Katagiri

Katagiri
Katagiri ~~6



Ketiganya segera maju menyerbu puluhan hewan siluman. Ini merupakan penyerbuan yang sangat banyak. Kedua penjaga gerbang merasa aneh, mengapa bisa sebanyak ini? Padahal yang mereka tau adalah hewan siluman yang datang menculik dan membunuh warga desa tidak sebanyak ini.


Sikap kaget mereka terlihat oleh Katagiri.


" Paman ada apa dengan sikap kalian?" Tanya Katagiri sambil terus membunuh hewan siluman yang terus datang.


" Tuan muda aku merasakan bahwa situasi ini di sengaja oleh seseorang. Beberapa hari yang lalu jumlah hewan siluman yang menyerbu tidaklah sebanyak ini. " Kata penjaga gerbang yang gendut itu.


" Itu benar tuan muda. Sepertinya ada yang memang sengaja memancing hewan hewan siluman ini ke desa kami. " Vold ikut menyuarakan suara nya.


Katagiri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa pusing akan ulah manusia. Sejatinya ia pun baru tau bahwa akan ada situasi yang seperti ini. ' andai kakek guru ada di sini, mungkin aku bisa bertanya ' katanya dalam hati.


" Emmm … kalo begitu sebaiknya paman menjaga di depan pintu gerbang. Biar aku yang melakukan perlawanan di sini. " Saran Katagiri.


Ia tak mungkin meletakan kedua orang itu dalam bahaya. Musuh yang sebenernya belum bisa ia ketahui. Jadi lebih baik berjaga jaga, akan sangat merepotkan bila nanti musuhnya nanti keluar dan malah mengincar kedua orang itu. Akan sangat menganggu konsentrasi nya.


Kedua paman itu mengangguk mengerti. Walau tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Katagiri, mereka Percaya lebih baik menyerahkan sisanya di sini.


Keduanya pun mundur dan berjaga di depan pintu gerbang. Membunuh beberapa sisa-sisa hewan siluman yang lolos dari serangan Katagiri.


' musuh belum aku ketahui siapa. Jadi untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku segera membunuh hewan hewan ini dengan cepat dan mencari tahu siapa yang ada di balik ini. '


Ia pun mempercepat pola serangannya. Dalam membunuh hewan-hewan siluman ini, Katagiri menggunakan langkah pertama dari jurus Tarian Pedang Surgawi.


Dalam setiap tebasan nya, ia bisa membunuh setiap lima hewan. Tentu saja ini karena hewan-hewan siluman itu memiliki tingkat kultivasi di bawahnya.


Sampai sekarang ia belum menjumpai hewan siluman yang memiliki tingkat kultivasi yang tinggi. Setiap yang ia bunuh hanya berada di pemula tingkat lanjut.


Terus-menerus Katagiri terus mengayunkan pedangnya. Membunuh terus-menerus para hewan siluman.


Kedua penjaga yang melihat pertempuran Katagiri lansung terkejut. Sebuah tumpukan gunung kecil akan mayat tercibta di belakang Katagiri.


" Tuan muda memang berbeda. Akan sangat baik kita tidak membuatnya tersinggung tadi sore. "


" Kau benar. Sebaiknya kita harus berlatih lebih keras juga kedepannya setelah pertarungan ini. "


" Kau benar "


Mereka berdua menghela nafas. Tak ada yang bisa mereka katakan ketika melihat akan seberapa cepat nya Katagiri membunuh hewan-hewan siluman yang datang. Dengannya separuh gerombolan hewan siluman itu sudah mati. Dan itupun tampaknya sangat muda di lakukan di hadapannya, berbeda dengan mereka yang harus berusaha lebih banyak bila ingin menghabisi satu hewan siluman saja.


__


Jauh dari tempat pertempuran yang di lakukan oleh Katagiri. Kedua orang yang tadi muncul kini sedang memantau semuanya dari balik pohon.


Awalnya mereka sangat gembira karena akan segera mendapatkan kekayaan penduduk desa itu sekaligus membunuh hewan-hewan siluman itu. Dengan begitu mereka akan mendapatkan manfaat dua kali lebih banyak.


Tapi sayangnya, dari waktu ke waktu bukannya malah semakin gembira tapi ada rasa kesal yang muncul. Apalagi dengan adanya seorang pemuda yang membantu desa itu. Setiap ayunan pedangnya lansung saja membunuh setidaknya lima.


" Senior seperti orang itu memiliki kekuatan yang hebat. " tunjuk juniornya ke arah pemuda yang kini sedang bertempur dengan ganasnya.


Hump


Senior nya mengeluarkan Hump dingin.


" Orang itu memang hebat, tapi mari kita lihat akan sampai kapan ia terus bertahan dari serbuan hewan hewan ini. " Balasnya acuh. Tapi walaupun begitu ada rasa kesal di matanya, hal ini pun tak hilang dari pandangan junior nya.


' Bagaimana mungkin usaha ku akan hancur hanya karena satu orang?' ia dengan kesal memalingkan wajahnya dari pertempuran itu.


Tapi walaupun ia kesal, ia masih terus memantau jalannya pertempuran itu. Dirinya ingin melihat sampai di mana kekuatan orang yang ingin menghancurkan rencananya.


" Gawat … cepat sembunyi!!" Kata juniornya yang dimana membuatnya seniornya kaget, tapi walaupun begitu ia segera mengikuti kata-kata juniornya.


__


Katagiri membunuh satu hewan terakhir yang ada di sekitarnya, kini ia sudah hampir menghabisi semuanya, yang tersisa pun kini bisa di hitung jari.


' apa mereka tidak akan muncul?' Tanyanya dalam hati. Sampai saat ini ia masih menunggu orang yang ada di balik ini semua.


Ia bertanya dengan dirinya sendiri. Memandang ke arah datangnya gerombolan hewan-hewan siluman ini.


Matanya memantau setiap hal yang di anggap nya mencurigakan. Hingga akhirnya ia menangkap sekilas bayangan yang tiba-tiba menghilang.


Sebuah senyum di wajahnya terlihat.


' ketemu '


Ia pun segera menghilang dan menyusul keduanya. Di sini ia sudah tak perlu khawatir lagi akan keamanan desa dan kedua penjaga itu. Hewan-hewan siluman yang tersisa sudah bisa di tangani oleh keduanya.


__


" Ada apa? " Tanya seniornya ketika sudah berdiri di samping tubuh juniornya.


" Diam senior. " Katanya sambil mengangkat jari telunjuknya lalu menempatkan nya di depan bibir.


" Orang itu melihat kita. " Lanjutnya.


Mendengar perkataan Koi, junior nya. Des mengerutkan keningnya.


" Bagaimana mungkin? Tempat kita sangat jauh dari tempat di mana ia berdiri tadi. " Sanggah nya tak percaya.


Menurut nya itu tidak mungkin. Tapi kalo memang benar maka musuhnya kali ini memiliki tingkat kekuatan yang lebih hebat darinya. Ia harus berhati-hati.


" Aku yakin senior, orang itu tadi melihat ke arah kit-"


" Kalian melihat apa tadi?"


Sebuah suara tiba tiba terdengar dari atas dahan pohon memotong ucapan Koi.


Sontak saja keduanya pun lansung memasang sikap waspada. Utamanya Des. Ia tak merasakan aura orang itu hingga akhirnya muncul di depannya.


' apa orang ini lebih kuat dari ku? hingga aura tubuh nya saja tidak bisa aku deteksi. ' gumamnya dalam hati.


Wushh …


Katagiri melompat turun dan berdiri di depan keduanya. Ia memandangi mereka berdua.


Masing-masing memiliki tingkat kultivasi yang tidak terlalu besar. Yang satu memiliki tingkat kultivasi di Alam pemula tingkat lanjut dan satunya hanya di Alam Bumi tingkat awal.


" Siapa kamu? Dan dari sekte mana dirimu berasal? " Tanya Des dengan hati-hati.


Kini ia tidak bisa bersikap acuh lagi di depan pemuda yang ada di hadapannya. Semenjak dirinya tidak bisa merasakan auranya tadi, ia merasa kurang percaya diri. Apalagi ia kini masi merasa tertekan akan aura yang keluar dari tubuh Katagiri.


Katagiri yang baru keluar dari tempat gurunya sudah membunuh hewan siluman dalam jumlah besar tentu memiliki aura yang sedikit lebih banyak dari keduanya. Apalagi pada saat dirinya berlatih bersama Leon, dirinya sering kali merasakan pertarungan hidup dan mati.


Melihat sikap musuhnya yang seperti itu, Katagiri hanya tertawa kecil. Ia lalu menarik aura membunuh nya yang memang sudah di ajarkan oleh Leon.


" Saya hanya seorang pejalan kaki. Tentang sekte .. aku tidak tau apa yang di maksud dengan hal itu. Apa itu penting?" Tanyanya sambil tersenyum lembut.


___&___


Note ; * panggilan tuan muda di sini di ucapkan untuk menghargai akan bakat Katagiri yang dimana ia masih muda tapi sudah memiliki kekuatan yang hebat. Dalam seri novel saya, kata tuan muda di berikan kepada tiga orang ;


- seorang yang memiliki kemampuan yang hebat dengan usia yang masi muda


- seseorang yang di hormati.


- anak bangsawan atau sejenisnya, kecuali keturunan raja.