
Glek!
Keduanya menelan ludah dengan kasar ketika melihat senyum yang ada pada wajah Katagiri. Rasa takut hadir dalam diri keduanya. Bagi keduanya, senyum itu laksana senyum yang seakan-akan mampu menelan mereka.
' sial orang ini sangat berbahaya. ' Des berbicara dengan pelan. Ia kini sadar bahwa orang yang hadir di depannya sangatlah kejam.
Ia tak tau mengapa bisa berpikir musuhnya kejam. Hanya satu hal yang ia pikirkan. Aura yang terpancar dari tubuh lawannya masih menekan dirinya. Satu hal yang menjadi tanda bahwa orang ini sering melakukan pembantaian atau kerap kali melakukan pertarungan hidup dan mati.
Tentu tebakan ini sangat benar adanya. Sebagai guru, Leon kerap kali menyiksa Katagiri ketika melakukan latihan. Perjuangan hidup dan mati kerap kali ia rasakan.
Di tambah lagi, ini pertama kalinya ia keluar. Hari di mana ia juga melakukan sebuah pembantaian hewan siluman. Menambah aura membunuh nya yang semakin tebal.
" Hei .. apa kalian tuli? Saya sedang bertanya tentang sekte. Apa itu? " Katagiri membangunkan mereka berdua dari perkiraan perkiraan buruk yang ada pada dirinya.
Keduanya segera sadar ketika mendengar pertanyaan Katagiri barusan. Ekspresi mereka sekarang tergantikan dengan keheranan.
' ada apa dengan orang ini? Apa ia sedang mencemooh kami?'
Keduanya salin memandang.
" Apa kamu benar-benar tidak tau apa itu sekte?" Koi memberanikan diri bertanya.
Entahlah rasa ingin tertawa terasa dalam dirinya. Orang ini memiliki kekuatan yang kuat tapi tak tau apa itu sekte. Jangan bodoh! Kecuali jika anda adalah idiot maka mungkin hal itu tidak akan mereka tau. Pasalnya anak kecil pun tau akan hal itu.
Katagiri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aneh memang, tapi mau bagaimana lagi dirinya. Leon hanya mengajarinya ber-etika yang baik ketika dirinya berada di lingkungan manusia. Tak pernah mengajarinya akan hal-hal yang ada di dunia luar selama ia tinggal di tempat Leon.
" Mmmm … aku tidak tahu apa itu sekte. Itu sebabnya aku bertanya pada kalian. " Balas Katagiri sambil terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
" Berhentilah membuat lelucon!" Bentak Des dengan kesal.
Ia tau ia tak bisa mengalahkan musuhnya ini. Bahkan jika mereka berdua bekerjasama sekalipun. Tapi mengeluarkan rasa kesalnya karena merasa di olok-olok itu terasa pas untuk nya sekarang.
' koi, sebaiknya kita tidak perlu berurusan dengan dia lebih lama lagi. Usahakan cari jalan kabur. ' sebuah suara terdengar di dalam kepala koi, junior Des.
' senior bisa? Orang ini memiliki aura membunuh yang kuat. Di tambah lagi kedatangannya tidak bisa kita rasakan. Aku takut. Kita hanya semut di matanya. '
' kalo hal itu aku juga sadar. Tapi selama ada usaha di situ ada jalan. Aku akan memberikan serangan mendadak. Kau pergilah terlebih dahulu. '
' Tapi senior .. bagaimana kal-'
' Tidak apa-apa ' kata Des memotong ucapan juniornya.
Ia merasa bahwa kedatangan Katagiri di sini bukan untuk mengajak mereka mengobrol. Terlebih lagi ia sudah yakin, kalo orang yang ada di depannya sudah tau bahwa mereka lah yang membuat hewan-hewan siluman itu menyerang desa itu.
Tentunya ia merasa bahwa Katagiri akan membalas dendam.
Di sisi Katagiri, ia masih merenung memikirkan akan arti kata sekte. Kepalanya pusing memikirkannya. ' kakek guru … kenapa kau tidak memberi tahukan aku akan perkataan perkataan aneh yang di ucapkan oleh manusia. ' katanya dalam hati dengan nada yang memelas.
Lamunan nya terhenti ketika ia merasakan sebuah gerakan yang cepat mengusul ke arahnya.
TEBASAN ANGIN
wuushh
Katagiri yang melihat serangan yang datang ke padanya itu segera menghindar dengan cepat. Dirinya tidak menyangka akan di serang secara diam-diam oleh musuh.
' ck! Payah. Apa-apaan ini. Bukannya etika kesatria adalah bertarung secara jujur. ' umpatnya dalam hati.
" Koi sekarang !!!"
Des berteriak kepada Koi yang kini masih menunggu waktu. Mendengar kata-kata seniornya, Koi pun mengangguk lalu segera pergi. Di susul Des yang ikut menyusul.
Melihat kedua musuhnya lolos begitu saja. Katagiri tak tinggal diam. Setelah menghindari jurus yang datang padanya itu, Ia segera menyusul keduanya.
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, dirinya bisa bergerak dengan cepat. Dalam waktu singkat dirinya berhasil menghadang keduanya.
" Kalian mau lari kemana? Menyerang secara tiba-tiba lalu pergi begitu saja. Apa kalian mau jadi pengecut. Setidaknya bertanggungjawab lah terlebih dahulu. " Katagiri berbicara dengan wajah yang masih sangat kesal.
Des melirik ke arah juniornya, Koi. Tak ada cara lagi bagi mereka untuk kabur selain mengalahkan lawannya.
Katagiri yang melihat mereka berdua hanya menatap aneh. Iya aneh, dirinya bahkan tak ingin bertarung. Lalu kenapa kedua orang itu ingin melawannya?
" tunggu … tunggu .. tunggu!! Apa yang kalian mau, kenapa tiba-tiba mengeluarkan senjata?" Tanyanya dengan gaya tangan yang mengangkat ke atas.
Tapi perbuatan Katagiri tidak di pedulikan oleh keduanya. Mereka acuh dan tak acuh.
" Serang "
Keduanya maju menyerang. Des dari arah kanan dan koi dari arah kiri. Masing-masing serangan mereka sangat cepat. Tapi hal itu tidak membuat Katagiri terdesak.
' menyebalkan. Baru juga aku bertemu dengan mahluk yang sama dengan diriku tapi malah harus bertarung. '
Kini ia mengeluarkan pedangnya juga. Sebuah pedang kayu yang digunakan untuk membunuh hewan-hewan siluman tadi.
Gerakannya yang lincah menangkis setiap serangan yang masuk.
Trankkk
Trinkk
Ia mengambil gaya bertahan. Ia tak ingin menyakiti mereka. Baginya, Manusia itu bukan musuh. Dengan satu spies yang sama itu tidak di haruskan untuk saling membunuh. Kecuali jika hal itu benar-benar di perlukan untuk membunuh. Yah kali ini Leon benar-benar mengajarinya dengan baik.
Pertarungan itu berjalan dalam kurung waktu yang lumayan lama. Membuat kedua orang yang menyerangnya menjadi kewalahan.
Di sisi Katagiri ia hanya santai. Raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Berbeda dengan kedua lawannya yang kini sudah seperti orang yang membutuhkan pasokan oksigen yang banyak.
Bila di lihat dari orang lain, pertempuran itu tidak bisa sama sekali dikatakan seperti itu. Hanya menggambarkan orang yang seperti latihan.
" Senior .. dia ku-kuat sekali. A-aku sudah tidak kuat. " Koi menjatuhkan pedangnya lalu badannya.
Ia terbaring lemas.
Des yang melihat Junior nya sudah terbaring kelelahan itu hanya bisa menatap saja. Jujur dirinya pun sama sekali sudah tidak sanggup berdiri. Ia kelelahan.
Menatap keduanya, Katagiri hanya tersenyum.
Ia menyarunkan pedangnya lalu berjalan mendekat ke arah keduanya.
" Ka-kamu .. apa yang mau kamu lakukan?" Des masih memasang wajah berhati-hati. Ia tau ia sudah tak punya tenaga hanya, saja ia pasti tidak akan mati sia-sia. Ketakutannya terhadap Katagiri membuatnya selalu merasa bahwa orang ini adalah monster.
" Bukan apa-apa hanya ingin menolong kalian. " kata Katagiri sambil menyentuh dahi keduanya. Ia mengalirkan tenaga dalamnya guna membantu mereka yang dimana membuat keduanya segera pulih kembali.
" Ehhhkkk "
__
Di depan pintu gerbang kedua penjaga yang bertarung bersama-sama itu kini sudah terbaring lemas juga. Walaupun Katagiri hanya menyisakan sedikit bagi keduanya, tapi itu masih hal yang menguras tenaga bagi keduanya agar bisa membunuhnya.
" Vold apa kamu melihat tuan muda?" Teman nya yang satu bertanya ketika ia tak melihat Katagiri.
Vold yang di tanya kini menggeleng pelan. Ia juga tidak tahu kemana Katagiri berada. Pasalnya keduanya tadi sangat sibuk dalam membunuh sisa-sisa hewan siluman yang ada.
" Aku tidak tahu. " Balasnya sambil mengangkat bahunya. " Mungkin dia sudah pergi atau ehh itu dia " lanjut nya sambil menunjuk ke suatu arah yang dimana di sana terlihat tiga sosok sedang berjalan ke arah mereka.
" Yos .. maaf telat "
___&___
Note: *jadwal up akan hadir di antara hari Jum'at atau Kamis. adapun jumlah nya itu tergantung sebisa aku.
oke itu aja.
thx udah baca
enjoy*!