura˗pura terlihat bingung. Sebenarnya pria itu tahu kalau melihat wajahnya saja gadis itu sudah merasa terganggu.


"Untuk apa kau kemari kalau bukan untuk mengganggu ku?!? Wah! Aku tidak habis pikir dengan otak mu yang benar˗benar kecil ??" Taehyung mengerutkan keningnya. Seakan ia tak mengerti dengan apa yang terjadi karena pria itu tahu kalau Rachel dan Jimin sedang berjalan ke arahnya.


"Hya! Apa yang kau lakukan Taehyung ah?!?" Tanya Jimin saat mereka berdua sudah dalam jarak yang dekat.


"Chogiyo... Memangnya apa yang sudah di perbuat sahabat ku pada mu?" Rachel bertanya pada gadis berambut pirang.


"Tidak Arra! Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin ke toilet tapi tiba˗tiba dia berteriak seolah aku mengganggunya..." Ucap Taehyung saat gadis berambut pirang itu ingin membuka suara.


Mata gadis itu membulat dan menatap Taehyung garang tapi gadis itu bingung dengan dua orang yang terlihat asing baginya. Bagaimana Taehyung bisa mengenal dua orang ini. Paras Jimin yang tampan dan wajah cantik Rachel membuat gadis berambut pirang itu mengerutkan keningnya. Merasa aneh saja.


"Apa benar begitu ? lalu kenapa kau berteriak pada sahabat ku!" Ya! Rachel memang tidak suka jika sahabatnya di tuduh melakukan apa yang tidak di perbuatnya. Nadanya masih terlihat sama tapi tatapan mata Rachel tentu saja membuat Jimin mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ah~ Mianhae! Ku kira dia orang yang sama dengan orang yang sering mengganggu ku." Gadis berrambut pirang itu sempat melemparkan tatapan tajamnya ke arah Taehyung sebelum pergi dari sana.


"Kalau aku lihat caranya tadi menatap mu, sepertinya kau sering mengganggunya kan?" taehyung menatap ke arah lain saat tatapan Rachel mulai mengintimidasinya.


"Sudah lah! Ayo Rachel... kita kembali ke tempat" Jimin menarik Rachel ke tempat duduknya tadi. Sedangkan tangan Rachel yang bebas dari pegangan tangan Jimin dengan sigap menjewer telinga Taehyung.


"Aaa... ak..aakkk. Yak. Yak. Arra˗ya ini menyakitkan!!!" Taehyung meringis kesakitan saat tangan Rachel belum lepas sampai ke tempat duduk mereka. Di sisi lain, gadis berambut pirang yang tak lain adalah Sherra memunculkan tawanya saat melihat Taehyung yang sedang kesakitan. Gadis itu mendengarkan semua kata˗kata Rachel sampai melihat Taehyung yang meringis kesakitan.


Setelah puas memarahi Taehyung, Rachel segera menyantap sup yang masih hangat itu. Rachel juga melemparkan senyum ramahnya saat melihat Sherra yang mengantarkan makanan mereka. Rachel merasa bersalah atas ucapannya tadi.


'tapi aku seperti familiar dengan wajahnya' ucap Rachel dalam hatinya. Mereka melanjutkan kegiatan makan mereka tanpa menghentikan melemparkan kata˗kata yang mereka anggap lucu. Semua pelanggang yang makan di sana ikut memperhatikan mereka. Ikut bahagia melihat keakraban mereka bertiga. Sherra juga ikut tersenyum saat melihat Taehyung bisa tertawa tanpa ekspresi menyebalkan yang setiap hari di tunjukan padanya.


.


.


.


.


.


TBC


Love U All :D