
🥀
Seminggu telah berlalu...
Merasa sudah terlalu lama Kevin menginap di tempat temannya yang bergabung dengan bengkel yang di gunakannya untuk menenangkan diri dengan menyalurkan bakatnya disana.
Selain ingin menghindari Jelita, Kevin juga menghindari teror ayahnya yang selalu mengirim seorang pengawal untuk memintanya pulang. Kevin tentu belum ingin pulang, sebelum suasana hatinya sendiri yang menginginkan dirinya pulang.
Memutukan untuk kembali ke kostnya, dan memastian Jelita masih marah apa tidak terhadapnya. Sesampainya di kamarnya, dia memperhatikan pintu kamar Jelita yang tertutup, mungkin sudah pergi pikirnya. Dia memutuskan untuk membersihkan diri dan pergi ke Cafe Kakaknya, berharap nanti dia bisa bertemu dengan Jelita.
Ngampus?
Ahh bab ini jangan di tanya, anak sultan mah bebas, tidak sekolah dia bisa lulus dengan mudah. Jadi ngampus ya sesuai mood Kevin saja, tapi waktu dia dekat dengan Jelita semangat belajarnya memang ada, tapi setelah di diamkan Jelita moodnya berubah malas kembali.
...----------------...
Cafe
"Loh Vin, kamu kemana saja, tumben baru kesini?" tanya sang kakak setelah melihat sang adik baru mendudukan dirinya di sofa ruang kerjanya.
"Modif motor kak, suntuk gue makanya nyibukin diri." jawab Kevin dengan lesu.
Leon mengamati wajah adiknya yang tidak bersemangat itu, dia tidak akan membahas urusan keluarganya termasuk sang ayah yang mungkin akan menambah buruk suasana hati adiknya. Tapi dia juga penasaran apa mungkin adiknya sedang ada masalah dengan pegawainya, yang dulu terlihat akrab tapi seminggu ini tidak terlihat bersama lagi.
"Kamu ada masalah sama Jelita?"
"Kenapa kakak nanya gitu? sok tau lu kak."
"Soalnya kakak lihat yang biasanya kamu bareng Jelita ahir-akhir ini kayak berjauhan, kamu yang tiba-tiba hilang, Jelita yang kelihatan biasanya bersemangat kerja jadi murung, apalagi sekarang dia sedang sakit..."
"Apa ?! Jelita sakit ?! sejak kapan kak?!"
"Kemaren sih kakak lihat wajahnya dah pucet, dia ke Cafe kemaren juga dalam keadaan basah kuyub karena kehujanan, dan tadi dia kirim pesan ijin gak masuk kerja karena sakit, ya kakak ijinin."
"Thanks kak, gue balik dulu..."
"Eh mau kemana kamu?" Leon di abaikan sang adik yang sudah berlari meninggalkan ruangannya, dia tahu pasti Kevin akan menemui Jelita, dia juga melihat adiknya nampak khawatir setelah dia menjelaskan Kalau Jelita sedang sakit. Ada senyuman di bibirnya, dia berharap adiknya bisa berubah karena Jelita si gadis baik yang di yakininya adalah kiriman Tuhan untuk meluluhkan kerasnya hati Kevin.
🖤
Kevin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Rasa khawatir menguasai hati dan fikirannya setelah mengetahui Jelita sakit dari kakaknya. Tidak peduli umpatan banyak orang yang dia dapat karena laju motornya yang mungkin bisa membahayakan orang lain.
Setelah sampai di depan pintu kamar Jelita, tanpa mengetuk pintu Kevin langsung masuk kedalam melihat keadaan Jelita yang sedang meringkuk di balik selimut tebal dengan wajah pucat pasih.
"Lita,..." Kevin berjongkok di depan tempat dimana Jelita sedang tertidur. Dia mengecek suhu badannya, dengan menempekan punggung tangan ke dahi Jelita.
"Ya ampun, lu panas banget, Lit,... kita kerumah sakit ya, badan lu panas banget." Kevin terlihat panik saat mengetahui suhu badan Jelita yang panas.
Jelita mengerjapkan mata berulang kali, dia merasa ada yang memanggilnya, suara yang beberapa hari ini dia rindukan, apa dia mimpi? dia pejamkan lagi matanya sesaat dan membuka kembali, melihat dengan jelas Kevin yang tengah khawatirkannya.
"Vin... ini kamu?"
"Iya ini gue, lu panas banget Lit, kenapa nggak ngasih tau gue sih kalo lu sakit."
"Aku gak apa apa Vin, cuma demam biasa, aku dah minum penurun panas,nanti juga mendingan."
"Demam biasa apa, lu pucet banget gini, kita kerumah sakit ya, sekarang pake jaket ini, lu kuat nggak naik motor, gak sempet nyari taxi jadi gue boncengin naik motor biar cepet."
"Nggak ada bantahan!!"
Jelita yang di bantu Kevin menurut saja saat di pakaikan jaket seperti anak kecil yang sendang di pakaikan pakaian ayahnya. Kevin berjongkok untuk memasangkan kaos kaki, lalu memakaikan syal agar Jelita dalam kondisi hangat.
Kevin bergegas menuntun Jelita yang terlihat lemas, membimbingnya untuk membonceng dirinya.
"Lu pegangan yang erat ya, kalo lu gak kuat bilang aja, ntar gue berhenti."
"Iya..." Jelita hanya bisa pasrah dengan perhatian Kevin, karena dia sudah sangat lemas tidak mungkin untuk mendebat Kevin yang terlihat heboh itu.
Jelita berpegang kuat dengan melingkarkan tangannya je perut Kevin. Berulang kali Kevin menggengam tangan Jelita, berharap bisa meringankan rasa dingin yang Jelita rasakan.
"Sabar ya, sebentar lagi sampe, lu masih kuat kan?" tanya Kevin sambil menoleh sebentar ke belakang untuk melihat wajah Jelita yg masih pucat.
"Iya..." hanya itu yang bisa Jelita jawab.
Jelita merasa lemas, nyaman, dan tenang secara bersamaan kala dirinya mendekap erat tubuh besar Kevin, apalagi saat tanganya di genggam Kevin, jantungnya berdesir hebat, serasa ingin pinsan batinnya.
🖤
Rumah Sakit
Deru motor sport memekakan telinga di depan UGD Rumah Sakit. Kevin menurunkan Jelita dengan pelan, tiba - tiba Kevin berteriak minta tolong, Jelita sangat malu dengan ulah berlebihan manusia Kanebo di sebelahnya.
" Dokter !! Suster !! tolong !! ada yang sakit ini !! " teriak Kevin.
Seluruh tenaga medis yang bertugas segera berhambur keluar mendengar teriakan di luar ruangan. Mereka membawa brangkar untuk membawa Jelita masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
" Mas, tolong tunggu di luar, pasien akan di periksa dokter terlebih dahulu."
" Tapi sus..."
" Kalau mas masuk, akan menghambat pemeriksaan, tolong pengertiannya."
" Baiklah..."
Dengan rasa khawatir Kevin mencoba menunggu dengan duduk di kursi yang di sediakan di depan ruang periksa.
Beberapa saat kemudian,
Ceklek
Pintu ruang terbuka, nampak seorang Dokter keluar dari ruangan.
" Dengan keluarga Nona Jelita?"
" Saya Dok,... "
" Anda dengan siapanya pasien? "
" Saya...... "
...****************...
ngaku siapa ya???🤔