Journey To The Perfect Life

Journey To The Perfect Life
Menyatakan Perasaan



Setelah makan makan selesai, mereka semua langsung ke ruang tamu untuk berbincang bincang


“ Jay, kamu main dulu gih di kamar, nenek mau ngomong sama tante Stella. “ kata nenek berbisik kepada Jayden, berharap agar Jayden mengerti.


“ oke nek, Jayden ke kamar dulu ya, jangan lupa buat bujuk tante Stella biar mau jadi mommy jay ya nek. “ bisik balik Jayden kepada neneknya sambil menyipitkan sebelah matanya.


“ dad, kakek, tante Stella, jay ke kamar dulu ya, jay mau kerjain PR nih, “ pamit Jayden sambil berjalan menuju ke kamarnya


“ okeee jay” kata daddynya.


Setelah Jayden ke kamarnya, seperti biasa, Jayden yang penasaran mencoba menguping pembicaraaan mereka dari kamarnya. Dan mereka mulai mengobrol untuk mendekatkan Stella dengan Julian.


“ Stel, kita mau ngomong serius sama kamu, apa boleh? “ kata nenek untuk membuka obrolan seriusnya.


“ oh boleh tante, mau ngomong apa tan? “ tanya Stella.


“ biar Julian yang menjelaskan ya. “ kata nenek untuk memberi kesempatan menjelaskan kepada Julian


“ Stel, sebelumnya saya minta maaf kalau agak lancing, dari awal bertemu sama kamu, saya tertarik dengan kamu, saya fikir itu hanya rasa tertarik saya, tapi ternyata rasa itu makin lama makin bertambah, di hari ini saya yakin kalau saya emang beneran sayang sama kamu, saya mau serius sama kamu, karena Jayden juga udah suka sama kamu dan Jayden juga sangat butuh figur seorang mommy, saya juga butuh figur seorang istri, apa kamu mau untuk menjadi mommy untuk Jayden dan istri untuk saya? “ jelas Julian panjang lebar dan langsung ke inti karena Julian tidak mau bertele tele untuk mengetahui perasaan Stella kepadanya


“ iya Stel, om sangat ingin kamu menjadi menantu om, Jayden sangat susah untuk suka dengan orang seperti dia menyukaimu, bahkan diawal kamu menyelamatkan Jayden, dia udah langsung suka sama kamu Stel,” kata kakek menambahkan perkataan Julian sedangkan nenek hanya mengenggam tangan Stella dengan maksud meyakinkan bahwa Julian serius dengan perkataannya,


Stella sangat tidak menyangka kalau saat makan malam ini dia akan dilamar oleh Julian seperti ini, bahkan dia sangat terkejut mengetahui bahwa Julian menyukainya. Ia sangat bingung menjawab apa karena ini semua terlalu cepat untuknya tetapi dia memang sudah suka juga dengan Julian.


“ hm, baiklah Jul, saya juga sudah suka dengan kamu, saya mau untuk menjadi mommy untuk Jayden dan istri untuk kamu “ kata Stella karena ia yakin bahwa Julian laki laki yang baik.


“ serius Stel? Terimakasih ya. Besok saya akan datang ke rumah kamu untuk bertemu dengan orang tua kamu dan melamar kamu, “ kata Julian dengan sangat semangat karena dia sangat senang Stella memiliki perasaan yang sama juga dengannya


“ berarti panggil om ayah juga ya Stel. “ kata kakek menambahkan


“ baik ibu, ayah. “ jawab Stella dengan canggung,


Lalu setelah mereka puas berbincang bincang, Stella pamit untuk pulang


“ ibu, ayah, Julian, udah malam, jadi Stella pamit pulang ya, Stella bawa mobil sendiri soalnya. “ kata Stella sopan


“ kamu diantar Julian ya Stel, udah malam soalnya, ga baik, “ tawar nenek


“ iya Stel, aku antar aja ya, mobil kamu taruh disini aja, besok dibawain sama supir kita ke rumah kamu. “ kata Julian


“ oh yaudah kalau tidak merepotkan. “ jawab Stella


“ ngga kok, yaudah ayuk Stel. “ ajak Julian


“ ibu, ayah, Stella pamit pulang ya, terimakasih makan malamnya, titip salam juga untuk Jayden, sepertinya Jayden sudah tertidur. “ kata Stella.


“ iya Stel, nanti ibu titipkan salam Jayden, “


“ hati hati ya Jul bawa mobilnya.” Kata kakek memperingatkan Julian.


Lalu Stella pulang dengan diantar Julian, di mobil Julian memulai pembicaraan untuk mengetahui lebih banyak tentang Stella.