
Hari ini, hari pemakaman Bagas, keluarga Ririn, teman-teman Bagas datang di pemakaman. Semua orang terlihat sudah bubar dan tinggal Ririn, Romeo, kak Rion, Silvia dan Boby.
"Rin udah jangan nangis lagi, entar lo yang sakit," Ucap Silvia berusaha menenangkan Ririn.
"Lo gak ngasih tau bang Reno sama Tony Rin?," Tanya Boby
"Gue gak mau ngasih tau mereka, biarin mereka tau sendiri, jangan ada diantara kalian yang ngasih tau mereka ngerti!?," Ucap Ririn
"Iya iya gak bakal gue kasih tau, bang Reno pasti marah banget kita gak ngasih tau dia, soalnya dia deket banget sama Bagas dan dia sayang banget sama Bagas." Ucap Silvia, Ririn berfikir ucapan Silvia ada benarnya.
Mereka semua kembali kerumah Ririn, tapi kak Rion sama Romeo pamit pulang duluan. sekarang Silvia sama Boby yang nemenin Ririn.
Ririn gak mau makan, Ririn gak mau keluar kamar, dia ngurung diri di kamar adiknya sambil melihat-lihat kamar adiknya dan berlarut-larut dalam kesedihan.
Disisi lain, terlihat Tony sedang rebahan di kamar kak Reno,
"Lo ngapain ke sini Ton?," Tanya kak Reno
"Masa gue gak boleh kesini sih bang,"
"Ya bukan gitu, tiba-tiba aja,"
"Gue males di rumah, ngapain libur di rumah mending disini,"
"Lo ada masalah?,"
"Gak kok,"
"Ririn lagi?,"
"Hmmm,"
"Jangan mudah ngambek, ngomong baik-baik dulu, dan denger dari sudut pandang kalian masing-masing, jangan egois,"
"Apa lagi yang perlu di omongin bang, gue liat sendiri dia meluk Romeo duluan di rumah berduaan, apa coba maksudnya?, baru baikan udah buat ulah lagi dia," Ucap Tony yang terdengar sangat marah dan sepertinya tidak bisa memaafkan Ririn padahal dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Yaudah kalau lo ngomong kayak gitu, gue juga gak bisa apa-apa." Ucap Kak Reno pasrah, kak Reno tau betul bahwa Tony adalah orang yang sangat sulit buat percaya kalau udah di kecewain satu kali doang.
"Hasil tes lo kapan keluar?," Tanya kak Reno pada Tony
"1 minggu lagi bang,"
"Berarti lo disini gue bolehin cuma satu minggu ya,"
"Kok gitu sih bang,"
"Ya kalau lo lulus berarti lo nyari apartemen dong buat lo tinggal di sini, kalau lo gak lulus otomatis lo kuliah di Indonesia dong,"
"Iya sih, ah serah aja capek gue."
Sudah 1 minggu berlalu semenjak kematian Bagas, Ririn masih tetap sama, dia masih terpuruk dan masih merasa sangat kehilangan.
Sekarang Ririn lagi main basket di belakang rumah, iya lapangan basket yang dibikin kusus buat Bagas, sekarang gak tau siapa yang akan main di sana lagi, Ririn mencoba men drible bola basket dan memasuk kan ke ring namun tetap gagal sudah ke berapa kali nya namun tetap tidak masuk ke ring.
"Rin, gue bawa chicken kesukaan lo!," Itu Romeo, dia udah Ririn anggap sahabat, sahabat yang bisa numpang nyender di bahunya buat nangis bagi Ririn. Ririn menoleh dan berhenti main basket, Ririn mendekati Romeo dan meminta kresek yang di bawa Romeo.
"Makasih,"
"Et tunggu cuci tangan lo dulu baru makan." Ucap Romeo, Ririn pun mencuci tangan nya dan kembali duduk nyamperin Romeo di tepi lapangan basket, Ririn pun duduk disamping Romeo dan mulai makan chicken nya.
"Masih belum ada kabar dari Tony?," Tanya Romeo memecahkan keheningan
"Gak tau, kemana tuh boca ngilang aja kayak asap," Ucap Ririn
"Aneh banget tuh bocah gak jelas," Ucap Romeo
"Biarin aja, gue tau kok dia gak bakal ninggalin gue gitu aja,"
Ririn masih tetap percaya sama Tony meski perasaan nya sebenarnya udah tercabik cabik, di saat ia butuh Tony dan Tony tidak ada, disaat dia seharusnya nangis di pelukan Tony dan Tony gak ada, di saat Tony yang seharusnya ada di posisi Romeo dan Tony gak ada.
Jujur Ririn sangat kecewa namun ia tetap percaya pada setiap kata yang pernah Tony ucapkan sebelum nya.
"Gak usah lo pikirin Rin, fokus sama diri sendiri aja jangan sampai sakit, lu udah kurusan gini gak makan-makan," Ucap Romeo.
"Ya gue gak selera makan Meo," Ucap Ririn
"Kapan lu masuk kuliah lagi?," Tanya Romeo
"Berarti barengan sama maba dong,"
"Gak sadar gue udah jadi senior aja nih," Ucap Ririn
"Iya, pas ada maba palingan kita gak ada kelas, dan palingan cuma pendekatan sama para maba kayak kita dulu pas jadi maba,"
"Iya sih, gapapa gue kangen suasana kampus."
Disisi lain, Tony terlihat menjambak rambutnya frustasi, frustasi karena dia tidak lulus di universitas kedokteran impian nya itu, padahal dia sangat yakin bahwa diri nya pasti di terima.
"Sial! sial!, gue balik ke Indo dong," Ucap Tony
"Yaudah sabar, gue bakalan sering-sering ngunjungin lo ke indo," Ucap kak Reno
"Males gue balik,"
"Yaudah gak usah kuliah,"
"Mati gue di pukulin papa kalo gue gak kuliah,"
"Yaudah sana ke Indo daftar kuliah, kuliah aja di Universitas 101 tempat Ririn kuliah," Ucap kak Reno, Tony membuang nafas kasar dan menjambak rambut nya lagi.
1 minggu kemudian~
Tony terlihat siap-siap buat pergi ke kampus karena sekarang adalah hari pertama ospek, dimana Tony kuliah?, di Universitas 101 jurusan kimia sama persis dengan kak Ririn.
"Tn. muda sarapan dulu," Ucap mbak Ipit
"Iya mbak," Jawab Tony, Tony pun duduk di meja makan dan menyantap sarapan nya.
"Mbak," Panggil Tony
"Iya Tn. muda,"
"Kok rumah kak Ririn keliatan sepi ya?, aku sibuk jadi aku jarang main sama Bagas," Ucap Tony, sontak mbak Ipit kaget banget mendengar ucapan Tony.
"Tn. muda gak tau!?," Tanya mbak ipit dengan ekspresi kaget banget
"Tau apa mbak?," Ucap Tony bingung
"Ya ampun, saya pikir Tn. muda tau makanya saya gak ngasih tau,"
"Apaan mbak?,"
"Dek Bagas udah meninggal 2 minggu yang lalu, waktu Tn.muda kabur dari rumah nggak ngasih tau mbak eh tau-tau nya udah di Australia aja," Jelas mbak Ipit
"Apa!?," Ucap Bagas terkejut setengah mati
"KENAPA MBAK NGGAK NGASIH TAU SAYA!," Teriak Tony, dan membuat mbak Ipit menutup telingan nya.
Tony menjambak rambut nya frustasi, ia menyesal dengan apa yang ia lakukan pada Ririn, ia malu, malu pada Ririn, malu pada keluarga Ririn, dan malu pada diri sendiri. ia pergi di saat Ririn membutuhkan nya.
"Maafin saya Tn. muda, sulit menghubungi Tn. muda saat di luar negri, "Jelas mbak Ipit lagi,
"Bagas, kenapa pergi begitu cepat?," Gumam Tony dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Tony sangat menyayangi Bagas layak nya adik sendiri. Dan itu sangat membuat nya merasa kehilangan, ia tidak bisa membayangkan betapa hancur nya Ririn pada saat itu.
"Dek Bagas katanya kena kanker paru-paru, dia meninggal pas operasi." Ucap mbak Ipit.
Bagas buru-buru nelfon kak Reno, karena kak Reno salah satu orang yang sangat menyayangi Bagas, meskipun terlambat ia harus menjenguk Bagas di tempat peristirahatan terakhirnya.
"Halo Ton,"
"Buruan bang, lo harus ke Indo sekarang juga!."
.
.
.
.
NEXT>>>