
Jeon Somi as Mirahel Swan/ Choi Arra
Happy Reading. . .
~*~
Taehyung berhasil melalui testnya. JinGuk merasa kagum dengan penampilan Taehyung yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Suara berat itu mampu mempesona setiap telinga yang mendengar. Taehyung sengaja menutup mata agar mendapatkan kekuatan dari sahabatnya yang selalu mendukungnya.
Kini mereka terus berselfie ria di tempat latihan. Tepatnya di Aula sekolah yang sangat besar. Semuanya tampak tersenyum dan iri melihat kekompakan dan keceriaan mereka. Rachel bisa merasakan itu dari tatapan mereka. Ide uniknya pun muncul. Mereka bertiga punya tantangan satu sama lain.
"Jiminie!! Taetae!! Kalau begini terus tidak asik..!" Rachel terlihat sedang menatap foto mereka bertiga yang sudah mereka unggah ke akun instagramnya.
"Wae ?" Taehyung penasaran dengan maksud Rachel.
"Hya! lima ribu like itu sudah biasa! Aku ingin lebih!!" Taehyung mengangguk mengerti.
"Caranya ?" Jimin akhirnya membuka suara karena sejak tadi dia sedang fokus dengan akun instagram yang ia stalking.
"Begini! Di sini kan ada banyak anggota, jadi siapa yang dapat foto terbanyak dan like terbanyak, Daging sapi korea boleh dong jadi traktirannya..." taehyung tertawa pelan. Ide bagus untuk Rachel tapi tidak untuknya.
"Kapan mulainya ?" Tanya Jimin yang terlihat anatusias. Di sini banyak gadis˗gadis cantik yang sejak tadi memperhatikannya.
"Attention please!!!" Jimin dan Taehyung yang baru ingin mulai teralihkan oleh suara Rachel yang menjadi pusat perhatian.
"Ada apa ?" Tanya salah satu mereka yang sedang menatap Rachel.
"Perkenalkan nama ku Choi Arra. Aku ingin lebih kenal dengan kalian, jadi apa boleh kita saling tukar akun dan berfoto bersama ?"
"Hya! Rachel!"
"Hya! Arra!"
Taehyung dan Jimin berteriak bersama tapi gadis itu hanya tersenyum licik sambil tertawa penuh kemenangan.
"Itu curang!!" Ucap Jimin dan Taehyung yang lagi˗lagi bersamaan.
Semuanya tertawa melihat interaksi mereka tapi yang sejak tadi memang ingin bertukar informasi dengan mereka segera mendekat Rachel. Jimin juga memulai aksinya, sedangkan Taehyung hanya duduk di sudut dinding sambil tersenyum melihat teman˗temannya.
"Permisi kak? Kakak gak fotbar juga ?" Seorang gadis manis dengan rambut yang di jalin dua sedang menatap Taehyung. Pria itu tersentak dan menatap horror gadis itu.
"Wae ? Apa aku mengganggu kakak ?" Taehyung hanya menggeleng dan tersenyum. Mungkin, dia juga harus memulainya.
"Iya tapi sepertinya tidak ada yang mau berfoto dengan ku." Ucap Taehyung sambil tersenyum.
"Sebentar ya kak..." Taehyung hanya mengangguk menatap gadis itu menoleh ke belakang,
"Eunha˗ya!!! Panggil mereka semua kemari, kak Taehyung mengizinkan kita berfoto!!! Ppali!!!" Taehyung hanya tertawa pelan melihat gadis itu sangat bersemangat memanggil teman˗temannya.
"Oh ya kak, nama ku Jung Yerin, kakak bisa memanggil ku Yerin. Aku fans kakak loh. Teman˗teman ku juga suka kakak!" Taehyung mengerutkan keningnya tapi dia tersenyum dan bingung.
"Wae ?"
"Karena kakak orangnya cuek dan dingin. Kakak gak suka balas kejahatan orang lain. Kami juga Shipper kak Tae sama kak Sherra juga loh!!!" Gadis itu terlihat bersemangat yang membuat Taehyung jadi sedikit takut. Taehyung dan Sherra? Pria itu segera menggelengkan kepalanya kuat˗kuat. Bagaimana mungkin ia dengan gajah Thailand itu yang pawangnya cuma Jungkook saja.
"Hmm.. Makasih ya... udah suka sama kakak!!" ucap Taehyung pada Yerin sebelum gadis itu sudah di dekati oleh sahabatnya.
"Kak Tae, Aku Eunha sahabatnya Yerin. Apa aku juga boleh berfoto dengan kakak ?"
"Aku Umji kak, Aku juga ya kak..."
"Aku Sowon kak, Aku mau dong kak..."
"Eunbi juga mau foto sama kakak..." Taehyung tersenyum mengangguk melihat mereka berlima histeris. Tapi seorang gadis yang berdiri di belakang sambil menunduk membuat Taehyung menatapnya aneh.
"Dia juga teman kalian ? Kenapa di belakang ? Gak mau foto sama kakak ?" Tanya Taehyung dengan sangat ramah.
"Yuju˗ya, kemari!! Kenapa kau hanya di belakang saja!" Eunha menarik temannya itu dan Taehyung hanya memperhatikan mereka.
"Aku hanya takut kak Taehyung marah lagi..." Taehyung makin bingung. Bisikan Yuju itu terdengar jelas oleh pria itu.
"Memangnya kapan aku pernah marah dengan mu ?" Tanya Taehyung karena ia benar˗benar tidak tahu.
"Waktu di kedai sup. Aku hanya ingin mengembalikan dompet kakak yang tinggal tapi kakak malah marah dan pergi..." Taehyung mengingat hari itu sejenak. Dia memang sangat marah karena Sherra mengusirnya waktu Taehyung baru saja selesai makan. Tapi seorang gadis datang untuk mengembalikan dompetnya dan itu bertepatan dengan mulutnya yang mengumpat untuk Sherra.
"Aaaah! Itu bukan untuk mu. Aku sedang kesal dengan seseorang. Terima kasih ya karena sudah mengembalikan dompet ku..." Yuju tersenyum senang. Dia mengangguk dan menatap Taehyung ragu˗ragu.
"Jadi siapa yang ingin berfoto duluan ?" Yerin langsung antusias mengambil bagian yang pertama.
Mereka bergantian mengambil foto. Taehyung juga bertukar akun dengan mereka. Mengupload foto itu dan men-tag nama mereka. Membuat mereka semakin histeris dan menambah rasa suka mereka padanya. Taehyung selalu mempunyai caranya sendiri. Sedangkan Rachel dan Jimin sudah sesak napas karena ia tak henti˗hentinya melakukan foto bersama.
Hari itu mereka selesaikan dengan foto bersama para anggota dengan kamera JinGuk. Mungkin sudah lama mereka tidak melakukan ini karena peraturan yang di berikan Jungkook dan Sherra. Mereka tidak di izinkan membawa ponsel saat latihan. Tapi Jimin, Taehyung dan Rachel yang baru masuk dan belum tahu tentang peraturan itu dengan santai mengeluarkan ponselnya. Untung saja Jungkook dan Sherra hari ini tidak hadir karena mereka ada penampilan di sekolah lain untuk kompetisi. Kalau ada mereka, mungkin saja akan jadi perang lagi.
***********************
Pria itu menatap seorang gadis yang sedang merapikan buku˗buku di atas meja dan kembali ia letakan di rak yang seharusnya. Mereka sedang di perpustakaan sekolah. Tampak sepi dan hanya mereka berdua yang ada di sana karena seseorang baru saja pergi. Pria itu hanya terus menatap gadis itu yang terlihat mengabaikannya. Pria itu berjalan mendekat saat melihat gadis itu kesusahan untuk meletakan buku di rak paling atas.
Pria itu melingkarkan tangannya di pinggul gadis berambut pirang itu dan menarik buku yang di pegang gadis itu dan meletakannya di rak dalam waktu beberapa detik. Gadis itu ˗Sherra˗ yang masih terkejut dengan kehadiran pria itu, berdiri kaku dengan nafas tertahan.
"Hya!!! Apa yang kau lakukan ?!?" Sherra menatap tajam Taehyung yang hanya berjalan santai meninggalkannya.
"Aku hanya ingin membantu" terdengar ringan suara itu mengatakan hal yang membuat Sherra benar˗benar kesal.
"Hya! Dasar psiko ! Gila! Apa dia tidak bisa benar˗benar tidak mengganggu ku! Augh!!!" umpat sherra seraya menatap kesal bayangan Taehyung yang sudah menghilang. Tanpa ia sadari kalau pria itu masih mendengar kata˗kata yang ia lontarkan pada pria itu. Taehyung hanya tersenyum mendengarnya.
.
.
.
Jam sekolah berlangsung. Setelah ujian harian baru saja berakhir, mereka meregangkan otot dan otak mereka untuk bermain sejenak. Ini baru semester awal untuk mereka. Tapi perubahan nilai tertinggi membuat mereka kagum dan tak percaya.
Semua siswa sedang memperhatikan madding. Mereka mencari urutan di mana Nama mereka terpampang. Tiga sekawan itu terpekik girang. Mereka terlalu santai dalam belajar tapi mereka bisa mempertahankan nilai mereka dengan baik.
Rachel dan Jimin yang baru pindah cukup membuat siswa lain merasa kagum. Apalagi mereka terlihat sering keluar kelas untuk bermain. Mereka meraih tingkat tertinggi dengan Rachel yang memimpin. Taehyung yang pasalnya sangat cuek dengan pelajaran, kini ia berada di urutan kedua.
"Hyaaaa~~~ Jimin˗ah! Kau memang bodoh ya???"
"Taehyung˗ah? Termenung ?"
"Lagi ?"
"Wae geurae???"
"Kau sedang terlilit hutang ?"
"Atau kau sedang menahan sesuatu yang bergejolak dalam perut mu?" Pertanyaan terakhir Rachel membuat Jimin mendelik.
"Yak! Tak ada satu pun yang kalian katakan!!!" ucap Taehyung sambil tersenyum. Sejak kedatangan dua sahabatnya, dia lebih sering tersenyum dan berfikir.
"Wae??? Apa yang mengganggu fikiran mu ?" Jimin merangkul Taehyung.
"Seharusnya kau senang dengan nilai mu yang naik..." ucap Rachel yang mendapatkan senyum lembut dari Taehyung.
"Ntahlah~ Aku malah memikirkan yang lain. Kalau begitu ayo kita makan daging di kedai dekat sekolah..."
"Oke, brother.." mereka bertiga kembali tertawa memikirkan nilai mereka yang naik.
Tiba˗tiba tawa Rachel terhenti. Ia menatap seseorang yang menarik perhatiannya tengah memperhatikan mereka dengan tatapan yang tak dapat ia artikan. Rachel meneguk ludahnya kasar. Ia kembali teringat fakta yang tak seharusnya ia abaikan. Seseorang bisa hancur karena keegoisannya. Apa Taehyung memikirkan hal yang sama ? Rachel memilih pulang dan absen dari pelajaran berikutnya tanpa di ketahui Jimin dan Taehyung,
−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−−
Sore ini setelah menghabiskan makanannya di kedai sup milik Sherra, Gadis dengan rambut hitam legam yang menggantung di punggungnya masih duduk di tempatnya. Dua teman prianya sudah memilih pulang tapi gadis itu masih terlihat nyaman di sana.
"Agashi!!! Apa kau tak pulang?" wanita paruh baya yang dekat dengan Taehyung itu tengah menatap Rachel yang tersenyum gugup.
"Ahjuma... Apa Sherra belum pulang ? Hari ini terlihat cukup ramai..." Rachel mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kedai. Sejak tadi ia tak melihat Sherra untuk membantu ibunya.
"Sepertinya dia sedang belajar di tempat Jungkook. Apa kau sedang menunggunya ?" Rachel menggeleng dan tersenyum penuh maksud ke arah wanita paruh baya itu.
"Ahjuma..."
"Wae ?"
"Apa aku boleh membantu mu ?" Ahjuma itu terlihat terkejut. Dia heran kenapa gadis secantik Rachel dengan penampilan seperti orang kaya kebanyakan, menawarkan diri untuk membantunya.
"Kenapa kau ingin membantu ? Aku tahu tangan mu masih halus dan tak pernah di pakai untuk bekerja..." Rachel tampak tak suka saat mendengar kenyataan itu.
"Maka dari itu!! Aku ingin belajar. Aku juga ingin tahu bagaimana cara memasak. Tidak ada yang mau mengajarkan ku, Ahjuma..." Mata bulatnya berkedip˗kedip lucu. Rachel terlihat sangat menggemaskan.
"Tapi jangan salahkan aku jika tangan mu terluka..." Rachel tersenyum senang saat Ahjuma mengatakan hal itu.
"Neeee!!! Marahi saja kalau aku salah Ahjuma. Aku akan membantu mu..." wanita paruh baya itu tersenyum melihat Rachel yang sangat antusias.
Tanpa di suruh gadis itu langsung mengambil piring˗piring kotor dan membereskan meja yang tampak kotor. Gadis itu menyapa para pelanggan yang baru masuk. Wanita paruh baya itu tersenyum, terlihat kebahagiaan saat ia melihat wajah semangat itu.
Malam pun tiba. Rachel mengipas wajah dengan tangannya. Ia tersenyum senang saat merasakan lelah karena bekerja. Ini perasaan bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Wanita paruh baya itu meletakan segelas air dingin dan semangkuk sup hangat di depan Rachel.
"Ahjuma..." Rachel merasa tak enak jika wanita paruh baya itu selalu baik padanya.
"Habiskan. Kau sangat lelah hari ini. Anggap saja upah mu karena membantu..." Rachel tersenyum dan terasa nyaman saat Ahjuma mengusap puncak kepalanya dan membelainnya lembut.
"Gomawo Ahjuma..." Rachel segera memakan sup hangat itu. Ia ingin menahan tangisnya karena bahagia. Ia merindukan ayahnya. Ia merindukan sosok seseorang yang selalu ada untuknya.
Hampir makanannya habis tapi kedatangan Sherra dan Jungkook menghentikan kegiatannya. Rachel segera bangkit dari duduknya karena merasa gugup saat berhadapan dengan mereka berdua.
"Oh. Arra˗ya~ Kau di sini ?" Rachel hanya mengangguk saat Sherra melemparkan pertanyaan padanya. Rachel juga terlihat lesu saat Jungkook menatapnya sinis.
"hmm... aku di sini hanya untuk makan." Sahut Rachel.
"Dia sudah banyak membantu di sini. Kau baru pulang Sherra˗ya ? Ada Jungkook juga ?" wanita paruh baya itu ikut bergabung dengan mereka. Rachel segera membereskan piringnya, membiarkan mereka bertiga berbincang.
"Ne Eommonim." Rachel hanya tersenyum mendengar suara khas Jungkook yang jarang sekali ia dengar.
"Ahjuma. Aku rasa aku harus pulang, terima kasih untuk hari ini. Besok aku akan datang lagi... Sherra˗ya aku pulang dulu ya..."
"Aigoo!! Harusnya aku yang berterima kasih pada mu! Kalau Lapar kau langsung mampir saja Arra˗ya~" Rachel pamit dengan ibu Sherra dan juga Sherra. Gadis itu juga melempar senyum ke arah Jungkook tapi pria itu hanya membuang mukanya.
Tidak lama Rachel pamit untuk pulang. Pria itu juga pamit pulang. Lagi pula ia di sana hanya untuk mengantar Sherra. Walaupun jarak rumah mereka tidak terlalu jauh tapi membiarkan Sherra berjalan sendiri di malam yang dingin ini membuat Jungkook terlihat tidak bertanggung jawab nantinya.
Pria itu berjalan menuju rumahnya di tengah sepinya malam tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar suara motor yang mengikutinya dari belakang. Jungkook menoleh dan terlihat kesal saat mendapati wajah Rachel yang tersenyum ke arahnya. Baru saja Jungkook kembali berjalan untuk mengabaikan gadis itu, langkahnya kembali tertahan karena gadis itu lebih cepat menghadang jalannya.
"Apa yang kau ingin kan ? ingin menghina ku lagi ? Atau membanggakan sahabat mu yang berhasil menyingkirkan ku dari urutan pertama ? huh? Katakan saja karena aku malas berurusan dengan kalian!!" Rachel sempat tertegun dan nyalinya menciut saat Jungkook berkata begitu.
Rachel turun dari motornya dan berjalan mendekati Jungkook. Pria itu hanya menatap ke arah lain. Ia takut akan berbuat di luar kendali karena melihat wajah orang yang membuatnya begitu frustasi hari ini.
"Mianhae! Jeongmal Mianhae Jungkook˗ssi!!" Rachel ragu menatap wajah pria itu.
"Apa kau sedang mengejek ku sekarang ?" kini mata itu berkilat menatap gadis di hadapannya.
"Aniyo! Aku hanya ingin minta maaf. Aku benar˗benar minta maaf. Aku terlalu egois dan tidak memikirkan yang lain" Jungkook tertawa sangat keras seakan menutupi hatinya yang sedang berteriak kesal. Pria itu melemparkan tatapan sinisnya pada Rachel.
"Wae ? kenapa kau meminta maaf pada ku ? Karena kau terlalu pintar atau karena aku terlalu mudah di kalahkan ? Oh! Arraseo! Arraseo!! Karena aku miskin, benar begitu kan ?" Jungkook mencengkaram kedua pundak Rachel dengan sangat kuat. Gadis itu merintih kesakitan tapi sebisa mungkin ia menahannya, membiarkan pria itu meluapkan kekesalannya.
"Mianhae. Aku tak pernah berpikir begitu. Maaf kalau kedatangan ku dan Jimin hanya membuat mu salah paham. Aku dan sahabatku hanya ingin mendapatkan sertifikat dari klub tari mu. Itu saja. Kami tidak ada niat untuk mencari lawan. Aku janji untuk tidak mengganggu nilai mu lagi Jungkook˗ssi..." ucap Rachel yang air matanya tak tertahankan. Entah kenapa ia terlalu emosional di hadapan pria itu.
Bahkan tawanya menghilang berganti tangis yang tak pernah ia perlihatkan pada orang lain. Apalagi dengan Jungkook, dia hanya orang asing yang menilai negatif tentang Rachel. Pria itu hanya menghembuskan nafas kesalnya. Ia melepaskan cengkraman itu dengan kasar. Ia hanya terus berjalan menuju rumahnya tanpa ada sepatah katapun yang ia ucapkan pada Rachel. Ia takut emosinya akan meluap saat itu juga.
Rachel menatap kepergian Jungkook dengan mata sembabnya. Ia sangat merasa bersalah. Ia tak tahu kenapa merasa begitu. Jungkook punya pengaruh sendiri untuk membuatnya tertarik pada wajah angkuh pria itu. Rachel kembali mengendarai motornya dan pulang menuju rumah. Hari ini ia sangat lelah, belum lagi hati dan otaknya terus bekerja hari ini. Mungkin bukan tempat tidur yang akan langsung ia singgahi saat di rumah. Berendam di bath upnya sampai pagi, selalu ia lakukan kalau ia sedang banyak pikiran.
.
.
.
.
.
TBC