Little Boy

Little Boy
Chapter 38



Setelah 2 minggu berlalu akhirnya hari yang di nantikan oleh Tony pun tiba, yaitu tes untuk masuk universitas kedokteran di Australia, namun Tony mengikuti tes nya tidak harus ke Australia masih tetap di Indonesia kok.


"Semangat Ton!," Ucap Ririn sambil mengepalkan tangan menyemangati Tony


"Pasti dong kak, aku pergi dulu ya kak doa in aku biar lulus ya kak," Ucap Tony sambil meluk Ririn singkat lalu melepasnya kembali


"Iya pasti dong," Ucap Ririn sambil ngacak rambut Tony,


"Yaudah aku pergi dulu kak, daaah," Ucap Tony sambil dadah ke kak Ririn sambil berjalan ke arah mobi nya, Ririn pun juga membalasnya.


Sekarang Ririn lagi di rumah,Tony ikut tes pagi banget gak tau balik nya siang, sore atau malam. Pagi ini Ririn juga buru-buru balik dari rumah ke kost nya soalnya Ririn ada kelas siang ini.


Sekarang Ririn udah di kelas duduk sebelahan sama Romeo, ya karena Tony sudah mengizin kan Ririn buat temenan sama Romeo hubungan pertemanan mereka udah normal kayak biasa, Ririn udah gak ngehindar atau ngejauh lagi dari Romeo ataupun kak Rion. Tapi Ririn udah gak mau main ke kontrakan mereka lagi, kalau pengen belajar palingan di luar atau nongkrong di caffe terdekat.


Sekarang mereka lagi nunggu dosen di kelas, Jam menunjukan pukul 14:30 dan dosen mereka masih belum masuk,


Drrrrt drrrrt


Ponsel Ririn bergetar menandakan ada panggilan masuk di ponsel Ririn,


"Halo mah, ada apa?,"


"Hiks hiks Rin, adek kamu masuk rumah sakit," Ucap mama di seberang telfon


"Kirim alamat rumah sakitnya mah, aku kesana, mama tenang aja jangan panik," Ucap Ririn berusaha menenangkan mama nya, tapi malah dia yang terlihat sangat panik.


"Iya Rin, kamu hati-hati di jalan papa udah dijalan menuju rumah sakit kok," Ucap mama yang masih nangis sesegukan.


"Iya ma, aku matiin dulu."


Tuuut tuuut


Sambungan langsung di matikan Ririn, setelah menerima alamat rumah sakit nya Ririn buru-buru pergi, Romeo yang melihat hal itu mengikuti Ririn keluar dari kelas,


"Ada apa Rin?," Tanya Romeo khawatir pada Ririn


"Lo bisa anterin gue ke RS melati gak Meo?," Ucap Ririn dengan mata yang berkaca-kaca dan terlihat sangat panik,


"Iya ayok," Ucap Romeo


Mereka pun jalan ke parkiran kampus untuk mengambil motor Romeo.


Drrrt drrrt


Tiba-tiba ponsel Ririn bergetar lagi,


"Iya halo mah,"


"Kamu bisa ke rumah dulu kan Rin, bawain pakaian Bagas dan kebutuhan buat dirumah sakit nanti mama kirim lewat pesan apa-apa aja yang bakal kamu bawa,"


"Emang bakalan lama di RS mah?,"


"Iya, adek kamu operasi Rin hik hik," Mama nangis lagi


"Iya mah, mama yang tenang, papa udah di sana kan?,"


"Belum nak, masih di jalan,"


"Yaudah mama tenang dulu aku sekarang pulang ngambil peralatan buat di rumah sakit habis itu aku langsung ke rumah sakit,"


"Yaudah hati-hati ya nak."


Setelah sambungan terputus Ririn dan Romeo segera jalan menuju rumah Ririn.


"Pegangan yang erat Rin, gue ngebut."


Ucap Meo, Ririn melingkarkan tangan nya ke perut Romeo, Romeo menancap gas dan mengendarai motor dengan kecepatan di luar rata-rata. Setelah 1 jam mereka pun akhirnya sampai di rumah Ririn.


"Meo, bantuin gue nyiapin barang-barang buat Bagas," Ucap Ririn, Romeo cuma ngangguk dan ngikutin Ririn dari belakang.


Mereka pun membawa semua peralatan yang di perlukan mama dan juga Bagas buat di rumah sakit dan memasuk kan barang-barang tersebut kedalam tas.


Drrrrt drrrrt


Ponsel Ririn bergetar lagi, dan tertera nama Mama lagi di sana, Ririn mengangkat telfon dari Mama,


"Gak usah bawa barang-barang nya nak, kamu kesini aja sekarang," Ucap Papa, iya papa nelfon pakai no mama


"Kenapa pa?," Tanya Ririn dengan perasaan yang tidak enak


"Bagaaaaaas!!!, Mama sayang kamu naaak!!, Banguuun!!, jangan tinggalin mama!!," Suara tangisan histeris mama sangat terdengar jelas oleh Ririn di seberang telfon,


"P-pa?," Panggil Ririn dengan suara bergetar,


"Iya nak, maafin papa gak bisa jaga kalian," Ucap papa dengan suara bergetar dan terdengar parau


"Papa ngomong apa sih!?, gak jelas! jangan becanda!!," Bentak Ririn


"Pokok nya kamu hati-hati aja kesini, papa gak pengen kamu kenapa napa, papa tutup dulu."


Tuuuut tuuut.


Tubuh Ririn bergetar hebat, pandangannya seketika kabur dan tidak jelas, kepalanya terasa pusing, kaki nya tak bisa lagi menahan tubuhnya untuk berdiri, seketika tubuh nya ambruk ke lantai tapi sebelum itu terjadi Romeo dengan sigap menangkap tubuh Ririn.


"Rin, lo kenapa?," Tanya Romeo khawatir


"M-meo adik gue udah gak ada hiks hiks hiks," Ucap Ririn lalu menangis sambil memeluk Romeo.


Dan pada saat yang bersamaan Tony baru datang dan berdiri di ambang pintu rumah Ririn dan melihat hal itu, ya, salah paham lagi. Dan salah paham yang Tony alami di waktu yang tidak tepat.


Romeo dan Ririn sama sekali tidak mengetahui keberadaan Tony,Tony hanya tersenyum miring dan pergi tanpa bertanya dan minta penjelasan kepada Ririn ataupun Romeo atas apa yang ia lihat dan Tony juga tidak tahu bahwa Ririn sedang menangis, yang ia tau hanya Ririn memeluk Romeo.


Tony pergi dengan mobil nya, memesan tiket pesawat dan pergi ke Australi ke tempat kak Reno, ia benar-benar merasa di permainkan oleh Ririn dan muak dengan semua itu, makanya ia memilih untuk melarikan diri jauh-jauh dari Ririn.


Setelah Ririn merasa tenang, Romeo membawa nya ke rumah sakit. Dan saat sudah sampai di ruangan Bagas, hal yang pertama di lihat Ririn adalah kondisi mama yang sangat kacau dan hancur, papa yang setia dan berusaha menghibur mama agar merasa tenang, Ririn berjalan pelan melihat sosok yang terbaring di atas ranjang RS yang di balut dengan kain putih.


Tangan Ririn terulur membuka kain putih itu, walaupun sangat berat rasanya,ia membuka kain putih tersebut dan mendapati wajah adiknya yang imut dan tampan tertidur pulas, ya, tertidur untuk selamanya.


Lagi-lagi tangisan Ririn pecah, ia memeluk tubuh adiknya yang sudah dingin itu.


"Deeeeek!!! Banguuun deeeek!!, ayo barentem sama gue!!,"


"Deeeek!!, Ayo manja-manja lagi sama kakaaak!!,"


"Deeeeek lo bilang mau main basket!, deeeek bangun dek!!,"


"Deeek gue sayaang sama lo deek!,"


Romeo yang menyaksikan itu juga tak kuasa menahan air matanya, Romeo mendekat dan memegang pundak Ririn,


"Rin," Ucap Romeo pelan.


"Pa!, Ma!, bangunin adek! adek gak boleh bobok lama-lama," Ucap Ririn


Mama dan papa cuma bisa nangis, dan memaklumi Ririn yang begitu sangat terpukul karena mama dan papa tau seberapa sayang nya Ririn pada adik nya yang bernama Bagas itu, adik satu-satu nya untuk Ririn.


"Rin," Panggil Meo lagi dengan sangat hati-hati, Ririn langsung membalik menghadap Romeo dan memeluk Romeo lagi dengan erat lalu menangis sejadi jadi nya dan terus meracau minta tolong buat bangunin Bagas.


♡♡


"Seorang yang sangat berharga di hidup gue, adik gue satu-satu nya yang paling gue sayang, gue merasa hidup gue gak ada artinya lagi, gue berusaha jadi yang terbaik itu cuma buat adek gue, gue selalu ingin jadi orang yang bisa jadi panutan buat adek gue, gue merasa gagal jadi kakak buat Bagas, gue gak bisa melindungi adek gue, padahal adek gue cuma satu dan gue gak bisa menjaga aset gue yang paling berharga satu-satu nya, miris banget gue jadi kakak,"_Ririn


"Hidup gue hancur semenjak Bagas gak ada. Bagas meninggal karena kanker paru-paru, adek gue meninggal pas operasi, Bagas mengindap kanker paru-paru karena dia perokok pasif, dia temenan sama orang-orang perokok dan tanpa di sengaja dia juga menghirup asap rokok dari teman-teman nya, dia gak ngerokok tapi dia yang kena imbas, gue gak mau nyalahin siapapun, ini semua udah takdir yang harus gue hadapi,"_Ririn


"Dan soal Tony, gue gak tau alasan kenapa dia diamin aku dan ninggalin aku di saat aku terpuruk kayak gini, tapi aku tetap percaya Tony pasti punya alasan yang masuk akal."_Ririn


.


.


.


.


.


NEXT>>>


Author : Sabaaar Chapter 40 bakalan End kok, jadi jangan bosen dulu, jangan hapus dulu dari pustaka kalian. Makasih banget buat kalian yang masih setia, dan soal Bagas aku sedih banget 😭