
🥀
Kevin Danawinarta
Pemuda 25th, berwajah tampan dingin arogan. Anak orang kaya tapi tidak ingin mengakui kekayaan orangtuanya, dia lebih senang menjadi orang biasa berkumpul dengan orang sederhana lainnya. Menurutnya kekayaan membuat keluarganya berantakan tidak ada kedamaian, egoisme menguasai, duniawi membutakan mata akan rindunya kebersamaan sebuah hangatnya keluarga.
Dari dulu memang Kevin suka menyendiri menjauh dari keramaian, dia lebih nyaman dengan sahabatnya dari kecil Rio. Tapi lebih sering dia menyendiri, hingga kala Sekolah menengah atas dia dekat dengan seorang wanita yang dia rasa nyaman untuk bercerita, dan sama merasakan kurangnya kasih sayang keluarga. Dia pikir mereka sepemikiran sependapat dan senasib. Menjalin hubungan dan berharap akan kecocokan mereka akan selamanya terjalin dan akan menuju hubungan yang lebih baik lagi. Tapi semua harapannya sirna setelah kelulusan sang wanita memutuskan mengabdikan diri untuk melanjutkan cita-citanya di negara orang. Tanpa pamit tanpa memberi kabar dia lenyap bagai di telan bumi, dan semakin membuat seorang Kevin menjadi semakin dingin akan lingkungan dan membuatnya melampiaskan dengan balap liar. Lebih menyakitkan bagi seorang Kevin adalah sebuah kabar dimana sang kekasih di kabarkan telah bertunangan dengan pengusaha muda di tempatnya menimba ilmu.
"Sampai saat ini pun aku belum bisa melupakanmu Sel." gumam Kevin yang tengah berbaring di bawah pohon rindang dengan menutup wajahnya dengan kedua lengannya.
"Kenapa kamu tega, kenapa?!" rasa emosi bergejolak di hati Kevin setiap dia mengingat penghianatan sang kekasih.
Aaarrrrggghhhhh....
Dia berteriak bangkit dari baringnya. Tanpa dia sadari ada dua pasang mata yang terkaget dengan geramannya.
"Dia kesambet apa Cik?" tanya Jelita.
"Gak tau lah, dari tadi kan kita diem aja." jawab Cika juga terheran-heran.
...****************...
Beberapa waktu berlalu, Jelita baru saja menyelesaikan kerjaannya di cafe dan bergegas menuju halte untuk menunggu bus untuk membawanya pulang. Tapi ternyata bus tak kunjung juga datang, padahal hampir sejam dia menunggu.
"Ah tumben bus gak lewat, ck mesti ngojek nih.
Nah itu dia, rejeki abang ojek. Bang.. bang ojek bang!" teriak Jelita melambaikan tangan untuk menghentikan sang abang ojek.
"Bang jalan pemuda ya bang." Jelita lekas naik ke atas motor setelah mengatakan arah tujuannya ke abang ojek.
Beberapa saat dalam perjalanan tiba-tiba.
"Eh neng ada orang berantem noh di depan." Bang ojek memberitahu Jelita kalau ada segerombolan orang terlihat sedang mengroyok seorang pemuda.
"Iya bang iya, tolongin itu bang, aduh kasihan, mana satu orang di keroyok gitu, buru tolongin bang!" panik Jelita.
"Aduh neng abang gak berani, itu kroyokan, ntar abang di kroyok gak bisa narik anak bini makan apa." pasrah bang ojek yang memang takut untuk membantu.
Karena terlihat yang sedang beradu hantam adalah anak muda seperti comunitas motor. Dan keadaan lingkungan pas sedang sepi.
"Aduh gimana itu, bisa meninggal itu orang kalo gak di tolong." Jelita mondar mandir bingung ingin menolong tapi tidak mungkin.
"Coba neng teriakin ada polisi." Saran yang sangat cemerlang dari abang ojek.
"Ah iya iya ide bagus bang, abang tunggu sini aku mau kesana coba teriak minta tolong dan ada polisi." ucap Jelita dan bergegas menghampiri area pengkroyokan itu.
"Tolong... tolong... polisi tolong disini ada pengkroyokan!" teriak Jelita setibanya dekat dengan segerombolan pemuda yang terkejut dengan teriakannya.
"Sialan!! ada polisi ayo buruan cabut!" seru salah satu anak geng motor itu yang kira" ada lima orang langsung tunggang langgang menaiki mogenya.
"Pergi sana jauh jauh huss." teriak Jelita mengibaskan tangan seolah sedang mengusir.
Jelita begitu syok melihat siapa korban itu.
"Kamu? kok bisa sampe di kroyok gini sih, aduh dia gk sadar lagi, gimana nih? bawa ke rumah sakit? ah gak gak, aduh gimana nih." panik Jelita.
"Neng neng kenapa mas nya ?" tanya abang ojol ketika baru sampai.
"Duh bang dia temenku, keknya setengah sadar, kita bawa apa gimana nih?" tanya Jelita masih dengan kepanikannya.
"Neng kenal? bawa ke rumahnya aja." usul abang ojek.
"Aduh masalahnya aku gak tau rumahnya bang." Jelita menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk mencari ide mau di bawa kemana si korban.
"Ya udah keburu malem bawa aja ke kosan aku bang, ntar aku kabarin keluarganya." ide spontan yang terlintas di kepala Jelita. Bisa saja kan di bawa ke Rumah sakit. Entah apa yang Jelita pikirkan.
"Iya udah bonceng 3 gapapa udah malem juga, alamat rumah eneng juga deket." bang ojek menerima ide Jelita.
"Trus motornya itu gimana?" Tanya Jelita juga bingung dengan nasib motornya.
"Ntar temen saya suruh amanin, ada temen saya deket sini kok, bentar saya hubungin dulu." Abang ojek sedang menghubungi temannya. Sedang Jelita mencoba menyeka darah di ujung alis lelaki itu yang ternyata adalah Kevin.
Ya Kevin di keroyok dengan teman lawan mainnya adu balap motor, yang tidak terima akan kekalahan mereka. Jelita mencoba menyadarkan Kevin, sepertinya Kevin memang tidak sadarkan diri.
"Gimana bang?" Tanya Tami yang melihat abang ojek telah selesai dengan panggilannya.
"Udah neng, ntar mau kesini, aman sama kami, kami orang baik kok, ntar abang kasih nomer hapenya. Ya sudah ayok angkat keburu malem kasihan masnya." ajak bang ojek.
Setelah susah payah memapah Kevin ke atas motor yang di apait Jelita dan abang ojek. Motor melaju berlahan menuju kost Jelita.
Setelah sampai dan membantu Jelita memapah Kevin kedalam kostnya, Jelita mengucapkan terimakasih dan meminta nomer telepon yang tadi membawa motor Kevin.
Jelita menyiapkan air yang sudah di campur antiseptik. Dengan perlahan dia membersihkan luka pada wajah Kevin yang terlihat lebam membiru. Masih dengan ketidak sadarannya, di tengah usapan Jelita di wajahnya Kevin mengigau.
"Pelan - pelan bun, sakit..." igau Kevin yang membuat Jelita menghentikan kegiatannya. Jelita menatap wajah Kevin yang mengeluarkan banyak keringat dan seperti mengigau merasakan sakit yang teramat.
"Kenapa dia? seperti memendam sakit yang dalam." batin Jelita masih memandang wajah Kevin yang sudah penuh dengan keringat. Jelita menyeka keringatnya dengan tissu.
"Kalo sedang seperti ini dia kelihatan lemah dan tidak se arogan saat sadar. Siapa sebenarnya dia? dan kenapa?" masih dengan memandang wajah Kevin yang tengah tertidur diatas ranjang sempitnya dalam sebuah kost. Dia penasaran siapa Kevin di balil sikap dingin dan arogannya. 🤔
...****************...
to be continue....alias bersambung 🤭
mohon dukungannya ya gaes seikhlasnya, mampir baca karya recehku ini, syukur syukur mau like rate komen apalagi ngasih kado alias gift 😁
xie xie ni 😉😘
Erna T.u 🖤