LOVE FOR THE TWINS

LOVE FOR THE TWINS
01. Miss



Di rumah besar yang megah itu terlihat sekali para pelayan sangat sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Nona muda baru saja bangun dan bergegas mandi tapi semua pelayannya malah sibuk mempersiapkan semuanya sebelum Nona Muda selesai mandi.


"Rei!!! Mana baju ku ??" Gadis muda yang berseragam sama dengan pelayan di rumah itu segera berlari ke kamar Nona Muda.


"Nona Muda, Ini sudah saya siapkan..." Pelayan itu menunjukan pakaian yang berada di atas ranjang Nona Muda.


Gadis cantik itu tampak menggeleng. Ia tidak menyukai baju yang di pilihkan oleh pelayannya itu. Beberapa pelayannya yang lain ikut masuk ke dalam kamar Gadis cantik itu yang sangat luas. Pelayan itu mengikuti gadis cantik itu ke sebuah ruangan yang menyimpan banyak pakaian, sepatu atau apapun milik gadis itu.


"Maaf sebelumnya Nona Muda, memangnya hari ini Nona Muda mau kemana ?" Rei. Si pelayan yang selalu mengikuti Nona Muda kemanapun Nona Muda pergi.


"Rei! Hari ini hari perpisahan ku, bagaimana kau bisa melupakannya!!!" Kesal gadis cantik itu yang sedang memilih baju yang akan ia kenakan.


Butuh waktu satu jam untuk memilih pakaian. Untung saja gadis itu bangun sangat pagi hari ini. Gadis itu menatap dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya. Rambutnya yang ia lepaskan dan menggantung sepinggang membuatnya tampak sangat cantik.


"Rei. Hari ini aku bawa mobil sendiri jadi kalian tidak perlu ikut dan bilang pada Om Adam untuk tidak menyuruh orang mengikuti ku! Mengerti!" semua pelayannya hanya menunduk saat gadis itu keluar dari kamarnya dengan sepatu sportnya dan tas sampingnya.


"Nona Muda. Nanti jika Tuan Adam bertanya nona dengan siapa pergi, saya harus jawab apa nona ?" Gadis itu menoleh tanpa membalikan badannya.


"Aku pergi dengan Jimin, nanti aku akan meminta izin dengan om Adam." Setelah mengatakan itu, gadis cantik itu benar˗benar pergi dari rumah megahnya.


Tampak mobil Minicooper berwarna biru itu meninggalkan perkarangan rumahnya yang sangat luas dan jauh dari pintu gerbang rumahnya. Seleranya sangat unik. Orang lain tidak bisa menebaknya dalam sekali melihat.


˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗˗


Rambut lurusnya yang pirang terterpa angin sepoi˗sepoi yang baru saja berlalu. Wajahnya tanpa senyum, hanya sorot matanya yang tajam itu menjadi perhatian orang˗orang yang baru datang ke kedainya.


"Silahkan~ Mau pesan apa nona ?" Suara wanita paruh baya segera menghampiri pelanggan yang baru masuk. Menggantikan gadis cantik itu dari posisinya.


"Aku pesan mie seperti biasa ahjuma, teman ku juga..." Tutur lembut seorang gadis dengan seragam sekolah pada wanita paruh baya itu.


"Baiklah, tunggu sebentar ya..."


"Ne ahjuma" gadis˗gadis muda itu tersenyum saat wanita paruh baya itu menyuruh mereka untuk menunggu.


"Sherra˗ya!! Antarkan ini ke meja mereka."


"Ani!! Aku tidak akan mengantarkannya pada mereka!" wanita paruh baya itu menghembuskan nafas lelahnya saat anaknya kembali menolak perintahnya.


"Jika kau tidak bisa menolong Eomma, pergilah!" gadis berambut pirang itu melepas celemek yang tadi ia kenakan, lalu melemparnya ke sembarang tempat. Gadis itu menatap ibunya tajam sebelum akhirnya pergi dari kedai ibunya.


"Benar˗benar!! Anak ini! Kenapa kau selalu begini pada ibu mu! Kau selalu sombong dengan wajah mu itu! Apa kau masih mampu memamerkan kalau kau berdarah campuran?!? Melayani orang saja tidak mau?!? Aku sudah bekerja keras untuk menghidupkan mu! Tapi kenapa kau masih saja bersikap seperti itu!!" Gadis itu seakan menulikan telinganya. Ibunya selalu membuatnya malu.


Dia memilih menatap aliran sungai yang tenang di dekat rumahnya. Air matanya mulai mengalir. Dia merindukan seseorang. Seseorang yang mungkin saja melupakannya. Sherra mengambil batu kecil yang berada di sampingnya lalu melemparnya sangat jauh.


"Teringat masa lalu hm?" Suara itu mengejutkan gadis beramput pirang.


Choi Sherra. Gadis itu segera menghampuskan air matanya dan beranjak pergi dari sana tapi pria itu menahan tangannya tapi gadis itu menepisnya. Pria itu tersenyum tipis, dengan sekali hentakan pria itu menarik gadis itu sehingga gadis itu menghadapnya.


"Kyaaa!! Apa yang kau lakukan!!!" Gadis itu memekik seraya menghempaskan tangan itu lagi dan menatap tajam pria itu.


Tatapan pria itu lurus ke arahnya, membuat gadis itu tampak gugup dan mengalihkan pandangannya.


"Apa kau sedang latihan drama ? ku kira kau tidak akan pernah berhasil. Akting mu sangat payah!" ujar pria itu yang merendahkannya.


"Berhenti untuk menggangguku!! Apa urusan mu ! Apa hak mu! Aku yang berbuat tapi kau selalu berkomentar?!? Wah ku kira aku akan mendapat satu fans sebelum aku tampil di TV!" gadis itu memutar matanya malas setelah berbicara seperti itu. Ia kembali melangkahkan kakinya menjauh dari pria itu.


"Hyaaa! Kau seperti artis yang gagal memainkan peran! Jadi berhentilah memulai sandiwara mu itu di depan ku!" Gadis itu hanya mengumpat dalam hati saat pria itu terus mengekorinya.


"Apa kau tidak punya kerjaan ??? Kau kesepian huh ? Apa aku ini seperti taman bermain untuk mu ? Menghina ku adalah sebuah tawa untuk mu ? Kau sangat menyedihkan!" Pria itu mematung saat gadis itu mengucapkan setiap kalimatnya tanpa mengedipkan mata.


Sherra tersenyum sinis melihat pria itu tidak berkutik sama sekali. "Ya! Memang aku kesepian! Karena itu aku selalu mengganggu mu! Tapi bisakah kau tidak mengatakannya dengan jelas!" Gumam pria itu yang tak lagi mengikuti gadis berrambut pirang itu.


Gadis itu selalu tahu kebenaran tentang pria itu. Bahkan gadis itu tidak menyadari kalau kata˗katanya menyinggung sesuatu yang terluka di hati pria itu. Gadis itu hanya tahu mengungkapkan isi hatinya yang meluap˗luap namun sering tertahan di tenggorokan.


"Mirachel!!!" Gadis itu membalikan tubuhnya. Menurunkan kaca mata yang ia kenakan, ke atas kepalanya. Menajamkan penglihatannya kepada seseorang yang memanggilnya.


"Maafkan aku, cantik! Ada urusan mendadak yang harus ku selesaikan tadi..."


"Dasar! Jangan jadikan wanita˗wanitamu itu sebagai alasan! Playboy kampungan!" Pria itu. Jimin. Ia sudah biasa dengan panggilan merendahkan itu dari mulut Gadis cantik itu. Jimin segera mengejar Rachel yang sudah berjalan meninggalkannya.


"Apa acaranya sudah di mulai ? Kenapa kau kelihatan marah sekali ?" Jimin merangkul Rachel itu seraya berjalan ke sebuah bangunan megah di sekolahnya itu.


"Masih acara formal. Acara kita belum tapi aku gugup dan perlu latihan berulang˗ulang! Tapi kau malah menghilang..."


"I'm Sorry babe..."


"Kau sangat menjijikan!!" Rachel melepaskan tangan Jimin yang merangkulnya tadi. Wajahnya menunjukan ekspresi aneh tapi terlihat lucu di mata Jimin.


"Hei hei hei! Itu kata˗kata paling ampuh saat kekasih ku sedang marah pada ku!"


"Tapi aku bukan salah satu dari wanita mu itu bodoh!!! Aku Mirachel Swan! Aku tidak akan terjerat oleh Playboy kampungan seperti mu!!!" Jimin tertawa pelan. Lalu menarik Rachel untuk bisa melingkari tangannya di pinggang ramping gadis itu.


Gadis itu tampak menatap wajah Jimin dengan ekspresi terkejut dan imut tapi itu hanya pura˗pura. "Apa yang kau lakukan Park Jimin ? kau membuat jantung ku berdetak lebih cepat!!" Jimin tersenyum menatap wajah menggemaskan Rachel lalu pasrah saat kepalanya di dorong oleh telunjuk Rachel.


"Kau kira aku akan berkata begitu dengan sungguh˗sungguh! Sekali lagi kau mencoba mengganggu ku dengan tipuan bodoh mu itu! Aku tak kan segan membuat mu kehilangan karisma di sekolah!" Jimin tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih.


Jimin hanya menggeleng pelan dan menujukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang membentuk huruf 'V' kearah Rachel. Siapa yang tidak tahu dengan keunikan Rachel. Gadis itu bahkan tidak punya urat malu untuk membuat orang lain kehilangan harga dirinya.


Pernah teman sekelasnya mengganggunya karena itu hari pertama ia memasuki di tingkat yang lebih tinggi. Junior High School. Seorang gadis menatap Rachel dengan tatapan rendah. Mungkin gadis itu berfikir kalau Rachel adalah seorang siswa cupu karena pakaian Rachel yang aneh di hari pertama itu. Terlalu kolot menurut gadis itu. Tapi begitulah Rachel, setiap harinya ia punya gayanya sendiri. Dia bahkan melakukan apapun yang membuatnya senang.


Gadis itu membuat buku˗buku Rachel harus terendam air. Itu cukup membuat Rachel kesal, karena yang ia bawa saat itu bukanlah buku tulis kosong tapi komik yang sering ia baca. Saat itu Rachel berpura˗pura kalau ia kerasukan hingga para guru memegang tubuhnya yang kejang˗kejang. Rachel yang meracau tidak jelas itu di dengarkan baik˗baik oleh gurunya. Rachel menyuruh gadis yang membuat komiknya basah itu memotong rambutnya seperti laki˗laki, kalau tidak ia akan merasuki semua murid yang ada di sini. Dengan terpaksa gadis itu memotong rambut panjangnya karena paksaan guru˗guru, teman˗temannya dan juga orang tuanya. Gadis itu bahkan sampai tidak masuk dua bulan hanya karena Rachel yang pura˗pura kerasukan.


Jimin sangat mengenal siapa Rachel. Pria itu bahkan sudah tumbuh bersama saat mereka pertama masuk sekolah. Sikap aneh Rachel itu membuatnya selalu tertawa tapi Rachel mempunyai sifat solidaritas yang tinggi. Ia akan membela teman˗temannya yang tertindas.


Ia mempunyai banyak teman, tapi tidak sedikit pula siswa lain yang tidak menyukainya. Latar belakang keluarganya membuat siapapun tak akan berani menyentuhnya bahkan jika mereka sangat sakit hati sekalipun.


"Ms. Rachel..." gadis itu menatap pria paruh baya dengan kepalanya yang tanpa rambut itu sedang berjalan ke arahnya.


"Yes, sir..." Sahut Rachel pada gurunya.


"Ini data yang kau minta kemarin. Aku rasa sertifikat dan piagam mu sudah cukup untuk mempermudahkan masuk SNU. But, Why did you Choose that University ?" Rachel tersenyum seraya menerima amplop yang di berikan oleh gurunya itu.


"Ada sesuatu yang harus ku bereskan di sana. While looking for a new atmosphere for my education sir." Pria tua itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Rachel adalah salah satu murid yang membanggakan untuknya.


"Kalau begitu saya pergi dulu, masih banyak urusan yang belum terselesaikan."


"Ok, Sir. Thanks for this..." Rachel tersenyum dan merundukan kepalanya sedikit menunjukan rasa hormatnya pada gurunya sebelum gurunya pergi dari hadapannya.


"Kau akan ke Korea ?" Rachel menatap ke samping ke arah Park Jimin yang sejak tadi menguping pembicaraannya. Rachel hanya memutar malas dan meninggalkan pria itu yang masih penasaran.


"Hei! Kenapa kau tidak mengatakannya? Aku juga ingin ikut dengan mu?" Rachel menghentikan langkahnya dan menatap tajam Jimin.


"Shut up!" Jimin memang terdiam sebentar saat Rachel mengatakan itu dengan sedikit berteriak tapi itu tak menghentikan pria itu.


"Aku akan ikut dengan mu! Rumah orang tua ku kan di korea. Di sini mereka hanya untuk bisnis. Nenek dan kakek ku juga masih di sana."


"Aku sudah tahu itu bodoh!" Rachel hanya terus melangkahkan kakinya karena menjawab Jimin bukanlah solusi yang baik. Pria itu tak akan pernah berhenti.


"Kalau begitu aku akan mengikuti mu! Wah kalau di korea pasti akan banyak gadis˗gadis asia yang menanti ku..." Akhirnya Rachel bosan dengan perkataan Jimin yang sangat narsis itu. Gadis itu hanya terus berjalan dan mengabaikan pria itu yang tak pernah berhenti bicara.


.


.


.


.


TBC