Louis

Louis
#5-Louis



Aku yang mendengar permintaan Black terkejut, bagaimana Black bisa dengan mudahnya memintaku untuk mengajarinya memanah seharusnya Black jika benar-benar ingin belajar bukankah dia harus menyewa beberapa pemanah profesional?


"Apa? Black kenapa kamu memintaku untuk mengajarimu? " tanyaku heran


"Bukankah seharusnya jika kamu benar-benar ingin belajar, kamu bisa menyewa beberapa pemanah profesional" tambah ku lagi.


Black menggeleng sambil tersenyum.


"Aku lebih suka di ajarkan oleh sahabatku" ucap Black terus terang.


"Jika kamu menguasainya mengapa harus menyewa pemanah profesional, toh sahabatku juga bisa mengajariku" ucapnya lagi.


Black menggenggam tanganku dengan erat, dia memasang ekspresi memelas supaya aku mau mengajarkannya. Aku hanya bisa pasrah dan menerima permintaan nya.


"Haa... baiklah aku akan mengajarimu" ucapku tersenyum.


"Serius, wah benar kahh? makasihh sahabatku" Black melompat-lomoat kegirangan dan memeluk ku dengan ekspresi senangnya.


Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah Black, apakah sebahagia itu di ajarkan olehku yang tidak seberapa ini? Aku benar-benar tidak habis pikir dengannya.


Guru yang akan mengajarkan cara bersenjata berdehem karena Black yang tidak sopan saat ada guru.


"Pangeran Black di mohon jaga sopan santun anda" ucap guru tersebut memperingati.


Black kembali duduk dan diam di kursinya, dia lupa bahwa ada guru dikelasnya karena sangking senangnya bisa sampai lupa.


"Pfftt.. lucu banget kamu Black" ucapku menahan tawa.


"Jangan ketawa, aku lupa kalau ada guru" bisik Black pada Louis.


"Habis kamu kalau senang kebiasaan sih" ucapku tersenyum.


Pelajaran pun di lanjutkan, semua murid di bawa ke lapangan yang ada di belakang Academy, disana sudah di siapkan tempat untuk memanah.


Bahkan di siapkan anak panah untuk di luncurkan jika setiap murid mengenai tepat sasaran yang berada di tengah atau bisa di sebut titik merah, maka akan mendapatkan penanda khusus yang di tempelkan di baju setiap anak.


Tujuannya adalah untuk menggali dan mengenali bakat tersembunyi anak-anak di Academy tersebut. Jika seorang anak memang berbakat dalam bidang persenjataan jarak jauh maka ia pantas mendapatkan penanda khusus tersebut.


"Baiklah anak-anak disini ada 9 tempat untuk memanah, kalian boleh memilih tempat sesuka kalian dan yang belum mendapat giliran mohon berbaris"ucap guru tersebut menjelaskan.


Anak-anak yang mendapat arahan tersebut hanya mengangguk faham.


" Anak yang bapak sebutkan di mohon untuk maju ya"


"Louis, Adelia, Hans, Celine, Black, Rose, Algord, Eveline, Jackson" ucap guru tersebut memanggil setiap anak.


Anak yang di panggil segera kedepan menempati bagian untuk memanah.


"Silahkan kalian ambil anak panah dan tembakkan dengan hati-hati"


"Jika 3 anak panah tersebut mengenai sasaran makan penanda khusus menjadi milik kalian" ucap bapak itu lagi


Pak guru pengajar senjata maut berbeda-beda, setiap senjata ada ditangan guru yang sesuai dengan kriteria dan guru tersebut harus menguasainya.


Pak Zen Dellgard adalah salah satu guru senjata maut jarak jauh yang saat ini sedang mengajar Louis dan teman-temannya.


Umurnya masih terbilang cukup muda yaitu sekitar 22 tahun, dia sudah menjadi bangsawan yang jenius sejak umur 8 tahun hingga dirinya di rekrut oleh Kerajaan lain menjadi penasehat, tetapi dia menolak semua itu sampai dia memutuskan untuk menjadi guru persenjataan maut di Academy ini.


Aku memfokuskan diri untuk memulai melesatkan anak panah yang sudah ku kerahkan.


Black yang melihat Louis mengenai sasaran semua kagum, dia makin percaya kalau Louis bisa mengajarkannya.


"Hebat sekali kamu Louis" ucap Black senang dengan pencapaian Louis.


"Biasa saja Black" ucapku tersenyum.


"Apanya yang biasa saja?itu luar biasa tau" Black menyangkal ucapan Louis.Bukanlah suatu keberuntungan 3 anak panah membidik sempurna pada sasarannya, itu berarti seseorang sudah ahli dalam bidang persenjataan, karena Louis melewatinya dengan mudah maka dia juga sudah menguasainya.


Selain Louis tidak ada satu orang lagi yang mengenai sasaran,hanya Louis yang bisa mengenai sasaran.


"Baiklah karena disini hanya Louis yang bisa menyelesaikan misi, maka tanda khusus senjata maut jarak jauh" ucap Zen Dellgard sambil mengeluarkan penanda khusus dan di tancapkan di baju Louis.


Giliran memanah terus berganti hingga sore, karena murid yang cukup banyak belum mencoba.


Jika tidak selesai hari ini maka pertemuan selanjutnya akan kembali mempelajari senjata jarak jauh.


Diantara berpuluh-puluh anak yang bisa mendapat penanda khusus hanya Louis, Denis dan Leni.


"Aku hanya beruntung karena berlatih jarak jauh sebelumnya, untung aku bisa menyelesaikan misinya" gumam putri Leni dengan suara kecil.


Karena hari sudah semakin sore dan pas dengan waktu pulang dari Academy, akhirnya semua murid di bubarkan walau tidak sempat menghabiskan semua murid untuk mencoba senjata jarak jauh.


"Baiklah mungkin minggu depan kita akan melanjutkan bagi yang belum mencoba, dan yang sudah akan di lanjutkan ke latihan berikutnya. " ucap Zen pada semua muridnya.


Mereka semua menjawab dengan serempak sebagai bentuk rasa hormat pada guru Zen Dellgard mereka juga berpamkian untuk pulang.


"Zen Dellgard dari Kerajaan Moyohilir, kau hebat juga" ucap ku sambil tersenyum.


"Oh halo pangeran Louis dari Kerajaan Parthevia yang ternama di seluruh penjuru Kerajaan" sapa Zen juga kepada Louis.


Aku hanya mengangguk lalu sedikit menunduk sebagai bentuk adab saat berlamitan.


"Saya pulang dulu" ucapku lalu melangkah menuju keluar gerbang sekolah.


"Lain kali tidak usah menunduk pangeran" ucap Zen Dellgard sedikit berteriak agar Louis mendengarnya.


Aku hanya mendengarnya tanpa membalas, karena itu adalah adab dengan orang yang lebih tua bukankah sudah sewajarnya lebih menghormati gurunya tersebut.


Aku melihat kereta kuda yang pastinya ibu yang menyuruhnya untuk menjemputku.


"Halo kak kusir selamat sore" ucap Louis menyapa pengemudi kuda yang di tugaskan oleh ibunya.


"Halo pangeran selamat sore juga, silahkan masuk" sapa pak kusir tersebut lalu ketika melihat Louis memasuki kereta kudanya ia langsung menjalankan kereta tersebut.


Berselang beberapa menit akhirnya kereta yang di tunggangi Louis sampai istana Parthevia.


Aku sudah mulai melihat ibuku yang pastinya setiap hari menyambutkh di depan gerbang Kerajaan dengan senang hati aku turun dan berlari. Aku ingin memeluk ibuku yang paling ku sayang dan ku cinta.


"Ibu aku merindukanmu" ucapku sudah memeluk Gisella yang membungkuk untuk menggapai pelukan Louis.


"Rindu? kan kamu sekolah hanya sebentar nah sekarang sudah pulang kamu bisa melihat ibu sepuasnya" ucap Gisella sambil tersenyum dan membawa Louis masuk ke dalam istana Parthevia.


Bersambung...


Maaf ya kalau updatenya telat aku juga sebut gak selalu waktuku luang buat up novel ini tapi aku usahain Insya Allah bakal rajin UPP🥰


terimakasih yang udah baca.. 😁😘