LEO

LEO
Brengsek!



ia mencoba menyisir kost-kostan itu.


Saat ia masih di ujung gerbang ia seperti mendengar suara teriakan.


"Rina!" Fikirnya.


Deg! Darahnya berdesir. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Leo pun dengan cepat berlari mencari asal suara.


Sampai pada akhirnya ia berdiri di pintu kost paling ujung.Ia melihat dari kaca luar jendela.


Ia mendapati bima yang tengah menggerayangi tubuh rina. matanya nanar melihat apa yang di depannya saat itu.


"Woi brengsek lu ngapain?!!!" Teriaknya emosi.


Ia mencoba membuka pintu namun pintu dikunci.


"Leeoo tolooonggg." Teriak rina yang menyadari kedatangan leo diluar.


"Brengsek lu!!! Jauhin tangan kotorlu dari rina!!!" Teriak leo lagi dari luar.


Bima tak memperdulikan kedatangan leo, tangannya sudah siap menyusup kedalam rok rina hendak menanggalkan short rina.


Leo berusaha mendobrak pintu kost an bima.


"Brukk!" Pintu kost an pun akhirnya terbuka.


"Buk.." leo melayangkan tinjunya pada bima.


"Beraninya lu macem-macem sama cewe!!!' ledak leo seraya melayangkan pukulannya. Bima pun membalas, terjadilah perkelahian saat itu.


Rina masih terduduk shock dengan kejadian yang menimpa dirinya. Ia menangis sejadi-jadinya.


Perkelahian pun berlangsung hingga pada akhirnya bima pingsan di tangan leo.


Leo segera mendatangi rina yang tengah menangis menutupi badannya dengan kedua tangannya yang menyilang.


Leo melepaskan baju sekolah nya,ia memakai baju double saat itu, kemudian ia memberikan baju sekolahnya pada rina.


"Pakai ini." Suruh leo dengan tatapan sendunya.


Rina mengangguk. Ia memakai pakaian leo sebab pakaian rina sudah dirobek oleh bima.


Leo yang tadinya marah kini semakin marah, ia menelepon polisi kenalan papanya menyuruh mereka untuk menahan bima dengan alasan percobaan tindak asusila.


"Leooo, hiks." Ucap rina disertai dengan Air matanya terus mengalir.


Leo langsung memeluk rina dengan erat, rina pun menangis sejadi-jadinya.


"Kan aku udah bilang tadi sama kamu jangan pergi, tapi kamu pergi juga rin." Ucap leo dengan perasaan bersalah di hatinya, sebab ia terlambat untuk melindungi rina.


"maaf, hiks..maaf ."rina menjawab dengan isak tangis nya.


"Kamu gak salah rin, yang salah bima, jangan minta maaf." Leo masih memeluk rina dengan erat, mengelus kepalanya agar rina tenang.


Tak berapa lama polisi datang, leo menjelaskan kejadian yang terjadi, bima pun dibawa ke polres. Begitu juga dengan rina untuk dimintai keterangan sebagai korban.


Bima dijatuhi hukuman yang pantas untuknya, Leo meminta polisi untuk menyembunyikan identitas rina sebagai korban, sebab ia tak mau rina terkena masalah dengan kejadian ini.


Setelah apa yang dicarinya ia dapat, ia pun kembali ke polres.


Terlihat rina sudah selesai dan sedang menunggu leo.


"Udah selesai?" Tanya leo padanya.


Rina mengangguk, ia sekarang sudah sedikit lebih tenang.


"Yaudah aku antar kamu pulang ya rin, ini ganti baju kamu yang robek tadi." Leo memberikan bungkusan berisi baju sekolah pada rina.


"Maaf ya yo aku jadi ngerepotin kamu, aku gak tau jadinya gimana kalau kami gak ada." Ungkap rina, air matanya kembali turun.


"Shhh, udah udah..yang penting sekarang kamu aman." Ujar leo sembari menyeka air mata rina.


"Yaudah aku antar kamu pulang ya?" Tanya leo.


Rina mengangguk mengiyakan. Leo pun mengantar rina pulang, sesampai dirumah Rina ia pun berpamitan.


"Maaaa, mamaaaa."


Leo yang baru saja pulang mencari sosok ibunya.


"Aduh leo kamu bisa gak sih tenang manggil mama." Gerutu mama nya mendatangi leo.


"Ma leo mau nikah." Ucap leo tiba-tiba membuat mamanya kaget mendengar ucapannya.


"Maksud kamu? Kamu mau nikah abis lulus nanti?" Mamanya kebingungan.


"Enggak ma, leo mau nikah sekarang." Jawabnya tegas.


"Kamu kok tiba-tiba ngomong gini? Kamu ngehamilin anak orang?" Tanya mamanya tak percaya. Hampir saja mamanya pingsan, namun leo dengan sigap menangkap badan mamanya.


"Mama ngomongnya sembarangan nih, gak ada menghamili atau dihamili maaa."


"Terus maksud kamu gimana sih yo?" Tanya mamanya pusing.


"Gini maa." Leo mengajak mamanya untuk duduk "leo suka sama cewe, tapi leo takut leo gak bisa jagain dia setiap saat, kalau leo nikah kan pasti setiap saat leo sama dia, jagain dia ma, leo takut dia kenapa-kenapa ma, tadi dia hampir diperk*sa sama temen leo ma, leo gak terima maaa." Ungkap leo dengan tatapan sendu.


Mama leo berusaha mencerna ucapan leo.


"Jadi sekarang cewek itu gimana yo?" Tanya mamanya penasaran dengan kejadian itu.


"Udah gak apa-apa ma, untung Leo datang tepat waktu. Kalau engga leo gak bisa bayangin ma kejadian selanjutnya." Leo tiba-tiba meneteskan air mata dari pelupuk matanya. Ia masih dihantui dengan rasa bersalah.


"Kamu suka banget ya sama cewek itu?" Tanya mamanya dalam.


Leo hanya mengangguk.


"Bisa aja sih, tapi kamu sama dia masih sekolah yo. Nanti sekolah kalian gimana?"


"aman ma, sekolah leo gak akan keganggu. pleaseee maaaa." pinta leo memohon.


"entar mama coba tanya sama papa kamu dulu ya yoo, lagian kita juga belum kenal sama keluarga cewek yang kamu suka itu." jelas mamanya menimbang semua aspek kedepan.