Louis

Louis
#8-Louis



3 hari telah berlalu, seperti yang di rencanakan Laura hari ini adalah hari terakhir ia melihat Gisella dan Louis di kerajaan parthevia.


Laura melihat Gisella dan Louis untuk makan di pagi hari sebelum mereka pergi merayakan Festival di Academy.


'Aku akan berbaik hati dengan kalian karena hari ini adalah hari terakhir kalian berdua' Batin Laura tersenyum penuh kemenangan.


"Hormat saya untuk ratu dan Pangeran Louis" ucap Laura sambil menundukkan badan berpura-pura menghormati mereka berdua.


Barelion yang melihat sifat Laura berubah merasa heran, pasalnya tumben sekali Laura sangat menghormati istrinya juga anaknya.


"Kamu duduklah mari kita makan bersama" ucap Barelion menarik tangan Laura untuk duduk di sampingnya.


Hati Gisella terasa sakit saat melihat pemandangan suami dan selirnya sangat mesra, bahkan selirnya menyuapi suaminya makan.


Lebih tepatnya Laura belum di angkat menjadi selir oleh Barelion tetapi ia sangat mencintai Laura.


Aku yang melihat kemesraan Laura dan Ayahku merasa jijik, aku menoleh kearah ibuku yang sepertinya menahan kesedihan di hatinya.


Aku kasian pada ibuku yang selalu tersakiti dan tidak di hargai oleh mereka berdua.


"Ibu sabar yaa" ucapku berbisik agar tidak terdengar oleh kedua orang yang asik bermesraan, ibuku hanya mengangguk seraya tersenyum pada ku.


Gisella sangat bersyukur karena anaknya selalu menenangkan dan menyemangatinya saat terpuruk oleh keadaan.


"Makasih sayang" Gisella berbisik juga agar tidak terdengar oleh Barelion dan Laura.


Mereka semua melanjutkan makan dengan tenang tanpa ada keributan, setelah selesai Louis dan Gisella bersiap untuk berangkat ke Festival di mana hanya setahun sekali di rayakan oleh Death Weapond Academy.


Karena hari ini adalah hari khusus Festival semua anak di perbolehkan memakai baju khusus dari Kerajaan masing-masing, karena akan ada kontes memanah dan bertarung jarak dekat jadi orang tua masing-masing siswa wajib menghadiri acara Festival tersebut.


"Sayang jangan sampai ada yang ketinggalan" ucap Gisella melihat Louis yang sudah siap berangkat ke Academy.


"Tidak ada yang ketinggalan kok bu, aku tidak sabar ingin menunjukkan skill ku pada ibu nanti"ucapku tersenyum senang karena bisa membuat ibuku terpesona nanti dengan aksi hebat yang akan aku tunjukkan dalam memainkan senjata maut di Academy.


"Ibu sangat menantikan pertunjukannya sayang" ucap Gisella sambil mengelus kepala Louis dengan lembut.


Aku menggenggam dengan erat tangan ibuku, aku menggandengnya dan tidak akan pernah ku lepaskan hingga sampai di Academy.


"Ayok bu kita berangkat" Ajak ku.


Gisella hanya mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki kecil milik Louis.


Tanpa mereka sadari sedari tadi Laura memperhatikan pergerakan mereka berdua, Laura tersenyum smirk pada hari terakhir melihat Gisella dan Louis di istana ini, hanya tinggal hitungan hari hak milik mereka akan di rebut olehnya.


Dalam perjalanan yang belum jauh, Gisella menatap anaknya dengan tatapan sendu.


Entah mengapa perasaannya bercampur aduk seperti kemarin tanpa sadar Gisella meneteskan air mata lagi.


Aku melihat ibuku yang tiba-tiba menangis, entah mengapa perasaanku sekarang tidak enak aku seperti mempunyai firasat buruk tetapi aku tidak menyadarinya.


"Ibu.. kenapa ibu menangis?" tanya ku berhenti melangkahkan kaki, aku memeluk ibuku supaya perasaannya jauh lebih baik.


Gisella membalas pelukan Louis, entah mengapa dia benar-benar akan sangat merindukan Louis.


"Tidak apa-apa sayang mungkin ibu kelilipan debu" Gisella kembali mengusap air matanya agar anaknya tidak mengkhawatirkan dirinya.


Aku melepaskan pelukan dan mengangguk, perasaan yang aku rasakan sekarang juga terasa sangat sedih aku seperti ingin menangis.


"Ayok sayang" Gisella tersenyum dan kembali berjalan di iringi dengan Louis yang tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.


Di Lembah sepi seperti yang Laura rencanakan para pembunuh telah menunggu target di balik semak-semak yang terlihat rimbun dan banyak jadi akan sulit di ketahui jika ada seseorang di balik semak belukar itu.


"Bos sepertinya mereka berdua adalah targetnya" ucap anak buah tersebut berbisik di dekat telinga bosnya.


"Benar itu adalah Ratu dari Kerajaan parthevia jika di lihat dari pakaiannya, juga anak yang disampingnya tidak salah lagi adalah anak dari sang ratu" ucap Bos itu sambil mengeluarkan senjata tajam untuk beraksi.


Tidak lama setelah Gisella dan Louis berada dalam titik jangkau pas di lokasi lembah, 5 orang pembunuh keluar dari semak dan menampakkan dirinya.


Aku terkejut begitu pula dengan ibu, tiba-tiba orang yang tidak aku kenal keluar dari dalam semak. Tampang mereka semua sangat menyeramkan seperti seorang pembunuh.


"Siapa kalian" Gisella membelakangi anaknya untuk melindunginya, dia tahu bahwa di depannya adalah orang jahat yang ingin membunuh dia dan juga anaknya.


"Nona cantik apa masih perlu di tanya kami siapa?" tanya bos dari kelompok pembunuh tersebut.


Salah seorang anak buah dari komplotan pembunuh bayaran itu maju terlebih dahulu dia mengacungkan senjata tajam menuju target yang harus ia bunuh.


Dengan cepat Gisella langsung memasang sihir pelindung di sekitar dirinya.


Tang!


Senjata tajam itu tidak berhasil mengenai Gisella, ya Gisella bukan lah ahli dalam bidang sihir dia hanya mempelajari sihir pelindung untuk melindunginya ketika keadaan darurat seperti sekarang.


Dia tahu kesempatan untuk membunuh Gisella gagal dan dia langsung membekap mulut Louis untuk di sandra.


"Jangan mendekat atau anak ini akan aku bunuh juga" ucap pembunuh tersebut sambil mundur beberapa langkah membatasi jarak antara Gisella dan dirinya.


Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat orang menyeramkan ini membekap mulutku, aku masih terlalu lemah dan tidak berguna. Aku di jadikan sandra agar ibuku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menangis merutuki ketidak berdayaan ku untuk menolong ibu.


Aku tidak bisa meminta bantuan pada seorang pun, karena memang lembah ini adalah jalan yang sangat sepi dan jarang di lewati orang.


"Tunggu si.. siapa yang menyuruh kalian? target kalian adalah aku kan jadi lepaskan anakku" ucap Gisella dengan tubuh yang gemetar, untuk saat ini dia memang tidak bisa melawan para pembunuh itu karena dia sama sekali tidak membawa senjata.


Tetapi dia bisa melindungi dirinya dengan sihir pelindung, berbeda dengan anaknya yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri.


Melihat kewaspadaan Gisella menurun serta sihir pelindungnya melemah, pembunuh lainnya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas.


Mereka langsung menghunuskan pedangnya ke arah Gisella.


Jlebb!!


Aku menangis melihat ibuku tersenyum penuh dengan darah padaku, ibuku terduduk lemas saat darah segar banyak mengalir dari perutnya yang di tancapkan pedang oleh pembunuh.


"Kalian sudah membunuhku... sekarang.. uhuk... tolong lepaskan anakku.. " ucap ibuku lirih tetapi masih bisa terdengar oleh semua orang karena memang kondisi lingkungan sekitar yang sepi.


Pembunuh itu menghunuskan pedangnya lagi menancapkan tepat pada bagian jantung agar ibuku benar-benar mati.


Aku hanya bisa melihat adegan berdarah di depanku tanpa berbuat apa-apa. Ibuku menjadi korban pembunuhan yang keji ini, aku gemetar ketakutan karena semua pembunuh menatapku.


"Hei anak kecil, enaknya ku apakan ya" ucap bos dari komplotan pembunuh tersebut.


Bersambung...