
Choi Sherra. Gadis itu meletakan kepalanya di atas meja dengan wajahnya menghadap ke samping. Ia malas ke kantin hari ini. Matanya terpejam, menikmati kedamaian dengan heningnya kelas. Tiba˗tiba ia merasakan seseorang tengah memperhatikannya.
Sherra membuka matanya mendapati pria itu yang sedang menatapnya dengan posisi yang sama dengannya. Dia, sahabatnya. Jeon Jungkook. Gadis itu tersenyum saat pria itu juga tersenyum kepadanya.
"Tidak lapar ?"
"Aku malas makan."
"Wae ?"
"Hanya malas."
"Ayolah~~ Temani aku makan Sherra˗ya!" Jungkook sudah menegakan tubuhnya dan mengguncang tubuh gadis itu,membuat Sherra juga mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kau manja sekali~~" Jungkook hanya tersenyum melihat Sherra sudah bangkit dari duduknya dengan sikap yang malas˗malasan.
Jungkook menggenggam tangan Sherra dan berjalan keluar kelas menuju kantin yang cukup jauh dari kelasnya. Langkah Sherra terhenti sejenak saat ia menatap sosok menyebalkan yang sangat ia hindari. Jungkook menatap ke arah yang sama dengan yang Sherra pandang. Pria itu mengerti kenapa Sherra terlihat malas untuk berjalan dan berpapasan dengan orang itu.
"Kita tukar posisi saja." Jungkook yang tadinya di sebelah kiri Sherra, kini merubah posisinya menjadi di sebelah kanan Sherra. Menggenggam tangan gadis itu lagi dan melewati orang itu yang sedang fokus dengan ponsel.
"Waaah!! Drama queen sedang bersama peliharaan kesayangannya, kelinci yang manis." Sherra memutar tubuhnya dan ingin sekali menampar pria itu yang masih sibuk dengan ponselnya kalau saja Jungkook tidak menahan Sherra.
"Jaga ucapan mu! Sudah ku bilang bukan! untuk berhenti mengomentari ku! Aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi seorang artis seperti khayalan orang bodoh!! Dan itu kau!" Sherra menunjuk dengan telunjuk kirinya tepat di depan wajah pria itu. Pria yang selalu membuat moodnya semakin buruk.
"Sherra˗ya! Berhentilah~ Lebih baik kita pergi dari sini... aku sudah sangat lapar~" Ucap Jungkook, membujuk sahabatnya untuk pergi dari sana.
"Sudah sana! Kelinci mu itu sudah kelaparan" Pria itu tersenyum meremehkan ke arah Sherra.
"Hya! Kim Taehyung!" Sherra meneriaki nama pria itu dengan nada rendahnya dan menatap tajam ke arahnya.
"Aku sudah bilang untuk berhenti! Tapi kau selalu saja memancing ku!"
BUGH
AARrrgggghhht
"Hya! Gadis Gila! Dasar artis gagal tampil! Huh! Kakinya seperti gajah Thailand!"
Taehyung terus mengumpat setelah Sherra menginjak kakinya dengan seluruh kekuatan gadis itu dan pergi begitu saja seraya menarik Jungkook yang tertawa karena sifat tempramen Sherra. Pria itu terus memegang kakinya sebelah, meloncat˗loncat dengan satu kakinya yang tidak sakit. Pria itu menatap bayangan Sherra yang sudah menghilang dengan hati yang sangat kesal.
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Sudah berapa kali gadis itu terus menghela nafas seakan beban hidupnya sangat berat. Matanya lurus menatap sosok ayahnya yang hanya bisa ia lihat lewat figura. Ingin sekali ia menangis tapi rasanya tidak bisa. Itu terlalu memalukan dan ayahnya tidak suka itu. Sebagai gantinya, gadis itu tertawa tanpa menahannya sedikitpun.
Ini hari ulang tahunnya yang ke 18 dan ia juga sudah tamat dari sekolah meski belum resmi karena Surat tanda kelulusannya belum keluar. Tepat hari ini, sudah sepuluh tahun ia berlalu hidup tanpa ayah dan ibunya. Hanya pelayan dan saudara ayahnya yang membuatnya bisa tetap hidup dengan sangat berkecukupan sampai saat ini.
Mirachel Swan. Mengingat namanya, ia jadi teringat kembarannya yang tak pernah lagi membalas suratnya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan pesawat saat perjalanan bisnis, kembarannya juga hilang tanpa kabar saat itu. Gadis itu tertekan dan membuatnya selalu bertingkah aneh.
"Daddy!!! I Miss You" lirihnya sambil memeluk foto ayahnya itu. Kini ia sangat ingin sekali menangis. Ia merindukan keluarganya. Ia merindukan kehangatan seorang keluarga, bukan uang atau pelayan.
Rachel akhirnya menumpahkan rasa rindunya di kamar ayahnya yang selalu ia kunjungi setiap malamnya. Semua pelayannya tahu dan dapat merasakan kesedihan majikan mereka itu yang sudah mereka rawat sejak kecil.
Leitel Adam Swan. Adik kandung ayah Rachel. Pria itu yang selalu memperhatikan Rachel, menggantikan sosok ayah yang telah tiada. Kadang istri Adam juga sering main ke rumah Rachel untuk memberikan perhatian atau berpergian bersama. Rachel adalah keponakan kesayangan mereka. Ia gadis penurut, cantik, cerdas dan pantang menyerah. Berbanding terbalik jika ia sedang kesal atau marah.
Kesibukan Adam dan Istrinya membuat mereka jarang mengunjungi Rachel. Gadis itu sering mengunjungi rumah pamannya itu tapi ia selalu mendapati anak˗anak Adam yang juga terlihat sibuk dengan kegiatan masing˗masing. Mereka juga terlalu canggung saat Rachel menyapa mereka atau ingin tahu tentang mereka. Rachel tidak suka sikap anak˗anak Adam yang Kaku. Jadi gadis itu lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah.
"Sweaetheart~~ Auch!! Kau menangis ?" Rachel menghapus air matanya saat mendengar mahluk itu berada di ruangan yang sama dengannya.
"Kenapa kau datang kesini ? Ini sudah malam, bodoh! Kau tidak tahu batas jam tamu?!?" Rachel kembali meletakan figura ayahnya di tempat semula dengan hati˗hati. Lalu berjalan ke arah pria itu.
"Hei~ Belum sampai Korea dan kau sudah belajar tentang masyarakat di sana. Biasanya juga aku setiap malam ke sini~~" Pria itu berjalan mengikuti Rachel yang keluar dari kamar ayahnya.
Gadis itu berjalan menuju ruang keluarga yang terlihat nyaman dan luas. Namun tidak ada kehangatan keluarga di dalamnya seperti yang seharusnya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di sofa, di ikuti dengan pria bermata sipit itu dan wajah imutnya.
Pria itu. Park Jimin. Menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Rachel tampak tidak terganggu jadi pria itu hanya tersenyum seraya ikut menonton dengan otaknya yang sedang berfikir atas pertanyaan Rachel tadi.
"Kau benar˗benar akan ke Korea ?" Rachel hanya menghela nafasnya. Jimin memang tidak akan berhenti jika ia tidak menjawabnya dengan pasti.
"Yes, You right." Sahut Rachel singkat.
"Aku akan ikut dengan mu!"
"Terserah kau saja! Kau seperti pembantu ku saja,mengikuti ku kemana pun aku pergi..." Ucap Rachel yang kini tengah merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya yang tersimpan di sana.
"Iisshh! Aku kira kau akan menganggap ku kekasihmu tapi kau malah menyamaiku dengan pembantu!"
PLETAK
"Bodoh! Kau sudah terlalu banyak wanita tapi masih saja mengganggu ku!" Rachel memukul kepala Jimin dengan jari tengahnya yang ia tekuk. Lalu kembali memainkan ponselnya dengan santai.
"Kan sudah ku bilang, kau seperti Eomma ku yang selalu saja cerewet menyadarkan ku tapi tidak pernah membenci ku karena sifat buruk ku itu. Kau juga tahu kalau aku akan mencari istri yang seperti ibu ku." Ucap Jimin sambil menatap Rachel yang masih sibuk dengan ponsel.
"Kau nikahi saja ibu mu. Selesai kan!" Jimin menarik gemas hidung Rachel lalu menatapnya lembut.
"Lalu aku akan mati di tangan ayah ku. Itu yang kau ingin kan..." Rachel hanya tertawa saat membayangi itu semua.
"Hahahaha semuanya sudah terbayang di otak ku..." Rachel memegang perutnya yang sakit karena tawanya tidak berhenti. Jimin menarik rambut Rachel yang di kepang dua membuat gadis itu langsung terdiam dan menatap sebal Jimin.
"Jangan menarik rambut ku!"
"Jangan mentertawakan ku!"
Hening~
Kemudian mereka kembali tertawa memecahkan kesunyian malam. Para pelayan sangat bersyukur. Karena di tengah kesepian majikannya, ada sahabat yang selalu datang untuk menghiburnya. Mereka terlihat bahagia saat melihat majikan mereka juga bahagia.
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*
Pria itu menutup telfonnya dengan senyuman yang masih membekas di wajahnya. Sahabat lamanya akan mengunjunginya dan tinggal dengan waktu yang lama. Ia menghela nafas lega saat hari˗hari sepinya akan segera berakhir. Pria itu menatap sungai yang selalu tenang itu kecuali musim hujan.
Kegiatannya melempar batu ke sungai yang menimbulkan jejak˗jejak di permukaan sungai itu terhenti saat ia merasakan seseorang yang tadinya ia tunggu datang.
"Tinggalah. Aku akan pergi." Ucap pria itu menghentikan langkah seorang gadis yang baru saja datang dan ingin pergi lagi saat melihatnya.
Gadis itu mengerutkan keningnya menatap pria itu kesal. Entahlah! Hanya dengan menatap wajahnya saja, gadis itu sudah merasa kesal. Pria itu berjalan untuk meninggalkan sungai tapi langkahnya terhenti tepat di samping gadis itu.
"Sepertinya kau akan merindukan ku karena mulai saat ini aku tidak akan mengganggu mu lagi" Gadis itu hanya memutar matanya malas saat pria itu menunjukan smirk nya.
Pria itu berjalan meninggalkan gadis itu setelah mengatakan, apa yang seharusnya ia katakan pada gadis yang selalu di ganggunya. Gadis itu hanya menatap bingung pria itu. Ia tidak mendengar komentar pedas dari pria itu. Tadinya ia kira, ia akan berdebat lagi dengan pria itu tapi nyatanya tidak.
Sherra menangkat kedua bahunya, seakan ia tak peduli. Gadis itu lebih memilih duduk di tepi sungai dan melanjutkan kegiatan pria itu seraya memikirkan masa depannya dan kekesalannya setiap hari.
.
.
.
.
.
TBC
Love U All :D