
Rachel menyeret kaki kanannya. Terlihat jelas kalau ia berusaha untuk jalan tanpa bantuan. Satu tangannya memeluk setumpuk buku.
"Hya! Ada apa dengan kaki mu? Rachelia Swan! Berhentin berjalan!"
Suara Jimin yang menggema di Koridor membuat Rachel mendelikan mata. Pasalnya sahabat yang terkasih itu memanggil dengan nama Rachel bukan Arra.
"Kau bisa tidak melupakan nama itu ketika kita di sekolah?!?" Geram Rachel yang sudah dalam gendongan Jimin.
Ya! Jimin langsung menggendong tubuh mungil Rachel tanpa aba-aba dan membiarkan Rachel berceloteh ria karena aksinya.
"Terserah! Jelaskan dulu kenapa bisa seperti ini hmm?!?"
Rachel memutar matanya malas. Padahal dia sudah mencuri-curi waktu agar dua sahabatnya itu tak melihatnya tapi terus gagal.
"Hei! Park Jimin?? Ada apa dengan Arra??" Taehyung berlari mendekat menatap Jimin yang menggendong Rachel di punggung.
"Lihat kakinya memar dan terus memaksa kakinya ini untuk berjalan. Kau tanya saja sendiri pada pelakunya karena dia belum menjelaskan apapun padaku." Ucap Jimin yang terus berjalan menuju ruang kesehatan.
"Arra?!?" Rachel menatap Taehyung ragu. Dia terus memeluk buku yang kini di raih Taehyung.
"Kenapa kau masih belajar???" Tanya Taehyung heran. Rachel sudah memahami materi kelas terakhir ini jadi untuk apa dia mengulang materi ini lagi.
Langkah Jimin terhenti lalu melirik Rachel yang ada di punggungnya.
"Kau akan memberikannya pada kelinci itu kan?" Jimin menurunkan Rachel di sebuah bangku yang ada di sana.
Mata Rachel bergerak-gerak tak tentu arah lalu memberi cengiran khas dia karena tak tahu harus memberi alasan apa lagi.
"Aku hanya menyumbangkan buku ku padanya. Bukannya aku sudah tak menggunakan nya lagi..."
Mendengar penuturan Rachel. Taehyung dan Jimin menghela nafas frustasi. Mereka masih menjauhkan gadis mereka ini dengan kelinci berotot milik sherra.
"Terserah. Lalu apa alasan tentang ini?" Taehyung memegang kaki Rachel dan mengusap bengkak di pergelangan kaki.
"Aku terjatuh dengan kaki tertekuk. Ku kira itu akan sembuh jadi biarkan saja..." Nada Rachel yang begitu santai membuat Taehyung dan Jimin gemas.
"Lain kali kalau butuh apapun beritahu aku, mengerti?" Pertanyaan Jimin hanya di jawab anggukan oleh Rachel.
Sedangkan Taehyung mencoba cara lain. Ia tahu kalau sahabatnya tidak akan mendengar perkataan Jimin. Gadis itu akan melakukan semua hal sendiri.
Taehyung menggenggam satu tangan Rachel yang bebas lalu menatap dalam mata itu. Ia menyunggingkan senyuman lebih dulu.
"Aku tidak akan melarang atau menjauhkan mu dengan kelinci itu lagi tapi berjanji lah untuk tidak menyakiti dirimu sendiri, kau paham maksud ku kan?"
Rachel membalas genggaman Taehyung. Sekarang ia merasa lega karena sahabat nya mengerti dirinya. Ia hanya ingin menebus rasa bersalah nya itu. Ia tak ingin seseorang yang tak pernah mengusiknya hancur karena dirinya.
"Baiklah, sekarang bisa bawa aku ke ruang kesehatan? Kaki ku sudah mendengung sejak tadi..." Rengek Rachel.
"Kau kira itu telinga, mendengung?!? Lagi pula siapa yang keras kepala mengatakan itu tidak sakit."
Rachel hanya memberi cengirannya ketika Jimin menatapnya kesal. Sahabatnya itu kembali menggendongnya. Sedangkan Taehyung mengambil alih buku yang di bawa Rachel.
"Cepat sembuh. Biar ini aku yang urus. Kau percaya padaku kan?" Taehyung menatap Rachel menunggu izin gadis itu.
Rachel mengangguk. "Di setiap buku sudah ku tandai untuk dia pelajari. Bilang juga sekarang kita sudah pantas untuk bersaing."
Taehyung mengangguk sebelum pergi. Membiarkan Jimin mengantar Rachel.
****
Sherra membagikan kertas hasil ujian mereka kepada teman sekelasnya. Terlihat wajah tidak puas karena nilai yang ia dapat. Siapalagi kalau bukan kelinci nya.
"Ada apa? Ku rasa nilai mu lebih tinggi dari nilai kemarin dan ini hanya kuis biasa kookie..." Sherra mengatakan itu agar sahabatnya tidak terlalu berkecil hati.
"Tapi Taehyung mendapatkan nilai lebih tinggi dari ku Sherra. Mereka juga begitu pasti..." Lirih Jungkook.
"Pasti dan tentu saja karena Rachel yang mengajar kami." Suara yang menyebalkan untuk mereka berdua terdengar.
Taehyung masuk ke kelas saat guru sudah pergi dan duduk di tempat nya. Sherra menatap kesal Taehyung. Pria itu tetap menyebalkan dengan kesombongannya.
"Sherra beritahu kelinci mu itu, ini buku yang di titipkan Arra." Sherra meraih buku yang di berikan Taehyung.
"Dia juga bilang, setelah mempelajari pelajaran dari buku yang sama. Kalian dan kami wajar untuk bersaing. Bagaimana??" Lanjut Taehyung.
Tatapan meremehkan milik Taehyung membuat Jungkook berfikir berkali-kali untuk mengambil buku itu.
"Baik, kita bersaing secara sehat. Bagaimana kalau belajar bersama? Jadi kita tau informasi sama banyak tentang pelajaran." Usulan Sherra membuat Jungkook menghela nafas panjang.
Ia risih dengan tatapan menjengkelkan 3 manusia itu. Namun apa boleh buat. Ia juga harus memikirkan nasib beasiswa nya yang di ujung tanduk.
"Aku akan membicarakan itu dengan Arra. Persiapkan diri kalian, sahabat ku itu tidak akan main-main dalam persaingan."
Nah? Lihatlah betapa sombongnya mahluk Tuhan yang tampan itu. Sherra saja sudah bosan dengan sifat pria itu yang meninggikan orang lain. Jungkook hanya mengangguk dan membuka buku yang ada di tangan Sherra, pemberian Rachel.
Jungkook tersenyum kecil melihat catatat kecil di setiap lingkaran halaman. Gadis itu mempersiapkannya dengan baik. Ia merasa bersalah karena melemparkan kata-kata padas tempo hari. Mau bagaimana lagi, Jungkook juga seorang manusia yang juga punya rasa takut.
"Jangan menyakiti sahabat ku lagi. Dia sudah sangat merasa bersalah padamu." Ucap Taehyung yang menepuk pundak Jungkook sebelum keluar kelas.
Sherra hanya tersenyum kecil. Melihat percakapan mereka berdua yang terlihat tampak manis di matanya. Kadang pria itu tidak terlihat menjengkelkan. Kadang sangat menyebalkan.
****
"Hei! Hei! Berhenti di situ. Kakimu itu belum sembuh total. Lihat cara jalan mu. Mau kaki mu hilang sebelah? Hmm?"
Taehyung berjalan mendekati Rachel yang tadinya masih berlari ke arahnya. Pria itu sedikit kesal dengan sahabatnya. Dengan gemas ia menarik pipi Rachel tanpa rasa bersalah.
"Lepaskan bodoh! Ini sakit..." Rachel memukul tangan Taehyung yang mencubit pipinya.
"Memang kenapa? Bukannya seorang Arra tak kenal rasa sakit?!?"
"Jangan menyindir ku! Bagaimana titipan ku?"
"Hamba sudah memberikannta tuan putri."
"Dia menerimanya?"
Taehyung mengangguk. "Sherra menyarankan belajar bersama"
"Dimana?? Kapan?" Rachel menatap Taehyung dengan penuh antusias.
Pria itu sangat tau dengan sifat Rachel yang satu ini. Ia menghela nafas dan melirik Jimin yang baru saja datang mendekati mereka.
"Sherra menitip pesan padaku katanya jika mau gabung belajar bersama di kedai sup nya silahkan datang." Setelah mengatakan itu Jimin duduk di samping Rachel dan menjadikan bahu Rachel sandaran kepalanya.
Mereka berada di taman belakang sekolah. Menikmati angin yang berhembus membuat mata terasa berat. Jimin saja sudah nyaman pada posisinya. Mata ketiganya terpejam.
"Aku rindu Daddy..."
Jimin dan Taehyung membuka mata dan menatap Rachel lekat karena ucapan gadis itu. Jimin sudah menegakkan tubuhnya. Satu tangannya terulur bergerak menarik kepala Rachel ke dadanya.
Sedangkan Taehyung menggenggam tangan kanan Rachel. Ketika kata rindu terucap untuk ayah yang sudah tiada, Jimin begitu panik. Apa ada hal yang mengganggu fikiran gadisnya ini sampai kembali mengingat hal sedih.
"Kau ingin pulang?" Tanya Jimin dengan tangannya yang membelai puncak kepala Rachel.
Rachel mengangguk pelan. Entah kenapa tiba-tiba saja air matanya menetes. Ia sendiri merasa aneh pada dirinya sendiri. Kadang ia merasa bahagia, di waktu lain rasa sedih menyerangnya atau rasa kesepian di tempat ramai.
"Kau menyesal datang ke sini?" Kini Taehyung ikut bersuara.
"Aku menyesal karena mengacaukannya tapi aku tidak menyesal karena kita berkumpul lagi." Rachel mengatakan denga mata berair.
"Kau punya kami arra. Kami tidak akan pernah membuatmu menyesal." Taehyung menghapus air mata yang mengalir begitu saja di wajah Rachel.
"Ayo kita bereskan kekacauan itu bersama. Jangan menanggungnya sendiri." Jimin menepuk bahu Rachel.
Gadis itu kembali bersemangat. Ia percaya kalau semuanya akan baik-baik saja. Mereka bertiga bersiap untuk mulai membersihkan kekacauan yang mereka buat.
***
Di kedai sup milik ibu Sherra, mereka sudah datang dan membuka buku mereka. Seperti yang di tawarkan Sherra, mereka belajar bersama.
"Kenapa Jungkook belum datang?" Tanya Jimin mewakili keresahan Rachel karena sejak tadi melirik ke pintu.
"Oh dia sedang membantu ibunya. Sebentar lagi dia juga datang."
Telat setelah Sherra mengatakan itu lonceng pintu berbunyi menandakan ada orang yang masuk. Rachel menoleh sambil tersenyum menatap kedatangan pria itu.
"Nah itu dia datang." Tunjuk Sherra yang langsung memberi tempat untuk Jungkook.
Mereka mulai belajar dengan keheningan. Fokus pada pengerjaan soal yang di berikan Rachel. Soalnya memang lumayan sulit karena tingkat pembelajaran mereka berbeda tapi karena Jungkook juga sudah di berikan materi tentang itu dari Rachel, jadi dia sedikit memahaminya.
"Ada apa Sherra?" Tanya Rachel yang melihat kening Sherra berkerut.
"Aku sudah beberapa kali mengerjakannya dengan rumus di buku ini tapi tetap tak mendapatkan hasilnya." Sherra menujukan soal di buku itu pada Rachel.
"Kau salah rumus Sherra, pertanyaan ini menggunak vers yang ini. Kata kuncinya ada di sini." Jelas Rachel dengan singkat.
"Ah begitu rupanya. Aku kurang teliti dalam membaca soal." Sherra menggaruk pelipisnya saat mengakui dirinya sedikit payah.
Taehyung yang berada di samping Sherra menahan tawa lalu berbisik di telinga Sherra.
"Payah."
Sherra melirik kesal Taehyung dengan ekspresi menahan tawanya. Sherra memanyunkan bibirnya lalu kembali mengerjakan soal itu tanpa menggubris ejekan Taehyung.
"Jangan seperti itu, kau terlalu menggemaskan." Taehyung kembali berbisik.
Kali ini Taehyung melihat rona merah di wajah Sherra. Ia ikut tersenyum melihat wajah itu merona karenanya.
.
.
.
.
TBC
Ayo mana nih shippernya Taelis.