
Berelion berhenti melakukan aksinya tersebut dan langsung berdiri.
Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya, di lihatlah Laura yang tersenyum saat suaminya membukakan pintu untuknya.
"Sayangg" Laura memeluk tubuh Barelion di depan Gisella yang masih terduduk di lantai.
"Kenapa Laura?" tanya Barelion lembut dan membalas pelukannya.
"Aku merindukanmu sayang" ucap Laura kembali tidak tahu malu di depan Gisella.
Dalam hati Laura tersenyum licik dan merasa jika kemenangan ada di tangannya.
'Rasakan kamu, Barelion lebih mencintaiku s ekarang aku dengan cepat akan memenangkan posisi mu hahaha' Batinnya.
Kini hati Gisella merasa sakit lagi, dia benar-benar tidak kuat dengan semua ini, terlebih lagi Gisella melihat Laura yang tersenyum licik, dia sudah mulai berani menunjukkan sifat aslinya padahal baru saja dia tinggal di Kerajaan Parthevia ini.
"Kalian keluar!" teriak Gisella yang memekakkan telinga mereka berdua, bagai mana tidak marah dia di sini benar-benar merasa terhina.
Barelion melepas pelukannya pada Laura dan menghampiri Gisella. Barelion hendak ingin memeluk Gisella saat di lihatnya wajah gisella yang sudah di penuhi air mata lagi dan rasa kecewa.
"Stop! aku tidak ingin bersamamu aku ingin sendiri keluarlah!" teriak Gisella kembali di lontarkan pada Barelion.
Laura menghampiri Barelion dan menarik lengannya.
"Sudah kita keluar saja sayang biarkan istrimu sendiri" ajak Laura untuk meninggalkan Gisella sendiri.
Barelion hanya menghela nafasnya dengan kasar dan menuruti ajakan Laura untuk meninggalkan Gisella sendiri di kamar.
Aku merasa haus dan ingin minum, aku turun dari kasur dan aku tidak sengaja melihat ayah juga seorang tamu berada di depan kamar ibunya.
Aku menghampiri Ayah untuk bertanya ada apa berada di depan kamar. Tapi niatku untuk bertanya aku urungkan saat tamu itu ber-gelagat aneh terhadadap Ayahnya.
"Sayang ayok, aku sungguh sangat merindukan mu!" ucap Laura sambil meraba-raba perut Barelion.
"Cukup, jangan disini Laura mari kita kekamar.. "
Barelion bergegas untuk membawa Laura ke kamar, saat berbalik barelion terkejut melihat anaknya sudah berdiri mematung di belakangnya.
"Louis? kamu sudah dari tadi di sana? " tanya barelion penasaran.
"Tidak ayah aku baru saja keluar kamar, ingin mengambil minum" ucapku jujur.
Barelion hanya manggut-manggut faham dan bergegas pergi tanpa membalas, ia kira anaknya itu melihat kelakuan Laura barusan.
Aku yang melihat ayah pergi begitu saja entah kenapa merasa agak sedih, aku kira ayah akan lebih memerhatikan ku ketika pulang padahal aku sudah merindukannya.
Aku tidak berfikir panjang aku langsung berjalan menuju dapur istana untuk mengambil minum.
Saat aku sudah berada di dapur aku melihat seorang anak yang Asing, tidak lain dan tak bukan adalah tamu kerajaan ini anak dari Laura.
Anak tersebut juga melihat Louis yang baru saja sampai di dapur kerajaan.
"Hey, kamu kan anak dari ibumu yang sudah merebut ayahku! "ucap seorang anak perempuan tidak suka terhadap Louis.
Aku yang mendengar perkataan anak itu benar-benar tidak habis pikir. Bukankah terbalik seharusnya aku yang bilang begitu.
"Hah? bukankah seharusnya aku yang bilang begitu... ibu kamu sudah merebut Ayahku!" ucapku tidak Terima jika ibunyabdi tuduh sudah merebut Ayah dari ibu dia.
"Dasar anak tidak tahu diri, untung saja Ayah adil sehingga ibu dan ibumu bisa berbagi" ucap nya kembali.
Aku hanya menghela nafas dengan kasar, dan menatap kepergian anak itu dengan kesal.
"Huft.. untung saja aku di ajarkan ibu untuk bersabar menghadapi orang persis sepertinya, jika bukan karena ibu kau habis ku caci maki!" ucapku pada diri sendiri.
Aku langsung membuka kulkas dan mengambil air putih yang sudah di isi di botol, dan segera meneguk nya sampai habis.
****
Gisella sudha kembali berhenti menangis, dia meringis saat luka lebam di pipinya terasa nyut-nyutan.ia segera mengambil kotak obat yang tersimpan di kolong kasur burukuran size king nya.
Saat hendak mengobati lukanya Louis memasuki kamar Gisella.
"Sayang, ada apa kamu ke kamar ibu" ucap Giselle sedikit terkejut tadinya dia kira yang masuk adalah Barelion, jika Barelion dia tidak akan segan-segan mengusirnya kembali ke luar.
"Ibu, apa pipi ibu sakit lihat pipi ibu berwarna biru" ucapku merasa sedih ketika melihat ibuku yang begitu kesakitan atas perlakuan ayahnya.
"Tidak apa-apa sayang ini ibu mau obati, besok juga sembuh" ucap Gisella sambil. tersenyum di depan Louis, agar anak tercintanya itu tidak mengkhawatirkan nya lagi.
Gisella dengan perlahan mengolesi obatnya pada luka lebamnya, sesekali ja meringis kesakitan.
Aku menemani ibu di kamarnya, aku merasa kasihan pada ibu bagaimana bisa seorang Ayah memperlakukan istrinya seperti ini.
"Ibu, hari ini aku mau tidur bersama Ibu boleh?" tanyaku pada ibu.
"Tentu saja sayang, mau dong ibu tidur sama Louis yang tampan" Gisella menggoda Louis karena merasa ekspresi Louis begitu menggemaskan.
"Ah.. ibu ini bisa saja" ucapku tersenyum dan mengecup pipi ibu.
Gisella mulai berfikir jika kelak ia benar-benar bercerai dari Barelion di mungkin tidak akan sedih karena hidup bersama anaknya saja sudah terasa begitu bahagia. Ia bertekad untuk melindungi Louis hingga menjadi putra Mahkota jikalau bisa dia ingin melindungi anaknya itu selamanya.
Di kamar yang letaknya tidak jauh dari kamar Gisella, dua orang pasangan sedang bergulat dengan lihainya di atas ranjang size king.
Sudah cukup lama mereka bermain dan akhirnya Barelion telah mencapai puncaknya, setelah itu dia melepaskan senjata pusakanya yang masih menempel di dalam.
Dengan segera dia membersihkan diri menuju kamar mandi.
Laura merasa sangat senang dan dia merasa kemenangan sudah semakin dekat, dia hanya tinggal membuat Barelion terbujuk untuk kenjadikan putranya sebagai putra mahkota terlebih dahulu setelah itu baru posisi ratu akan menjadi miliknya.
Barelion selesai membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk putih di sekitar kepemilikaannya.
"Sayang aku sangat puas, kamu benar-benar gagah sekali" puji Laura pada Barelion.
"Bukankah sebelumnya juga kamu pernah merasakannya, apakah saat itu aku kurang gagah?" tanya Barelion pada Laura.
"Tidak sayang kamu gagah saat itu, tapi sekarang kamu bertambah gagah aku sangat senang" ucap Laura tersenyum sambil menggoda Barelion.
"Jangan menggodaku lagi atau kamu akan ku buat tidak bisa jalan" Barelion terkekeh lalu mengambil baju kebesarannya di dalam lemari yang ada di kamar Laura.
Ya, bajunya bukan hanya ada di kamar Gisella tapi dia juga menaruh bajunya di kamar Laura.
Laura menghampiri Barelion dan mencium dengan lembut bibir nya.
"Aku mencintai mu Barelion" ucap Laura tersenyum dan setelah itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bersambung...