
"Mama cukup…" teriak rudy
"Ini bukan salah merry"
"Kalau tujuan mama kesini untuk menyalahkan merry,lebih baik mama pulang saja" ucap rudy dengan tegas
"Jadi kamu mengusir mama…?"
"Aku nggak mengusir mama,tapi kalau mama terus menyalahkan merry,rudy terpaksa nyuruh mama pulang"
"Mama nggak lupa kan kalau rudy sudah menikah dengan merry,jadi rudy harap mama bisa bersikap baik sama merry"
"Baiklah kalau itu mau kamu.."
"Karena mama tidak mau bersikap baik kepada orang yang tidak tau asal usulnya ini,apalagi dia telah membuat kamu masuk rumah sakit gini"
"Ya...walaupun mama harus menerima kenyataan bahwa dia istri kamu sekarang,tapi mama nggak sudi punya menantu seperti dia"
"Ya..sudah mama pulang dulu" ucap santi lalu keluar
Melihat merry yang hanya terdiam,rudy berusaha mendinginkan kembali suasana yang sempat memanas akibat ulah mamanya
"Maafin mama ku ya mer,dia memang begitu orangnya"
"Sebenarnya mama ku baik,dia hanya belum mengenal kamu saja" jelas rudy
"Mamamu benar kok rud,semua ini salah aku"
"Gara gara aku kamu terluka dan masuk rumah sakit"
"Maafin aku ya rud,aku selalu nyusahin kamu" ucap merry sambil tidak terasa ia meneteskan air matanya
"Hey...kenapa menangis.."
"Aku nggak apa apa kok mer"
"Lagian sudah tugas aku sebagai suami untuk melindungi dan menjaga kamu"
"Jadi sudah ya,jangan menangis lagi.." ucap rudy
Tok..tok..tok..
"Selamat pagi bro,,pagi merry…" sapa dokter indra
Belum sempat ada jawaban dokter indra sudah merasakan suasana yang masih tegang di kamar rudy
"Hey...ada apa dengan suasana tegang ini..?!"
"Mama gue barusan datang,biasa lah dia bikin ulah nyalahin merry"
"Oh.." ucap indra sambil membulatkan mulutnya
"Gue cek kondisi lo dulu ya.."
"Oke,nggak ada masalah.."ucap indra setelah memeriksa kondisi rudy
"Gue bisa pulang sekarang kan..?!" Tanya rudy
"Bisa..bisa.."
"Tuh mer,aku nggak apa apa kok,buktinya sekarang sudah boleh pulang" ucap rudy
"Gue lepas infusannya dulu,biar lo bisa pulang sekarang juga" ucap indra
"Tolong selesaikan administrasinya ya.." ucap rudy sambil menyodorkan kredit card ke tangan indra
"Kalau sudah jatuh ke tangan gue,nggak bisa balik nih kartu" ucap indra bercanda
"Ambil..ambil.." ucap rudy
"Sudah selesai.."
"Dah,balik sana intirahat di rumah"
"Besok gue yang ke rumah lo buat ganti perbannya" ucap indra
"Oke,thank you ya bro.."
"Gue balik dulu.." ucap rudy
"Terima kasih dok" ucap merry
"Iya sama sama" ucap indra
***
"Naik taxi aja ya mer" ucap rudy
"Loh..mobil kamu kan masih di sini"
"Aku takut masuk rumah sakit lagi kalau kamu yang bawa mobilnya" ucap rudy
"Yaudah kita duduk di lobby dulu,aku panggilkan taxi online" ucap merry
Tak lama taxi yang merry pesan pun datang membawa merry dan rudy pulang ke rumahnya,setelah sampai rumah rudy langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu
"Mau istirahat di kamar dulu atau makan dulu"
"Makan dulu deh mer.."
"Mau makan apa,biar aku masakin.."
"Aku mau makan yang kuah kuah"
"Mau aku buatkan sup atau soto..?"
"Soto enak kayanya.."
"Eh..tapi beneran kamu mau masak,mau aku bantu..?!"
"Nggak usah,kamu istirahat aja" ucap merry lalu pergi ke dapur untuk membuatkan soto yang rudy pesan
Saat merry menghampiri rudy untuk memberitahu kalau makanan sudah siap,tapi ia melihat rudy tertidur di sofa ruang tamu
"Yaah..malah tidur nih orang"
"Aku biarin atau aku bangunin ya.."
"Kalau aku biarin nanti makanannya keburu dingin,tapi kalau aku bangunin kasian,aku juga nggak tega buat banguninnya" gumam merry
Saat sedang menatap wajah rudy dari dekat
"Beruntungnya aku bisa punya suami seperti kamu" ucap merry pelan
Tapi sepertinya ucapan merry berhasil membangunkan rudy
"Ah,,sorry..aku ketiduran"
"Efek obatnya bikin aku ngantuk banget" ucap rudy berusaha bangun dan berdiri
"Nggak apa apa,ayo makan.." ucap merry lalu berjalan ke meja makan
"Gimana rasanya..?" Tanya merry saat melihat rudy mencicipi soto buatannya
"Emm"
"Enak kok.."
"Kamu pintar masak ya" ucap rudy sambil melanjutkan makannya
"Nggak begitu pintar,aku hanya masak yang aku bisa saja"
"Habiskan ya,setelah makan baru istirahat.." ucap merry
"Hemm" jawab rudy
"Sudah selesai makannya..?" Tanya merry karena melihat rudy sibuk dengan hpnya
"Iya sudah,aku ke kamar dulu ya mer"
"Terima kasih makanannya" ucap rudy lalu naik menuju kamarnya untuk istirahat
Keesokan harinya tepat jam 7 pagi dokter indra sudah datang ke rumah rudy untuk mengganti perban di kepalanya
Ting..tong..ting..tong..
Merry yang sudah siap siap berangkat kuliah dan kebetulan lagi di dapur mendengar bunyi bel yang dokter indra tekan
"Sepertinya ada tamu,siapa ya pagi pagi gini"
"Aku lihat saja deh"
Ting..tong…
"Iya sebentar…"
klek..
"Eh..dokter indra,silahkan masuk dok"
"Maaf ya merry kalau mengganggu kamu,karena saya datang pagi pagi gini"
"Nggak kok dok,mau ganti perban rudy ya"
"Iya,apa dia sudah bangun..?"
"Sepertinya masih tidur"
"Mau minum apa dok..?"
"Nggak usah merry"
"Kalau begitu tunggu sebentar ya dok,aku lihat dulu rudy nya sudah bangun apa belum" ucap merry meninggalkan dokter indra lalu naik untuk melihat rudy di kamarnya
Tok..tok..tok..
"Rudy apa kamu sudah bangun" ucap merry di depan kamar rudy,karena tidak ada jawaban dari rudy,ia pun masuk ke kamarnya
"Hey..kamu masih tidur" ucap merry berjalan mendekati rudy yang masih berbaring di tempat tidurnya
"Rudy di bawah ada dokter indra sedang menunggu mu" ucap merry sambil menggoyangkan pelan badan rudy
"Oh..merry,ada apa..?" Tanya rudy dengan suara serak khas bangun tidur
"Di bawah ada dokter indra sedang menunggumu,kayaknya mau mengganti perban di kepalamu" ulang merry
"Suruh dia masuk kesini aja ya.." pinta rudy
"Kamu mau berangkat kuliah..?" Tanya rudy sambil melihat penampilan istrinya karena sudah rapih
"Iya,hari ini aku ada ujian"
"Yaudah aku turun kebawah ngasih tau dokter indra agar naik kesini,sekalian aku pamit mau berangkat kuliah sekarang ya" ucap merry
"Iya,,hati hati ya" ucap rudy
Merry pun turun kebawah memberi tahu dokter indra agar naik dan masuk ke kamarnya rudy
"Dok,rudynya baru bangun tuh"
"Dokter indra langsung masuk ke kamarnya saja,sudah di tunggu oleh rudy"
"Iya merry.."
"Aku tinggal ya dulu ya dok" ucap merry lalu pergi ke kampusnya,begitu juga dokter indra langsung naik dan masuk ke kamarnya rudy
"Selamat pagi bro.." sapa dokter indra
"Hmm,,pagi.."
"Gimana kondisi lo,masih pusing..?" Tanya dokter indra sambil membuka perban di kepala rudy
"Iya,masih pusing sedikit"
"Sorry ya gue kepagian kesininya,jadi ganggu lo tidur deh"
"Soalnya nanti siang gue mau ke surabaya,gue lupa kalau ada seminar di sana besok"
"Nggak kok santai aja,kayak sama siapa aja lo"
"By the way kapan lo mau cerita sama merry soal phobia lo..?"
"Nah..itu dia,setiap gue mau cerita tentang phobia gue ada aja halangannya"
"Sudah berapa kali gue mau cerita selalu gagal" keluh rudy
"Lo harus bener bener cari timing yang pas kalau mau cerita bro,kalau lo lagi berdua atau lo coba jalan berdua terus lo ceritain semua deh masalah phobia lo sama merry"
"Ah..bener juga,gue belum pernah jalan berdua sama merry"
"Kira kira kemana ya bro"
"Oke deh,gue coba nanti saran dari lo"
"Sudah selesai nih,kalau gitu gue pulang dulu ya,belum beresin baju buat besok"
"Oh..iya,nih kredit card lo hampir aja gue lupa kan" ucap dokter indra sambil menyerahkan kredit card rudy
"Yaudah,thanks ya bro"
"Hmm" jawab dokter indra sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar rudy lalu pulang
Dua minggu kemudian rudy sudah kembali disibukkan dengan pekerjaan seperti biasanya,kepalanya pun sudah sembuh dan tidak diperban lagi,sementara merry masih disibukkan dengan kuliahnya dan sedang mengerjakan skripsi
Suatu pagi saat rudy sedang sarapan sendiri di meja makan hp nya berbunyi
Drrtt..drrtt..drrtt..
"Halo.." ucap rudy menjawab teleponnya
"Halo rud" ucap donie papanya rudy dibalik telepon
"Iya,ada apa pah,tumben pagi pagi sudah telepon..?"
"Nggak apa apa,papa cuma mau menanyakan gimana kabar kamu..?"
"Sudah sembuh belum luka yang di kepalanya..?" Tanya papa donie
"Sudah sembuh kok pah,sudah nggak di perban lagi sekarang" jawab rudy
"Gimana kabar papa sama mama..?"
"Mama masih marah ya sama aku,gara gara kejadian di rumah sakit itu..!!"
"Papa sama mama mu sehat"
"Sepertinya sudah nggak marah,ini aja papa telepon gara gara mama mu tiap hari nanyain terus kabar kamu"
"Mendesak papa agar menelpon kamu"
"Kenapa nggak mama sendiri aja yang telpon,tanya langsung sama aku,kabar aku gimana kan bisa..!!"
"Kamu kayak yang nggak tahu mama mu aja,gengsinya itu loh gede banget"
"Iya sih,lagian mama sudah tua masih aja gengsi gengsian sama anaknya sendiri" ucap rudy
"Oh..iya rud,gimana kamu sudah bilang sama merry soal phobia mu..?"
"Belum pah,aku belum cerita sama merry tentang aku yang selama ini phobia disentuh oleh perempuan dan bahkan takut untuk berciuman atau hal yang lebih dari itu,setiap aku mau cerita selalu ada gangguan terus"
"Belum nemu timing yang pas" jawab rudy
Merry yang sedari tadi di kamarnya tengah bersiap siap pergi ke kampus
"semoga hari ku berjalan lancar dan menyenangkan hari ini" ucap merry yang berdiri di depan cermin
"Sudah oke,aku turun dulu deh sekalian pamit sama rudy" ucap merry
Namun saat ia hendak menuruni tangga bermaksud untuk menghampiri rudy tanpa sengaja ia mendengar semua percakapan antara rudy dan papanya tentang phobia yang rudy derita selama ini
Brukk..
Tanpa sengaja beberapa buku yang merry pegang terjatuh dan membuat rudy sadar akan kehadiran merry
"Ah..merry" ucap rudy kaget melihat merry yang sedang berdiri di tangga
"Sudah dulu ya pah,nanti aku telpon lagi" pungkas rudy lalu menutup telponnya dan segera menghampiri merry berniat untuk bantu mengambil buku bukunya yang terjatuh
Tapi saat rudy mendekati merry
"Stop rud.." ucap merry membuat rudy mengernyitkan dahinya
"Kenapa mer..?" Tanya rudy
"Kenapa...kamu bilang kenapa.."
"Harusnya aku yang bilang,kenapa.."
"Kenapa selama ini kamu menyembunyikan masalah ini dari ku.."
"Kamu sengaja membohongi aku.."
"Menyembunyi kan apa,aku bohong apa mer..?" Tanya rudy ia benar benar tidak tahu maksud perkataan merry ia juga tidak tahu kalau merry telah mendengar pembicaraan rudy dengan papa nya
"Kamu masih mengelak dari aku"
"Kenapa kamu nggak jujur dari awal sama aku kalau kamu mempunyai phobia sama perempuan"
Degg..
Jantung rudy seolah berhenti mendengar apa yang merry ucapkan
"Jadi kamu menikah dengan ku sengaja untuk memanfaatkan aku,agar kamu sembuh dari phobia mu itu"
"Memang ya orang kaya sepertimu semuanya sama saja"
"Dengan modal pura pura baik sama aku selama ini kamu bisa memanfaatkan aku"
"Dan setelah kamu sembuh dari phobia,kamu bisa seenaknya membuang aku,gitu…" ucap merry sambil menangis
Rudy cukup speechless mendengar perkataan merry
"Mer,dengarkan aku dulu.."
"Aku nggak bermaksud membohongi kamu dan menyembunyikan phobia ku sama kamu"
"Aku sudah mencoba beberapa kali untuk cerita sama kamu soal phobia ku,tapi selalu gagal" jelas rudy berusaha meyakinkan merry
"Cukup rudy.." ucap merry menghentikan penjelasan yang rudy katakan
"Beri aku waktu untuk berpikir dan memutuskan apa yang harus aku lakukan kedepannya" ucap merry lalu pergi meninggalkan rudy yang tampak frustasi
"Ah..sial…" teriak rudy
Rudy berjalan ke meja makan dan mengambil hpnya yang ia letakkan di sana
"Halo pan,jemput saya sekarang di rumah" ucap rudy menelpon pandu dan tanpa mendengar jawaban dulu dari pandu,rudy langsung mematikan lagi teleponnya
Rudy kembali duduk di meja makan dan minum segelas air untuk menjernihkan sedikit pikirannya
Ia memikirkan bagaimana merry tau tentang phobianya,saat rudy melihat hpnya rudy baru sadar
"Sepertinya merry tidak sengaja mendengar pembicaraan ku dengan papa tadi"
"Sial,kenapa aku nggak sadar kalau merry memperhatikan aku selama aku menelpon papa tadi…"
"Sudah lah,aku ke kantor dulu saja" ucap rudy
Saat rudy membuka pintu,pandu sudah berdiri tepat di depannya
"Ayo jalan pan" ucap rudy
Melihat muka rudy,pandu langsung sadar ada yang tidak beres telah terjadi sama atasannya itu
Saat ditengah perjalanan menuju kantor pandu memberanikan diri menanyakan ada masalah apa dengan atasannya tersebut sehingga membuat muka gantengnya terlihat kusut seperti baju yang belum di setrika
"Maaf pak,kalau boleh tau apakah bapak bertengkar dengan istri bapak"
"Kelihatan jelas ya pan..?"
"Iya pak,apa yang terjadi pak..?" Tanya pandu
"Merry tidak sengaja mendengar percakapan saya sama papa tentang phobia saya pan"
"Terus pak"
"Ya..saya jelasin sama dia,tapi merry nya marah dan menangis tadi sambil pergi"
"Nggak bapak kejar"
"Nggak,dia bilang dia minta waktu untuk berpikir"
"Aduh..pak,harusnya bapak kejar dong" ucap pandu
"Kalau dia semakin marah sama saya gimana"
"Sepertinya mbak merry itu orang baik,kalau marah juga nggak mungkin lama sih pak"
"Terus sekarang saya harus gimana pan..?" Tanya rudy dengan sedikit frustasi
"Ya,,bapak kasih mbak merry waktu untuk berpikir,tapi tetap bapak pantau" ucap pandu
"Kalau gitu,kamu pantau terus keberadaan istri saya ya pan"
"Kamu cari orang untuk mengikuti merry dari jauh kemanapun dia pergi"
"Baik pak"
Sesampainya di kantor,rudy sudah ditunggu oleh setumpuk dokumen yang harus ditanda tangani segera
Sementara merry,setelah selesai jam kuliah ia langsung kembali ke rumah dan mengambil beberapa baju yang ia butuhkan untuk beberapa hari kedepan karena merry sudah memutuskan untuk beberapa hari ini ia membutuhkan waktu untuk sendiri dulu
Merry bingung menentukan tempat kemana ia akan pergi selama beberapa hari,kalau ia pergi ke rumah kakeknya..rudy pasti akan menyusulnya,begitu juga kalau ia pergi ke tempat kerjanya
"Aku harus pergi sebelum rudy pulang"
"Walaupun dia punya alasan,setidaknya aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiran ku dulu untuk beberapa hari"
"Sebaiknya aku mematikan hp ku dulu agar rudy tidak menghubungi ku" ucap merry
"Tapi aku harus pergi kemana sekarang,aku bahkan nggak punya tujuan"
"Kalau aku pergi ke rumah kekek,rudy pasti akan mencari ku ke sana"
"Kalau di tempat kerja juga sama,pasti disusul sama rudy"
"Rumahnya pak robert nggak mungkin,aku nggak mau merepotkan dia"
"Apa sebaiknya aku ke rumah kakeknya rudy"
"Dia nggak akan tau kalau aku tinggal disana beberapa hari"
Akhirnya merry memutuskan untuk pergi ke rumah adiwirya yang tak lain adalah kakeknya rudy
Merry hanya membawa 1 tas yang berisi beberapa baju untuk ia pakai beberapa hari kedepan
Ting..tong..ting..tong…
Merry memencet bel di depan gerbang rumah adiwirya,tak lama ada seorang security membukakan gerbang untuknya
"Permisi pak,kakek adiwirya nya ada di dalam ya..?" Tanya merry pada seorang security
"Ada mbak,tapi maaf mbak siapanya ya..?"
"Saya istrinya pak rudy"
"Oh,,maaf mbak saya nggak tahu kalau pak rudy sudah menikah,kalau begitu silahkan masuk mba" ucap security sambil sedikit menundukan badannya dan mempersilahkan merry untuk masuk ke dalam rumah adiwirya
"Tapi sepertinya bapak adiwirya sedang kurang sehat mbak"
====>> hayy gaes ..gimana ceritanya..?
pembaca yang baik mohon masukkan nya yaa..
tolong tinggalkan kritik dan saran tentang cerita ini yaa..
biar ga bosenin bacanya...❤️❤️❤️