Louis

Louis
#7-Louis



Malam hari telah tiba, Laura melihat anak-anaknya sudah tidur dia pun keluar dari kamar.


Laura berniat menemui Barelion, dia ingin menemui seseorang malam ini.


"Laura?mau kemana kamu berpakaian seperti itu?" tanya Barelion yang kebetulan lewat di depan kamar Laura.


"Sayang, kamu kenapa ada di depan kamarku?" bukannya menjawab Laura malah bertanya balik pada Barelion.


"Kebetulan aku lewat untuk memeriksa kamarmu" ucap Barelion pada Laura.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kamu mau kemana?" tanya Barelion lagi.


Laura hanya tersenyum penuh arti pada Barelion, dia mendekat pada Barelion dan memeluk lengannya.


"Sebenarnya aku ada janji dengan seseorang, aku ingin meminta izin pada mu untuk keluar sebentar apakah boleh?" tanya Laura dengan raut wajah yang di buat manja.


"Apa? siapa yang meminta bertemu malam-malam begini?!"


"Sayang, dia hanyalah temanku sebenarnya kami sudah janjian tadi siang, aku boleh pergi yaa pliss" ucap Laura dengan nada memohon agar Barelion mengizinkannya pergi.


Barelion hanya menghela nafas dan mengangguk tapi dengan satu syarat, Laura tidak boleh pulang tengah malam maksimal jam 10 malam dia sudah harus kembali ke istana Parthevia.


Akhirnya syarat yang di berikan Barelion padanya di setujui oleh dirinya.


Dengan cepat Laura melangkahkan kaki keluar dari istana untuk menemui seseorang di luar sana.


Seseorang yang Laura maksud teman adalah bohong, Laura bermaksud untuk menemui pembunuh bayaran yang bersedia membunuh Gisella dan Louis.


Dia masih ingat alamat pembunuh tersebut, walau dia hanya mendengar rumor markas para pembunuh itu, tetapi belum di pastikan bahwa markasnya benar berada di sana.


Sesampainya di markas pembunuh bayaran, Laura melihat sekelilingnya yang sangat menyeramkan tidak ada lampu yang menerangi sekitar halaman, hanya samar-samar terlihat rumah yang cukup kumuh di sekitar situ.


"Apa benar ini markas pembunuh, kenapa kelihatannya ini seperti rumah rakyat yang miskin" gumam Laura dengan suara pelan.


Laura menghampiri rumah tersebut, ketika sudah sampai di depan pintu Laura mengetuk pintu rumah kumuh yang dia kira adalah rumah rakyat miskin.


Tidak ada satuan selama beberapa menit, setelah Laura mengetuknys sekali lagi akhirnya seseorang membukakan pintu tersebut.


Terlihatlah seorang Laki-laki bertampang sangar dengan senjata tajam di tangannya keluar dari dalam rumah kumuh itu.


"Gadis bangsawan?kenapa gadis bangsawan berada di markas kami?"ucap seorang laki-laki yang keluar dari dalam rumah kumuh itu, ekspresinya terlihat bingung karena sebelumnya tidak pernah ada gadis bangsawan yang berani datang ke markasnya.


"Ha.. halo apa benar ini adalah markas pembunuh bayaran?" tanya Laura sedikit gemetar karena penampilan pria itu terlihat cukup menyeramkan.


"Benar, kamu gadis bangsawan kenapa berani datang ke markas kami?" tanya pria itu sekarang dia cukup waspada pada wanita di depannya.


karena siapa tahu dia adalah mata-mata suruhan orang yang ingin menjatuhkan markasnya.


"Aku datang kesini karena ingin kalian membunuh dua orang yang paling ku benci" ucap Laura dengan geram, kini dia mengeluarkan 1 kantong penuh emas untuk di serahkan pada pembunuh tersebut.


"Hanya dua orang, tentu saja itu pekerjaan mudah"pria tersebut terlihat sombong dan meremehkan tugasnya.


Karena biasanya seorang nona itu tersinggung karena orang yang kedudukannya lebih rendah dari dirinya. Karena peraturan kerajaan, dia tidak bisa membunuh orang tersebut dengan tangannya sendiri juga kekangan orang tuanya.


"Dia adalah Gisella ratu kerajaan parthevia dan anak satu-satunya yang bernama Louis" ucap Laura membuka identitas, agar tahu siapa yang harus pembunuh itu targetkan nanti.


Sontak saja pria tersebut terkejut bukan main, kerajaan parthevia adalah kerajaan terpandang nomor 1 di pemerintahan ini. Ratu yang cukup terkenal bernama Gisella seorang mantan kesatria berdarah dingin dan Raja Barelion seorang raja yang dermawan juga kuat.


Bagaimana dia bisa merasa percaya diri untuk membunuh anggota kerajaan yang sangat kuat.


"Kenapa, bukankah tadi kamu sangat percaya diri bisa melakukannya dengan mudah?"


"Tapi untuk ini tidak bisa bagaimana caranya kami membunuh anggota kerajaan dengan pengawasan yang ketat, juga dukungan yang kuat sudah pasti kami akan gagal"jelas pembunuh tersebut.


Laura hanya mengangguk ia mengerti apa yang di rasakan pembunuh itu, tatapi Laura membuka bicara lagi.


"Kalian tenang saja aku punya cara mudah untuk kalian, 3 hari dari sekarang akan ada festival di Academy pangeran Louis ibunya akan ikut serta bersama nya. "


"Setauku Academy Louis melewati lembah hitam yang cukup sepi untuk kalian beraksi, bagaimana apa cukup untuk kalian? " tanya Laura kembali.


Pembunuh tersebut memikirkannya kembali hingga akhirnya setuju, dia menerima emas yang di berikan pada Laura.


"Ini baru biaya awal saja jika kamu berhasil maka aku akan menambahkan imbalan kalian" ucap Laura dan segera pergi dari markas pembunuh, dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


*****


Aku benar-benar bosanhanya berdiam diri di dalam kamar hingga akhirnya aku mengambil alat melukis.


Aku cukup mahir dalam bidang melukis, banyak teman dan guru juga memuji lukisan ku.


"Aku lukis wajah ibu saja" ucapku meletakkan chat air di tempatnya.


Pertama-tama aku menggambar bentuk wajah, mata, hidung, bibir dan berlanjut rambut, telinga, leher, serta gaun.


"Selesai!" aku kembali membereskan alat lukis ku, aku meletakkan lukisan ku di dekat jendela kamar.


"Ibuku menang cantik, selamanya akan tetap seperti itu" ucapku tidak sadar mataku terpejam karena lelah, dan akhirnya tertidur lelap.


Tok tok tok


Suara ketukam terdengar dari luar kamar Louis, orang yang mengetuk pintu tersebut tak lain dan tak bukan adalah Gisella ibu dari Louis.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar hingga akhirnya Gisella masuk ke dalam kamarnya.


Dia terkejut saat melihat gambar wajahnya tertera di dekat jendela kamar Louis.


Gisella menghampiri lukisan yang di taruh di dekat jendela kamar Louis, dia baru tahu bahwa anaknya ternyata sangat berbakat dalam melukis.


Wajah yang di lukis oleh Louis terlihat nyata, persis seperti wajah milik Gisella dia mengelus kertas lukisan yang di buat oleh Louis.


"Anakku sayang ternyata sudah tertidur dengan lelap" ucap Gisella tersenyum dan menghampiri Louis yang masih terlelap.


Dia mengecup kening anak semata wayangnya, tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Mengapa aku menangis?"tanya Gisella pada diri sendiri, dia mengusap air mata tersebut karena tidak tahu alasan dirinya menangis.


Gisella segera pergi dari kamar Louis agar dia tidak membangunkan anaknya.


"Kenapa aku merasa akan sangat merindukan Louis?" tanyanya lagi pada diri sendiri saat sudah berada di kuar kamar.


Gisella merasa bahwa tidak lama lagi akan ada yang memisahkan dirinya dan Louis tetapi Gisella tidak menganggap serius perasaannya.


Karena sampai kapanpun dia tetap akan menjaga Louis dan besama dengannya.


Bersambung...