
Sesampainya di Goa Sellaria masuk diikuti olehku, hingga sampai lah pada tempat kami berdua tinggal.
"Kamu tunggulah di kamar, kalau sudah selesai akan aku panggil kamu untuk makan"ucap Sellaria sambil mendorong ku dengan agak kuat hingga membuat ku hampir terjatuh.
"Tidak usah pakai dorong segala aku akan pergii"Aku pergi dengan wajah kesal meninggalkan Sellaria yang ingin memasak makan siang hari ini.
Sellaria hanya tersenyum dan berbalik badan lalu berjalan menuju tempat biasanya dia memasak makanan.
Aku merasa bosan, karena biasanya ketika aku merasa bosan selalu ada ibu di sampingku dia akan mengajakku bermain keluar memainkan permainan seperti jungkat jungkit dan ayunan.
"Haa...ibu aku merindukan mu" aku meneteskan air mata saat bergumam mengingat ibuku yang sudah tidak berada di dunia ini, walau baru sehari kepergiannya tapi di dalam lubuk hati ku benar-benar merindukan sosok bidadari yang selalu menemani hari-hari ku.
Aku mengusap air mataku yang semakin deras jatuh membasahi pipiku. Aku tidak kuat jika harus mengingat kenangan bersama ibu.
"Tidak boleh cengeng Louis, ibu pasti sudah tenang di sana dan bahagia"gumam ku tersenyum tetapi lagi-lagi air mata ku kembali terjatuh.
Sellaria yang kebetulan ingin menunggu masakannya matang dalam kamar, refleks dia memeriksa kamar Louis dia melihat Louis yang tersenyum sambil menangis sendiri di kamarnya.
Dia merasa kasihan dengan Louis dan menghampirinya di dalam kamar.
"Jangan menangis" ucap Sellaria sudah memegangi wajah Louis yang penuh dengan ari matanya. Entah kenapa saat Louis menangis itu mengingatkannya pada dirinya yang dulu, menangis sambil tersenyum pasti sangatlah menyakitkan.
Sellaria mengusap wajah Louis yang penuh air mata, dia turut prihatin. Ketika Louis sedih hatinya pun ikut tergores dan merasakan apa yang di rasakan Louis.
Aku menatap Sellaria, ada perasaan nyaman saat Sellaria menghapus air mataku. Rasanya aku ingin sekali memeluk Sellaria seperti ketika aku bersama ibu tetapi aku sadar bahwa aku harus memendam kesedihanku sendiri.
"Hehe aku gak nangis, tadi mataku hanya kelilipan debu"elakku sambil melepas tangan Sellaria dari wajahku.
"Apa kamu masih mau berbohong?"tanya Sellaria dengan tatapan serius.
"Sudah jangan peduli kan ku lagi, memang kamu sudah selesai memasak?" aku berbalik bertanya dan membalas tatapan Sellaria.
"Oh iyaa, aku lupa"pekik Sellaria yang langsung berlari keluar dari kamar Louis.
Aku terkekeh melihat ekspresi Sellaria yang panik saat melupakan masakannya, ternyata perempuan itu lucu juga ketika aku makin mengenalnya.
"Ibu tenang saja, dendam ini tidak akan pernah kulupakan" gumamku yang sudah bertekad untuk menghancurkan kerajaan Parthevia di masa depan.
"Louis, makanannya udah mateng ayok makan" ucap Sellaria yang sudah kembali dari tempatnya memasak makanan.
Aku hanya mengangguk lalu berdiri dan menghampiri Sellaria. Sellaria menggandeng tangan ku, aku tidak lagi merasa risih saat dekat dengannya.
*****
Di Kerajaan Parthevia, Barelion sudah mengerahkan tim pencarian ketika istri pertama dan anaknya Louis tidak kembali seharian.
"Cari mereka sampai ketemu kalau tidak menemukan salah satu dari mereka, kalian tidak boleh kembali ke istana ini"perintah Barelion dengan tegas kepada pasukannya.
Terlihat jelas raut wajah Raja Barelion yang khawatir dengan istrinya yang menghilang dengan tiba-tiba ketika menemani anaknya ke Academy. Barelion sudah mencari tahu ke Academy nya secara langsung,mereka bilang sejak kemarin Louis dan ibunya sama sekali tidak datang ke acara festival di Academy.
"Sayang, kamu gak papa kan?" tanya Laura berpura-pura prihatin dengan keadaan saat ini padahal di dalam hatinya sangat senang.
Barelion hanya menghela nafasnya dengan kasar lalu menoleh ke arah Laura sang kekasih keduanya.
"Tidak apa-apa Laura, aku yakin Gisella akan baik-baik saja aku sama sekali tidak peduli dengan Louis karena dia bukan darah daging ku"
Terkejut, ya itu lah yang di rasakan Laura saat mendengar perkataan yang di lontarkan oleh barelion kalau Louis bukanlah darah dagingnya.
"Apa? kenapa pangeran Louis bukan darah dagingmu, bukankah Gisella istri pertamamu apa dia pernah selingkuh darimu?"tanya Laura penasaran.
"Aku tidak tahu, saat itu aku meniduri nya dia masih tersegel tapi kenapa saat di test dia bukan anakku"
Laura menepuk-nepuk punggung Barelion sebagai tanda pemberian semangat dsrinya untuk Barelion.
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam istana menunggu kabar dari para prajurit yang sedang mencari keberadaan Gisella dan Louis.
Para prajurit masih mencari ke daerah sekitar jalan menuju Academy dengan menunggangi kuda.
"Kalian carilah di jalan pintas menuju Academy yang sepi, aku akan mencari ke jalan normalnya" ucap pemimpin dari prajurit tersebut memberi perintah pada bawahannya.
Mereka semua kembali melajukan kudanya menuju jalan yang sudah di perintahkan oleh kapten, dan sedangkan kapten bersama beberapa orang mencari di jalan normalnya.
"Jangan lupa kalian semua periksa rerumputan dan sekitarnya" lucap salah seorang perajurit.
Beberapa menit kemudian seorang prajurit berteriak bahwa dia sudah menemukan Ratu Gisella di sekitar lembah yang memang keadaan lingkungannya sangat sepi, bahkan sudah sehari berlalu tidak ada seorangpun yang lewat dan menemukan Gisella.
"Apakah ini benar-benar yang mulia Ratu?"prajurit itu turun dari kudanya dan memeriksa dengan jelas apakah wanita bergaun mewah di depannya adalah yang mulia Ratu Gisella.
"Ini... tidak bisa di percaya yang mulia Ratu sudah meninggal sejak kemarin, ternyata ada yang membunuh yang mulia Ratu"
"Siapapun yang membunuh yang mulia Ratu, lebih baik kita bawa dulu ke kerajaan Parthevia" mereka semua pun akhirnya mengangguk dan membawa mayat Ratu Gisella menuju kerajaan. Tidak lupa mereka mencari kaptennya untuk mengkonfirmasi bahwa mereka sudah menemukan sang ratu.
Raja Barelion dan Laura pun kembali keluar ke istana saat mendapatkan kabar Gisella sudah di temukan.
"Maaf yang mulia, kami menemukan Ratu Gisella sudah di bunuh oleh orang lain jadi kemungkinan pangeran juga sudah mati tetapi kami belum menemukan mayat pangeran di sekitar sana"ucap pemimpin para prajurit.
"Tidak apa-apa tidak usah kalian cari, Ratu Gisella sudah ketemu jadi tugas kalian sudah selesai" Barelion mendekati tubuh gisella yang berlumuran darah walau sudah ada beberapa yang mengering.
"Kalian bawa orang yang pintar membuat makam di sekitar sini"perintah Barelion pada semua prajurit bawahannya.
Mereka semua mengangguk lalu beberapa orang pergi untuk mencari pembuat makam yang pintar.
Laura juga ikut menghampiri Barelion untuk melihat keadaan tragis yang di tunggu-tunggunya sudah di depan mata.
"Sabar sayang, aku juga turut prihatin" Laura bergumam dan memasang ekspresi berpura-pura sedih.
benar-benar perempuan yang sangat beracun dan licik.