
Suasana siang itu menjadi canggung bagi Syllynn dan Kardinas yang melihat sumpah setia kesatria secara langsung. Beruntung, suasana awkward dapat dihindari saat makan siang berlangsung.
Dimeja makan yang panjang, tertulis nama dan urutan duduk mereka masing-masing dengan Nagisa di ujung meja. Di kanan dan kiri meja ada Syllynn dan Sarriel, sebelah mereka ada Kardinas dan Korzit, sebelahnya lagi ada Valgad dan Anoth, sebelahnya lagi ada Kezef dan Werrenus.
Selama makan siang, ada yang berbincang bincang sendiri ( Korzit, Syllynn, Sarriel, dan Anoth ) serta ada yang makan dengan khidmat ( Nagisa, Valgad, Kardinas, Zeref, dan Werrenus ).
Segera setelah mereka makan, Nagisa menanyakan pertanyaan yang mengganjal pikirannya sejak tadi.
"Um....."
"Ya ada apa Nagisa ?" sambil menaikkan kacamatanya, Sarriel menjawab.
"Kenapa aku harus duduk di ujung ?"
"Itu karena....." -Sarriel
"Itu karena anda nona Nagisa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari kita, walaupun anda dibilang baru mengenal tempat ini tetapi, kenyataan bahwa anda akan merubah dunia ini sudah cukup agar anda mendapat kedudukan hang tinggi disini, selain itu....."
"Selain itu karena jumlah laki-laki yang lebih banyak dari perempuan di tempat ini membuat perubahan yang drastis bagi sistem meja di sini, biasanya laki-laki yang akan berada di tempatmu tetapi kalau di sini tidak bisa karena para alpa akan berebut kalau bukan kamu yang duduk di sana." lanjut Sarriel seolah kata-katanya tidak pernah dipotong Valgad.
"Uh.....Alpa ?"
"...." -semua yang ada di sana
".....Nagisa....." - Syllynn
"...Ya....?"
"....Kalau mau menanyakan sesuatu, tolong fokus dulu ke jawaban yang diberikan dan memberi konfirmasi kalau mengerti sebelum menanyakan pertanyaan yang lain." -Syllnn
"Ya~, soalnya ini pertama kalinya bagiku mendengar kata itu."
"Ini bukan pertama kalinya bagimu ! Kamu hanya tidak pernah mendengarkan kalau otu tidak menarik minatmu ! Tolong sekali saja dengarkan sebelum memutuskan keinginanmu !" jerit Syllynn frustasi.
-
Setelah kekacauan itu, mereka menghabiskan waktunya dengan bebas di rumah itu. Nagisa merenungkan kejadian pagi itu, dan bertanya dalam hatinya sendiri, apa dia bisa menggunakan sihir ? Seingatnya, ia lahir dari keluarga normal dan besar di keluarga normal dalam artian normal adalah tidak memiliki sihir.
Sambil berpikir, Nagisa tak menyadari langkahnya yang menuntunnya ke arah perpustakaan. Memasuki perpustakaan, kakinya tak berhenti sampai di sana dan berlanjut menuju bagian sejarah, mengambil buku secara acak matanya tertuju ke buku yang sedang ditangannya.
'The Ancient Tower' merupakan judul buku yang sedang dipegangnya, dengan cepat ia membaca buku itu memahami isinya lalu bergegas mengambil barang barangnya untuk berangkat ke tempat itu.
-
Syllynn merasa bersalah karena memarahi Nagisa tadi, ia berjalan ke kamar Nagisa dengan maksud meminta maaf, tetapi saat mengetuk pintu kamar Nagisa, Syllynn memiliki firasat buruk tentang itu. Benar saja, saat sudah menunggu lama Syllynn mencoba masuk ke kamar Nagisa dan pintunya tidak dikunci, tak hanya itu saja, saat Syllynn mencoba mencari ke seluruh Markas, tetap tidak ketemu, dengan panik Syllynn memberitahukan tentang hal ini ke Sarriel.
Sarriel yang mendapat kabar tentang hilangnya Nagisa bergegas mengumpulkan yang lain di perpustakaan untuk membantunya mencari.
-
"Bagaimana kau bisa membiarkan nona Nagisa hilang ?" -Valgad
"Mana aku tahu, tadi dia masih berada di kamarnya terakhir kali kuperiksa." -Syllnn
"Mungkin kalian harus melihat ini." -Kardinas
"Uh... Apa yang salah dari buku itu ?" -Korzit
"Buku itu seharusnya ada di rak buku bagian sejarah, tetapi kenapa bisa ada di sini ?" -Sarriel
"Mungkin nona Nagisa membacanya." -Valgad
"Mungkin aku tahu penyebabnya." -Werrenus
"Apa ?" -Anoth
"Tiap pasukan di Uphedel selalu dibekali beberapa botol yang tidak diketahui fungsinya, cuma diberitahu untuk dibuka pada saat darurat. Saya menggunakannya saat nona Nagisa mengikat saya di Claystar" -Werrenus
"Dengan kata lain, itu bisa saja pengendali, sihir sugesti atau sihir ilusi." -Sarriel
"Jadi apa yang harus kita lakukan ?" -Korzit
"Kalau sihir ilusi dan sugesti kita harus mematahkan sihir tersebut dengan menggunakan sihir penetralisir, sedangkan untuk sihir pengendali, satu-satunya yang bisa mematahkan sihir itu adalah penggunanya." -Kezef
"Kalau begitu, kita tinggal mencari Nagisa dan meminta Werrenus untuk mematahkan sihir itu kalau sihir yang digunakan ternyata sihir pengendali, mudah kan ?" -Anoth
"Tidak semudah itu. Memang Werrenus yang melepaskan sihir pengendali, tetapi yang menggunakan sihir pengendali bukanlah Werrenus." -Kezef
"Lalu sia....." -Syllnn
"Penyihir dari The Ancient Tower tentunya. Bukan rahasia lagi kalau penyihir penyihir di sana memutuskan untuk bekerja sama dengan Kaisar Reinold demi mendapat bahan percobaan tambahan yang masih hidup." -Sarriel
"Bahan percobaan tambahan ? Memangnya biasanya mereka mendapat bahan percobaan dari mana ?" -Korzit
"Mereka mendapat bahan percobaan dari orang-orang yang memasuki area menara ajaib tanpa diundang. Sedangkan tambahan percobaan mereka adalah tawanan yang mendapat hukuman mati dari Kaisar." -Sarriel
"Kalau begitu, jika nona Nagisa menuju ke sana maka nona Nagisa dalam bahaya." -Valgad
"Jangan mengatakan sesuatu yang sudah diketahui bodoh." -Syllnn
"HEI !!" -Valgad
"Sudah, sudah, dari pada itu, mau sampai kapan kalian akan di sini ? semakin lama kita bergegas semakin terlambat kita untuk menyelamatkan Nagisa." -Sarriel
-
Mereka pun meringkas barang yang akan dibawa dalam perjalanan dan segera berangkat, Kardinas menotice Sarriel yang tidak berusaha meringkas barang dan bertanya.
"Kamu tidak ikut ?" -Kardinas
"Tidak, kalau semua pergi maka tidak akan ada yang menyambut wakil yang lain dan itu akan membawa masalah diplomasi yang cukup memusingkan." -Sarriel
"Oh...." -Kardinas
"Segeralah berangkat dan pastikan Nagisa masih hidup." -Sarriel
Sarriel pun berjalan menuju ke ruangannya.
-
Nagisa tersadar di salah satu kamar di penginapan, kamar tersebut tampak sangat asing baginya satu-satunya yang bisa dia kenali adalah Bubblepuff, ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana tetapi ia harus segera pulang ke rumah.
Nagisa pun beranjak dari tempat tidur hendak untuk berjalan kembali ke rumahnya, tetapi saat kakinya menginjak pintu keluar pandangan matanya memudar.
-
Bubblepuff melihat majikannya yang berjalan keluar dari penginapan itu tiba-tiba pingsan, ia pun mencicit khawatir tapi tak berselang lama, Nagisa bangkit kembali ke posisi awal seakan tak pernah ingin pingsan. Aroma majikannya setelah itu terasa sangat ganjil karena Nagisa masih majikannya walaupun yang ada di dalam tubuh Nagisa bukan majikannya. Itu membuat Bubblepuff marah karena ada orang tak tahu diri yang berani melukai majikannya.
Tanpa sadar, Bubblepuff menggertakkan giginya ke arah Nagisa dan mengikutinya sampai ke tujuan yang orang ini inginkan.