
Disaat yang sama, Raja muda dari Kerajaan Uphedel, atau yang lebih dikenal dengan Kaisar Reinold mendapat kabar tentang nubuat tersebut memerintahkan pengawalnya untuk mencari gadis tersebut, dan sesaat, salah satu pengawalnya memberitahu bahwa gadis tersebut berada di Hutan Hollow dan segera mengirim Orang terbaiknya untuk menjemput gadis tersebut. Raja Angkuh itu tidak menyadari fakta bahwa karena sikapnya yang hanya membaca sesuatu yang dia inginkan, dia mengantarkan kerajaannya menuju kehancuran secara perlahan-lahan.
-
"Kamu mendengarkan." Nagisa bertanya dengan mood yang berubah 180 derajat. Sementara yang ditanya tersadar dari pikirannya dan menjawab pertanyaan Nagisa. Kelihatan dari jawabannya, tidak membuat mood Nagisa membaik sejak diacuhkan oleh jalan pikirannya 2 jam yang lalu. Syllynn hanya bisa menghembuskan nafas dan meminta maaf pada Nagisa karena dia nggak tau bakal diapain kalau Nagisa sampai mengamuk. Tanpa terasa siang hari yang terik telah berubah menjadi sore, dan Syllynn yang mengetahui betapa berbahayanya hutan saat petang mengajak Nagisa untuk mencari penginapan di Claystar yang kebetulan lumayan dekat dengan tempat mereka menghabiskan waktu.
-
Sementara itu, Kaisar Reinold mendapat kabar terbaru kalau gadis itu bergerak ke Claystar dan bergegas menyuruh pasukannya untuk mengirim informasi tersebut ke Orangnya yang berada di perjalanan, sedangkan dia sendiri duduk di singgasananya sambil meminum anggur dengan dikelilingi pelayannya.
-
Syllynn dan Nagisa sudah berada di penginapan yang di pesan untuk semalam, Syllynn memesan 1 kamar dengan 2 bed, jadi Nagisa menempati kasur yang jauh dari jendela karena setelah berdebat dengan Syllynn tentang bahaya tidur di dekat jendela yang setelah beberapa saat menakut-nakuti dengan hantu dan serangga yang Nagisa kalah, akhirnya dengan terpaksa mengambil tempat di sebelah kiri. Nagisa kesal dengan keadaannya dan melampiaskannya ke Bubblepuff, menariknya secara bersamaan ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri yang membuat Syllynn swearsdrop karena Nagisa adalah satu-satunya yang memainkan monster karnivora yang bernama Bubblepuff itu seperti squishy dan masih hidup. Syllynn pun memutuskan untuk mandi dan segera mengakhiri hari.
"Ne~, besok kita ngapain ?" Nagisa bertanya tiba-tiba setelah Syllynn keluar dari kamar mandi. "Ya, kita lihat saja besok." jawab Syllynn sambil mengeringkan rambutnya. "Eh~? Bukannya lebih asyik kalau merencanakannya sehari sebelumnya." rengek Nagisa. "Kalau begitu kuserahkan kepadamu karena aku mau beristirahat." jawab Syllynn malas.
Nagisa menganggap kata-kata Syllynn adalah ok dan keluar dari penginapan bersama Bubblepuff untuk membeli buku panduan Claystar. Sementara Syllynn, tertidur dengan lelap karena hari panjang yang dilaluinya. Nagisa melangkahkan kakinya dengan ringan sambil membawa Bubblepuff di pelukannya melewati orang-orang yang berlalu lalang di jalan utama mencari toko buku yang buka pada jam segitu.
-
Nagisa merasa sedikit deja vu dengan pemandangan di depannya dan memutuskan menunggu sampai penguntit tersebut sadar dan menanyainya beberapa pertanyaan, pertama-tama lucuti dulu semua senjata yang ada padanya dan Nagisa bergegas mengambil semua yang ada penguntit itu dan meletakkannya di tempat yang tidak terjangkau orang itu, memasangkan borgol di salah satu tangan, yang secara kebetulan ditemukan di bagian saku dan melilitkannya di tiang yang kebetulan dekat dengan orang itu dan memborgol di tangan satunya, kemudian duduk manis dengan Bubblepuff sambil menunggu dia bangun.
-
Syllynn terbangun dari tidurnya dan mendapati bahwa di kamar hanya ada dirinya saja yang membuatnya panik, sesegera mungkin ia berganti dengan sesuatu yang lumayan sopan dan setelah menutup pintu kamar penginapan berlari keluar untuk mencari Nagisa. Setelah mencari kemanapun dan belum ketemu, ia memutuskan untuk duduk sejenak dan berpikir sebelum melanjutkan pencarian, entah kenapa pikirannya tertuju ke percakapan sebelum Syllynn tertidur dan membuat dirinya gelisah.
Di tempat lain, Ryvelon tepatnya, seorang pemuda berambut panjang dan berkacamata membaca kembali surat yang akan dikirimnya, setelah puas dengan isinya, dia memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop dan menaruhnya ke tempat yang tersedia di kaki kanan seekor elang dan menerbangkan elang tersebut, tujuan elang tersebut tidak lain dan tidak bukan di Claystar.
-
Saat Warrenus membuka matanya, hal yang pertamakali dilihatnya adalah targetnya yang duduk manis beberapa meter darinya dan berusaha menggapainya, yang terdengar hanya bunyi gemerincing rantai. Warrenus menatap tangannya yang terborgol dengan mata terbelalak. Diapun segera melihat sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang janggal, dan benar saja, armornya tergeletak begitu saja di sebelah gadis itu bersama dengan senjatanya. Warrenus melakukan double take ke arah armornya untuk memastikan bahwa armornya memang tergeletak di sebelah gadis itu, yang sontak membuat wajahnya memerah malu karena minimnya pakaian setelah armornya dilepas.
"Ano ne~" Nagisa membuka pembicaraan "Nggak bermaksud menyinggung atau apapun, tapi apakah kamu penguntit ?", "Hah ???" adalah jawaban terpintar yang keluar dari mulut Warrenus, "Tentu saja bukan, darimana dapat ide seperti itu tentangku ?". "Habisnya~" balas Nagisa sambil memainkan jarinya, "Tidak ada penguntit yang tidak mengejar sampai ke dead end kan ?" lanjutnya dengan eyes smile.
"...." "Tidak apa-apa, aku tahu jadi lelaki itu berat~" Nagisa berusaha menenangkan. "B, bukan begitu maksudku !!" Nagisa terkejut dengan suaranya yang mengeras tiba-tiba dan hanya menatapnya. "M, maksudku, aku ingin berbicara denganmu sebentar." katanya dengan terbata-bata. "Ja... Apa yang ingin dibicarakan ? Tidak apa-apa, tak usah malu-malu" kata Nagisa dengan polosnya tanpa sadar arti lain dari ucapannya. "Bukan pembicaraan seperti itu, aku ingin kau ikut aku kembali ke Kerajaan Uphedel." cerocos Warrenus, menyerah dengan basa-basi.
".....Kenapa ?" Nagisa bertanya sambil memiringkan kepalanya, sementara yang ditanya menundukkan kepalanya sambil menahan malu atau amarah, entah yang mana, tapi mungkin yang kedua. Setelah keheningan yang membisu, Werrenus mengambil inisiatif menjawab pertanyaan Nagisa, "Karena......." dan jawaban panjang itu fell into deaf ear karena fokus Nagisa sudah teralihkan untuk mempelajari hal yang lain. Misalnya saja, rambut hitam pendek yang dimiliki Werrenus, wajahnya yang menurut orang tergolong tampan, sangat disayangkan kalau wajah seperti itu harus tertutup armor 24/7, dan badan Werrenus yang penuh dengan otot dari area tangan sampai area kaki.