
"Bentar gue bayar dulu ya." Leo meninggalkan rina menuju kasir, tampak ia sedang berbincang dengan kasir.
Setelah itu ia pun kembali ke meja makan mereka.
Leo memperhatikan rina yang sedang menyuap eskrim ke mulutnya.
"Lu makan belepotan kayak anak kecil aja." Ucapnya seraya menghapus sisa eskrim di tepi bibir rina.
"Eh-em maaf." Jawab rina kaget dengan perlakuan leo.
"Mas ini pesanan nya." Waiters datang memberikan 2 bungkus plastik berisikan pesanan leo.
"Oke,thanks mas." Kata leo.
"Yaudah kita balik,udah malem." Ajak leo kemudian. Setelah ia melihat rina sudah selesai dengan makanan nya.
Leo dan rina pun pulang, leo membawa 2 plastik tadi dan menggantungkan nya di setir sebelah kiri.
"Pegangan, jangan sampe lu ilang di tengah jalan." Ledek leo.
Rina pun kembali mengalungkan tangannya ke pinggang Leo. Motor pun kembali dilajukan menembus dinginnya malam, lampu-lampu malam begitu indah, redup terang berwarna-warni menghiasi setiap jalan.
"Em..yo aku boleh tanya?" Tanya rina memberanikan diri.
"Iya." Jawab leo masih fokus dengan jalanan.
"Kamu pergi nya kenapa gak sama ara?" Lanjutnya kemudian.
"Maksudnya ? Memangnya kenapa kalau gue perginya sama lu? Lu ga suka?" Balas leo.
"Emm bukan gitu, kamu kan dekat sama ara,kalau sama aku kan engga. Bukannya lebih enak kalau kamu pergi sama orang yang dekat sama kamu." Ungkap rina
"Oh jadi lu gak suka pergi sama gue?!" Kesal leo.
"Eh-em..b-bukan gitu maksud aku yo, eee.. m-makasi ya udah ngajak aku hari ini." Ucap rina terbata.
Leo hanya diam tanpa menjawab ucapan rina. Setelah berapa lama menembus dinginnya malam. Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah rina.
Rina pun turun.
"Makasi ya yo hari ini." Ucap rina lagi.
Leo hanya diam kemudian mengambil satu bungkus plastik yang tadi ia gantung.
"Nih,buat bokap sama nyokap." Kata leo sembari memberikan plastik itu pada rina.
"Gausah yo, kamu bawa pulang aja." Tolak rina segan.
"Udah ini gue udah ada, yang ini buat lu gausah nolak." Paksa nya.
"Sekali lagi makasi ya yo." Ucap rina.
"Yaudah gue balik,salam buat bokap sama nyokap."ucap leo, ia pun pulang meninggalkan ara.
Sesampainya dirumah leo memarkirkan motor miliknya.
"Maaa leo pulang ni, bawa oleh-oleh looo." Teriaknya dari depan pintu.
"Emang apa yang kamu bawa?" Mamanya keluar dari kamar.
"Calon menantu rasa jagung keju.hahaha." tawanya lepas.
"Haha, Kayak iya aja kamu ini yo.emang apaan sih itu?" Tanya mama nya menelisik bungkusan ditangan leo.
Leo kemudian menyodorkan sebungkus plastik ke arah mamanya.
Mamanya pun membuka plastik tersebut dan melihat isinya.
"Ckckck! Bilang aja martabak udah yo." Mamanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Hehe.kan biar mama penasaran gitu." Jawabnya sembari menunjukkan senyum lebarnya.
Mama leo mencubit pinggang leo. "Kamu ini bisa aja yaaa."
"Aduh duh mama genit deh cubit-cubit leo." Ia memanyunkan bibirnya.
"Tumben kamu suka makan ginian? Biasa taunya cuma jajan resto." Tanya mamanya heran.
"Itu juga leo beli di caffe ma,hehe. Tadi pas makan leo keingat sama mama leo yang cantik dirumah, jadi leo beli deh." Jawabnya usil.
"Bisa aja kamu yaa." Mamanya kembali mencubit pinggang leo geram.
"Aduduh ma ampun." Ia meringis. "Ma leo naik ke atas dulu ya ma. Mau tidur."
"Dah mamaaa. muaachh" leo mencium pipi mamanya lalu berlari ke kamarnya.
_ _ _ _
"Psst! Cewek ganjen." Panggil leo sambil menepuk bahu rina.
saat itu jam pelajaran sedang berlangsung.rina pun menyobek selembar kertas.
*Ada apa?* Tulisnya di kertas itu. Kemudian ia memberinya pada leo.
*0822- - --547* leo menulis nomornya kemudian memberikan kertas tadi pada rina. Rina yang menerimanya keheranan.
*nomor siapa? Untuk apa?* Balas rina lagi.
*Chat gue sekarang!* balas leo.
Rina mengernyitkan dahinya, ia mencoba mencari tau apa yang diingin kan Leo selanjutnya dari dirinya. Namun ia menuruti pinta leo, leo pun menerima pesan dari nomor baru.
"rina." Isi pesannya. Menandakan bahwa itu adalah nomor rina. Leo segera menyimpan kontak Rina di handphone nya dengan menambahkan emoticon kucing diujung namanya.
*Rina🐱* ia tersenyum simpul.
Akhir-akhir ini leo jarang mengganggu rina, ia seperti bukan leo saja.
Seperti 2 hari yang lalu, ia mengantarkan rina pulang saat ia melihat rina menunggu bus yang tak kunjung datang. Saat rina kesusahan mengambil buku di rak paling atas perpustakaan, ia pun mengambilnya kemudian memberikan nya pada rina.
Namun rina senang akan perubahan leo yang sekarang.
Tapi tetap saja panggilan leo padanya tak ada perubahan, ia masih memanggil rina dengan sebutan cewek ganjen.
Teeeng...teeeng...teeeng...
Bel istirahat berbunyi, saatnya istirahat siang. Seseorang datang dari pintu masuk kelas, ia menuju tempat duduk rina.
"Rin, aku boleh bicara bentar diluar sama kamu?" Tanya bima yang saat itu sudah di depan meja rina.
"Boleh bim." Jawab rina mengangguk, ia kemudian berdiri mengikuti bima.
Tiba-tiba leo menghentikan langkah rina, ia memegang lengannya.
"Mau kemana lu?" Tanya leo curiga.
"Mau kedepan bentar yo." Jawab rina.
"Gak,lu disini aja."marah leo.
"Kalau lu mau keluar,keluar aja sendiri!" Ia mengacungkan telunjuknya ke wajah bima.
Bima menepis genggaman leo dari lengan rina.
"Emang lu siapa nyuruh-nyuruh gue? Pake acara ngelarang rina emang lu pikir lu siapa?! Pacar juga bukan!" Balas bima tak mau kalah.
"Suka-suka gue! Mau gue pacar atau bukan sekali gue bilang enggak ya enggak!!!" Leo menarik lengan rina untuk menjauh dari bima.
"Leo sayang ini ada apa?" Tanya ara yang baru saja sampai ke kelas leo.
ia berencana mengajak leo makan di kantin, namun yang ia lihat leo sedang berseteru dengan cowok dari kelas lain.
"Udah udah, aku gak mau kalian ribut-ribut gini, bim kalau kita ngomong disini aja bisa?" Tanya rina berusaha melerai.
"Iya rin,yaudah aku cuma mau nanya aja tadi, kamu siang ini bisa gak sepulang sekolah ajarin aku materi yang aku gak ngerti?" Jelas bima.
"Oohh yaudah nanti pulang sekolah aku ajarin."jawab rina menyetujui.
"Lu ngapain sih mau ngajarin orang kayak gini?!" Kesal leo dengan matanya menatap marah rina.
"Ih leo sayang udah deh gausah ngurusin mereka, mending kita ke kantin aja hayukkk." Ara menarik lengan leo untuk mengikutinya.
"Pokoknya lu gak boleh nerima ajakan dia!" Leo menunjuk bima. "Awas aja lu." Ancam leo pada bima.
"Ih udah hayuukk." Ajak ara,dia terus saja menyeret lengan leo. Leo pun mengikuti ara menuju kantin. Namun terpancar jelas amarah di wajahnya.
"Duh maaf ya bim, leo memang suka banget kayak gitu." Ungkap rina pusing.
"Hah,gak apa-apa rin. Tapi kamu bisa kan siang nanti? Kalau ngajarin di kost an aku bisa gak?" Tanya bima mencari kepastian.
"Dikost an ? Kamu ngekost bim? Memang nya gak apa-apa?" rina khawatir, ia takut akan terjadi masalah pada bima jika ibu kost nya tau ia membawa wanita.
"Enggak apa-apa rin kamu tenang aja, kamu bisa kan ?" Imbuh bima lagi.
"Oohh yaudah kalau gitu aku bisa bim, nanti tunggu di bawah tangga ya pulangnya." Rina pun meng iyakan ajakan bima.
"Yaudah aku balik ke kelas ya.bye rin." Bima pun berpamitan pada rina ia melambai lalu meninggalkan kelas mereka.
Sedang di kantin leo terlihat marah bercampur gelisah.