
Matahari kini berada di atas kepala. Panas membara membuat orang yang terkena cahayanya menjadi kepanasan.
Angin berhembus dengan pelan, membuat helai rambut seseorang beterbangan ke arah belakang. Wajah yang penuh dengan senyuman itu sangat bersemangat, dapat di lihat dari gerak langkah nya.
Ia bersiul siul dengan santai. Pedangnya ia letakkan di pinggang kirinya. Beberapa kali ia bertemu dengan hewan siluman, menghadangnya di tengah jalan.
Sayangnya ia bertemu dengan pemuda itu, dengan hanya satu ayunan Pedang, hewan siluman itu pun mati. Tentu karena tingkat kultivasi hewan siluman itu jauh di bawahnya sehingga memudahkannya dalam membunuh nya.
Setelah membunuh hewan hewan siluman yang menghalangi jalannya, pemuda itu berjalan mengikuti ke arah Matahari yang akan terbenam.
Cukup lama dirinya berada di dalam hutan itu, menghabiskan waktunya hanya membunuh beberapa hewan siluman yang ia jumpai.
Tepat ketika matahari akan terbenam, ia akhirnya sampai pada suatu desa. Desa itu tidak terlalu ramai, alasannya? Ia belum tau. Ketika mendekat ia berjumpa dengan dua orang yang menjaga di depan pintu gerbang. Masing-masing memegang sebuah tombak.
" Anak muda siapa kamu?" Salah satu di antaranya bertanya sambil mengarahkan tombak nya ke arah pemuda itu, sedangkan satunya lagi memasang sikap waspada.
Dari sekali pandang, pemuda itu bisa melihat kalo kedua orang itu juga seorang pendekar dengan tingkat kultivasi berada di Alam pemula Tahap awal.
" Saya hanya pejalan kaki Paman, nama saya Katagiri. " Balas nya sambil tersenyum, tak terpengaruh akan sikap keduanya yang menatapnya dengan tatapan waspada.
Kedua orang itu menurunkan senjatanya setelah mendengar perkataan dari Katagiri. Tapi walaupun begitu masi ada jejak waspada di balik matanya. Walaupun disembunyikan, tapi bagaimana mungkin tidak terlihat dari Katagiri yang teliti.
" Apa kau benar hanya seorang pejalan kaki?" Kali ini mereka bertanya dengan suara yang agak sopan. Ia mencoba memastikan kebenaran.
Mendengar pertanyaan orang itu, Katagiri merasa ada yang aneh. Ia merasa penasaran, memasang wajah penasaran ia bertanya;" Saya benar benar seorang pejalan kaki paman." Katanya sambil menggaruk kepalanya.
" Apa ada sesuatu yang terjadi?" Lanjutnya. Katagiri mencoba mencari informasi. Dari sudut pandang nya ia merasakan ada sesuatu yang aneh akan desa ini. Kalo tidak, mungkin keamanannya tidak akan seperti ini.
Menghela nafas, keduanya saling pandang.
" Anda benar. Desa ini sudah tidak aman. Beberapa hari terakhir desa kami di serang oleh hewan siluman. Beberapa dari keluarga kami menjadi korbannya. Kami hanya ingin memastikan apakah anda adalah seorang pendekar atau bukan, soalnya hanya seorang pendekar yang memiliki kekuatan yang tinggi yang bisa berjalan normal di waktu seperti ini. Kami mohon maaf atas penyambutan yang kurang sopan. " Kata orang yang mengarahkan tombak nya tadi ke arah Katagiri.
" Itu benar. Sekali lagi kami mohon maaf " kata yang satunya lagi sambil membungkuk hormat.
Mendengar penjelasan kedua orang itu membuat Katagiri mengerutkan keningnya. Ia merasa kesal, baru saja ia bertemu dengan manusia tapi harus mengalami kondisi seperti ini. Tentunya kesal nya itu di tunjukan kepada hewan siluman.
" Paman, maaf sebelumnya. Apa paman tidak pernah mencari atau meminta pertolongan pada seseorang yang bisa mengatasi ini?" Tanya Katagiri.
" Kami sudah meminta tolong kepada beberapa pendekar yang ada, hanya saja mereka meminta bayaran yang tinggi. Kami tentu saja tidak memiliki kekayaan sebanyak yang mereka mau. Makanya kami hanya bisa mengandalkan diri kami sendiri, biar bagaimanapun desa ini adalah tempat kami di besarkan, jadi mau tidak mau kami harus menjaga nya. "
Mendengar perkataan kedua orang itu, Katagiri lansung merasa takjub. Rasa hormatnya kepada kedua orang itu pun semakin bertambah.
" Kalo begitu apa aku bisa ikut membantu kalian?" Tanya Katagiri sambil tersenyum.
Ia tentu tak akan membiarkan desa ini terus terusan menjadi lahan pembantaian oleh hewan siluman itu. Apalagi dengan ajaran gurunya yang mengharuskan untuk menolong seseorang yang membutuhkan.
" Anak muda, walaupun kau ingin membantu tapi dengan apa? Anda hanya seorang pejalan kaki. " Balas mereka.
Katagiri hanya tersenyum mendengar balasan orang itu. Tentu ini bukan salah mereka karena tak bisa melihat tingkat kultivasi Katagiri yang dimana ia menyembunyikan tingkat praktiknya seperti saran gurunya, Leon.
" Dengan ini "
Setelah mengatakan dua kalimat itu, Katagiri lansung membuka tingkat praktiknya di depan keduanya. Kedua orang itu kaget melihatnya.
" Aapaaa "
___
Malam pun hadir. Memberikan suasana mencekam bagi penduduk desa itu. Sejak sunset datang, para warga sudah menutup pintu dan jendela mereka masing-masing.
Lampu lampu mereka pun kini padam, suasana ini membuat desa ini seperti desa mati. Hanya cahaya bulan yang menjadi penerang di malam itu.
Tak jauh dari desa itu, ada dua orang yang sedang berjongkok di dahan pohon. Masing masing memakai jubah hitam dengan kepala yang di tutupi.
" Senior .. apa kau yakin akan menghancurkan desa itu malam ini. Bukannya tugas yang di perintahkan oleh sekte adalah membantu mereka?" Seorang teman nya berkata dengan mata yang masi menuju ke arah desa itu.
" Tenang saja Koi. Serahkan padaku masalah ini. Lagian itu hanya desa, tak ada gunanya sama sekali. " Katanya acuh sambil melihat ke arah lain.
Di sana sudah terlihat rombongan hewan siluman yang sudah mulai berjalan menuju ke arah desa itu.
" Sebaiknya kita mundur terlebih dahulu. Bila hewan siluman ini sudah membereskan desa itu maka kita akan bertindak. Hal ini akan mengurangi pekerjaan kita dalam memperoleh harta penduduk desa itu. " Katanya sambil bergerak mundur diikuti oleh junior nya yang bernama Koi itu.
___
Di dalam desa, Katagiri kini sudah menunggu kedatangan para hewan siluman itu. Dirinya di temani oleh kedua penjaga gerbang tadi.
Dirinya tentu menolak tawaran bantuan keduanya yang mungkin nanti akan merepotkan dirinya. Hanya saja mereka berdua memaksa.
Tak ingin membuat hati mereka berkecil hati, iapun hanya mengangguk pasrah.
" Paman masih ada waktu untuk kembali sebelum gerombolan hewan siluman itu datang. " Katagiri masih mencoba membujuk mereka berdua.
" Hehehe tuan muda, walaupun tingkat kultivasi kami lebih rendah dari anda. Tapi setidaknya kami tidak ingin menjadi pengecut di desa kami sendiri. Biarkan kami ikut berjuang, setidaknya bisa membunuh salah satu di antara mereka guna membalas kematian keluarga dan tetangga kami itu sudah cukup. " Kata Vold yang sempat mengarahkan tombak nya ke arah Katagiri tadi.
" Itu benar tuan muda. Mati di Medang perang jauh lebih baik bagi kami. " Balas yang satunya yang memiliki tubuh agak besar.
Mendengar keduanya, Katagiri hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
" Baiklah paman. Kuharap kalian bisa menjaga diri kalian masing-masing. Aku tidak bisa berjanji melindungi kalian ketika sedang bertarung. " Kata Katagiri.
" Baik. Itu tidak masalah, anda hanya perlu pokus pada pertarungan anda. Dan sisanya serahkan pada kami berdua. " Kata Vold dengan santai.
Ketiganya pun kini berdiri di depan pintu gerbang sambil memandang ke arah depan. Tak ada rasa takut di antaranya. Di titik dimana arah mata mereka berada kini sudah ada puluhan hewan siluman yang datang. Tampak nya mereka kini akan memulai pesta pembantaian.
" Baiklah paman, waktunya berjuang. Ayok majuuuuuu"
" Aaayooo"
____&____
***Note : jadwal up ga tentu kapan. tapi setiap seminggu bakalan aku usahain bakalan ada. khusus pencinta novel Fan Mu, harap bersabar itu masi belum saya ketik. ada beberapa kesibukan dan belum bisa lihat di mana kira-kira yang akan di ubah atau di tambah. tunggu aja kabar baiknya.
oke itu aja, seperti biasa.
thx buat yang udah baca!!
enjoy***!!