It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Luka Yang Belum Tersembuhkan



๐Ÿฅ€


Terdengar suara motor berhenti di depan kamar kost. Dan turunlah seorang lelaki menuju depan pintu sebuah kamar.


tok tok tok


" Masuk aja bro,gak di kunci !!" teriak Kevin dari dalam kost.


" Lu ngapain di sini Vin ?" tanya Deo sahabat Kevin, setelah dia menutup pintu dan duduk di sebelah Kevin, dengan mata yang menatap sekeliling ruangan sempit itu.


" Gue semalem di hajar pasukan keong. " jawab Kevin yang masih sibuk bertukar pesan kepada teman abang ojek yang mengamankan motornya.


" Hah ?! kok bisa ?! Semalem lu menang lagi ? apa lu curang makanya lu di hajar ?" tanya Deo yang hafal akan tingkah sang sahabat.


" Yaa gue menang lah, gak ada sejarahnya seorang Kevin kalah sama geng Keong, emang semalem mereka gak terima aja gue menang, di tambah cewek bos mereka yang kek lintah itu mepet gue mulu. " dengan wajah babak belur Masih sempatnya Kevin berbangga diri.


" Cewek Lintah ? ceweknya si Rio ? hahaha, kok bisa lu katain cewek lintah ? " Deo tertawa mendengar julukan yang di sematkan untuk pacar bos lawan geng motornya.


" Ya iyalah lintah, gak bisa liat cowok cakep dikit mainnya nemplok kek lintah, abis itu di sedot semuanya..." jelas Kevin.


" oh gitu, bisa bisa darah lu di isap abis. " imbuh Deo dengan tawa semakin keras.


" Ckk, brisik lu... Bro gue minta tolong ya, sementara gue mau di sini dulu, kalo bokap sama abang gue nyari, bilang aja gak tau." Dengan santainya Kevin mencoba mengajak kerja sama untuk mengelabui keluarganya. Seketika Deo menoleh dengan mata membulat, tidak habis pikir dengan pikiran sahabatnya yang sedikit eror akibat gebugkan apa karena hal lain yang membuatnya menyuruh untuk bungkam, sedangkan dia berada di tempat yang tidak seharusnya.


" Gila lu... emang gak ada tempat lain buat lu ngumpet, selokan apa hutan sekalian!! ini kost cewek bro, gilaa.. bener-bener gila lu." Sepertinya kali ini Deo tidak bisa di ajak kompromi.


" Tolonglah bro, ini cewek juga gak keberatan kenapa lu yang ngegas? lagian udah gak ada lagi tempat sembunyi, dedengkot bokap gue pasti apal di mana biasanya gue ngumpet. Lagian gak bakal lama, apa lagi permanen gue tinggal di sini. Iya kali gue mau kumpul kebo, gue juga lagi nyari-nyari apartemen apa ruko sekalian gue mau buka usaha kecil-kecilan gitu buat hidup gue." Kevin mencoba menjelaskan agar Deo mau membantunya.


Setelah pembicaraan sengit dan ngalor ngidul, akhirnya Deo mau di ajak untuk mengikuti ide brilian versi Kevin, dan ide gila menurut Deo.


.


Di tempat lain Jelita yang baru tiba di tempat kerjanya, langsung bergegas mengerjakan apa yang biasa dia kerjakan, dari melayani pengunjung cafe dan membersihkan sisa makanan yang sudah di tinggalkan pelanggan. Detik menit jam dia lalui tanpa hambatan, tanpa dia sadar waktu pulangpun tiba. Dia bergegas meninggalkan tempat kerjanya karena pikirannya melayang ke tempat tinggalnya ada penghuni lain yang menunggunya. Hah, menunggu?? menunggu untuk apa?? makanan, minuman, pakaian, atau perhatian? Jelita tersenyum sambil menggelengkan kepalanya membayangkan hal mustahil dengan kehaluannya.


"Mikir apa sih aku." gumam Jelita sambil menepuk jidatnya pelan.


"Ah ada warung nasi goreng, aku beli aja lah, mungkin cowok itu belum makan." gumam Jelita sesaat melihat warung di sebrang jalan.


Setelah membeli dua bungkus nasi goreng, Jelita bergegas pulang dengan angkutan terakhir menuju kostnya. Sesampainya di depan kosnya, dia di buat bingung dengan adanya motor terpakir di sana.


"Ini motor siapa ya? kayaknya bukan motor cowok itu, apa salah anter ya temen abang ojeknya." gumam Jelita menebak nebak. Tidak ingin hanya menebak Jelita bergegas masuk.


"Selamat Malam.." sapa Jelita sambil mendorong pelan pintu kostnya.


"Selamat Malam..." kompak dua manusia penghuni dadakan kost seorang wanita lajang, dengan posisi yang satu berada di atas ranjang dan yang satu badan yang menyardar ranjang dengan kaki yang di selonjorkan.


"Ehh ada tamu, maaf aku gak tau." terkejut dengan keadaan Jelita berniat ingin memutar badan meninggalkan kamarnya.


"Lohh lohh mau kemana kamu?" Tanya Deo seketika tidak enak hati melihat keterkejutan wanita pemilik kost itu.


"Emm.. aku mau keluar, silahkan lanjutkan lagi, nanti aku bisa nginep di kamar temenku di ujung sana." jawab Jelita gugup sendiri.


"Kenapa lu yang gak enak gitu, ini temen gue, sengaja gue suruh kesini buat nemenin gue, sory gue gak ijin sama lu, nanti dia bakal balik pulang kok." Tanpa sadar Kevin menjelaskan bab yang seketika membuat Deo berfikir negatif.


"Gue disuruh pulang,trus dia nglarang tu cewek nginep di kamar temennya, wah mau apa ni anak, gak gak, gue gak bisa biarin ni anak kebablasan." batin Deo sambil melototkan matanya ke arah Kevin.


"Napa lu mlototin gue? ada yang salah sama wajah gue?" tanya Kevin dengan polosnya.


Jelita dan Kevin kompak membuka mulutnya. Jelita seketika ikut berfikir negatif dan seketika matanya bertemu dengan mata Kevin. Apa benar, apa yang akan di rencakan cowok yang dia tolong ini.


"Lu jangan berfikir negatif sama kek kambing ini Ta, suer gue gak ada fikiran kotor, maksud gue ini kamar lu, ya lu tidur di sini, gue tadi siang ketemu yang punya kost katanya malam ini ada yang keluar, gue mau ngisi kamar itu." Jelas Kevin, takut takut wanita di depannya berfikir yang tidak tentang dirinya.


"Ooo... baguslah, aku hampir terhasut omongan kakak ini. Kamar sebelah mana? ada yang bisa aku bantu?" tawar Jelita.


"Nggak, nggak usah makasih, lu udah bantuin gue aja dah makasih banget, lagian ada kambing ini yang bisa nolong gue pindah kesana. Kamarnya ada di sebrang kamar lu." Jelas Kevin.


"Oh ya, Ta gue bisa minta tolong lagi gak? lu tadi ada ketemu abang gue gak?" Kevin bertanya dengan nada yang berbeda dari pertama bertemu dengan Jelita. Wanita itu sampai mengerjapkan mata beberapa kali, meyakinkan pendengarannya salah apa tidak kalau yang bertanya ini si kanebo yang tadi pagi dia julukkan kepadanya.


"Ta ? hey Ta ? lu kenapa malah bengong?" Kevin melambaikan tangannya di depan wajah Jelita yang belum sadar akan pemikirannya.


"Wah bro gawat tuh cewek, kayaknya dah terhipnotis ma mulut sok imut lu." Deo terkikik dengan ucapannya sendiri.


Kevin memutar bola matanya jengah dengan godaan sang sahabat. Kevin mencoba menyadarkan dengan bertanya lagi.


" Ta, lu tadi ada ketemu abang gue nggak?" dengan nada sedikit naik satu oktaf berhasil membuat Jelita sadar.


" Ah iya maaf maaf, emm iya tadi ketemu pak Leon." jawab Jelita dengan gelagapan.


"Lu bilang gue di sini?" tanya Kevin dengan hati kawatir.


"Tidak kok, aku tidak bilang, aku pikir bukan urusan aku juga, aku tidak perlu ngasih tau kan." Kevin sedikit lega dengan jawaban Jelita yang tidak melaporkan keberadaannya.


"Huhh syukurlah, tolong gue sekali lagi ya, tolong jangan kasih tau abang gue kalo gue ngekost disini." Pinta Kevin.


"Iya aku gak akan ngomong, lagian bukan urusan ak..." belum sempat Jelita menyelesaikan ucapannya, detik itu juga dengan sekedipan mata Kevin mendekap Jelita kedalam pelukannya.


"Thanks ya Ta, Thanks banget." Kevin mengucapkan terimakasih untuk Jelita karena tidak memberitahu kepada kakaknya. Dan entah sadar atau tidak Kevin mendekap Jelita dengan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.


Jelita seketika diam dengan mata membulat, mulut menganga mencerna apa yang sedang terjadi. Mimpi? tidak, ini nyata.


" Hmmmm MODUS!!" Suara mengejek terdengar di belakang tubuh Kevin yang seketika menyadarkannya untuk segera melepas dekapannya. Dengan gugup dan salah tingkahnya Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gagal. Dia juga bingung kenapa dia bisa memeluk wanita itu, dan kenapa juga si kambing merusak momen romantis ini. Romantis? Kevin meringis dengan pikirannya sendiri, kenapa dengan dirinya? wanita yang baru di kenal dan asing baginya, kenapa dia merasa nyaman dan tidak risih untuk menyentuhnya, seperti dia risih kepada wanita lain.


"Sory.." satu kata yang terlontar untuk menyadarkan Jelita.


"Ahh iya tidak apa, emmm kamu pindah kapan? eh bukan maksud hati buat ngusir." Jelitapun di buat salah tingkah dengan baru saja yang di alaminya.


"Ini gue mau siap-siap, thanks ya bantuannya, kita masih bisa ketemu kok apalagi kamar kita hadepan. Setiap waktu bisa panggil abang, kalo neng butuh bantuan." Dengan mata sebelah yang di kedipkan Kevin mencoba menggoda Jelita yang berhasil di buat salah tingkah.


"Hah gimana?" dengan wajah ala polos Jelita di buat melongo.


Deo tertawa terbahak mendengar sahabatnya yang mencoba menggoda. Dalam hatinya dia bersyukur Kevin sepertinya menemukan obat untuk luka yang belum tersembuhkan.


๐Ÿฅ€


Hay hay readers how r u?


hihi maafkan aku yang pemalas ini, up setaon sekali ๐Ÿคฃ


mohon maap dan mohon dukungannya ya gaes ๐Ÿ˜


salam sayang dari akoh ๐Ÿ’‹๐Ÿ˜˜


๐Ÿ‘๐ŸŒนโ˜•