It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Cafe



🥀


BUUGG....PYAARRRR


"Aduh maaf kak maaf." Seorang waiters mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil menunduk mengucapkan kata maaf berulang kali, setelah tidak sengaja menyenggol seorang pelanggan cafe dan menjatuhkan makanan yang dia bawa.


"Cckk... lu punya mata gk sih !! kalo masih niat mau kerja di sini yang bener dong !!" Bentak seorang lelaki yang pakaiannya sudah kotor dengan tupahan makanan yang tidak sengaja tersenggol dan akhirnya berserakan.


"Udalah bro, dia gak sengaja, lagian dia juga nggak lihat lu tadi berdiri. Emangnya dia cenayan yang harus sigap menghindar kala lo langsung putar badan." Seorang temannya mencoba untuk menenangkan ketegangan yang terjadi.


"Ada apa ini?" Seorang lelaki tampan mendekat dengan setelan kemeja santai yang terlihat seperti pemilik cafe mendatangi keributan.


"Kak lu cari pegawai yang bener dikit kek, nerima pegawai kok kek gini." Ucap lelaki yang memaki pegawainya ternyata sang adik pemilik cafe itu.


"Dek lu kenapa sih ?! setiap abis berantem sama ayah lu luapinnya ke semua orang yang gak ngerti apa - apa. Gue liat dari tadi lu yang sembrono, pegawai gue gak salah, dia gak sengaja malah lu bentak - bentak." Ocehan sang kakak yang membuat lelaki itu semakin membuat amarahnya bertambah.


"Bullshit kalian semua, gak ada yang ngertiin gue, termasuk elu kak!!" Dengan jari telunjuk yang mengarah ke wajah sang pemilik cafe.


Dengan langkah tergesah dan sesekali kakinya menendang barang yang menghalangi langkahnya. Semua pengunjung terfokus akan kericuhan yang baru saja terjadi. Disusul sang teman yang tadi melerai, setelah meminta maaf kepada semuanya, berlari mengejar lelaki yang sedang tersulut emosinya.


"Kamu tidak apa kan?" tanya sang bos.


"Iya pak saya tidak apa-apa, maafkan saya yang bekerja tidak hati-hati." jawab sang pegawai yang sedang membersihkan semua benda yang tadi tak sengaja terjatuh.


"Bukan salah kamu, dia tadi adik saya, memang begitu sifatnya arogan tidak jelas, marah marah, selalu balap liar, dan sering tidak pulang ke rumah. Itulah alasan ayah saya sering memarahinya." tanpa sengaja sang bos menceritakan sikap sang adik yang baru saja membuat kehebohan tempat usahanya.


"Maaf sekali lagi pak, ini sudah bersih saya kembali ke dalam." Bukan bermaksud mengabaikan omongan sang bos, tapi dia merasa itu bukan urusannya. Kehidupannya mungkin lebih miris dari kehidupan orangkaya di depannya.


"Ah iya silahkan, setelah ini bersiap untuk pulang, kita tutup cafe agak awal." pesan sang bos.


"Baik pak, saya permisi." Pamit sang pegawai meninggalkan sang bos yang masih setia berdiri di tempat melihat sekeliling cafenya.


Jelita,


Sang Gadis 25th sang pegawai yang tertutup, tidak pernah ingin tahu semua urusan di lingkungannya, merasa acuh dan misterius di setiap diam dan senyumnya. Dia mudah bersosialisasi dengan teman kerjanya yang lain. Tapi juga pandai menutupi privasinya. Sang pegawai cafe yang rajin dan disiplin, banyak yang menyukai kehumblelannya, ramah dan mudah memahami setiap tugas yang di berikan. Itu alasan semua pegawai sangat menyukainya, termasuk para pegawai lelaki yang penasaran akan dirinya yang susah untuk sekedar di ajak nongkrong.


Ini sepenggal cerita Jelita di lingkungan kerjanya.


Leon Danawinarta,


Sang Bos 35th pemilik cafe dimana Jelita bekerja, sebenarnya dia adalah Pengusaha muda sukses yang memegang beberapa anak cabang dari perusahaan sang ayah yang bergerak dalam bidang otomotif, yang sukses merambah ke Dunia. Alasan dia mendirikan cafe karena cafe adalah tempat favorit sang kekasih yang sedang mengenyam pendidikan di Negara orang. Selain untuk menghibur kejenuhannya di dunia bisnis, dia juga suka berexplore di dunia kuliner.


Ini sepenggal cerita Leon di sisi lain kesuksesannya sebagai Pengusaha.


...****************...


Jelita berdiri di pinggir jalan dengan earphone menempel di telinganya. Lagu favorit yang selalu menemani dirinya menunggu bus untuk mengantarkannya ke tempat kost sederhana.


Selang beberapa saat bus datang dan membawa dirinya melintas hiruk pikuk jalanan kota. Pandangannya menerawang jauh keluar jendela, sebuah kenangan sekelebat melintas di pikiran.


"Semoga kamu bahagia kak, aku mencoba ikhlas walau hati ini sakit." Batinnya berucap dan setetes airmata tiba-tiba terjatuh di pipinya.


Kenangan yang pernah membawanya menuju sebuah keterpurukan. Sebuah harapan besar dari perhatian dan kasih sayang yang belum dia rasakan sedari kecil. Harapan besar untuk masadepannya yang ternyata harus terenggut karena sebuah kegoisan.


"Apa aku tidak pantas bahagia, apa aku tidak pantas mendapatkan kasihsayang, Ya Tuhan barusaja aku merasakan hangat keluarga, kenapa harus terenggut karna urusan duniawi. Hiksss sakit Tuhan sakit.... dia yang selalu memberiku hal yang belum aku rasakan, perlindungan dan kasihsayang, dia juga tega meninggalkanku karna sebuah kegoisan. Aku tidak percaya lagi dengan janji-janji sebuah komitmen. Hanya menyakitkan, menjatuhkan, meremehkan. Apa karna aku anak panti yang tidak jelas asal usulnya." kembali airmatanya meluruh semakin deras. Setiap kali hal menyakitkan terlintas di otaknya.


Itu berulang terus, menangis dalam diam setiap dia merasa sendirian walaupun di keramaian.


Selalu merasa takdir tidak pernah adil pada hidupnya. Sengsara sedari kecil, tidak pernah tau siapa orangtuanya, kenapa dia bisa berada di panti asuhan, kenapa dia sering tersakiti dengan hinaan orang, dan terakhir kenapa dia harus di hianati oleh seseorang yang sudah dia anggap orang paling tepat bisa melindunginya, bisa mendampinginya sampai tua, membawa dia merasakan apa itu arti keluarga bahagia.


Dia selalu belajar tegar, belajar tangguh, belajar menjadi wanita yang tidak lemah dan cengeng, agar tidak di hina lagi, di remehkan, dan di rendahkan. Cukup dulu waktu dia masih di panti, sekarang dia yang harus bisa melindungi keluarganya yang dulu selalu melindunginya, ya keluarga panti termasuk sang bunda pengurus panti yang sudah merawat, membesarkannya dengan kasih sayang. Kini gilirannya yang harus melindungi semua keluarga panti.


Terserah lingkungan menghujatnya, meremehkan, dan menghinanya karena asal usulnya. Yang dia tahu adanya dia di dunia entah dari rahim siapa dia lahir, berarti Tuhan telah percaya kepadanya untuk di uji menghadapi ujian-ujian hidup.


...----------------...


*hay hay gaes,ini novel keduaku...


semoga gak gaje amat ya 🤭


yang TDUD masih up kok, selingan ma novel ini 😁


semoga suka...


minta dukungannya like rate komen giftnya ya gaes.


xie xie ni 😘


🥀*