Ke - isekai

Ke - isekai
Bab 7 Nephilim



Matahari pagi menyinari mansion Adorellan, Nagisa yang baru bangun meregangkan tubuh selayaknya putri dari Disney princess, tapi keadaan nggak sedamai itu, karena sesaat kemudian ia ditarik oleh salah satu maid dan dibawa ke kamar mandi untuk di mandikan. Ya, bisa dibilang hari itu, pelayan di mansion Adorellan sangat sibuk dengan menyiapkan segala kebutuhan tuan muda dan tamunya untuk keberangkatan mereka ke markas ( mereka sudah malas untuk menamai tempat tersebut sehingga hanya menyebutnya dengan markas ).


Beberapa saat kemudian, Nagisa berpakaian rapi sedang duduk di meja makan bersama dengan Sarriel dan Syllynn. Mereka melakukan prosesi makan dengan khidmat dan kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan beberes. Tak lama, mereka berdiri di ruang tamu bersama dengan koper mereka, tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka, jadi Nagisa berpikir dengan cara pikirnya berjalan ke arah pintu keluar. " Mau kemana kamu ?" tanya Sarriel, pertanyaan itu menghentikan langkah Nagisa. "Ke markas kan ?" jawab Nagisa polos.


"Kita menunggu kereta kuda yang masih di persiapkan, dengan perjalanan yang lumayan jauh dengan barang bawaan, kita tidak mungkin berjalan kaki ke sana." sambil menepuk sofa di sebelahnya yang kosong Sarriel berkata, "Duduk sini." Nagisa pun duduk di tempat yang ditunjuk Sarriel sambil menunggu dengan sabar.


Tak lama kemudian, kereta kuda sampai dan membawa mereka ke markas. Selama perjalanan, tidak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat, jadi mereka hanya diam di kereta kuda sampai perjalanan selesai dengan selingan ke penginapan saat petang menjelang. Butuh waktu sekitar 3-4 hari bagi mereka untuk sampai.


Setibanya di markas, Nagisa tidak bisa untuk tidak menahan diri untuk berkata wow. Jelas, saat ini di depan matanya, terdapat rumah, tidak mungkin bisa di sebut mansion atau kondominium karena tempat itu luas dan bertingkat. Ada 5 lantai di tempat itu, dan ditiap lantai terdapat 5 tempat kamar tidur, terdapat 1 kamar tidur terbesar di tempat itu, tepatnya di lantai 5 paling ujung, tidak hanya itu saja, di tiap lantai terdapat dapur umum dengan makanan tersedia full.


"Kamu bisa mengambil kamar yang paling besar." kata Sarriel setelah memastikan Nagisa selesai mengagumi tempat tersebut. "Eh, bolehkan ?" kata Nagisa dengan raut terkejut. "Tentu saja. Sebenarnya di wilayah ini menganut sistem first come first serve, jadi yang lain akan memilih tempat sesuai keinginan mereka." lanjut Syllynn. "Ras yang akan tiba pertama adalah ras nephilim, dia akan tiba besok bersamaan dengan ras dark-elf, kemudian dilanjutkan dengan ras demon, angel, fairy, centaur, phoenix, basilisk, necromancer, nekojin, dwarf dan yang terakhir kitsune." Sarriel menimpali.


"Tunggu, jadi sampai besok kita cuma bertiga di tempat seluas ini ?" tanya Nagisa dengan mata berkaca-kaca. "Ya apa boleh buat, tapi jangan khawatir, kamar kita bersebelahan kok." potong Syllynn cepat. "Tapi, kok yang dari ras dark-elf tidak berangkat dengan kita, justru setelah kita ?" tanya Nagisa lagi. "Untuk menunda kekacauan yang akan terjadi." balas Sarriel.


"Kekacauan ?" kelihatannya rasa ingin tahu Nagisa sedang dalam mode on rupanya. "Iya, anak manja satu itu susah di atur, itu sebabnya aku mengatur jadwal berangkatnya agar berbeda dengan kita tetapi dengan perbedaan yang tidak terlalu jauh, jadi jangan khawatir." jelas Sarriel.


"Ngomong-ngomong, aku kok tidak melihat binatang peliharaanmu ? Siapa tadi namanya, em, Bubblepop ya ? Kamu tidak menghilangkannya kan ? Tidak ketinggalan di mansion kan ?" sela Syllynn. "Namanya Bubblepuff !? dan dia ada di dalam tasku selama perjalanan, kupikir karena dia merasa tempat itu sangat dingin dan nyaman." balas Nagisa. "Sudah, sebaiknya kita istirahat supaya besok tidak kecapekan." Sarriel menengahi. Mereka pun pergi ke kamar masing-masing.


Terlihat jelas, seorang pemuda dengan rambut hitam legam dan mata biru, terlihat bentuk telinganya sama persis dengan kedua temannya. Seakan mengetahui sedang dipandang, pemuda tersebut melihat ke arah Nagisa dan dia tersenyum dengan tatapan mata penuh kejahilan. Merasa pandangan mereka bertemu, Nagisa segera memasukkan kepalanya kembali dan menutup jendelanya lagi sambil bersembunyi di tembok di bawah jendela berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Setelah rona wajah Nagisa kembali normal, Nagisa keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju ke lobby. Di sana, Nagisa melihat Syllynn dan Sarriel sudah terjaga dan sedang bercakap-cakap dengan pemuda yang dilihatnya tadi.


"Oh, kau sudah bangun ?" tanya Syllynn yang menyadari kehadiran Nagisa dan Nagisa mengangguk menanggapinya. "Perkenalkan dia Anzito Korzit, dia orang yang kuceritakan kemarin." sambung Sarriel. "Salam kenal kucing kecil." sapa Korzit. "Uh, salam kenal juga." jawab Nagisa dengan suara pelan dan wajah memerah. Syllynn yang melihat hal itu merasa jengkel dan menyahut, "Hati-hati, dia playboy." yang sontak mengubah raut malu-malu Nagisa menjadi waspada.


"Eh~, aku nggak se-playboy itu sampai harus diwaspadai. Bukannya, kau yang lebih playboy ya ?" Korzit menyahut tak terima. Syllynn yang juga tak terima dikatai mengatai balik dan gitu seterusnya sampai kedua orang tersebut bertengkar sendiri dan mungkin masih akan lanjut jika Sarriel tidak menyuruh mereka diam dengan alasan ras lain akan segera datang dan mereka harus menjaga sikap mereka.


Benar saja, tak lama, kereta kuda yang lain datang, kali ini, Nagisa ikut keluar untuk menyambut perwakilan ras nephilim. Saat pintu terbuka, Nagisa melihat dengan jelas bocah dengan tinggi sedagunya, berambut panjang se-pinggang dengan warna perak bening dan warna mata yang sama. Nagisa terpesona sesaat dengan kecantikannya. Mata Nagisa dan bocah tersebut bertemu, bocah itu menundukkan kepalanya pada Nagisa dan berkata, "Halo, nama saya Kadinas, senang bertemu dengan anda, gadis nubuat." Setelah Kadinas mengangkat kepalanya, spontan Nagisa menundukkan kepalanya dan memperkenalkan dirinya.


Kejadian itu mengundang keterkejutan dari Korzit, Sarriel dan yang paling utama Syllynn, pasalnya mereka tidak pernah sekalipun mendapatkan perlakuan sopan seperti itu dari Nagisa. Saat mereka berjalan masuk menuju ruang tamu sambil melanjutkan perbincangan, Nagisa tiba-tiba nyeletuk, "Senangnya, aku sempat khawatir kalau perwakilannya adalah seorang pemuda."


Ekspresi terkejut dan panik terlihat dari wajah ketiga ras elf, sedangkan yang secara tidak langsung dikatai bocah hanya tertawa renyah dan menjawab, "Jadi, Sarriel tidak memberitahumu kalau ras nephilim memiliki tinggi badan yang lumayan pendek dari ras lain tetapi di anugerahi dengan umur yang panjang." yang hanya dibalas dengan gelengan kepala dipihak Nagisa dan hembusan nafas di pihak Sarriel.