
π₯
Hingga mereka berhenti, tanpa terlepas dekapan dan tatapan dua pasang mata yang saling menatap,
diam,
hening,
semakin dekat,
lebih dekat,
tiada sekat,
dan.....
CUP
Benda kenyal nan hangat hinggap di atas bibir mungil dengen lembut. Merasa tidak ada penolakan dari Jelita, Kevin mengulangnya lagi yang awalnya hanya kecupan bertambah menjadi ******* dan sesapan.
Jelita yang awalnya terkejut dengan hal yang baru dan pertama kali baginya awalnya ingin menolak, tapi hatinya menghianatinya. Entah hatinya berdegub sangat cepat dan bahagia secara bersamaan, di tutupnya mata dan mencoba menikmatinya.
Kevin dan Jelita terhanyut akan suasana, Kevin dengan suasana hati yang kalut dan Jelita yang baru merasakan hal indah pun sama - sama menikmatinya. Sampai Jelita merasakan pasokan udara serasa habis, dia mendorong tubuh Kevin lembut.
Kevin tersadar akan perlakuannya yang spontan. Entah kenapa dia melakukannya dengan wanita di depannya ini. Rasa nyaman dan hati yang selalu berdegub setiap bersama Jelita membuatnya merasa bahwa Jelita wanita yang mampu membuat suasana hatinya tenang.
" Maaf." Kevin merasa bersalah dan takut.
Jelita bergeser sedikit memberi jarak kepada Kevin. Jelita diam memikirkan hal yang baru saja terjadi antara dirinya dan lelaki di sebelahnya barusan.
Diam
Hening
Hanya semilir angin membawa hawa sejuk di antara kecanggungan dua insan yang seketika seperti orang bodoh.
"Sory Lit, gue bener - bener gak sengaja, gue mohon lu jangan marah dan..."
" Iya Vin, anggep aja hal barusan tidak pernah terjadi di antara kita."
" Lu marah?"
" Nggak,"
" Kenapa diem aja?"
"....."
" Lit..."
" Hmmmm..."
" Oh God.... hey hadep sini!!" Kevin menarik pergelangan tangan Jelita agar menghadap ke hadapannya.
" Gue minta maaf,hmm."
" Aaarrrgggghhhh, Kevinnnn... kenapa kamu ambil kesucian bibir aku!!" tanpa Kevin duga Jelita meluapkan kegundahannya dengan nada suara setengah berteriak.
Untung pantai tempat mereka berada dalam keadaan sepi jadi Jelita tidak malu untuk meluapkan uneg-unegnya.
" hahahahaha, serius Lit??" Kevin tertawa mendengar pengakuan Jelita.
" Ya iyalah, asal kamu tahu ya, ini baru pertama kali buat aku, seharusnya bibir suciku itu buat pangeran yang aku impikan jadi imamku kelak." Dengan memukul lengan kekar Kevin yang masih tertawa tanpa dosa itu.
" Kamu nyebelin banget si Vin, kenapa malah tertawa hah?! aku malu." Jelita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, merasa malu dan merasa bingung dengan keadaannya saat ini.
" Gue lucu aja sama lu, hey jaman sekarang masih ada gitu belum pernah ciuman? gue yakim lu pasti udah pernah kan? nyatanya tadi lu menikmati ciuman gue, ya walaupun agak kaku sih."
Jelita mengangkat wajahnya menatap tajam wajah menyebalkan di hadapannya. Tidak habis pikir dengan ucapan Kevin barusan, dia seketika merasa seperti menjadi wanita murahan yang suka berciuman dengan sembarang lelaki, padahal Kevin cuma bercanda, tanpa memikirkan Jelita si gadis polos yang memang sama sekali belum pernah melakukan hal bebas seperti dirinya yang berpengalaman.
" Kamu pikir aku wanita apa hah!! kamu pikir aku wanita yang suka di sosor seenaknya!! dan bodohnya aku, aku mau saja di sosor buaya kayak kamu!!" Dengan amarah Jelita bangkit berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Kevin yang masih terkejut dengan respon candaannya dari Jelita.
" Hey, bukan gitu maksud gue Lit, tunggu dulu penjelasan gue..." Kevin bangkit berdiri mencoba meraih tangan wanita itu. Jelita menepis kasar tangan Kevin.
Kevin mengejarnya, tapi terlambat Jelita sudah lebih dulu menaiki taxi dan belalu pergi meninggalkan Kevin yang merasa bersalah atas perbuatan dan perkataannya tadi.
" Shittt!! kenapa dia jadi marah, gue cuma bercanda tadi, gue harus cepet - cepet minta maaf sama dia."
Kevin bergegas mengambil motornya dan melaju sekencang mungkin untuk kembali ke kost berharap bisa bertemu Jelita dan menjelaskan semuanya.
π€
Di Taman
Jelita tidak langsung kembali ke kostnya, melainkan ke sebuah Taman di pusat kota. Malam yang terang dengan gemerlap bintang menghiasi langit.
Jelita termenung diam di sebuah bangku di tengah taman yang sudah di sediakan. Dia beberapa kali menghela nafas dan memegang dada nya yg sedari berdegup kencang setiap kali mengingat ciuman pertamanya bersama Kevin.
" Kenapa jantungku berdegub kenceng banget gini sih, apa aku jatuh cinta sama si kanebo itu. Ahh gak mungkin, cuma kebetulan aja mungkin jantungku bermasalah, tapi kenapa setiap di dekatnya jantungku kayak gini ya, gak kayak dulu waktu aku berdekatan dengan Kak Rizky. Beda banget rasanya, kalo sama si Kanebo aku berasa nyaman, dan merasa.... aahhh kenapa sama aku, aku benci banget sama mulut pedasnya, kenapa dia ngira aku bohong kalo emang aku baru pertama ciuman.... nyebelin!!"
Jelita melamun dengan pemikirannya.
Sedangakan di tempat kost, Kevin seperti cacing kepanasan yang mulai panik mencari keberadaan Jelita yang ternyata tidak kembali ke tempat kost mereka. Ponselnya pun tidak bisa di hubungi sedari tadi. Kevin mondar mandir di depan kamarnya memikirkan kemana kira - kira Jelita pergi, karna dia tidak paham tempat dimana biasa Jelita singgahi.
berjam jam berlalu...
Ceklek
Suara kunci pintu terdengar nyaring di tengah keheningan malam, dan itu tak luput dari pendengaran Kevin, seketika dia berlari keluar menuju kamar Jelita untuk memastikan gadis itu sudah kembali.
" Lit...." Kevin menghambur memeluk tubuh mungil Jelita.
" Lu darimana aja sih, gue nyariin lu, gue khawatir sama lu tau nggak!!" Masih mendekap erat seolah takut Jelita kabur lagi. Jelita meronta meminta melepaskan pelukan Kevin yang menurutnya berlebihan.
" Ihhh lepasin Vin, kamu kesurupan apa sih, aku sesek ini.... kamu mau bunuh aku!" Jelita meronta dan memukul punggung Kevin
Setelah mendengar ucapan Jelita, berlahan Kevin merenggangkan pelukannya.
"Lu darimana? kenapa baru jam segini pulang?"
"Bukan urusan kamu!!"
"Hey, masih marah? oke, sory gue minta maaf banget atas kejadian tadi sore, sumpah Lit gue gak bermaksud ngehina lu. Tolong maafin gue."
"Aku capek Vin, besok lagi ya berantemnya, sekarang kamu istirahat, besok kuliah kan."
"Tapi Lit..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya Jelita sudah menutup pintu dan menguncinya. Kevin masih berdiri di depan pintu kamar Jelita memanggil namanya berharap Jelita mau membukakan pintu, tapi ternyata tiada sautan.
Kevin kembali ke kamarnya, merebahkan diri di atas kasur dan menatap langit kamar. Memikirkan kenapa dia seperti ini, sejak kapan dia merendah meminta maaf kepada seorang wanita. Dia heran dengan dirinya sendiri, tapi tiada rasa aneh sedikitpun untuk kali ini yang bersangkutan dengan Gadis aneh yang menuritnya bisa merubah segala hal yang membuatnya dulu seperti orang yang kaku.
"Apa istimewanya dia, sehingga bisa membuat hati gue jungkir balik kayak gini, merasa bersalah saat membuat dia marah, khawatir saat dia pergi, dan paling bikin gue aneh, kenapa jantung gue seperti mau keluar saat menatap wajahnya. Padahal gue gak pernah seperti ini dengan cewek manapun." Batin Kevin yang berkecamuk dengan pemikirannya, memikirkan Gadis aneh yang membuat harinya berubah.
"Apa gue jatuh cinta sama dia ya gaes...??"
...----------------...
halah mboh bang, kok takon aku....
aku dewe mumet mbe sliramu...
piknik wae yo....
( translite bisa anda ketik di kamus bahasa Jawa- Indonesia di google readers masing - masingπ)
Selamat membacahh gaes... semoga typo typo tidak parah πͺ sejam ngetik dengan keanuan.... π€
Makasih buat temen" readers yang masih bersedia membaca karya saya yang aduhaii gaje sangakkkk π silahkan yang bersedia meninggalkan jejak like komen giftnya...
Matursuwun sanget njeh π
π€