
Tony menjambak rambutnya sendiri frustasi, sisi lain dari diri nya berharap hal ini tidak boleh terjadi karena Tony sangat tidak bisa tanpa Ririn, namun sisi lain dari diri nya tidak ingin melihat Ririn untuk sementara waktu karena saat melihat wajah Ririn hati nya terasa sakit dan terluka.
Tony hanya kecewa, kecewa pada Ririn sekaligus kecewa pada diri nya sendiri, seharus nya ia memukul dan meninju wajah Romeo atau pun Kak Rion pada waktu itu, ia menyesal telah menonton semuanya tanpa bertindak sedikit pun, Tony merasa diri nya pengecut.
Tony berjalan ke arah lemari yang ada di dalam kamar nya dan mengambil 1 kaleng bir di sana, ternyata Tony memiliki begitu banyak stok bir dalam lemari nya, Tony meneguk bir nya dan tak sengaja mata Tony beralih pada sepiring macaroon yang terletak di atas nakas nya, air mata Tony jatuh seketika. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan sosok Ririn.
Setelah pergi dari rumah Tony, Ririn mengurung dirinya di kamar bahkan saat Bagas atau Mama memanggil nya turun untuk makan Ririn sama sekali tidak mempedulikan nya. Ririn terus menangis sambil memukul-mukul dada nya yang sesak akibat tangisan nya.
"Tonyyy..." Gumam Ririn,
"Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulangi nya lagi hiks hiks," Ucap Ririn sambil terisak, Ririn menangis sambil terisak dan tak henti hingga ia kelelahan dan tertidur.
Pagi pun datang, Ririn membuka mata nya dan melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi.
Tok tok
Terdengar bunyi ketokan pintu dari luar kamar Ririn,
"Kak, bangun udah pagi, anterin aku ke sekolah,"
Ucap Bagas dari luar kamar Ririn, Bagas masih belum di bolehin bawa motor sama Mama, kata Mama tunggu Bagas udah tamat SMP baru boleh bawa motor.
"Iya, tunggu 10 menit kakak turun," Ucap Ririn dari dalam kamar.
Ririn pun siap-siap dan turun ke bawah, Ririn melihat Bagas dan Mama sedang sarapan.
"Papa mana mah?," Tanya Ririn
"Papa kami udah berangkat kerja pagi banget, bahkan gak sempat sarapan," Jelas mama, Ririn hanya mengangguk dan ikut sarapan bersama Mama dan Bagas.
Setelah sarapan, Ririn pun mengantar Bagas ke sekolah, saat hendak keluar dari perkarangan rumah, Tony melewati Ririn dan Bagas dengan motor sport nya. Benar, Tony benar-benar tidak ingin melihat Ririn, bahkan Tony tidak menoleh sesikitpun pada Ririn ataupun Bagas.
"Masih belum baikan lu kak?," Tanya Bagas saat mengetahui sikap Tony yang aneh,
"Hmm begitulah," Jawab Ririn, sambil menancap gas menuju sekolahan Bagas.
"Udah, minta maaf aja sama bang Tony sana, jangan lama-lama berantem nya," Ucap Tony
"Anak kecil gak usah ikut campur," Ucap Ririn
"Hadeuh orang kasih saran malah gak mau, serah lu aja kak,"
"Pokok nya bersikap biasa aja sama bang Tony, jangan bilang atau tanya yang macam-macam sama bang Tony, ngerti,"
"Iya iya."
Setelah selesai mengantarkan Bagas ke sekolah, Ririn langsung pulang siap-siap buat balik ke kostan. Sesampai dirumah, Ririn beneran siap-siap dan buru-buru berangkat ke kostan nya.
"Ma aku pergi dulu ya," Ucap Ririn sambil cipika coipiki sama Mama nya,
"Iya hati-hati ya nak," Ucap Mama sambil mengusap surai hitam Ririn
"Iya mah, bilang sama papa dan Bagas ya ma,"
"Iya nanti mama bilang,"
"Daaah ma,"
"Daaah sayang."
Ririn pun pergi seperti biasa menggunaka bus, yah kalau ada Tony pastinya di antar Tony sampai tujuan dengan selamat. Setelah beberapa jam perjalanan, Ririn akhirnya sampai di kostan nya, Ririn merebahkan tubuh nya ke atas kasur, lelah itu yang di rasakan Ririn.
.
.
.
Besok nya Ririn kembali kuliah seperti biasa, ia tidak menghubungi Rion ataupun Romeo untuk menjemput nya ke kuliah sepeti biasa, bahkan di kampus Ririn lebih banyak diam ke Romeo dan kak Rion.
Bukan untuk menghindari mereka, namun Ririn tidak ingin ada kesalah pahaman lagi, Romeo menyadari ada yang berbeda dari Ririn semenjak ia pulang kemarin, Romeo pun menghampiri Ririn yang sedang duduk di bangku taman.
"Rin," Panggil Romeo
"Eh Meo,"
"Ini," Romeo memberi Ririn minuman kaleng, dan Ririn menerima nya.
"Lo kenapa?," Tanya Romeo
"Gak kenapa napa,"
"Apaan sih emang gue gak kenapa napa kok,"
"Lo belum baikan sama Tony?,"
"..." Ririn cuma diam dan menunduk
"Apa gue harus bantu lo jelasin ke Tony kalau kita cuma temenan?," Jawab Romeo yang mulai paham dengan kedaan Ririn
"Gak usah, itu malah mempersulit keadaan,"
"Ya terus lo mau terus-terusan kayak gini?,"
"Ya enggak!, gue cuma ngasih dia waktu buat tenang dulu," Jawab Ririn
"Iya sih, seharus nya gitu. Tapi lo juga harus berusaha jelasin ke dia kalau lo sama kita cuma temenan dan gak ada hubungan apa-apa," Jelas Romeo
"Hmm,"
"Kalau lo gak ada usaha dan diam doang, dia bisa berfikir kalau lo pasrah dan apa yang dia pikir jelek ke elo itu benar semua,"
"Yaudah makasih saran lo, ntar gue jelasin lagi ke dia,"
"Gitu dong!," Ucap Romeo sambil mengacak-acak rambut Ririn.
Line
Ririn
Ton, lagi sibuk?|
Udah makan belum?|
Jangan minum bir terus ntar sakit|
Tony💞
Biarin|
Gak ada yang peduli kok|
Ririn
Jangan gitu Ton|
Kakak sayang sama kamu|
Tony💞
Kalau sayang gak mungkin bohongin aku|
Ririn
Maafin kakak Ton|
Kakak sama Kak Rion dan Romeo cuma temenan|
Kak Rion bantuin kakak belajar|
Dan kebetulan dia satu kontrakan| sama Romeo
Kakak sama kak Rion cuma sebatas senior dan junior|
Dan soal Romeo dia gak tertarik lagi sama kakak|
kakak gak bohong sumpah|
Read
.
.
.
.
.
NEXT>>>