LEO

LEO
Ganjen



tik..tok..tik...tok


Dingin pagi hari itu menyelimuti tiap jiwa yang tengah larut dalam mimpi masing-masing, masuk dan menusuk, membuat jiwa yang dingin semakin dingin karenanya.


Jam menunjukkan pukul 05. 47 pagi, terdengar riuh air shower yang jatuh membasuh badan milik seorang lelaki di dalam kamar mandi kala itu.


Tetes air menuruni jengkal tiap jengkal badannya, wangi mint tercium dari sabun miliknya.


"haaahh, gila seger banget."


lelaki itupun keluar dari pintu kamar mandi dengan memakai handuk putih.ia bergegas mencari baju sekolah di lemarinya.


Setelah semua dirasanya siap, ia pun bergegas menuju meja makan mengambil sepotong roti, mengoles selai strawberry kesukaannya. Lalu ia bergegas menuju garasi rumahnya. Matanya menelaah sudut garasi miliknya mencari sepeda sport yang biasa dia pakai untuk pergi ke sekolah.


"Bund, Leo berangkat" teriaknya dari dalam garasi setelah menemukan sepedanya.


"Iya yo, kamu hati-hati." Balas bundanya yang tengah menyiapkan sarapan di dapur.


Ia pun mengayuh sepedanya menembus hawa pagi yang sejuk. Rambutnya bergoyang mengikuti angin yang menerpa nya sepanjang perjalanan.


______________


Sedang saat ini dikelas Leo, XII IPA-1 riuh murid bercerita sedang tentang hal masing-masing.


Ada yang sedang pusing dengan pr nya yang belum siap.


"Bel, gua liat pr sejarah lu dong. Gua belum siap ni." Ucap edo.


Ada juga yang memulai paginya dengan gosip yang menurut mereka tak bisa terlewatkan.


"Eh fel lu tau ga semalam gua lihat jordi jalan sama kinan."


"Eh serius lu dew? Wah berita hangat ni."


Yang satu sedang bergerombol membicarakan pertandingan bola malam tadi.


"Weeesss udah tau dong ya taruhannya dimenangin siapa, kumpulin duit lu pada sini." Suruh seorang siswa.


"Sial padahal dikit lagi menang gua, ah gua gak mau tau pertandingan berikutnya gua megang tim A ya gak ren?" Pungkas yang satunya.


"Yoi bro, liat aja elu elu pada bakalan habis kali ini." Ucap salah satunya meng iya kan.


Leo yang sebelumnya telah sampai di depan kelasnya pun melangkahkan kaki memasuki ruang kelasnya.Menghampiri sekelompok siswa yang sedari tadu tengah mengobrol.


"Woi! Pada ngapain lu." Tanyanya.


"Ini yo, biasaa... Bola." Jawab rendi temannya.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka sampai salah seorang guru memasuki kelas mereka dan membubarkan kegiatan mereka, mengharuskan masing-masing diri kembali ke tempat duduknya.


Bu ais mulai mengabsen siswa dan siswi di ruang itu, satu persatu nama dipanggil. Setelah semua nama selesai dipanggil bu Ais pun melanjutkan pelajarannya.


Disepanjang pelajaran Leo yang bosan dengan materi pelajaran dari bu Ais pun mulai menunjukkan gelagat tak nyamannya. Ia terus saja memainkan pulpen di jarinya, memutar-mutar nya, terkadang mengusap rambutnya kebelakang, kemudian tak lama ia berfikir tentang satu hal usil yang terbersit difikirannya.


Duk.


Ia menendang kaki kursi yang berada tepat di depan tempat duduknya.


Tentu saja kegiatan pria usil itu dirasakan oleh siswi yang kursinya ditendang oleh Leo. Namun siswi itu acuh tak memperdulikan.


Duk,duk.


Untuk kedua kalinya kursi kembali ditendang.namun tetap siswi itu tak bergeming,hal itu pun membuat leo kesal sebab hal yang diinginkannya tak terjadi.


Duk, Duk,duk.


Leo semakin mmpercepat tendangan kaki nya sehingga guncangan di kursi pun semakin intens dirasakan oleh siswi di depannya.


"Buk." Tiba-tiba siswi di depannya memanggil bu Ais. Seketika leo menghentikan tendangan kaki nya.


"Mampus gua!!! Ni anak pasti mau ngadu sama bu ais." Gumam leo dalam hati.


Bu ais terkenal dengan kedisiplinan nya yang tinggi, ia salah satu guru yang paling disegani oleh murid-murid nya, sebab sikapnya yang tegas dan tak pilih kasih, tak jarang siswa-siswi yang nakal pun takut berbuat macam-macam di depannya sebab ia tak segan memberi hukuman mulai dari yang ringan sampai yang berat setimpal dengan perbuatan mereka sampai tak ada satupun yang berani melawannya.


Dan sekarang siswi yang sedari tadi kursinya di tendang Leo memanggilnya, hati Leo pun berdegup tak karuan memikirkan kemungkin apa yang akan terjadi padanya.


"Saya cuma mau nanya bu yang bagian B barusan saya belum paham bu, boleh minta penjelasannya yang sedikit lebih rinci gak ya buk?" Ungkapnya siswi itu.


"Ohh iya boleh rina, oke ibuk jelaskan ya lebih detailnya biar kamu dan teman-teman kamu lebih paham, jadi di bagian yang ini...." Bu ais kembali menjelaskan pelajaran nya.


Jantung Leo yang yang sedari berpacu seperti lomba marathon pun akhirnya bisa tenang.


"Heh! Elu ya." Hardik leo pelan pada gadis di depannya.


Rina sengaja bertanya pada bu Ais sebab ia mulai risih dengan tindakan yang dilakukan Leo padanya, ia tau Leo takut pada bu Ais padahal dirinya mengerti dengan jelas penjelasan bu Ais sebelumnya, namun mau tak mau agar Leo berhenti mengusili nya.


Rina Anggita. Gadis pintar yang selalu masuk urutan 1 besar dikelasnya itu adalah gadis yang berparas cantik dan manis, gadis pendiam yang sering menjadi sasaran keusilan Leo.


Entah kenapa Leo sangat tidak menyukai Rina, padahal Rina tidak pernah mencari masalah dengannya.


Teng.... Teng....Teng....


Jam pelajaran selessai, saatnya istirahat makan. Bu Ais pun sudah pergi dari dalam kelas, siswa-siswi yang lain berhamburan ke kantin sekolah, namun tidak dengan rina,ia tetap berkutat dengan buku pelajarannya.


Leo berdiri menghampiri rina berdiri di depan mejanya lalu menggebrak meja Rina.


"Heh!!! lu cari masalah sama gua." Tanya Leo pada Rina.


Namun Rina tak bergeming, ia tetap membaca bukunya tanpa memperdulikan Leo di depannya.


"Woy! Lu budeg apa gimana?" Tanya Leo lagi. Namun tetap Rina tak mengindahkan ucapan Leo. Leo yang mulai habis kesabaran menarik buku yang tengah dibaca Rina.


"Kamu apaan sih yo, balikin buku aku sini aku mau belajar." Kesal Rina.


"Apa lu? Lu mau buku lu balik?" Ucap Leo yang tiba-tiba keluar kelas dan mencampakkan buku Rina kebawah melalui balkon di depan kelasnya.


"Tuh,lu ambil sana haha." Ejek leo. Rina yang kesal pun mengumpat Leo.


"Dasar jahat." Rina bergegas menuruni tangga menuju lantai 1 mengambil bukunya yang dijatuhkan leo dari lantai 2.


"Buku siapa nih." Tanya Bima dalam hati, ia pun mengambil buku yang jatuh di depan kelasnya, melihat nama yang ada di dalam buku tersebut.


Ia berfikir pasti seseorang sedang mancari buku itu. dan benar saja tak lama kemudian Rina datang menghampiri Bima.


"Maaf. Itu buku saya." Jelas rina.


"Oh ini buku kamu ? Rina Anggita ,XII ipa -1? Tanya bima kemudian.


"Iya, itu saya. Kok kamu tau nama saya?"


"Iya tadi aku liat nama kamu sebentar di buku kamu, nama kamu cantik sesuai sama orangnya.nih buku kamu" Ungkap bima seraya mengembalikan buku kepada rina.


Pipi Rina merona mendengar ucapan bima.


"eh iya, m- makasi sebelumnya." Gagap rina.


"Panggil aja bima,salam kenal." Bima memperkenalkan dirinya sambil memberi salam tangannya untuk menyalami rina.


"Rina,salam kenal juga." Rina menyambut tangan Bima.


Tanpa rina sadari kedua mata nyalang sedang mengawasinya dari atas. Menatap tajam "dasar ganjen." Gumamnya.


Boleh minta nomor kamu gak rin?" Bima mengambil handphone dari sakunya.


"Eh, boleh bim 082- - -." Rina menyebutkan nomornya satu persatu.


"Oh iya bim...aku balik ke kelas dulu ya."


"Oke rin, entar aku chat ya." Balas bima.


"Iya bim." Rina berlalu pergi menuju kelasnya.


"Wah siapa nih tadi yang ganjen sama cowok pake pegangan tangan segala." Cerca Leo.


Rina mengacuhkan dan terus berkalan menuju bangkunya disusul dengan Leo yang mengikutinya.


"Ganjen banget sih lu jadi orang." Cercanya lagi.