Louis

Louis
#6-Louis



"Iyah walau waktu kita berpisah hanya sebentar, aku akan tetap merindukan ibu" ucapku sambil mengecup pipi ibuku.


Gisella membalas ciuman di pipinya untuk Louis. Louis benar-benar anak yang penurut dan jenius Gisella akan terus seperti ini dan melindungi satu-satunya anak yang di kandung dan di lahirkan.


"Ibu besok aku ingin menggunakan lapangan istana Parthevia untuk latihan memanah bersama Black" ucapku meminta izin pada ibuku.


"Boleh nak terserah padamu kalau tujuannya untuk belajar ibu sih tidak masalah"ucap Gisella tersenyum sambil mengelus kepala Louis.


Ketika sudah sampai di dalam istana Aku melihat Laura seperti biasa sedang menggoda Ayahnya. Aku benar-benar sudah muak melihat Laura selalu saja seperti itu.


Aku turun dari gendongan ibuku dan langsung menghampiri Ayah.


"Sayang mauu kemana? " ucap Gisella yang melihat Louis berjalan menuju Barelion dan Laura.


Barelion melihat Louis berhenti di hadapannya, tetapi Barelion hanya menatap Louis dengan tatapan datar dan dingin.


"Ada apa Louis?"tanya Barelion.


"Ayah, ayok kita makan siang bersama"ajak ku pada Barelion, sebenarnya aku sangat tidak sudi mengajak ayahnya makan siang karena perlakuannya pada ibu yang tidak baik.


Tapi di dalam pikiran Louis dia hanya ingin menyingkirkan Laura terlebih dahulu, dia ingin membuat Laura sadar diri berada di istana ini tanpa status.


"Wah sayang lucu sekali ya Louis mengajak kita makan siang bersama" ucap Laura makin mengeratkan pelukan nya di tangan Barelion.


"Kita?sejak kapan tante Laura adalah keluarga kerajaan ini?" tanyaku.


Laura yang mendengar pertanyaan Louis raut wajahnya berubah menjadi kesal.


Gisella hanya bisa menonton dari jauh asal suaminya tidak macam-macam pada anaknya dia tidak akan bertindak untuk menjauhi Louis.


"Louis sayang, sekarang aku tinggal di kerajaan ini jadi aku akan ikut makan bersama" ucap Laura menahan kekesalannya karena di sampingnya terdapat Barelion yang memperhatikan.


Aku hanya menggeleng tidak setuju, lalu mengalihkan perhatian pada Ayahku.


"Ayah tau kan peraturan kerajaan, barang siapa yang memasuki kerajaan tanpa status maka tidak di wajibkan baginya mengikuti tradisi keluarga kerajaan" ucap ku menjelaskan peraturan di dalam kerajaan ini.


Barelion hanya mengangguk, dia tidak menyangka anak sekecil Louis sudah mengetahui peraturan di kerajaan ini. Apakah selama ketiadaan nya di istana ini Louis belajar dengan keras bersama Gisella?


"Tapi sayang aku... "


Ucapan Laura di potong oleh Barelion, dia tidak ingin tidak mematuhi peraturan kerajaan yang telah di buatnya sendiri.


"Tidak bisa Laura, kamu tidak akan ikut makan bersama nanti aku akan membawakannya untuk mu selesai makan bersama"ucap Barelion dan melepaskan genggaman tangan Laura di lengannya.


'Akhirnya aku berhasil membuat tante Laura menyingkir' batinku dengan senang.


Aku memegang tangan Ayah berpura-pura aku sangat bahagia makan bersama dengannya, aku melirik ke arah tante Laura yang sudah menahan kekesalannya.


Gisella yang melihat Louis memegang tangan Barelion dengan cepat tahu tujuan Louis yang hanya untuk membuat Laura sadar diri di istana ini.


'Anakku memang pintar sekali' Batin Gisella.


"Ibu ayok kita makan bersama" ucapku pada ibu yang terlihat sedari tadi melamun.


Dengan cepat Gisella berjalan di samping Louis, terlihat seperti keluarga kerajaan yang harmonis dan damai.


Ketika mereka sudah lenyap dari hadapan Laura, barulah Laura benar-benar menggila dia menghancurkan sebagian barang yang ada di istana termasuk pot bunga yang di gunakan untuk hiasan istana.


"Tunggulah kalian berdua aku akan membunuh kalian" ucap Laura dan kembali ke kamarnya.


Sesudah selesai makan bersama Barelion membawakan makanan khusus untuk Laura, dia berjalan ke arah kamar Laura dan mengetuk pintunya.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar Laura, biasanya setiap Barelion mengetuk pintu dengan cepat Laura langsung membukakan nya.


"Laura apa kamu di dalam?" tanya Barelion dari luar kamar.


Tidak ada jawaban dari dalam, Barelion memegang engsel pintu untuk membukanya, ternyata Laura menguncinya dari dalam.


"Kamu kenapa Laura? buka pintunya"


Tetap saja Laura sama sekali tidak ada niat untuk membalas ucapan Barelion bahkan membukakan pintu untuknya saja enggan.


"Baiklah kalau kamu marah padaku, aku membawakan makanan untukmu aku akan meletakkannya di depan kamarmu" ucap Barelion dan meletakkan piring makanan tersebut di depan pintu kamar Laura.


Setelah menaruh makanan tersebut Barelion langsung beranjak pergi dari depan kamar Laura.


Tidak lama setelah Barelion pergi Laura membuka pintu kamarnya dan mengambil makanan di depan pintu kamarnya.


"Aku akan makan sedikit saja mungkin" gumam Laura dan memasuki kamarnya kembali.


Laura melihat ketiga anaknya sedang menatap dirinya yang membawa makanan.


"Apa kalian mau?"tanya Laura pada ketiga anaknya.


Mereka bertiga mengangguk dengan antusias, pertanda mereka menginginkan makanan yang di bawa oleh Laura.


"Baiklah, ibu akan memakannya sedikit" ucap Laura dan mengambil beberapa suap dari makanan yang di berikan oleh Barelion.


Setelah di rasa cukup, Laura memberikan makanan tersebut kepada tiga anaknya.


Laura melihat anak-anak nya makan dengan lahap, dia tersenyum penuh kasih sayang. Ya sejahat-jahatnya Laura dia tetaplah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.


'Mereka memperbaiki sedikit mod ku yang jelek, tapi aku tetap akan membunuh Gisella dan Louis tunggu saja' Batin Laura menggeram dengan kesal.


"Ibu aku mau sekolah seperti Louis!" ucap salah seorang anak perempuan yang tidak lain adalah anak Laura.


Dia adalah anak yang sebelumnya bertemu dengan Louis nama anak tersebut adalah Allena Certhiva.


Laura yang mendengar permintaan anaknya hanya bisa menggeleng, karena tidak mungkin dia meminta Barelion menyekolahkan anaknya. Apa lagi statusnya sekarang belum di angkat menjadi selir, apakah tidak masalah bagi Barelion untuk menyekolahkan anaknya.


"Tidak bisa sayang" ucap Laura mengelus pucuk kepala anaknya.


Allena menepis tangan ibunya, ekspresinya berubah menjadi kesal.


"Kenapa tidak bisa bu? Louis saja bisa bersekolah kenapa aku gak bisa?" tanya Allena pada ibunya.


"Iyah, belum waktunya sayang kalau ibu sudah resmi menjadi selir Ayahmu pasti kamu bisa di sekolahkan kok"jelas Laura pada Allena.


Allena hanya menatap ibunya dengan ekspresi kesal, tapi dia tidak bisa membalas perkataan ibunya.


"Kamu adalah anak pertama ibu, tentu saja kamu adalah harapan keluarga kerajaan Parthevia tunggu saja sayang dengan segera ibu akan mengurus urusan ibu" ucap Laura sambil tersenyum licik.


Urusan yang di maksud oleh Laura adalah membunuh Ratu beserta dengan anaknya, setelah membunuh mereka berdua maka dengan mudah Laura merebut posisi sebagai ratu. Jika ia sudah menjadi ratu semua orang tidak akan ada yang bisa melawannya, bahkan dia tidak akan di tindas dengan mudah oleh orang lain.


Allena tidak mengerti apa yang di bicarakan ibunya, sejak kapan ibunya sibuk hingga punya urusan diri sendiri.Dia tahu bahwa Laura setiap hari hanya bermain dengan Ayahnya di kamar.


Bersambung...