It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Cerita di waktu senja



🥀


Mata kuliah Jelita telah usai. Aktifitas berikutnya adalah menuju tempat di mana dia mencari pundi rupiah untuk biaya hidupnya. Cafe yang selama ini membantunya untuk menopang hidup dan membantu meringankan biaya panti asuhan tempat dirinya di besarkan.


" Yah sebentar lagi aku bakal lulus, semoga apa yang selalu kuharapkan dapat menjadi sebuah kepuasan usahaku selama ini amiin. " sebuah syukur dan doa Jelita panjatkan.


ssiitttttt!!


" Haahhh!! bisa gak sih sehari aja gak bikin aku jantungan!! " teriak Jelita setelah dia di buat kaget dengan rem motor Kevin yang berhenti tiba-tiba di depannya.


" hahahaha, sory.. gue sengaja hahahaha."


" Apanya yang lucu coba, kamu seneng kali ya liat aku jantungan trus mati!!" Masih dengan mode galaknya.


" Eitsss, santuyy, becanda lah, serius bener... lu mau kerja kan?"


" Iya lah, mau kemana lagi?!" Wajah ketus.


" Jiahh, dia sewot, gue canda Lit, gue cuma mau ngajak lu bareng, kebetulan gue mau ketemu Kak Leon."


Bau-bau modus tercium, apakah akan ada drama seperti tadi pagi? Mari kita simak. 🤭


" Serius ? bolehlah, lagi ngirit juga belum gajian. " Dengan semangatnya Jelita sampai lupa kalau sebelumnya dia di buat kesal oleh manusia kanebo julukan untuk si Kevin.


Kevin tersenyum dengan tingkah Jelita yang menurutnya tidak ada "jaim" nya. Tidak ada drama jual mahal, merayu, atau hal lebay yang selama ini dia temui di sekitarnya.


Selama seminggu hidup bertetangga dengan Jelita dia sedikit ada perubahan. Dari hal tersenyum, ramah terhadap tetangga kost kanan kirinya, hingga kepeduliannya terhadap lingkungan, dan hal yang jarang Kevin lakukan adalah mendiskusikan sebuah ide ide usahanya kepada sang kakak, Leon. Siapa lagi dukun yang menyemburkan kewarasan hingga membuat si Kanebo itu sedikit melemaskan egonya?


Jelita ??


That's Right !!


Ya, selama seminggu Jelita bak Dewi pemberi kesejukan bagi Kevin. Memberi nasehat, memberi wejangan, memberi pengalaman hidup, yahh walaupun kelihatannya si kanebo tidak menanggapi kecrewetan gadis itu, tapi syaraf pendengarannya tidak mampu membohongi setiap ucapan Jelita menjalar ke otak warasnya yang mungkin selama ini cuti pinsan.


Kevin sering datang ke cafe kakaknya, bertukar pikiran tetang dunia bisnis. Dia menumpahkan segala unek-uneknya kepada sang kakak tentang rencananya membuka bengkel sendiri. Bengkel modifikasi motor bekas yang bisa di sulapnya menjadi motor mewah dengan harga jual tinggi. Biasanya Kevin memodif motor bekas di tempat kenalannya dan akan di pamerkan di pameran - pameran motor antik, klasik, dan modifikasi. Pikirnya dengan membuka usaha sendiri dia tidak perlu merogoh kocek biaya sewa alat dan tempat tentunya. Awalnya Leon menolak ide adiknya itu, baginya Kevin adalah pewaris dari keluarganya selain Leon. Karna Leon berniat akan menyerahkan kepemimpinanya kepada Kevin. Karena Leon sudah memiliki Perusahaan sendiri. Tapi dengan usaha dan tekat Kevin Leon mencoba untuk menerimanya dengan syarat. Kevin mau menemui ayahnya. Tapi sampai saat ini Kevin enggan menyanggupi syarat sang kakak, dan dia masih berusaha untuk membujuk kakaknya meminjaminya modal tanpa embel-embel menemui ayahnya.


...----------------...


Cafe


" Kerja yang bener, jangan gibah mulu. "


" Siapa yang gibah ??"


" Lu lah, gak mungkin gue. "


" Bodo lah, sono menjauh, hus hus...."


" Ayam kali di hus husin. "


Mereka memisahkan diri setelah memasuki cafe.


Jelita masuk ke ruang ganti untuk mengganti dengan pakaian kerja, sedangkan Kevin menuju ruang sang kakak, dengan janji sebelumya untuk bertemu.


" Kak.."


" Ah iya masuk Vin, baru nyampe ?"


" Iya barusan. "


" Bareng Jelita ?"


" Iya. "


" Sejak kapan kamu mau boncengin cewek ? biasanya kamu anti sama cewek ?"


" Apaan si kak, kayak kagak pernah liat gue boncengin Jelita aja, napa baru sekarang crewetnya ?"


" Yaaa kakak baru ngeh aja, kayaknya kamu semakin deket sama Jelita, apa jangan - jangan ?"


" Udah deh gak usah ngaco, gue dateng kesini gak mau denger hal gak penting !! Gimana kak ?"


" Gimana apanya ?"


Bukan tidak tahu, tapi Leon masih dengan pendiriannya yaitu mempertemukan Kevin dengan sang ayah yang lama tidak akur itu.


" Kak ayolah, adekmu ini mau usaha, bukan mau maksiat."


" Yang bilang kamu mau maksiat siapa ? kan kakak dah bilang, oke kakak bantu asal kamu mau nemuin ayah Vin. Sebentar sajalah kalian ngobrol, ayah kangen sama kamu."


" Kak, sekarang bukan waktu yang tepat gue nemuin ayah, rasa kecewa gue masih melekat kak. " Kevin mulai terpancing emosi.


" Iya kakak paham, kakak tahu, tapi setidaknya beri ayah waktu buat jelasin ke kamu apa.yang sebenarnya Vin."


" Cukup kak, kalo emang kakak gak mau ngebantu gue, ngomong !! gak usah berbelit - belit mengungkit masalah yang bener - bener gue hindarin !!" Dengan raut wajah yang sudah memerah menahan kemarahan Kevin serasa ingin menghajar kakaknya yang menurutnya tidak pernah paham atas perasaan kecewanya.


" Tenang Vin, tenang... kakak gak bermangsud..." belum selesai Leon menenangkan, Kevin membuka suara lagi.


" Gak usah di lanjutin, gue udah paham, lu gak pernah bisa dukung adek lu sendiri kak !! dan gue akan buktiin, gue bisa sukses tanpa bantuan lu ataupun orang yang mengaku dirinya ayah itu !!" Dengan emosi yang meluap Kevin pergi dengan membanting pintu.


Leon menghela nafas panjang, dia paham bagaimana watak adiknya yang keras kepala itu. Dengan kesalahpahaman sang ayah dan adiknya yang sulit untuk di pertemukan, Leon selalu gagal mencoba menjelaskan apa duduk persoalannya, karena Kevin selalu dengan pikiran egoisnya.


...----------------...


Jelita melihat Kevin keluar dari ruangan atasannya dengan raut wajah marah. Jelita yang penasaran mengejar langkah Kevin yang menuju parkiran.


Kevin menghentikan langkahnya tapi tidak membalikkan tubuhnya. Jelita berdiri di depan tubuh lelaki itu, melihat raut wajah arogan yang pernah dia lihat awal bertemu.


" Kamu berantem sama pak Leon ?"


" Bukan urusan lu !!" Jawab Kevin ketus.


" Vin, apapun masalahmu pasti semua ada jalan keluarnya." Sedikit tahu apa yang terjadi antara Kevin dan keluarganya, karena Kevin sempat bercerita kalau dia dan ayahnya sedang tidak baik - baik saja. Tapi Jelita tidak pernah bertanya apa pemicu masalah itu, dan Kevin tidak menceritakannya.


" Lit, lu mau ikut gue ?"


" Hah ?? kemana ?? aku lagi kerja."


" Itu urusan gampang, ntar gue kirim pesan ke Kak Leon kalo gue nyulik lu. "


" Tapi..."


" Udah ayo, kelamaan mikir, gue butuh lu buat gue numpahin limbah otak gue. "


" Apa ?"


" Ah dasar lemot !!"


Tanpa menunggu jawaban, Kevin menarik paksa Jelita yang masih bingung dengan suasana. Dengan Polosnya dia mengikuti semua pergerakan Kevin, dari memakai helm naik membonceng motor dan entah di bawa kemana dia pergi.


...----------------...


Pantai


Di sinilah mereka, duduk di atas pantai dengan suasana sore dengan pemandangan matahari yang akan terbenam. Dua sejoli sedang menatap indahnya karya Tuhan dengan pemikirannya masing - masing. Beberapa menit tanpa suara, tanpa obrolan. Mereka masih diam, hingga Kevin yang pertama membuka suara.


" Lit..."


" Hmm.. "


" Lu pernah gak ngrasain kecewa ?" Kevin menoleh ke samping, di mana wajah tanpa make up itu menatap lurus kedepan dengan rambut yang tertiup angin membuat helaian rambutnya menari di depan wajahnya.


" Pernah, bahkan aku pernah kecewa dengan hidupku sendiri. "


" Kenapa ?"


" Aku pernah merasa hidup ini gak adil, melihat teman di luar sana memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia, kenapa aku tidak ? pernah aku dengan ke irianku membuat salah satu temanku terluka, dengan sengaja aku mendorong temanku hingga terjatuh,agar dia di marahi orangtuanya karena bermain sembarangan, tapi apa yang aku lihat, semakin sakit yang aku rasa, dia di beri perhatian kasih sayang yang belum aku rasakan.


Hingga suatu ketika aku di sadarkan oleh segerombol pengamen anak - anak dan ibu yang menggendong anaknya untuk mengemis. Aku penasaran, dan sehari aku putuskan untuk mengikuti mereka dengan membolos sekolah, dan tentunya tanpa sepengetahuan bunda panti. Aku mengikuti segala kegiatan mereka, dari mengamen di perempatan, dari warung ke warung dan sampai masuk pasar. Ketika malam tiba mereka berkumpul kembali untuk menghitung hasil mengamen dan mengemis seharian itu, mereka membeli makanan hanya 3 bungkus untuk 10 anak dan 3 ibu mereka dan paling mengharukan di antara mereka ada yang masih balita. Mereka hidup di kolong jembatan yang mungkin saja saat saat hujan lebat datang banjir tidak memberi ampun untuk mengusir mereka. "


Jelita menjeda ceritanya, menarik nafas dan menghembuskannya. Kevin yang setia mendengar sedikit menghibur perasaanya yanv sedang panas, sedikit rasa penasaran akan kisah hidup gadis di sebelahnya. Sesekali dia menatap wajah manis itu.


" Dan yang aku ambil hikmahnya adalah walaupun entah aku berasal dari mana, siapa orangtuaku, setidaknya aku masih bersyukur bisa hidup di tempat yang layak, makan minum tidur di tempat yang bersih, banyak teman dan kasih sayang seorang pengasuh yang dengan setia mendidik kami sampai saat ini. Dan tugasku adalah menjalani hidup yang Tuhan berikan dengan lebih baik lagi." Jelita tersenyum dan menatap ke arah Kevin yang juga sedang menatapnya.


" Lu cewek kuat Lit, tapi nggak buat gue. Gue hidup dengan kasih sayang sedari kecil, dan tiba - tiba gue harus terluka dengan dua hal di waktu yang bersamaan. Gue dah berusaha ikhlas, tapi gue gak bisa, selalu emosi menguasai gue, dan gak ada yang mau ngertiin gue. Di tinggal dan di lukai orang yang kita sayang itu sakit banget, gue gak tau gue bisa ngelupain ini apa nggak, sedangkan gue masih berada di lingkar derita ini." Tatapan Kevin menerawang jauh ke langit senja setiap kalimat yang dia ucap tersirat rasa kecewa dan luka yang mendalam.


" Kamu pasti bisa Vin, semua butuh waktu, gak instan seperti mie instan tinggal rebus kasih bumbu lalu dimakan ." Jelita terkekeh setelah memberi keyakinan yang berujung candaan. Kevin ikut tertawa setelah mendengar ucapan Jelita yang menurutnya menghibur hatinya.


" Lu bisa gak sih seriusan dikit ."


" Hidup jangan di buat serius mulu kali pak, pantesan anda kaku kek kanebo, serius mulu sih hidupnya."


Kevin yang gemas dengan gadis di sampingnya, spontan menarik tubuh itu kedekapannya lalu menggelitiki perutnya. Tawa Jelita meledak seketika dengan ulah Kevin.


" Astaga...hahahahaha.. ampun Vin ampun.... hahahaha" Jelita meronta untuk melepaskan diri dari dekapan Kevin.


" Bodo amat, sini... gak ada ampun." Tanpa mereka sadari, tubuh mereka dalam posisi mode romantisssssss, saling dekap dan menggelitik hihihihi.


Hingga mereka berhenti, tanpa terlepas dekapan dan tatapan dua pasang mata yang saling menatap,


diam,


hening,


semakin dekat,


lebih dekat,


tiada sekat,


dan.....


uhukkkk... ( othor keselek )


...****************...


😁


di next aja itunya 👉👈


di dukung dong ah aku-nya, biar cemungut nulisnya 😆


jangan lupa gaes like komen gift yak ...


xie xie 😘


🖤