LEO

LEO
Gadis Cantik Ku



_ _ _ _ _


Rina kembali kerumah membawa kue-kuenya yang kotor.


"Loh, kamu kenapa nak? Kok nangis?" Tanya ibunya khawatir.


"Ini tadi pas Rina jualan kuenya disenggol orang terus jatuh kotor semua mak." Ucapnya sedih.


"Udah gak apa-apa kamu jangan nangis, berarti belum rezeki kita Rin." Ucap Ibunya menenangkan.


Walaupun ibunya juga sedih melihat dagangannya yang masih banyak namun telah kotor dengan tanah dan tak layak jual lagi.


"Tapi mak tadi dia bayar ganti rugi, ini uangnya." Rina mengeluarkan uang yang tadi ia dapat dari Leo.


"Ya Ampun Rin..ini banyak sekali uangnya, kamu tau orangnya yang mana? Besok kalau kamu jumpa lagi sama orangnya kembaliin aja, 150 ribu udah cukup buat modal kita." Ujar ibunya.


"Iya Mak, nanti Rina kembaliin ke orangnya ya Mak kalau besok Rina jumpa." Rina tak bisa jujur dengan keadaan yang sebenarnya menimpa dirinya.


Tentang Leo yang mencerca dagangannya, tentang Leo yang seperti merendahkannya.ia tak mau ibunya tau dan malah bersedih.


Malam itu Rina memikirkan bagaimana cara dirinya untuk mengembalilikan uang milik Leo. Ia mengambil amplop kosong kemudian meletakkan uang Leo didalamnya.


_ _ _ _


Sinar mentari pagi menyapa dari balik tingkap-tingkap jendela, menerobos melalui celah menyeruak dingin dengan hangatnya. Ayam berkokok merdu. Sekali lagi satu hari yang harus dijalani oleh semua siswa-siswi untuk menggapai cita-cita mereka.


Jam di dinding kelas menunjukkan pukull 06.30, masih terlalu dini untuk datang kesekolah.


Namun tidak halnya dengan seorang pria yang pagi itu telah menyisiri koridor lantai 1, ia menuju tangga untuk mencapai kelas yang berada diatas, sesampainya ia diruang kelas yang ia tuju ia pun segera menempelkan amplop diatas kolong laci milik seseorang, setelah semua nya selesai ia pun pergi meninggalkan kelas itu.


Satu persatu murid memasuki kelas, begitu juga dengan Rina. Ia bergegas menuju kelas sebab sebentar lagi bel akan berbunyi.


Disudut kelas Leo dan Irfan tengah sibuk menyalin tugas milik Rendy. Pagi itu beberapa siswa dan siswi riuh mengerjakan tugas sekolah yang belum mereka selesaikan.


Rina yang memanglah rajin tentu sudah mengerjakan tugasnya tadi malam.


Rina kemudian pelan menuju meja Leo, meletakkan amplop miliknya tadi malam, kemudian berlekas kembali ke bangku duduknya.


"Leooo sayaaangggg!!" Teriak Ara dari depan pintu kelas Leo.


"Wow wow, pagi-pagi dah dicariin gebetan aja." Goda Irfan sambil menyikut pundak Leo.


"Bangsat lu!sembarangan!" Cerca Le.


Ara sudah sampai di meja Rendy, didepan Rendy dan Irfan langsung menggelayut tangan Leo.


"Leo sayang entar siang kita makan bareng yaa." Ucap Ara dengan gaya khas manjanya.


" Ck! Lu minggir dulu deh Ra, lu ga liat gue lagi ngapain." Ketus Leo yang tengah sibuk menyalin tugas.


"Ih Leo sayang kok gitu ngomongnyaaa, pokoknya gue gamau tau nanti siang kita makan bareng,oke!" Tegas Ara lagi dengan rayu nya.


"Serah lu aja deh, capek gue." Jawab Leo cepat.


"Wah gila lu Ra main nyosor aja, Amit-amit!!! demit mana yang nempelin gue pagi-pagi." Kesal Leo sembari mengusap kasar tempat yang baru saja dikecup oleh ara.


Irfan yang melihat hal itu tertawa geli. anak perempuan dikelas Leo berbisik riuh melihat kejadian yang barusan.


"Hhaha, lu kenapa sih yo, harusnya lu itu seneng karena primadona yang cantik kayak Ara itu deket sama lu, banyak cowok yang mau sama tuh anak tapi dia tetap maunya sama elo." Ucap Irfan.


"Ogah gua, nih ya Fan. Ara itu udah gue anggap kayak adek sepupu gue sendiri, jadi gue ga akan bisa ada hal lain yang lebih dari hubungan itu, dan kalau lu mau sama dia gih ambil sana." balas Leo.


"Emangnya gak apa-apa kalau gue ambil? Entar lu mewek." Ledek Irfan kemudian.


"Ambil aja buat lu, gua ogah!" Jawab Leo ketus.


Irfan yang mendengar jawaban Leo benar-benar merasa lucu, Irfan memang tau kalau memang Leo tidak menyukai Ara sebatas yang lain-lain, bagi Leo Ara adalah teman masa kecilnya tak lebih dari itu.


"Apa ini?." Tanya Rina dalam hati. saat ia ingin meletakkan buku pelajaran kedalam kolong mejanya, terasa ada sesuatu yang menempel diatas kolong mejanya, Ia menemukan sebuah amplop. Ia membuka amplop itu dan terlihatlah selembar kertas didalamnya.


*Hai kamu gadis cantik yang duduk disini, aku sudah lama mau menyapamu, boleh tidak aku menjadi pengagum rahasiamu, kamu begitu cantik, senyummu manis sampai menerbangkan aku ke awan. aku suka melihatmu tersenyum. Bisa tidak setiap hari kamu tersenyum saja? jangan perlihatkan wajah sedihmu, sebab kamu paling cantik saat tersenyum.


Jawablah suratku ini, letakkan saja balasannya di tempat kamu menemukan surat ini, aku akan menunggu untuk balasan darimu. Oke cantik ku? Jangan lupa balas yaa❤️*


Rina keheranan membaca surat itu, siapa yang meletakkan surat ini?dan apa maksudnya pengagum rahasia? Kenapa dia tidak berteman saja dengan Rina, dengan senang hati Rina akan menjadi temannya, tanpa Rina sadari ia tersenyum kecil membaca surat itu. ia pun membalas surat itu dan meletakkan nya kembali ke tempat semula.


"Akhirnya siap juga. Sialan ni pr banyak amat!" Umpat Leo. Ia memperhatikan Irfan yang masih menyalin tugas.


"Fan gue balik ke bangku gue duluan ya, Ren makasi pr nya." Leo menepuk pundak Rendy dan kembali ke bangkunya.


Saat ia meletakkan bukunya kembali ke laci tiba-tiba sebuah amplop jatuh dari mejanya. Dia heran dan langsung saja membuka isinya. Uang!


Ia membaca surat yang terselip diantara uang-uang itu.


*Aku kembalikan uangmu,terlalu banyak, aku hanya perlu sedikit untuk modal ibuku. Terimakasih*


Leo yang telah selesai membaca surat itu langsung menatap punggung Rina di depannya. ia berdiri dan menghampiri Rina, menarik tangan Rina keluar dari kelas.


"Ikut gue!" Teriaknya. Seisi kelas hening melihat mereka.


"Aduh sakit yo, lepasin." Pinta Rina yang kesakitan karena pergelangan tangannya dicengkeram oleh Leo.


Leo tak menggubris, ia menarik Rina keluar kelas membawanya ke koridor aula yang kosong. Sepasang mata melihat gelagat Leo yang aneh sebab Rina mengikuti di belakangnya dengan muka yang hampir menangis. Ia mengikuti mereka. Setelah sampai dikoridor aula, Leo menyudutkan badan Rina ke dinding.


"Maksudlu apa ngembaliin uang yang gue kasi sama lu? hah! Lu ngehina gue lu kira gue ga bisa bayar kue-kue lu itu?" Tanya Leo geram.


"Bukan gitu yo, maaf aku gak maksud ngehina kamu, tapi uang kamu terlalu banyak untuk ganti rugi, aku cuma butuh sedikit aja untuk modal." Jawab Rina.


Bukk!


Tinjuan Leo mendarat tepat disamping Rina,ia memukul tembok hingga terdengar suara yang keras dari pukulannya. Rina terkejut, ia hendak menangis takut akan perlakuan Leo saat itu.


"Gue ga mau tau, lu ambil ini semua." Leo meletakkan amplop uang tadi ke tangan Rina.


"kalau lu gak mau nerima, gue bakar ni uang sekarang di depan lu." Ancam Leo membuat Rina tak punya pilihan, daripada uangnya dibakar Rina pun mengiyakan suruh Leo.