LOVE FOR THE TWINS

LOVE FOR THE TWINS
05. Bendera perang



Happy Reading. . .


~*~


Pria itu terlihat murung. Tatapannya kosong. Ia sedang duduk di bawah pohon rindang di samping sekolahnya. Angin segar itu menerpa wajahnya tapi ia terlihat tidak terhibur sama sekali. Langkah seseorang yang mendekatipun tidak mengganggunya. Hingga orang itu menepuk pundak pria itu dan menatapnya dengan tersenyum.


"Apa yang sedang kau fikirkan ? kau terlihat seperti orang tua!" pria itu tersenyum.


Pria itu menghela nafas sebelum berbicara. "Apa tanggapan mu dengan dua orang yang menari tadi ?" Jungkook menatap Sherra yang mengerutkan keningnya.


"Maksud mu Jimin dan Arra ? Aku memang tidak melihat mereka tadi tapi aku rasa mereka cukup berbakat sehingga kau tidak bisa menolak mereka masuk." Jungkook tersenyum tipis. Ia tidak ingin mendengar jawaban itu dari mulut Sherra.


"Kau terlihat dekat dengan mereka" ucapan Jungkook membuat gadis itu memperhatikan setiap ekspresi sahabatnya itu.


"Wae ? Kenapa kau tidak suka dengan mereka ?"


"Aku hanya takut mereka akan menjadi ancaman ku untuk beasiswa ini. Kau kan tahu kalau aku memperjuangkannya susah payah..." Sherra mengangguk berusaha memahami apa yang di fikirkan sahabatnya.


"Mereka terlihat baik. Aku janji, mereka tidak akan menganggu mu.." Sherra tersenyum memberikan semangat untuk Jungkook tapi pria itu menggeleng.


"Mereka mungkin baik tapi mereka adalah orang˗orang yang tidak bisa di anggap remeh Sherra˗ya. Nilai mereka sempurna dan mereka sudah tamat sekolah lebih dulu dari kita." Sherra baru mengerti apa yang di khawatirkan sahabatnya sejak tadi. Penurunan rangking Jungkook akan mempengaruhi Beasiswanya.


"Aku akan membantu mu. Jadi jangan fikirkan hal yang tidak penting lagi Kookie˗ya. Kau harus tersenyum dan tetap belajar. Kau pasti bisa melebihi mereka..." Kini pria itu tersenyum dengan tulus. Bebannya sedikit terangkat saat berbagi dengan sahabatnya yang cantik itu. Mereka menghabiskan waktu di sana. Menatap langit yang indah dan juga menikmati angin yang terus menyapa.


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~**~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*


Hari pertama mereka di sekolah seni itu di awali dengan keributan. Ada yang meremehkan mereka karena memilih Taehyung sebagai teman mereka. Rachel hanya tersenyum sinis pada gadis yang berani menghina mereka. Rachel menatapnya dari atas sampai bawah, begitupun dengan Jimin yang terlihat sangat kesal.


"Aaah~ Rachel!!! Apa kau tidak mengingat gadis ini?" Jimin berbicara dengan gadis di sebelahnya yang masih kesal dengan mereka yang menghadang Jimin dan Rachel di depan kelas.


"Memangnya dia siapa sampai aku harus mengingatnya ?" Tanya Rachel karena sudah terpancing emosi.


Taehyung yang merasa bersalah dengan kedua temannya hanya bisa berdiri di belakang Rachel dan diam. Gadis itu yang menyuruhnya untuk tidak melakukan apapun. Sampai akhirnya seorang guru datang untuk membubarkan mereka.


Masalah tidak di perpanjang karena murid di kelas itu segera masuk saat wali kelas mereka datang tapi tidak dengan Jimin dan Rachel yang menginginkan orang˗orang yang menghadangnya tadi di beri peringatan. Murid di kelas itu terlalu menganggap remeh Taehyung dan kedua temannya. Selama ini Taehyung hanya diam dan tidak melakukan apapun karena memang sangat malas untuk melawan mereka yang bukan lawannya. Mereka terlalu jauh di bawah untuk bisa mengejarnya.


Taehyung tersenyum sinis dan menatap teman sekelasnya satu persatu. Kini Rachel dan Jimin membuatnya terlalu bersemangat melawan orang˗orang yang menghinanya dulu.


"Taehyung˗ah! Kenapa kau hanya diam saja di perlakukan seperti ini dari dulu, huh?" Kesal Rachel.


Mereka bertiga memilih pergi ke kantin dari pada belajar. Di sekolah itu memang bebas. Siapa yang ingin belajar untuk mendapatkan nilai bagus, bisa tinggal di kelas. Jika tidak, maka di perbolehkan keluar. Tapi jika nilai mereka tidak mencukupi untuk lulus, mereka akan mengulang lagi sampai nilai mereka membaik. Jimin dan Rachel mempunyai nilai yang cukup karena mereka di sana hanya untuk mendapat sertifikat saja. Sedangkan taehyung, Rachel akan membantunya belajar.


"Melawan mereka tidak ada untungnya. Ada atau tidak mereka, aku tetap tidak ingin berteman dengan mereka..." Jimin hanya tertawa mendengar jawabam Taehyung. Ia mengerti sahabatnya itu karena mereka berdua ada di tempat yang sama. Tidak ada yang menginginkan mereka menjadi teman kecuali Rachel dengan sikap uniknya.


"Setidaknya kau menghentikan mereka untuk menatapmu rendah seperti itu..." Taehyung hanya mengangguk seraya menatap Rachel.


"Aku akan melakukannya sekarang..." mereka mengangguk dan memilih untuk sibuk dengan ponselnya masing˗masing.


"By the way, kalian udah daftar masuk Klub seni yang kalian bilang itu..." saat taehyung mengatakan itu, Rachel langsung menyimpan ponselnya di dalam saku.


"Kami sudah mendaftar tapi kenapa kau tidak ikut masuk ? Suara mu bagus dan kau juga bisa menari" Rachel menatap lekat Taehyung yang terlihat sedang mencari alasan.


"Aku tidak terima kebohongan taehyung˗ah" Taehyung langsung menunjukan cengirannya saat Rachel menangkap basah dirinya yang sedang berfikir.


"Mereka selalu menghina ku waktu test masuk jadi aku tidak bisa menunjukannya pada mereka. Aku jadi malas masuk ke sana. Belum lagi dengan si kelinci dan gajah Thailand itu, Augh! Aku sangat malas berurusan dengan mereka!" Rachel mengerutkan keningnya. Jimin hanya tertawa melihat wajah frustasi Taehyung.


"Siapa yang kau maksud dengan Kelinci dan gajah Thailand ?"


"Siapa lagi kalau bukan Sherra dan Jungkook. Mereka terlalu lemah menjadi saingan kita."


"Wae?" Jimin mulai tak mengerti dengan maksud Taehyung saat nama Sherra di sebut.


"Mungkin mereka sedang ketakutan saat kalian ingin masuk. Nilai mereka harus tetap tinggi tapi dengan kalian masuk ke sana, nilai mereka akan di bawah kalian. Satu˗satunya cara untuk tidak mengganggu nilainya. Mereka pasti tidak akan mengizinkan kalian masuk ke klub itu." Jelas Taehyung panjang lebar lalu mengambil strawberry milk yang ada di atas meja.


Rachel berfikir sejenak. Ia sempat mengingat perkataan JinGuk kalau Jungkook adalah anak beasiswa. Gadis itu mengangguk dan paham kenapa Sherra ikut membantu Jungkook.


"Sherra mengizinkan kita kok tapi tinggal keputusan Jungkook saja." Ucap Jimin yang percaya diri.


"Hahaha! Itu yang akan membuat kalian kesulitan." Taehyung mentertawakan dua sahabatnya tapi terhening karena dua orang yang tiba˗tiba ikut duduk di meja mereka.


"Aku tidak akan membuat mereka kesulitan. Aku akan mempermudah mereka masuk ke klub kami..." Taehyung menoleh ke sampingnya. Dua orang yang sedang di bicarakan itu ada di sampingnya.


"Kami bersaing secara sehat. Fikiran mu itu saja yang terlalu jahat kepada kami." Jimin dan Rachel tersenyum saat melihat Sherra dan seorang pria yang bernama Jungkook itu.


Rachel sempat terdiam saat Jungkook duduk di sampingnya dan Sherra duduk di samping Taehyung. Matanya terfokus kepada wajah tampan itu. Wajah yang penuh perjuangan. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah bersinar itu tapi Rachel menahannya. Karena itu sangat tidak sopan, mengingat mereka belum berkenalan.


"Apa kami sudah bisa masuk klub ?" Jimin membutuhkan jawaban yang jelas.


Jungkook mengangguk dan tersenyum tipis. Pria itu bangkit dari duduknya dan itu membuat Rachel kecewa karena hanya sebentar menatap wajah tampan itu. Harum tubuhnya yang segar, membuat Rachel ingin selalu berada di sampingnya seperti Sherra.


"Tentu saja. Seragam kalian juga sudah bisa di ambil di ruang seni nanti. Minta saja sama Sherra..." Ucap Jungkook sebelum pergi bersama Sherra.


"Hya! Tunggu!" Rachel dan Jimin menatap Taehyung yang menghentikan Jungkook dan Sherra.


Mereka berdua membalikan tubuhnya dan menatap Taehyung heran. "Wae?" Sherra menatap tajam pria yang senang sekali mengganggunya.


"Aku juga ingin masuk ke klub itu." Rachel dan Jimin saling tatap dan menoleh ke arah Taehyung.


"Kau harus test lebih dulu..." Sahut Sherra santai.


"Terakhir kali kau gagal untuk bernyanyi. Kalau kau demam panggung, lebih baik menyerah saja..."


BRAKS!


Rachel menggebrak meja kantin dengan cukup keras. Ia beranjak dari posisi duduknya dan berdiri menatap seorang pria yang memancing emosinya.


"Kau bersaing secara sehat ?" Jungkook menatap Rachel dengan kening yang berkerut. Ia heran, apa ada yang salah dengan kata˗katanya. Begitupun dengan Sherra yang menatap Rachel, bingung.


"Kalau kau demam panggung, lebih baik menyerah saja. Aku rasa kau takut melawannya. Aku juga mendengar kalau kau menghina Taehyung saat ia sedang test dua tahun yang lalu. Wah! Kau sangat hebat dalam mempengaruhi seseorang. Apa itu bisa di sebut bersaing secara sehat ?" tubuhnya menegang dan rahangnya mengeras. Ia tidak suka saat dirinya di nilai oleh orang asing. Mata tajam Jungkook bertubrukan dengan mata bulat milik Rachel.


Tidak ada rasa takut di matanya. Gadis itu seakan berhasil membangunkan singa yang sudah lama tertidur pada tubuh Jungkook. Sherra merasa tidak enak. Ia ingin menghentikan Jungkook, sebelum pria itu berbuat hal yang tak terduga.


"Arra˗ya~~ Mungkin kau salah mengerti perkataan Jungkook. Dia sahabat ku dan aku tahu siapa dia."


"Dia menghina Taehyung saat sahabat ku ingin berusaha. Jadi di mana letak salah mengerti perkataannya Sherra˗ya ?" Rachel diam. Ia menatap satu persatu sepasang mahluk yang membuatnya kesal.


"Kami akan mengizinkan Taehyung masuk kalau dia berhasil pada testnya sore ini. Aku rasa tidak ada masalah yang perlu di perpanjang..." Jungkook menahan kekesalannya bulat˗bulat saat Sherra berusaha untuk menutupi sifat temperament Jungkook. Beasiswanya akan di cabut, jika dia bermasalah sekarang.


Rachel hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Jungkook dan Sherra. "Akan adil jika aku juga mengatakan satu hal pada sahabat mu, Sherra˗ya." Sherra menatap heran Rachel yang masih terlihat belum menyerah. Sedangkan Jungkook mengangkat satu alisnya seraya menatap seorang gadis yang terang˗terangan menantangnya.


"Taehyung sahabatku dan Jungkook adalah sahabat mu. Dia mengatakan sesuatu kepada Taehyung yang membuat ku marah. Aku minta maaf kalau aku berlebihan..." Rachel membungkukan tubuhnya sambil tersenyum manis.


Mereka berempat merasa heran dengan sikap Rachel yang berubah˗ubah tapi setelah itu Taehyung dan Jimin tersenyum puas melihat apa yang di katakan Rachel benar˗benar membuat Jungkook hilang kendali.


"Aku berlebihan karena kami mendapatkan segalanya dengan mudah. Aku tidak suka penghinaan tapi aku sadar setelah bertemu seseorang yang menghina kami. Dia berjuang mati˗matian untuk mendapatkan segalanya. Jadi aku berfikir, siapa yang lebih hina ? maaf jika tadi aku berlebihan..." Sherra hanya tersenyum dan mengangguk.


"Taetae!! Jiminie!!! Ayo kita ke kelas, kami duluan ya Sherra˗ya.... Jungkook˗ssi" Rachel tersenyum lembut ke arah Sherra dan melemparkan senyum meremehkan ke arah Jungkook, sebelum mereka pergi.


"Hya!!!" Tubuh Rachel tertarik ke belakang saat pria itu menarik tangannya cukup kuat.


"Hya! Jeon Jungkook hentikan!" Sherra terlihat histeris saat melihat Jungkook menarik Rachel menjauh dari mereka.


"Hya! Kelinci bodoh! Kau mau bawa kemana sahabat ku!!!" Taehyung bersama Jimin dan Sherra berlari mengejar Jungkook yang berjalan dengan cepat.


"Ini sakit! Lepaskan!!! Apa kau tuli? Huh?!?" Rachel yang sejak tadi di tarik oleh Jungkook yang menggenggam tangannya sangat kuat hanya bisa memberontak. Mata Jungkook berkabut. Dia benar˗benar marah sekarang tapi langkahnya terhenti saat Sherra berada di hadapannya merentangkan tangannya agar pria itu berhenti.


"Menyingkirlah Sherra˗ya!!" Bukannya pergi dari sana, gadis berambut pirang itu memukul kepala Jungkook cukup kuat. Melepaskan pegangan Jungkook dari tangan Rachel secara paksa dan menarik Jungkook pergi dari sana.


"Wah mereka memang pasangan gila!!!" Jimin benar˗benar tak percaya dengan apa yang ia lihat. Jungkook terlihat diam saja saat Sherra memukul dan menarik pria itu.


"Hya! Kau tidak lihat tangan ku memerah! Setidaknya kau perhatikan aku dulu sebelum kau memperhatikan gadis itu!!" Rachel terlihat kesal dengan Jimin yang mengabaikannya.


"Mianhae Sweety. Aku lupa dengan kau tadi..."


"Ya sudah! Lupakan aku mulai sekarang! Dasar playboy bodoh!" Umpat Rachel dan menarik Taehyung menjauhi Jimin.


"Hahaha! Semangat Park Jimin!!" Ucap Taehyung yang terkekeh melihat Jimin berusaha untuk membujuk Rachel.


"Arra˗ya~~"


"Mwo?" taehyung menarik tangan kanan Rachel. Terlihat jejak tangan Jungkook yang memerah di permukaan kulit putih Rachel.


"Ini menyakitkan ya ? Apa kau akan mempersalahkan ini ?" Rachel heran. Raut wajah taehyung seakan mengatakan untuk menyudahinya saja.


"Memangnya kenapa ?"


"Dia terlihat menyedihkan tanpa Beasiswanya. Melihat dia mempertahankan itu saja sudah menyedihkan, apalagi kehilangan beasiswanya. Hanya itu harga dirinya sekarang Arra˗ya..." Rachel tersenyum. Sifat Taehyung yang pengertian dan baik ini membuat Rachel belajar banyak dari sahabatnya ini.


Tapi kenapa Taehyung tidak mempunyai seorang teman yang tetap tinggal di sisinya. Rachel tersenyum miris pada orang˗orang yang mengabaikan Taehyung. Pria itu punya sejuta kejutan dan perhatian yang mampu meluluh lantahkan hati seseorang. Hanya saja, semua orang takut mencoba untuk bertahan di sisi Taehyung.


"Aku tidak mempersalahkannya. Ini tidak seberapa. Mungkin kata˗kata ku tadi sangat menyakitinya tapi kau tetap akan mengikuti test itu kan ?" Taehyung menghela nafas dan menatap Rachel.


"Aku terlalu takut untuk mencobanya lagi Arra˗ya..." tangan Rachel kini sudah berada di pundak Taehyung. Menepuk pelan pundak itu berkali agar semangat Rachel itu tersalurkan untuk sahabatnya.


"Kau hanya perlu mencoba. Maju untuk test itu dan bayangkan kalau kau sedang berjalan ke arah kami. Setidaknya aku akan menghabiskan satu tahun terakhir ku di Sekolah seni ini bersama mu. My Best Friend." Semangat Taehyung kembali membawa. Rachel memang selalu membawa energi positif untuk orang˗orang di sekitarnya.


"Hei Cantik~ Sampai kapan kau akan mengabaikan ku ?" Jimin datang seraya merangkul Rachel dan taehyung dengan kedua tengannya tapi dua orang itu terlalu kompak untuk menepis tangan Jimin.


"Menikahlah dengan ibu mu, mungkin saat itu aku tidak akan mengabaikan mu..." Taehyung tertawa mendengar perkataan Rachel. Gadis itu juga ikut tertawa saat kembali membayangkan Jimin menikah ibunya.


"Hya! Kau membayanginya lagi kan!?! Aishh!! Jinja, ne!!! Terserah kalian saja kalau begitu!!" wajah kesal Jimin membuat Taehyung dan Rachel semakin tertawa. Gadis itu segera mengejar Jimin yang pergi karena kesal. Di susul Taehyung yang benar˗benar bahagia karena memiliki dua sahabat yang sama anehnya dengan dirinya.


Di sisi lain mereka tidak sadar, pria itu menatap mereka bertiga penuh kebencian. Entah sejak kapan, bendera peperangan itu berkibar. Yang jelas, kali ini pria itu tidak akan tinggal diam.


.


.


.


.


.


TBC