
"Tapi mereka adalah orang asing bu, kenapa aku harus berperilaku baik?"tanyaku bingung.
"bukankah ibu pernah mengajarkan ku kalau bertemu orang asing harus waspada siapapun itu yang tidak aku kenal"jelasku.
Gisella terdiam sebentar, memang benar apa yang di katakan oleh anaknya tersebut. Gisella pun tersenyum dan mengelus pucuk kepala anaknya.
"Iyah sayang tapi anggap saja mereka tamu karena di bawa oleh Ayah" ucap Gisella pada anaknya yang masih menatapnya dengan sendu.
Aku hanya mengangguk pertanda mengerti dengan ucapan ibuku dan kembali tersenyum serta memeluk ibuku. Aku tahu bahwa ibu di pukul oleh Ayah aku bahkan bisa melihat bekas memar di pipinya.
Aku ingin marah pada Ayah karena sudah memukul ibunya dengan tega, tapi di satu sisi aku masih kecil bagaimana jika aku ikut di pukul Ayah nanti?
"Yaudah ibu antar kamu kekamar ya sayang" ucap Gisella sambil menggendong Louis.
"Baik ibu"
"Nanti di kamar kamu harus tidur ya sayang, ibu akan bacakan dongeng untuk mu" ucap Gisella lagi, walau sekarang suasana hatinya sedang buruk tetapi masih ada sisi cerah karena bertekad untuk membesarkan Louis hingga bisa mewarisi gelar putra mahkota.
Sebagai seorang ibu pastinya Gisella tidak akan rela jika nanti yang menjadi hak anaknya akan di rebut oleh anak selir raja Barelion. Meski dia tidak yakin suaminya akan tega dengan anaknya juga, sudah cukup menyakiti hatinya dia tidak ingin anaknya juga ikut tersakiti nanti.
Sesampainya di kamar Gisella mengambil buku dongeng yang sudah siap untuk dibacakan pada anak tercintanya hingga tidur.
****
"Sayang kamu mau kemana? " tanya Laura sambil memegang tangan Barelion untuk mencegahnya pergi.
'Apakah dia akan kekamar si wanita jal*ng itu?! tidak aku akan mencegahnya!' pikir Laura yang tidak rela bahwa suaminya akan pergi meninggalkan dirinya sendiri demi Gisella.
Padahal dia sama sekali tidak punya hak untuk urusan ini, yang lebih berhak mendapatkan kasih sayang suaminya pastilah istrinya sendiri.
"Aku ingin menemui Gisella, aku merasa bersalah telah menampar nya barusan" ucap Beralion sambil memikirkan kembali perlakuannya pada istrinya tersebut.
Tanpa tahu malu Laura mendekatkan dirinya pada Raja Barelion memasang wajah imutnya bersiap untuk melancarkan aksinya.
"Sayang apa tidak bisa nanti saja, saat ini aku mau di temani kamu" ucapnya menggoda Raja Barelion dengan menyentuh bagian sensitif nya yang terletak di perut.
"Kamu..?!"
Tubuh Barelion bergetar saat di sentuh bagian sensitifnya.
"Kamu tau apa yang kamu lakukan.. Laura?" tanya Barelion yang menahan nafsu birahinya yang sudah memberontak di bawah sana.
Barelion langsung menepis tangan Laura dan menjauhkan dirinya dari Laura.
"Maaf aku tidak bisa sekarang Laura"
ucap Barelion dan berlalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan ekspresi Laura yang sudah sangat marah.
"Sial wanita jal*ng itu benar-benar beruntung!"Laura mengepalkan tangannya marah.
Raja Barelion telah sampai di kamar Gisella, lebih tepatnya kamar mereka berdua. dia melihat Gisella sedang menangis sesegukan di bawah kasur.
Barelion merasa iba dan kasihan, dia benar-benar bersalah telah berperilaku buruk terhadap istrinya.
"Sayangg.. " Barelion menghampiri Gisella dan memeluknya dengan erat.
Gisella yang mendapat pelukan Barelion langsung medorong tubuhnya untuk menjauh, karena hatinya masih sakit atas perlakuan suaminya apa lagi di depan Laura wanita yang akan di angkat menjadi selirnya.
Siapapun pasti akan merasa terhina jika berada di posisi yang sama.
"Maafkan aku sayang, aku salah telah menamparmu tadi.." Barelion kembali memeluk Gisella dan untuk kedua kalinya Gisella mendorong tubuh Barelion.
Gisella masih belum menerima permintaan maafnya, dia akan menerimanya jika Barelion tidak akan pernah menjadikan Laura selirnya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, kecuali kamu mau meninggalkan Laura! "
"Sayang kamu tau dia sudah melahirkan 3 anak kandungku, aku harus bertanggung jawab padanya"Barelion menolak mentah-mentah permintaan istrinya.
" Hiks... itu kamu tahu jika harus bertanggung jawab ketika perempuan sudah melahirkan anak, kenapa kamu diam-diam menjalin hubungan dengannya?! "ucap Gisella.
"Kamu sudah banyak menyembunyikan sesuatu dari ku juga perlakuan mu barusan aku tidak akan memaafkanmu"
Barelion hanya menghela nafas dengan kasar, untuk saat ini mungkin dia tidak akan bisa membujuk istrinya.
"Baiklah.. aku tidak akan memaksamu tapi aku tidak akan menyerah, semoga kamu kedepannya bisa terbiasa dan menerima Laura di istana ini" ucap nya dan berlalu pergi.
"Tidak akan menyerah?aku bahkan ingin membuat pernyataan untuk mu" ucap Gisella yang sudah memutuskan pendapat nya.
"Pernyataan? apa maksudmu?! "
Gisella menghela nafasnya untuk saat ini hatinya sudah terlalu sakit, wanita mana yang akan menerima jika di duakan oleh suaminya, terlebih lagi suaminya sudah berjanji sehidup semati hanya akan mencintainya seorang.
"Aku akan bercerai dengan mu, ketika Louis menginjak usia 19 tahun!"
"Jika kamu tidak berubah selama itu dan tetap mencintai Laura, aku tidak akan membatalkan niatku!" peringatan Gisella, tangisnya juga sudah berhenti dan dia menjadi tegar dengan keadaannya saat ini.
Raja Barelion terkejut mendengar pernyataan istri nya yang dengan berani ingin bercerai dengannya. Hatinya tiba-tiba saja terasa sakit saat Gisella membicarakan soal perceraian nya nanti.
Sebenarnya dia masih mencintai Gisella yang sudah menemaninya bertahun-tahun, tetapi dia juga mencintai Laura dan tidak akan bisa meninggalkannya.
Hanya Gisella ratu yang baik dan bijaksana, dia bisa menyelesaikan konflik negara dan menyejahterakan rakyat apakah ada pengganti yang pantas untuk menggantikan dirinya menjadi Ratu di Kerajaan Parthevia ini?
"Tidak sayang, aku mencintai mu dan juga Laura aku akan adil pada kalian berdua" ucap Barelion ia ingin mencium bibir indah milik istrinya tetapi Gisella menghindari ciuman itu.
Padahal sudah lama sekali sejak saat itu dia tidak pernah menyentuh istrinya, dia merindukan pada saat-saat dulu dimana dia melakukan kegiatan panas dengan mesra bersama Gisella.
"Aku suamimu, kenapa kamu selalu menghindari ku terus saat aku menyentuhmu!" kini wajah Barelion sudah terlihat emosi.
"Tidak aku tidak bisa melakukannya sekarang!"ucap Gisella tidak kalah emosi.
"Kamu adalah istriku berarti sudah kewajibanmu memenuhi keinginanku Gisella!"
Barelion dengan paksa lansung mencium bibir Gisella walau sudah berkali-kali memberontak tetap saja kekuatan Barelion jauh di atasnya. Dia memperdalam ciumannya dan memasukkan lidah ke dalam rongga mulut Gisella.
Namun Gisella sama sekali tidak mau membalas ciuman itu walau dalam hati dia juga sangat merindukan waktunya bersama suami tercintanya.
Tidak hanya itu Barelion mengangkat gaun hingga ke panggkal paha dan ciuman tersebut turun hingga ke leher.
"Tidak ku mohon... jangan di lanjutkan" berontak Gisella yang sudah tidak tahan karena bagian sensitif nya di sentuh Barelion.
Tapi melihat ucapan dan ekpresi Gisella yang saling bertolak belakang malah membuat Raja Barelion bersemangat.
Hingga tak berselang lama pintu di ketuk seseorang.
"Sayang, ini aku!"ucap Laura di luar kamar Gisella dan Barelion
Bersambung...