LEO

LEO
Pacarmu ?



Disela-sela bacaan nya rina dikejutkan oleh tangan seseorang di pundaknya.


"Eh Rin,kamu disini juga?" Tanya seseorang itu.


"Iya bim,guru kami gak masuk jadi aku kemari,kamu sendiri?" Balasnya bertanya.


Ternyata orang yang menyentuh bahunya tafi adalah bima.


"Wah sama, jangan jangan kita jodoh." Goda bima.


Leo yang mendengarkan dari belakang merasa geram.


"Haha bisa aja kamu bim." Rina tertawa kecil.


Akhirnya rina dan bima pun bercerita tentang buku apa yang mereka baca dan kenapa mereka menyukai tentang bacaan itu, leo yang memperhatikan dibuat kesal. Ia tak tahan, akhirnya ia berdiri menuju meja rina.


"Ikut gue." Leo memegang pergelangan tangan rina.


Bima yang melihatnya marah.


"Woi,yang bagus dikit lu sama cewe!" Bima menatap sinis ke arah leo.


"Bukan urusan lu, rina dipanggil sama guru." Ucap leo mencari alasan.


"Udah udah, jangan berisik disini." Ujar rina. "Aku balik duluan ya bim." Ucap rina berpamitan pada bima.


"Oke rin, kalau ada apa-apa bilang sama gue ya." Tegas bima menatap teduh rina. Rina pun mengangguk.


"Udah dramanya? Ayok buruan lu dicariin dari tadi." Leo langsung menarik lengan rina meniggalkan perpustakaan.


Rina mengikuti langkah leo, bukannya ke ruang guru leo malah membawa rina ke koridor aula. saat jam pelajaran berlangsung koridor aula memang lah sepi dan jarang sekali guru lewat disana.


"Yo kita kok kesini? Bukannya tadi aku dicariin sama guru?" Rina keheranan.


"Gak, ga ada guru yang nyariin lu." Jawab leo santai. Rina semakin keheranan ,apa maksud leo membawanya kesini.


Leo kemudian menuju tangga dibelakang koridor lalu ia duduk di anak tangga paling atas.


Ia menatap rina yang tak bergeming sedikitpun dari tempat dia berdiri.


"Lu ngapain disitu,sini!" Perintah leo.


Rina pun mengahampiri leo tapi ia tetap berdiri.


"Duduk!" Perintah leo lagi.


Rina mengikuti,ia duduk disamping leo dengan memberikan sedikit jarak antara dia dengan leo.


Hatinya berdegup kencang, ia takut dengan leo yang menunjukkan aura kemarahan. Hanya ada satu penggambaran suasana mereka saat ini, hening dan mencekam.


"Bima itu pacar lu??" Tiba-tiba leo memecah keheningan diantara mereka.


"Eh- em, bukan." Jawab rina hati-hati.


"Lu yakin?!" Tanya leo dengan nada sedikit meninggi, ia menatap sinis rina disampingnya.


"Yakin yo." Jawab rina tegas dengan nada yang sedikit bergetar.


"Oohh baguslah," leo terlihat lega."gue peringatin, lu jangan terlalu dekat sama tuh anak." Imbuhnya kemudian.


"M-memangnya kenapa sama bima?" Rina bertanya penasaran.


"Udah lu ikutin aja kata-kata gue, pokoknya gue ga suka kalau lu dekat-dekat sama tuh anak." Marah leo.


"........" Rina hanya terdiam, pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenaknya, kenapa leo tak suka dia berteman dengan bima? kenapa leo tak ingin memberitahu alasannya? dan banyak pertanyaan lagi yang ingin ia tanyakan,namun ia tetap diam dalam keingintahuan nya.


"Besok wekend lu jualan?" Tanya leo lagi.


"Jualan." Jawab rina singkat.


"Jam berapa?" Telusur leo.


"Jam 8." Rina menjawab seadanya.


"Siang gue kerumahlu, temenin gue! Pokoknya lu harus siap-siap, gak ada acara nolak." Perintah leo.


"Tapi yo...," Rina ingin menyangkal.


"Gue ga mau tau harus bisa." Leo menatap tajam rina, ia kemudian berdiri lalu meninggalkan rina.


"Mau apalagi dia?" Batin rina bertanya-tanya. Namun tak ada satu jawaban pun yang bisa ia dapat.


Hari itu dilewati rina dengan penuh tanda tanya, hal-hal yang terjadi sudah diluar nalarnya. Namun akhirnya ia mengacuhkan semua itu, lebih baik ia fokus dengan pelajaran yang akan berlangsung.


_ _ _ _


Setelah dagangannya habis rina pun pulang menuju rumahnya.


Ditengah perjalanan ia mengingat janjinya dengan leo.sesampainya dirumah ia langsung membantu ibunya untuk mengerjakan kerjaan yang belum selesai.


Jam menunjukkan pukul 01.30.


Leo menuruni tangga menuju dapur.


"Maaaa... Mamaaa." Teriak leo mencari mamanya.


"Aduh yoo kamu ini bisa pelan dikit gak manggil mama." Mamanya datang menghampiri dengan wajah masam.


"Ih mama leo yang cantik kok gitu mukanya? Entar keriputan looh hayoo." Usil leo.


"Sembarangan kamu yoo." Mamanya membalas dengan cubitan kecil di tangan leo. "Kamu mau kemana kok rapi banget gini?" Tanya mamanya menyelidik.


Leo memang tak seperti biasanya, ia terlihat lebih casual dan wangi ,dengan setelan kaos putih, celana jeans hitam, jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya dan juga jaket berwarna hitam yang dipegangnya. Ia terlihat seakan mau pergi keluar. Jarang sekali leo terlihat se casual itu.



"Mau keluar bentar ma, mana tau entar leo pulang bawa calon buat mama." Ledek leo.


"Emang ada yang mau sama kamu yo?" Ledek mama nya balik.


"Aaahh mama ngomongnya suka bener nih." Jawabnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


Mereka berdua pun tertawa.


"Pulangnya jangan kemalaman ya, gak mama kasi pintu kamu kalau pulangnya kemalaman." Ancam Mamanya.


"Siap boskuuu!!yaudah leo pamit ya ma." Leo mengecup pipi mamanya.


"Byee maa." Ia berlari keluar seraya melambaikan tangan kearah mamanya.


"Byeee sayaaang." Balas mamanya.


Leo pun masuk ke garasi miliknya, ia menimbang-nimbang kendaraan apa yang akan dipakainya hari ini.


Ia pun akhirnya memutuskan untuk naik kereta sport nya.


Ia melesatkan kendaraannya menerobos ramainya jalanan. Tak lama kemudian iapun sampai dirumah Rina.


Rina pun segera keluar mendengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumahnya.


Ia kemudian mengunci pintu dan meletakkan nya di tempat persembunyian kunci seperti yang biasa ia lakukan.


Leo menatap rina dengan tampilannya saat itu, ia memakai celana berwarna ungu gelap, dengan jaket berwarna abu-abu, ia membawa ransel berwarna krim bersamanya. Dengan rambutnya yang terurai membuatnya tampak manis.



"Nyokap lu mana?" Tanya leo.


"Lagi belanja yo, tadi aku udah bilang kalau mau keluar." Jawab rina menjelaskan.


"Yaudah naik." Suruh leo padanya.


Rina pun menaiki motor leo.


"Pegangan,gue ga tanggung jawab kalau lu jatuh di jalan." Jelas leo.


"Iyaa yo." Rina kemudian memegang kecil jaket leo.


"Duh itu bukan pegangan namanya, entar lu jatuh tau." Ucapnya kesal.


Leo yang tak merasakan rina seperti berpegangan pun akhirnya meraih tangan rina, ia melingkarkan tangan rina di pinggangnya.


"Pegang yang kuat." Perintah leo. Leo melihat rina dari kaca spionnya.


"Eemm.." rina mengangguk pada kaca spion, pertanda ia mengerti.


Leo pun melajukan kendaraannya kencang menuju bioskop.


Sesampainya di parkiran Leo memarkir kan keretanya lalu memegang tangan rina menuntunnya disetiap jalan. Ia sudah memesan online tiket bioskopnya, jam pun sudah menunjukkan waktu pemutaran film yang dipesannya. Mereka langsung saja memasuki gedung bioskop,ia memesan 2 minuman dan juga popcorn. Kemudian ia mencari tempat duduk yang ia booking.


"Kita mau nonton yo?" Tanya rina padanya.


"Iya." Jawab leo singkat.


Popcorn dan minuman yang dipesan leo tadi pun sampai. Leo menikmati popcorn nya sembari menunggu detik-detik pemutaran film.


Sedang rina menatap sekelilingnya, baru kali ini dia masuk ke bioskop. Teman-teman nya sering mengajaknya namun tak pernah sedikitpun terbersit difikirannya untuk nonton di bioskop.