
Ririn sekarang udah di kosan nya, dia udah mulai kuliah kayak biasa, dan seperti yang di katakan Romeo, di kampus benar-benar di penuhi oleh para maba.
Sekarang Ririn duduk di bangku taman fakultas nya sambil membaca novel favorit nya.
Di sisi lain terlihat Tony yang sudah sampai depan kampus, mata nya liar kesana kemari mencari keberadaan kak Ririn, karena saat Tony mencari ke kosan kak Ririn udah gak ada di kosan berarti kak Ririn di kampus.
Tony masuk ke kampus dan memarkirkan mobil nya di parkiran Fakultas kimia, ia pun berlari ke sana kemari mencari keberadaan kak Ririn namun tetap tidak bisa menemukan Ririn.
"Dek," Panggil seseorang pada Tony, Tony menoleh dan melihat seorang senior yang menggunakan almet dan tanda pengenal, iya dia adalah salah satu senior yang akan meng ospek nya.
"Iya kak,"
"Kamu maba?," Tanya senior itu, Tony ngangguk.
"Sekarang ngumpul di lapangan," Ucap senior itu
"Baik kak." Ucap Tony, dan menghembuskan nafas kasar.
Sekarang Ririn gak ada kelas, cuma dia lagi pengen ke kampus aja nenangin otak nya.
Disisi lain kak Reno udah berangkat dari Australia ke Indonesia, dia kaget dan syok banget dengar kabar kepergian Bagas, dia teringat janji nya dengan Bagas akan kembali untuk main bareng lagi, dia janji bakal liburan ke Indo buat ketemu sama Bagas tapi nyata nya, dia ke Indonesia cuma buat liat tempat per istirahatan terakhir nya Bagas, sakit sekali rasanya.
Kak Reno terus memaki dirinya, semenjak ia di Australia dia jarang menghubungi Bagas untuk menanyai kabar atau bercerita hal ringan dengan Bagas.
Sekarang Tony udah di lapangan tapi fikiran nya ke kak Ririn terus, saat bertemu dengan kak Ririn nanti rasanya ia ingin berlutut minta maaf pada kak Ririn, Tony sungguh menyesal dengan tindakkan nya yang bodoh.
Tony begitu tidak konsentrasi hingga ia sering kena tegur oleh senior karena melakukan apa yang di suruh tidak benar. Akhirnya para Maba di bubarkan dan disuruh mengumpulkan sebanyak-banyak nya tanda tangan para senior.
Tony yang merasa memiliki kesempatan untuk mencari kak Ririn pun segera mencari keberadaan kak Ririn lagi.
Sementara Ririn sekarang sedang di kantin fakultas ia makan bersama Romeo,
"Makan yang banyak, jangan kebanyakan ngelamun mulu," Ucap Romeo pada Ririn
"Iya iya," Ucap Ririn sambil mendengus sebal
"Orang bilangin malah ngedongkol,"
"Berisik, buruan makan,"
"Dasar,"
"Habis ini lo mau kemana?," Tanya Ririn
"Nongkrong sama teman-teman gue, lo mau ikut?," Tanya Romeo
"Ogah,"
"Yaudah napa nanya,"
"Gak knapa napa nanya doang, habis ini beliin gue es krim ya," Ucap Ririn
"Ok nanti gue beliin dulu es krim buat lo habis itu baru gue cabut." Ucap Romeo yang hanya di balas senyuman oleh Ririn.
Sekarang Ririn duduk di taman fakultas lagi, emang udah tempat favorit sih bagi Ririn soalnya sejuk gak panas ada pohon gede dan dibawahnya ada tempat duduk disanalah Ririn sering duduk buat baca novel nenangin fikiran nya.
"Nih," Ucap Romeo menyodorkan plastik berisi 2 buah eskrim dan 5 buah coklat batang,
"Gue cuma minta es krim padahal,"
"Ya sekalian makan aja semuanya mood booster lu," Ucap Romeo, dan membuat Ririn tersenyum senang
"Heheh makasih ya!,"
"Yoi santai aja, lebih banyak dari itu gue beliin kok buat lo,"
"Iya iya gue tau lo baik, udah sono pegi,"
"Oalah malah di usir,"
"Heheheh,"
"Yaudah gue pegi dulu, ntar kalau balik kos telfon aja gue biar gue jemput ke kampus atau telfon kak Rion minta antar pulang sama kak Rion, pokok nya jangan pulang sendiri,"
"Iya bawel banget sih,"
"Yaudah gue pergi dulu." Ucap Romeo di balas anggukan oleh Ririn. Benar, semenjak kepergian Bagas, Romeo jadi sangat khawatir pada Ririn makanya dia bawel banget ngingatin makan lah, ini lah itu lah, sebagai sehabat dan orang yang menyayangi Ririn.
Tony masih mencari kak Ririn, ke kantin tidak ada, di seluruh duang kelas tidak ada, di perpustakaan juga tidak ada dan sekarang di Tony berada di taman fakultas.
Keringat Tony bercucuran karena berlari kesana kemari mencari keberadaan kak Ririn, ia sudah menelfon kak Ririn berkali-kali tapi tidak di angkat.
Dan pada akhirnya Tony menemukan sosok yang ia cari, sosok Ririn yang sedang duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang menyangap es krim sambil membaca novel, dengan langkah pasti ia mendekat ke arah Ririn, tapi tiba-tiba langkah Tony berhenti saat melihat sosok pria familiar yang tiba-tiba duduk di sebelah Ririn.
Tony ingin mundur, ia merasa tak pantas berada di samping Ririn, ia merasa dirinya hanyalah beban bagi Ririn, ia merasa bukan hal penting untuk Ririn.
Namun ada hal yang lebih besar dari semua ego yang ia rasakan, yaitu cintanya terhadap Ririn, ia tidak bisa menahan kaki nya untuk melangkah mendekati Ririn, rasanya seperti di dorong dengan sangat kuat oleh hati nya sendiri.
Ia tak ingin jadi pengecut lagi, ia tak ingin lari lagi!. meski ia melihat Bang Rion sesekali mengusap kepala Ririn dengan lembut, mereka saling tertawa, tidak, Tony tidak ingin pergi hanya karena rasa cemburu.
"Aku mencintai kak Ririn, aku tidak ingin jadi pengecut lagi," Gumam Tony, dia terus melangkah hingga sekarang ia sudah berada di depan kak Ririn, Ririn masih belum menyadari keberadaan Tony karena mata nya sibuk membaca tulisan pada buku novel itu sedangkan kak Rion juga memperhatikan kalimat yang di baca Ririn yang terdengar menarik.
"Kak," Panggil Tony, Ririn langsung mengalih kan pandangan nya dari buku ke Tony
Mata Ririn membulat, Ririn langsung berdiri saking kagetnya ia menjatuhkan novel dan es krim milik nya dan langsung berhambur memeluk Tony.
Orang yang ia tunggu-tunggu selama ini akhirnya datang.
"Hiks hiks hiks kamu kemana aja Ton?, kakak takut kamu pergi ninggalin kakak juga," Ucap Ririn
Hancur?, tentu saja hati Tony sangat hancur mendengar ucapan Ririn, betapa sedih nya Ririn yang berfikir Tony juga akan meninggalkan nya di saat ia kehilangan adik nya. Tony membalas pelukan Ririn.
"Maaf, maafin Tony kak," Ucap Tony penuh penyesalan, Ririn membalas dengan tangisan.
Kak Rion berdiri dan menepuk pundak Ririn, Ririn melepas pelukannya pada Tony dan menyeka air mata nya, lalu menatap kak Rion.
"Kalian butuh privasi, aku pergi dulu." Ucap kak Rion dan di jawab anggukan oleh Ririn
Ririn menatap mata Tony yang sudah berair, Ririn melihat baju Tony yang sudah basah karena keringat, rambut nya yang sudah lepek basah karena keringat,
"Kamu ngapain aja sampai keringatan kayak gini?," Tanya kak Ririn khawatir
"Aku gak apa-apa kak," Ucap Tony semakin merasa bersalah, bahkan kak Riri masih menyayangi nya dan mengkhawatirkan nya seperti ini.
"Kamu kuliah disini?," Tanya kak Ririn, Tony hanya mengangguk dan menuntun kak Ririn untuk duduk di bangku lagi.
"Sekarang aku akan bercerita banyak hal pada kakak, aku akan bercerita bagaimana aku bisa tiba-tiba menghilang, dan bagaimana aku kembali dengan segala penyesalanku, dan ribuan maaf yang tak pantas untuk di maafkan,"
Ririn hanya diam menyimak setiap kata yang di ucapkan Tony, Tony berbicara sambil menangis ia tak kuasa, jika Ririn mengizinkan nya berlutut maka ia akan berlutut pada Ririn namun Ririn tidak ingin hal itu terjadi.
Setelah mendengar banyak hal dari Tony dan mendengar permintaan maaf yang begitu tulus dari Tony, Ririn kembali memeluk Tony.
"I bealive you, please don't leave me again," Ucap Ririn
"I promise," Balas Tony
"Terima kasih sudah kembali," Ucap Ririn sambil mempererat pelukan nya
"Aku yang lebih berterima kasih karena sudah menerima ku kembali." Balas Tony.
.
.
.
.
.
Sekarang Ririn sedang berada di belakang rumah nya, tepat nya di tepi lapangan basket milik Bagas. Senyuman Ririn begitu mengambang memperhatikan 4 orang pria yang sedang bermain basket dan di temani sahabat nya bernama Silvia duduk di samping nya.
Tony, Romeo, kak Reno dan Boby sedang bermain basket bersama mereka bersenang-senang. Mereka sering main kerumah Ririn hanya untuk bermain basket, kak Reno kebetulan cuti untuk beberapa minggu, mereka tidak akan membiarkan lapangan basket itu sepi.
Setiap sore dan setiap hari libur, di lapangan basket belakang rumah Ririn selalu ada mereka, kak Rion sesekali ikut tapi jarang karena kak Rion tipe orang yang mengikuti banyak organisasi kampus jadi dia selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bermain.
"Seandainya Bagas ada disini bersama mereka, pasti dia sangat bahagia bermain basket bersama abang-abang yang dia sayang," Ucap Ririn
"Dia pasti bahagia kok sekarang, karena orang-orang disini selalu mengingat Bagas, dan bermain basket di lapangan miliknya, dan kami tidak akan meninggalkan kakak tersayang Bagas sendirian," Ucap Silvia
"Heheh iya iya." Ucap Ririn tersenyum.
~Bagas selalu jadi adik ku yang paling baik dan paling ku sayang, terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan menjadi salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku~_Ririn
END
♡♡
~Terima kasih~
Author : Terima kasih semua nya, aku seneng banget Book ini akhirnya tamat juga. berkat dukungan kalian :")
jangan lupa mampir ke book aku yang lain, buat info ter update tentang cerita aku, jangan lupa follow akun aku ya 😁 makasih💞
sayang kalian ٩(๑> ₃ < )۶♥