Ke - isekai

Ke - isekai
Bab 6 Seram.....



"Gyyyaaaaa......"


Suara teriakan terdengar dari salah satu penginapan, dan yang meneriakkannya, siapa lagi kalau bukan Syllynn, sementara di depannya Sarriel berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. "Bagaimana kau bisa ke sini ? Apa urusanmu ke sini ?" Kata Syllynn yang masih sebal dengan tingkah tak sopan sekaligus kekanakan dari gurunya itu. "Aku ke sini untuk urusan bisnis sebenarnya. Karena kau masuk ke daftar list, maka aku harus memastikan kau berdamai dengan Nagisa, dan mungkin lain kali menahan diri untuk tidak membuatnya marah. Perlu kau tahu, kebanyakan dari ras kita tidak bisa membaca masa depannya, dan itu berbahaya kalau kau tidak berhati-hati menghadapinya, bisa-bisa dia mengamuk dan melarikan diri dari semuanya. Kau tahu kan maksudku." kata Sarriel tanpa basa-basi.


"Aku tahu. Aku berusaha untuk minta maaf pada Nagisa, tetapi kau justru dengan kasar mengusirku." balas Syllynn sekenanya. "Itu karena saatnya kurang tepat." balas Sarriel cepat. "Kok bisa ?" "Karena kondisi emosinya sedang tidak stabil saat itu. Kalau kau memaksa masuk saat itu, kemungkinan besar situasi akan semakin runyam karena kau. Jangan terlalu mengkhawatirkannya selayaknya induk burung, dia bisa menjaga dirinya sendiri, dia hanya belum beradaptasi dengan situasi yang ada. Kalau kau sudah mengerti, segera kemasi barang-barangmu dan pergi menemui Nagisa dan minta maaf padanya, kita tidak punya banyak waktu karena besok kita harus berangkat." 'Benar-benar tidak ada basa-basinya.' Syllynn membatin sambil membereskan barang-barangnya.


Beberapa saat kemudian, Syllynn selesai mengemasi barang-barangnya dan sedang menenteng tasnya, pertanyaan terlintas di benaknya dan Syllynn menanyakannya ke Sarriel, "Berangkat ke mana ?". "Tentu saja ke tempat pelatihan." jawab Sarriel. "Eh...?" Syllynn hanya bisa cengo. Sarriel berjalan keluar penginapan dengan langkah cepat menuju ke mansion Adorellan sementara Syllynn mengikuti dengan langkah tergesa-gesa supaya tidak terlambat dari Sarriel.


-


Nagisa keluar kamar untuk mengambil cemilan tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki dan orang bercakap-cakap, ia pun bersembunyi di balik tembok, sementara yang di lihat Nagisa adalah Sarriel dan Syllynn. Nagisa berpura-pura tidak peduli dan mengambil beberapa bahan untuk membuat camilan dan membuatnya, tetapi suara percakapan mereka berdua terdengar dengan sangat jelas sehingga walaupun ia tidak berniat menguping tapi tetap saja terdengar. Mereka membicarakan tentang perjalanan Syllynn saat bersama dengan Nagisa, rencana mereka untuk besok, jadwal keberangkatan ras lain ke markas, dan sesuatu yang terdengar lebih rahasia.


Oke...., sampai di situ, Nagisa merasa tidak enak mendengar pembicaraan mereka dan dengan cepat menyelesaikan pekerjaan ditangannya ( memasak ) dan segera kembali ke kamarnya, tetapi kaki Nagisa terantuk kursi dan menimbulkan suara 'duak' yang sangat keras sehingga ritme langkah tersebut semakin cepat mendekati ruangan yang Nagisa tempati. Dengan gerak cepat, Nagisa keluar dari pintu satunya yang ada di dapur dan berlari masuk ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Nagisa sibuk mengatur nafasnya yang sehabis berlari itu sambil memikirkan tentang pembicaraan mereka barusan. Walau ia tidak sengaja menguping pembicaraan tersebut, tetapi terdengar jelas subjek pembicaraan tersebut adalah dirinya, memikirkannya saja nyaris membuat Nagisa menangis dan membuat kepercayaan Nagisa ke kedua orang tersebut memudar.


-


Sementara, Syllynn dan Sarriel yang mendengar debuman keras menghentikan pembicaraan mereka dan segera berlari menuju asal suara tersebut yang kebetulan berada di dapur. Setibanya di sana, ia melihat kursi yang terjatuh dan pintu lain yang terbuka. "Yare yare." kata Sarriel. "Apa maksudmu mengatakan itu ? Bukannya kau baru saja kemasukkan penyusup ke rumah ini ?!" balas Syllynn dengan wajah panik. "Bukan penyusup kok, tapi seekor kucing kecil yang kelaparan, bukan hal yang sepantasnya kau khawatirkan. Aku lebih khawatir denganmu, dia baru saja berlari masuk ke kamarnya dan kemungkinan besar baru saja mendengar pembicaraan kita." kata Sarriel dengan senyum lebar di awalnya dan berakhir dengan pandangan mata sedih terarah ke Syllynn.


-


"Berisik !"


Nagisa keluar sambil mendobrak pintu, Syllynn yang sialnya berada di jalur pintu terpental ke samping, sementara Sarriel menatap Nagisa dan menyapanya dengan senyum. "Kenapa malam-malam gini kalian ribut sekali sih ?!" kata Nagisa galak. Syllynn yang baru bangun dari jatuhnya merasakan rusuknya yang disikut pelan oleh Sarriel yang secara tidak langsung menyuruhnya untuk cepat mengatakan keperluannya.


"Kalau kamu terus diam seperti itu, aku akan menutup pintunya karena aku bukan burung hantu." kata Nagisa memecah keheningan. "Eto....., Ano......" Syllynn merasa gugup. "Cepat katakan !" kata Nagisa sambil melipat kedua tangannya di dada. "Aku minta maaf karena sudah memarahimu saat di Cavewood dan saat di Claystar juga. Aku tidak bisa mengontrol kata-kataku saat itu karena aku khawatir dengan keselamatanmu."


Tidak ada reaksi. Sarriel bergantian menatap keduanya, sementara Syllynn menatap lantai seolah-olah itu pemandangan yang paling menarik. "Baiklah kumaafkan." suasana berubah cerah, "Kalau hanya itu kebutuhan kalian, apalagi yang kalian tunggu sekarang ?" situasi kembali menakutkan karena Nagisa bertanya dengan senyum di wajahnya tetapi aura gelap menguar di sekeliling Nagisa, dan menyebabkan mereka dengan siaga berlari ke arah yang berlawanan dari kamar Nagisa.


Ya.....wajar saja, beberapa menit yang lalu, Nagisa sedang bersiap untuk terlelap, namun karena ulah Syllynn, mood Nagisa drop karena ia mengganggu hampir mimpi indahnya itu, dan sekarang, Nagisa tidak bisa terlelap, ia menarik Bubblepuff mendekat dan memeluknya. Merasakan bulu lembut itu di dekapannya dan perlahan matanya menutup dan Nagisa tertidur.


-


Sementara itu, Syllynn dan Sarriel yang baru saja berlari menghindar dari bahaya yang bernama Nagisa yang lagi emosi, terduduk di ruang tamu, di tangan mereka terdapat secangkir teh yang mereka buat setelah mereka mengatur nafas dan beristirahat sejenak. Mereka menikmati saat meminum teh dalam keheningan, tetapi pikiran mereka berkata lain, entah kenapa untuk hal yang satu ini mereka sepenuhnya sependapat, Nagisa sangat menyeramkan saat marah. Mereka memandang satu sama lain seolah memiliki kesepakatan dan berjanji dalam hati mereka bahwa mereka akan menuruti segala keinginan Nagisa, tidak peduli seberapa absurd atau anehnya keinginan tersebut karena menurut mereka, semua itu lebih baik daripada amarahnya yang dingin dan mematikan.