
Perpisahan.
__
Keesokan harinya, di pagi pagi sekali. Katagiri dengan semangat yang tinggi berjalan menuju kearah gurunya. Ia tersenyum dengan senyum yang lebar.
9 tahun. Dirinya hanya bisa tinggal diam, tak ada kawan bicara, tak akan kawan bermain. Hanya berlatih dan belajar akan tatap hidup yang dia bisa lakukan.
Didikan keras dari seorang Leon pun tak lepas. Tapi walaupun begitu ia masi tetap lah anak yang memiliki hati yang baik.
" Kakekk … guru …. Bangun!!! "
Suaranya terdengar keras hingga membuat Leon yang sedang bermeditasi itu terkejut. Ingin rasanya ia menendang anak itu, tapi rasa sayang padanya menghalangi. Terlebih ini adalah hari terakhir mereka bersama.
" Hump … masi saja seperti dulu. " Leon dengan muka ketus menjawab. " Katagiri ingat! Ketika kau sudah keluar dari sini kau Jangan membuat masalah dengan orang lain. Bila tak ada yang menggangu mu kau tak perlu bertarung. Dunia persilatan itu penuh dengan hukum rimba. Bila kau tak kuat, maka kau akan di mangsa. Ketika kau keluar tetaplah untuk selalu berlatih dengan giat!" kata Leon yang dengan lembut menasehati Katagiri.
Berusia 100 tahun lebih, membuatnya memiliki perasaan sentimental. Dirinya yang dulu sering berbuat onar kini memberikan nasehat yang terbaik bagi murid nya. Ia tak ingin dirinya yang dulu akan di Warisi oleh muridnya yang sudah di anggap cucunya itu.
" Siap kakek guru. Aku Katagiri! Tidak akan pernah lalai dalam berlatih. Dan juga akan berbuat baik dan tidak akan mencari masalah. " Katanya sambil tersenyum bangga.
Melihat sikap muridnya itu, Leon hanya tertawa getir. Ia tak bisa membayangkan bila dirinya sudah selama ini bersama dengan nya.
" Baiklah. Sekarang kau ambil ini!" Katanya sambil memberikan sebuah cincin.
Katagiri yang melihat itu menatap heran.
" Kakek guru aku ini bukan perempuan, mana bisa memakai hal hal yang seperti itu " dengan polos dia menolak memakai cincin itu.
Melihat sikap polos muridnya itu, Leon hanya menggerutu kesal. Ia dengan hati hati dan lembut menjelaskan akan kegunaan cincin itu. " Katagiri .. cincin ini merupakan cincin penyimpanan. Dengan menggunakan ini kau akan dengan muda menyimpan atau mengambil barang barang yang kau inginkan. " kata Leon sambil memperagakan kegunaan cincin itu di depan katagiri.
Melihat itu, Katagiri yang awalnya acuh akan cincin itu, malah kaget. Kedua matanya melongo dengan lebar. Takjub, itu yang dia rasakan.
" Hebat. Wah kakek guru ternyata hebat. Berikan itu padaku kakek guru!! Biar aku bisa menyimpan semua barang barang ku di dalam. " kata Katagiri
" Baiklah! Tapi pertama tama .. aku akan memberitahu mu. Gunakan semua yang ada di dalam ini dengan baik. Jangan pernah hambur hambur kan uang. Kau harus hemat!!" Pintahnya.
dirinya tentu tak khawatir akan sikap boros Katagiri selama didikan nya, ia membuat Katagiri memiliki sifat yang hemat. dengan banyak nya koin di dalam cincin itu, ia tak akan khawatir akan kebutuhan Katagiri.
" Siap kakek guru " balas Katagiri.
Setelah itu Leon pun mulai memasukkan barang-barang katagiri ke dalam cincin penyimpanannya. Tak lupa pedang perak Petir ia masukan juga dan kitab kemurkaan surgawi petir.
Katagiri yang melihat itu tentu saja protes, tapi ketika mendengar penjelasan Leon dia pun terdiam. " Pedang mu ini akan menarik perhatian pendengar yang kuat. Jadi kau harus menyembunyikan nya agar kau bisa selamat. Bila kau sudah mencapai tingkatan raja maka kau bisa menggunakan pedang itu sepuas mu. untuk saat ini kau pakai pedang ini saja. " katanya sambil memberikannya sebuah pedang yang terlihat biasa tapi sebenarnya memiliki kualitas yang baik.
katagiri yang melihat pedang itu pun, tanpa ragu lansung mengambil nya. ia bukan anak egois yang manja.
" Baiklah semua barang barang mu sudah aku masukkan ke dalam cincin ini. Berikan setetes darah mu ke dalamnya agar kau bisa lebih mudah menggunakan nya. " Lanjut Leon.
Katagiri yang mendengar perkataan gurunya hanya mengangguk dan mengikuti apa katanya. Ia menggigit jarinya dan menetes kan setetes darah nya ke dalam cincin itu.
" Sekarang kau sudah diakui. Jadi pakailah!! " Pintahnya. " Sebelum kau berangkat aku ingin menguji mu. Ini latihan terakhir kita bersama. Jadi aku ingin melihat sampai di mana kekuatan mu "
" Hehehe kakek guru .. tentu saja sekarang aku lebih kuat dari tahun lalu. " Balas nya.
Keduanya bergerak keluar mencari lapangan kosong. " Baik! Kalo begitu coba serang aku dengan juru tangan kosong mu, lalu ilmu pedang mu!!"
Katagiri yang mendengar perkataan gurunya itu mengangguk, ia mulai pokus dan mengalir kan tenaga dalam ke tangan nya.
Ia mulai mempraktekkan langkah pertama jurus tapak petir, yaitu jari petir lalu tinju petir dan telapak Petir. Semua ia kerahkan lansung.
Di sisi Leon yang melihat perkembangan dari muridnya itu tersenyum bangga. Menghindari ketiga serangan itu cukup membuat nya kesulitan.
" Sekarang aku ingin kau menggunakan ilmu pedang mu. Tapi tidak dengan menggunakan pedang perak petir, kau harus menggunakan pedang yang aku berikan padamu tadi. " Kata Leon
Katagiri tanpa membantah itu lansung mengikuti apa kata gurunya. Ia mengambil pedang kayu yang sudah lama ia tidak gunakan. Pertama ia menggunakan jurus tarian pedang surgawi.
Trankkk
Trinkk
Trankkk
Benturan demi benturan terdengar dari keduanya. Mereka sudah bertukar puluhan jurus, tapi belum ada yang mau menyerah. Leon yang melihat semangat tempur muridnya merasa bangga. Setelah menggunakan beberapa kali jurus ia belum kehabisan tenaga dalam. Tenaganya juga terasa tidak pernah terkuras. Tak ada yang bisa menggambar kan akan sikap Katagiri.
Langkah terkahir, tarian pedang surgawi
Busss …
Tebasan katagiri membuat Leon terkejut. Ia tak menyangka Katagiri akan segera menggunakan langka terkahir dari tarian pedang surgawi.
Tak ingin mengambil resiko, ia pun menggunakan jurus yang sama. Kedua jurus bertemu dan suara ledakan terdengar.
Duarrrr
Bum Bam
Tanah di sekitar nya berlubang akibat benturan itu. Katagiri yang terhempas mundur sepuluh langkah itu tersenyum. Melihat ke arah gurunya, Leon yang mundur tiga langkah.
" Heheh kakek guru. Bagaimana? Aku sudah lebih kuat kan? " Dengan gembira ia menyombongkan dirinya.
" Hahaha tentu! Siapa dulu gurunya. " Aura sombong dari Leon pun naik.
Salin memandang.
1 detik
2 detik
3 detik
" Hahahahaha "
Kompak mereka tertawa. Latihan itu tidak di teruskan lagi, semua tenaga dalam Katagiri sudah habis. Walaupun masi ada sisa dua jurus yang belum ia gunakan, tapi itu sudah cukup menggambarkan akan kehebatan sosok Katagiri.
Leon hanya bisa berharap, muridnya itu tumbuh menjadi pendekar yang baik. Tidak seperti dirinya dahulu yang berada di jalan yang salah.
" Katagiri … karena sekarang kau akan keluar, maka aku ingin menyampaikan beberapa hal. Ketika kau keluar dari sini kau harus pergi dan mencari Mahaguru mu, namanya Fien Temui dia kelak dia akan memberikan mu bantuan. "
Kata kata itu lansung membuat katagiri terdiam.
" Kakek guru .. apa kakek guru tidak keluar bersama ku?" Dia bertanya sambil menatap ke arah Leon dengan perasaan yang rumit.
" Hidup di dunia itu ibarat kan seperti matahari, adakalanya dia harus terbenam sekejap. Aku adalah matahari di sini, jadi aku harus terbenam. Kelak bila aku sudah tak memiliki urusan di sini maka aku akan keluar mencari mu. " Balasnya sambil menepuk pundak katagiri.
Mendengar itu, Katagiri hanya bisa terdiam. Dia menunduk sedih. Harapannya keluar bersama gurunya kini hancur. Melihat itu, Leon hanya tersenyum.
", Susah bocah!! Apa kau pikir aku akan di sini duduk diam tanpa mengawasi mu. Kau keluar saja dulu, nanti aku akan mencari mu. Kalo kita bertemu lagi maka aku akan mengajarimu jurus baru. Saat ini aku mau membuat jurus yang hebat. " Katanya mencoba membujuk katagiri.
Dia bukan nya tidak mau, hanya saja kekuatannya saat ini sudah jauh dari puncak nya. Tidak akan banyak membantu bagi katagiri. Dengan musuh yang bertaburan banyaknya, ia tentu tak ingin mengambil resiko.
Katagiri yang mendengar kata kata gurunya barusan, sontak bersemangat. Dirinya adalah seorang yang gemar akan berlatih.
" Baik! Tapi janji jurusnya harus kuat dan cari aku bila kakek guru sudah keluar. " Balasnya.
" Janji "
Setelah memberi arahan beberapa kata lagi, kini akhirnya Katagiri berjalan keluar. Tangannya melambai kepada Leon. ' kakek guru, .. aku akan membuat mu bangga ' gumamnya sembari berjalan ke arah pintu keluar yang sudah di beritahukan oleh gurunya.
Note : jadwal up ga nentu:v tinggalkan jejak berupa like & komen dan vote!!