
Seolah menambah kekacauan, ia mendapat kabar bahwa murid satu-satunya yang melarikan diri karena alasan yang tergolong aneh itu kembali dan minta untuk bertemu dengan gadis nubuat, atau dalam kata-katanya, "Aku mau bertemu Nagisa." yang langsung disambut dengan pintu yang ditutup didepan matanya.
-
Syllynn tidak menyangka bahwa gurunya lebih kekanakan dari dirinya, buktinya bisa terlihat jelas dari pintu yang baru saja tertutup itu. Niat ingin mengunjungi Nagisa dan meminta maaf padanya pupus. Ia tahu jika ia memaksa masuk, yang akan terjadi adalah kekacauan berkelanjutan sehingga memutuskan untuk menunggu sampai Nagisa yang keluar sendiri dari tempat itu entah seberapa lamanya.
-
Nagisa terbangun dari tidur pulasnya dan beranjak ke ruang tamu, disana ia melihat Sarriel duduk di salah satu sofa, dan ia memutuskan duduk di sebelahnya. Keheningan selama beberapa saat terjadi. "Nagisa, aku sudah berdiskusi dengan tiap ras, sudah diputuskan bahwa mereka akan mengirim orang untuk mewakili ras mereka melatihmu untuk memperbesar presentase kita dalam mencapai kedamaian."
"Eh...? Ras ? Menang ? Memangnya ada berapa jumlah ras di tempat ini ? Apa yang sebenarnya terjadi ?" balas Nagisa dengan gelagapan. Sarriel yang melihat tingkah Nagisa cuma bisa bergumam 'Ternyata si bodoh itu tidak menjelaskan apapun padanya.' kemudian menjelaskan secara singkat dan mendetail tentang ras yang ada, sejarah mereka, dan sejarah dengan Kerajaan Uphedel.
"Biar kupastikan, termasuk manusia, total ada 13 ras yang ada di dunia ini dengan 5 ras terbesar adalah ras human, demon, angel, elf, dan nephilim ? Lalu, ras tersebut membagi wilayahnya dengan membuat tembok dan membuatnya menjadi semirip mungkin dengan kota di Kerajaan Uphedel ? Lalu, suatu hari seorang dari ras elf memberikan nubuat bahwa akan ada seorang gadis dari dunia lain yang akan mendamaikan dunia dan ras yang lain segera memberikan dukungan dengan perjanjian untuk mengirim wakil saat gadis itu dipertemukan ?" semua pertanyaan Nagisa dibalas Sarriel dengan anggukkan kepala tanda setuju, kemudian Sarriel menambahkan, "Lebih tepatnya, aku yang membuat nubuat tersebut, dan sekali lagi kutegaskan, gadis itu adalah kamu Nagisa."
Disaat yang tidak tepat, Korzit melenggang masuk dengan santai seolah rumah tersebut adalah rumahnya sendiri dan mendudukkan dirinya di sofa disebelah Nagisa. Sarriel yang melihat hal tersebut mengernyit tidak suka dan angkat suara untuk memulai perdebatan yang tidak penting dan sangat diperlukan itu.
-
Sementara Nagisa yang merasa canggung karena menjadi penonton di tengah perdebatan itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan bermain dengan Bubblepuff. Dengan langkah yang pelan Nagisa melewati duo yang sedang bertengkar hebat itu. Dua tersebut bahkan tidak menyadari bahwa Nagisa sudah menghilang beberapa saat yang lalu, mereka terus tidak sadar sampai mereka meminta pendapat Nagisa. Karena merasa tidak ada yang menjawab, mereka mengarahkan pandangan ke arah Nagisa, tempatnya kosong dan merasa kekanak-kanakan atas ulahnya sendiri, memutuskan untuk diam.
-
Semua ingatan yang tiba-tiba itu membuat Nagisa merasa sedih, walaupun ia tidak ingin menangis, tetapi air mata tidak bisa dipendam, perlahan-lahan menetes sampai Nagisa sesenggukan, tubuh Nagisa melemas dan Nagisa terduduk di pintu kamar. Nagisa menangis selama beberapa saat dan mungkin akan melanjutkannya jika bukan karena ada suara ketukan pintu yang memecah suasana. Beruntung, saat masuk tadi Nagisa sempat mengunci pintu, dengan cepat Nagisa ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang memerah karena habis menangis.
Setelah mengeringkan mukanya dengan handuk, Nagisa membuka pintu kamarnya dan terlihat Sarriel sedang menunggu dengan menyandarkan tubuhnya ke tembok di dekat pintu. "Ano...." kata Nagisa gugup. "Untunglah kamu ada di sini, aku sempat khawatir kalau kamu kenapa-napa." sahut Sarriel sambil tersenyum. Nagisa yang melihat senyum Sarriel hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah. "Ada apa kamu ke sini ?" kata Nagisa yang berusaha mengalihkan perhatian.
"Oh.... Salah satu ras menemukan tempat yang netral untuk melatihmu. Mereka sudah membangun bangunan di tempat itu dan tinggal ditempati saja, oh, ya mereka juga memutuskan untuk membiarkan kamu tinggal di sana terlebih dahulu sebelum mempertemukan mu dengan wakil dari tiap ras, dan ini ada list nama dari tiap ras yang akan dikirim." kata Sarriel sambil menegakkan badannya.
Nagisa mengambil list yang diberikan dan melihatnya, matanya tertuju pada 2 nama yang dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Cordar Syllynn dan Adorellan Sarriel"Ano...., kenapa ada nama kamu di sini ?" tanya Nagisa dengan ragu karena takut menyinggung perasaan Sarriel. Nampaknya, Sarriel mengerti maksud dari pertanyaan Nagisa karena dia menjawab, "Dari ras elf, masih tergolong lagi menjadi 3, Dark elf, light elf, dan half-elf. Karena mereka tidak bilang untuk mengirim 1 orang saja, maka tetua kami mengirim 3 orang dan satu dari masing-masing golongan. Syllynn dan aku dimasukkan ke daftar karena mereka tahu bahwa kamu mengenalnya, akan lebih memudahkan bila kamu bersama dengan orang yang sudah kamu kenal, dengan itu, wakil dari light elf dan half elf sudah terisi, sementara untuk wakil dari dark elf, mereka memutuskan untuk memasukkan adik tiriku karena mereka berpikir aku bisa mengontrol sifat liar adikku itu."
"O,oh....." kata Nagisa setelah keheningan karena informasi loading di otak Nagisa. Setelah keheningan beberapa saat, Sarriel memutuskan bahwa informasi sekarang sudah cukup untuk Nagisa dan memutuskan untuk melanjutkannya besok, jadi ia berpaanmit undur diri untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Nagisa sendiri hanya menatap kejadian barusan dengan pandangan tak yakin dan berbalik kembali ke kamarnya.
Ya, itu alasan Sarriel saja, karena saat ini ia sedang berada di teras rumahnya dan dengan mengandalkan kemampuannya mencari murid bodohnya itu dan supaya ia segera menyelesaikan masalahnya dengan Nagisa agar rencana tetap berjalan.
-
Sementara itu, Syllynn masih menunggu Nagisa di penginapan terdekat dan mengawasi mansion Adorellan yang terlihat jelas dari penginapan tersebut. Pikirannya terpaku pada apa yang akan diucapkan pada Nagisa jika mereka bertemu lagi hingga tidak menyadari sosok yang sangat ia kenal keluar dari mansion tersebut dan berjalan entah kemana.