Katagiri

Katagiri
Katagiri ~~~9



Keesokan harinya Katagiri pun segera berpamitan kepada kedua penjaga gerbang dan para penduduk desa.


Ia tidak berlama-lama untuk tinggal di sana. Alasan dirinya keluar adalah untuk melihat keunikan yang dilakukan oleh manusia. Bukan untuk mencari tempat tinggal.


Dengan berbekal peta dan beberapa informasi yang di dapatkan dari Des dan juga para penduduk desa, Katagiri mulai mengerti beberapa hal.


Secara garis besarnya, ia sekarang berada di wilayah kerajaan Yamate. Salah satu kerajaan kecil yang mengabdi kepada kekaisaran Egold, yang dulunya merupakan bekas kerajaan ayah dari Katagiri yang kini sudah menjadi kekaisaran namun berganti nama. Tentunya Katagiri tidak mengetahui akan hal ini.


Kerajaan Yamate di pimpin oleh seorang raja yang bernama Raja Xender. Ia merupakan seorang raja yang bijaksana dan baik. Pembawaannya yang elegan dan tak membeda-bedakan membuat rakyatnya sangat mencintai nya.


Di kerajaan ini juga terdapat Lima sekte besar dan beberapa puluhan sekte kelas menengah kebawah.


Kelima sekte ini lah yang menjadi pilar kerajaan ini. Membuat kerajaan ini tetap bertahan dan berjalan dengan damai.


Walaupun begitu, terkadang masih saja ada peperangan antar sekte yang terjadi. Alasannya sangat sederhana, yaitu sumberdaya.


Tapi walaupun begitu, peperangan itu bisa di selesaikan dengan adanya kelima pilar itu.


' Sepertinya wilayah kerajaan ini sangat luas. Pasti akan sangat mengasyikkan bila aku bisa mengelilingi dan mendatangi setiap wilayah yang ada.' Katagiri berucap sambil tersenyum lebar.


Ia berkhayal bertemu banyak orang dengan beberapa hal yang akan mereka lakukan. Bercanda dan saling bersuka ria. Pasti mengasyikkan.


Dirinya terus berjalan sambil tersenyum, sesekali ia melompat lompat seperti anak anak kecil yang tengah bermain.


Andai Leon ada di sini, mungkin ia tak akan mau menganggap Katagiri sebagai muridnya yang tengah beralih menjadi mode gila.


__


Setelah seharian melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, Katagiri akhirnya tiba di sebuah desa yang lebih besar dari desa yang di jumpai nya sebelumnya.


Saat dirinya tiba di desa itu, hari sudah malam. Perjalanan yang di lakukan nya bisa terbilang cukup jauh. Membuat nya harus menghabiskan beberapa waktu agar bisa menemukan Desa ini sesuai dengan apa yang ada di peta.


Tapi kelamaan nya dalam perjalanan itu tentu karena dirinya ingin menikmati pemandangan yang ada. Dirinya bisa saja tiba lebih awal bila ia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Dari luar gerbang ia bisa melihat kalo desa itu terlihat lebih hidup. Beberapa orang berjalan sambil tertawa lepas. Beberapa pendekar juga terlihat tengah asik memakan makanan atau meminum arak di kedai kedai yang ada.


Katagiri masuk ke dalam desa itu tanpa kesulitan. Pasalnya desa itu membolehkan semua orang bebas memasukinya. Saat ia lewat ia melihat gapura dan dengan dengan jelas terpajang nama DESA KEBEBASAN.


' Nama yang bagus tapi agak aneh. ' gumamnya pelan. Tapi biarpun begitu ia tetap berlalu melewati gerombolan manusia yang ada. ' atau mungkin inilah kenapa desa itu di sebut dengan kebebasan yah, ' dia tertawa kecil ketika mengingat perlakuan penjaga gerbang di depan yang lansung membolehkannya masuk.


Ia pun berjalan dengan santai sambil mencari penginapan yang ada. Kali ini ia sudah tak bingung lagi bila ingin berkomunikasi dengan sesama manusia.


Pengalaman dengan warga desa sebelumnya membuat dirinya lebih mudah mengenal akan apa yang harus di lakukan.


" Permisi … Boleh aku bertanya, tuan muda ?" Seorang wanita paruh baya yang menjaga kasir di depan penginapan itu berjalan mendekati Katagiri.


Melihat seseorang sedang bertanya padanya, membuat Katagiri yang awalnya tengah pokus akan suasana yang ada di dalam penginapan itu pun menatap wanita paruh baya itu.


" Silahkan " balas Katagiri lembut sambil tersenyum.


" Apa anda ingin memesan makanan atau minuman?" Kata wanita paru baya itu.


Ia berkata dengan sopan, takut melukai perasaan orang yang di ajaknya berbicara. Dengan jubah yang terpasang di badan Katagiri ia bisa menyimpulkan bahwa anak ini adalah anak yang berpengaruh. Pasalnya jubah yang di pakai oleh Katagiri bisa terbilang mahal.


Bukti itu sudah cukup untuk menyakinkan dirinya.


" Iya aku pesan keduanya, bawakan yang terbaik. Serta mohon untuk sediakan satu kamar. Saya akan bermalam." Kata Katagiri.


" Apa ini cukup ?" Potong Katagiri sambil memberikan satu koin emas.


Melihat koin emas yang ada di dalam tangan Katagiri, ia pun terkejut. Bukan hanya dia, tapi semua penghuni yan ada di dalam situ pun ikut terdiam dan memandang ke arah mereka berdua.


Katagiri yang melihat semua orang memandang nya, dengan heran bertanya; " kenapa? Apa ini kurang ?" Tanyanya


" Ah .. tidak tuan muda. Ma-maksudnya ini emang aneh tapi yah …" wanita paru baya itu tersenyum kikuk, tak tahu harus menjelaskannya seperti apa.


Koin yang di berikan oleh Katagiri tentu saja cukup, bukan hanya itu tapi lebih dari cukup. Pendapatan penginapan itu saja total nya selama sebulan adalah satu koin emas. Dan hari ini mereka mendapatkan koin itu hanya dengan memesan makanan dan minuman terbaik mereka, dan jangan lupakan satu kamar.


" Kalo begitu sediakan saja makanan dan minuman ku. " Pintah Katagiri, ia sudah merasakan kelaparan. Dan tentu bagian perut tidak bisa di ajak negosiasi.


" Baiklah. Kalo begitu harap tunggu tuan muda." Balas nya cepat lalu kembali ke tempat nya dan memanggil dua pelayan yang bekerja di sana juga.


Setelah kepergian wanita paruh baya tersebut, Katagiri pun segera mengambil tempat duduk yang ada di pojokan di dekat jendela.


Ia mengambil tempat itu karenakan suasananya yang tidak terlalu ribut, juga ia bisa dengan bebas melihat yang lainnya.


Sebelum masuk kemari ia menyamarkan tingkat kultivasi nya agar tidak terlalu mengundang perhatian. Tapi sayangnya tanpa menggunakan cara seperti itu, dirinya pun tetap dijadikan sebagai pusat perhatian.


Koin emas yang tadi ia berikan membuat beberapa orang penasaran akan siapa dirinya yang sebenarnya. Tak jarang ada beberapa yang ingin berbuat jahat padanya, tapi pada akhirnya mereka kembali mengurungkan niatnya karena masih belum jelas mengetahui siapa yang ada di belakang anak muda ini.


Katagiri yang melihat sikap mereka hanya acuh tak acuh. Dia tak ambil pusing. Dirinya dengan asik menghayal pun terbangun ketika pada akhirnya makanan yang di tunggu-tungunya telah tiba. Lengkap dengan sebuah kendi yang di dalamnya ada minuman.


Meletakkan makanan itu di depan Katagiri, pelayan yang mengantarkan makanannya itu pun segera kembali. Tapi sebelum jauh ia sudah di panggil.


" Permisi … kenapa minumannya memiliki rasa seperti ini?" Tanya Katagiri.


Ia mencoba minuman yang ada di dalam kendi tersebut. Ada rasa pahit dan juga sedikit terbakar di bagian tenggorokan nya.


Mendengar pertanyaan Katagiri, pelayan itu pun dengan heran menatap Katagiri.


" Tuan muda itu adalah minuman terbaik kami. Namanya adalah arak. " Katanya.


Mendengar itu, Katagiri lansung berubah masam. Arak!! Satu hal yang sangat dilarang oleh Leon, gurunya untuk di konsumsi. Dan sekarang ia sudah mencicipi nya ….


" Aku tidak butuh itu. Ganti dengan yang lain!!!" Kali ini ia agak meninggikan suaranya.


Orang yang ada di dekatnya pun menatapnya dengan aneh. Tapi Katagiri tak peduli pada mereka semua.


Pelayan yang melihat perubahan wajah pada Katagiri pun segera meminta maaf dan bergegas Menganti nya dengan yang lain.


" Hei anak orang kaya, apa kau bisa bersikap lebih sopan?" Sebuah suara dari arah samping nya terdengar ketika pelayan telah pergi.


Beberapa orang yang mendengar siapa pemilik dari sumber suara itu pun segera menatap ke arah sumber nya. Tak tinggal Katagiri pun juga ikut memandang nya.


Terlihat seorang pemuda yang tampak berusia sekitar 15 tahun dengan pedang yang di letakkan di atas meja. Dirinya tidak hanya sendiri, tapi di temani oleh beberapa orang juga yang berjumlah tiga orang. Masing-masing berusia tidak jauh berbeda dari yang bersuara tadi.


Melihat ada yang menegurnya, Katagiri hanya menatap nya sekejap lalu membuang pandangannya.


" Chi! Apa kau tuli?"


Bamm!!