
"oke yo aku terima uang kamu,Tapi yo aku gak enak sama kamu, ini terlalu banyak. aku gak mau uang ini secara cuma-cuma, tolong kamu minta sesuatu agar aku tak merasa berhutang padamu." Rina menunduk tak berani menatap wajah Leo yang penuh amarah.
Leo memegang dagu Rina, mengarahkannya keatas tepat ke arah wajah Leo.
"Liat gue! liat mata gue!" Perintah Leo.
Rina pun mau tak mau menatap wajah Leo, lekat di kedua bola matanya.
Bola mata leo yang berwarna coklat muda, warna yang diturunkan oleh gen ibunya, bulu matanya yang panjang dan tebal menghiasi kelopak matanya.begitu pula dengan alis yang hitam lebat, hidung mancung dan bibir yang indah, bagaimana para kaum hawa tak menginginkan dirinya. Rina masih menatap lekat kedua bola mata Leo, betapa sempurna perawakan manusia di depannya, namun tidak dengan sifatnya.
"Lu yakin mau ngabulin apa aja yang gue minta?" Senyum Leo sinis.
"Iya yo,selagi aku bisa pasti aku usahakan." Jawab Rina.
"Gimana kalau. . ." Leo mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit ke wajah Rina, Rina yang ketakutan berusaha tenang namun tidak dengan jantungnya. ia takut sekali, sampai ia tak sadar menutup matanya.
"Gue mau kue hijau pandan lu." Tukas Leo sembari melepas dagu Rina dan menjauhkan wajahnya dari gadis itu.
"Maksud kamu yo?" Tanya ryina mencerna kata-kata leo yang tak ia mengerti.
"Ck! Itu kue lu yang kayak bolu tapi lembut wangi pandan, kemaren gue makan itu, gue mau lu besok bawain gue itu, titik! Gue ga mau yang lain." Perintah Leo.
"Ouh maksud kamu bolu kojo? kamu mau berapa yo aku buatnya?" Rina mengerti kue yang dimaksud lyeo.
"Terserah, pokoknya besok harus ada, awas aja kalau lu lupa." Leo mengacungkan telunjuknya kewajah Rina.
"Woi lu mau ngapain ?!!" Tanya Bima menghampiri Leo dan Rina, ternyata dia yang sedari tadi mengikuti mereka hingga koridor aula.
"Wessshh pahlawan kesiangan datang nih, duhh atutt gueee." Leo meledek, ia menatap sinis kearah Bima.
"Rin kamu gak apa-apa?" Bima menanyakan keadaan rina.
"Gak apa-apa bim, Leo juga gak ngapain-ngapain aku kok tadi ada urusan dikit aja." Jawab Rina.
"Tapi tadi aku liat kamu kayak mau nangis Rin ditarik bocah ini, bener kamu gak apa-apa?" Tanya Bima ingin meyakinkan lagi.
"Siapa yang bocah?!!" Ledak Leo. ia menarik kerah baju Bima.
"Ya elu, sikap lu gak berubah dari dulu masih kayak bocah!" Umpat Bima sembari mengacungkan telunjuk ke wajah Leo, tepat seperti yang dilakukan Leo terhadap Rina.
"Lu mau cari gara-gara sama gue ? Tapi sorry gue males ngeladeni orang lemah kayak elu." Jelas Leo. ia melepas kerah baju Bima, Ia menatap Rina sesaat lalu pergi meninggalkan Rina dan Bima di koridor itu.
"Sialan!!!!!" Geram Leo dalam hati.
"Rin kamu jangan takut ya, kalau Leo macem-macem sama kamu bilang aja sama aku, biar aku hajar itu si bocah brengsek." Ucap Bima.
"Iya Bim.. dia gak gak macam-macam kok, makasih ya kamu udah nolongin aku." Ucap Rina senang.
"Iya Rin sama-sama, yaudah kita balik ke kelas ya udah bel nanti kena absen sama guru." Ucap Bima khawatir.
Rina pun setuju, merekapun akhirnya kembali ke kelas masing-masing.dikelas, Leo menatap nyalang Rina yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Gausah seneng lu ditolongin sama pahlawan kesiangan." sindir Leo.
Rina tak menanggapi, ia lebih tertarik dengan angka-angka dan rumus di buku nya. lebih baik dia belajar daripada memikirkan orang di belakang nya.
Ddrrrtt!ddrrrttt! Tiba-tiba hp Rina bergetar, satu pesan masuk.
From: Bima
#Rin kamu pulang nanti sama siapa ? Bareng sama aku mau gak?
From: Rina
#sendiri Bim,boleh aja.
From: Bima
#nanti kalau kamu duluan keluar kelas tungguin aku ya di depan pos satpam.
From: Rina
#oke 👌
Saat jam istirahat Leo menepati janjinya dengan Ara, mereka makan bersama di kantin, semua mata menatap kearah mereka, yang satunya tampan dan satunya lagi cantik, pemandangan yang cukup indah.
Semua mengira bahwa Leo dan Ara memiliki hubungan khusus sebab keduanya memang terkenal dekat.
Hari ini pun terlewati dengan tenang.
Bel sekolah berbunyi,semua siswa-siswi keluar dari kelas. Rina pun keluar menjumpai Bima. Begitu juga dengan Leo, hari ini dia berencana main kerumah Rendy ditemani dengan Irfan.
Hari ini cuaca cukup mendukung untuk muda-mudi yang ingin berjalan-jalan diluar, cuaca mendung berawan namun tak hujan.
Saat kelas sudah kosong seseorang masuk kedalam kelas dan mengambil surat yang ada di kolong meja Rina. Ia membawanya pulang agar ia bisa membacanya dirumah.
Malam kian dingin angin bertiup membuat dedaunan satu persatu menari mendatangi bumi. Pria itu membaca tulisan di dalam amplop yang diambilnya tadi.
*Hai, siapapun kamu aku ucapkan terimakasih atas tulisanmu dikertas pagi ini. Kenapa kita tidak berteman di dunia nyata saja ? Aku dengan senang hati menjadi temanmu.*
Pria itu tersenyum membaca tulisan Rina dikertas itu, ia pun menulis balasan surat itu kemudian ia pun tertidur.
_ _ _ _
Pagi hari itu sang pria pun kembali meletakkan surat balasannya ke meja Rina. Lalu ia pun bergegas pergi dari kelas itu.
Hari ini kelas Rina mengadakan tes olahraga. Semua murid mengganti pakaian nya dan menuju lapangan untuk melakukan praktek.
"Rin gue takut gak lulus tes basket nih." Ucap Jenni was-was. Jenni adalah salah satu teman dekat Rina dikelas.
"Sama Jen, aku juga takut gak lulus.kalau gak lulus tes nanti gimana ya ? Aku gak pinter main bola basket." Ungkap Rina pada Jenni. Jenni pun mengangguk membenarkan.
"Gue juga ga pinter Rin, haaaaahhhh! Benci banget kalau dah pelajaran olahraga,pasti cowok-cowok pada senang nih." Ujarnya kemudian.
"Iya Jen, kamu bener." Balas Rina.
Semua murid sudah berkumpul, tim dibedakakan. 2 tim cowok dan 2 tim cewek. Mereka dibagikan agar permainan basket bisa dilakukan.
Seperti yang mereka duga, anak cowok memainkan basket dengan sungguh-sungguh, terlihat Irfan dan Leo yang berada di satu tim sedang kan Rendy berbeda tim dengan mereka.
"Prriiiittt" pluit dibunyikan.
Bola di dribel semua tampak serius menonton.
Sebagian anak kelas 10 yang jadwal olahraga nya sama dengan kelas 12 ikut menonton.
"Kaaak Leooo!!!!" Sorak sorai mereka ramai.
Leo yang merupakan ace di tim basket sekolahnya memanglah sangat pintar dalam hal bermain basket, ia menjadi jalan untuk membawa anggotanya meraih kemenangan, Irfan juga tergabung dalam klub basket mereka, ia bertugas sebagai center, sedangkan Rendy merupakan ketua basket yang mengatur pergerakan dan jalan strategi di tim basket mereka, itulah sebab Irfan, Rendy dan Leo sangatlah dekat.
Satu persatu bola dimasukkan ke dalam ring. Sorak sorai kelas 10 menyertai jalan pertandingan. Pertandingan dimenangkan oleh tim Leo dengan angka 38-35.
"Haah.. haah..wah curang, gue ngelawan lu berdua ini ceritanya." Ucap Rendy dengan nafasnya yang memburu.
"Haha, elu sih nomor absennya kejauhan." Ledek Leo.
"Yoi, makanya nama lu jangan Rendy, coba namalu Endy pasti lu se tim sama gue sama Leo,haha." Ujar Irfan. Mereka saling beradu argumen sesekali sambil tertawa lepas.
"Prriiiittt." Pluit berbunyi kembali dibunyikan, sekarang giliran tim cewek yang bertanding.
"Ayoo!!! Ayoo!!!" Para cowok dikelas bersorak sorai sembari menepuk tangan mereka memberi semangat.
Seperti biasanya, jika ada pertandingan olahraga antara cewek dengan cewek memanglah hal lumrah jika sebagian cewek akan mengeluarkan teriakan-teriakan manja saat tengah bertanding.
Bukannya menangkap bola, terkadang malah menghindari bola. Banyak sekali bola yang di lemparkan ke arah ring, namun sedikit sekali yang jelas masuk untuk mencetak skor.
"Bruuk!" Tiba-tiba kedua orang siswa bertabrakan.
"Aduh ...maaf ya Rin." Ucap Kiki terlihat panik, ia melihat darah di telapak tangan dan sikut Rina. Kemudian ia memegangi tangan Rina agar bisa berdiri.
"Gak apa-apa Ki, maaf juga ya aku tadi gak sengaja nabrak kamu."sambung Rina.
"Lu yang luka Rin, gue mah gapapa.entar gue bantu ya bersihin luka lu." Imbuh Kiki kemudian.