
π₯
"Saya sepupunya dok."
"Apa tidak ada wali lain? "
"Tidak Dok, dia yatim piatu."
"Oh baiklah, Nona Jelita hanya kelelahan, hanya demam biasa, dan sementara waktu harus banyak istirahat."
"Syukurlah, bolehkah saya melihat keadaannya Dok?" tanya Kevin.
"Silahakan, tapi tetap nona Jelita harus banyak Istirahat, saya harap anda juga bisa ikut mengingatkan."
" Tentu Dok, terimakasih."
Setelah mendengar penjelasan Dokter, Kevin segera masuk kedalam ruangan dimana Jelita di rawat. Dia melihat wajah lemah itu sedang menutup matanya, karena baru saja di beri obat tidur oleh perawat. Kevin duduk di sebelah Jelita berbaring, dia menatap wajah pucat itu dengan perasaan aneh tentunya, rasa bersalah, kasihan, dan ingin melindungi.
" Kenapa jadi kayak gini sih Lit ? lu ngapain aja kemaren, sampe ujan - ujanan segala."
Cukup lama Kevin menemani Jelita dengan melihat tutorial modif motor di ponselnya. Karena lelah tanpa terasa dia mulai tertidur dengan kepala yang di letakkan di dekat tangan Jelita.
...----------------...
Esok hari,...
Jelita mengerjapkan mata, menyesuaikan sinar yang masuk ke netra matanya. Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Asing, iya.. ruangan putih dengan bau obat menyeruak kepenciumannya. Dan rasa kebas di sebelah tangannya yg tertancap jarum infus.
Tanpa sengaja dia menyenggol kepala seseorang yg tengah tertidur di sebelah tangannya. Jelita kaget melihat Kevin tertidur menemaninya di sana.
" *Dia menemaniku semalaman ?"
" Kenapa di saat tidur sifat menyebalkannya berganti dengan babyface gini, lucu*..." batin Jelita sambil terkekeh.
Dengan tangan lemah Jelita berusaha membangunkan Kevin dengan menepuk pundak Kevin pelan.
"Vin,.. hey bangun.." ucap Jelita.
"Hmmmm..." Kevin menjawab dan mulai membuka matanya. Kevin merentangkan tangannya merenggangkan otot yang kaku karena tidurnya yang sambil duduk.
"Hey, lu dah bangun? mana yang masih sakit? masih pusing?" seberondong pertanyaan dia beri kepada Jelita. Gadis itu terkekeh dengan wajah lucu Kevin.
"Udah mendingan kok, kamu kenapa tidur di sini? nggak kuliah?" tanya balik Jelita.
"Mana mungkin gue pergi, lu di sini sama siapa? lagian gue juga khawatir kalo lu kenapa napa lagi."
"hahahaha,..." tiba-tiba jelita tertawa mendengar jawaban Kevin.
"Kenapa ketawa? ada yang lucu?" Kevin mengerutkan kening tidak mengerti kenapa Gadis di depannya itu tertawa.
"Kenapa kamu khawatir hmm, kita bahkan kemarin diem-dieman, kamu juga ngilang gitu aja, tetiba kamu datang ke kost dan ngawatirin aku?"
Jelita senang sebenarnya di khawatirkan seseorang yang beberapa hari ini membuat hatinya kalang kabut tak tentu arah.
"Ya... yaaa karna gue peduli, iya... peduli, siapa lagi coba yang peduli sama lu di lingkungan kost. Kemaren gue ke cafe kak Leon dan dia bilang lu ijin sakit, lagian lu kenapa pake ujan-ujanan segala sih kayak anak kecil!"
Ada raut sedih pada wajah Jelita, dia berfikir bahwa Kevin hanya kasihan kepadanya, bukan karena perasaan lain. Jelita sadar mungkin Kevin tidak ada rasa kepadanya. Ah buat apa berharap, toh lelaki itu juga tidak akan selevel dengan dirinya.
"Oh peduli? terimakasih atas kepedulian kamu, kemarin aku telat bis terakhir, trus aku naik ojek, dan aku nggak bawa jas hujan, ya terpaksa kan aku ujan-ujanan. Lagian dah biasa kayak gini, mungkin imunku lagi gak baik aja makanya sakit." dengan tertunduk lesu Jelita menjaskan kejadian yang membuatnya jatuh sakit.
"Lu kan bisa naik taxi, ngapain nyari penyakit gitu." ucap Kevin.
Jelita mengangkat wajahnya dan menatap mata Kevin. Lelaki ini mana paham dengan kondisinya yang memang harus berhemat untuk hidupnya.
"Kamu pikir naik taxi dengan jarak cafe ke kost itu cuma cepek? bahkan ongkosnya tiga kali lipat dari naik bus umum!! naik ojek juga terpaksa dan aku harus ngeluarin ongkos dua kali lipat dari bus!! aku bukan kamu yang bisa ngeluarin uang tanpa mikir besok harus makan apa, uangku harus cukup buat ongkos lagi, berhemat sampe gajian!!
dan sekarang aku harus mikir biaya rumah sakit,... hah ya Tuhan... kalo aku gak lemes semalam aku gak mau ikut kamu ke rumah sakit, pasti mahal, minum obat warung juga sembuh."
Kevin terhenyak mendengar keluhan Jelita. Begitu susahkah dia hidup? sesusah dia kah yang saat ini berusaha mandiri, tanpa harta keluarganya? sedangkan dia pun harus memodif motor dahulu dan balapan liar agar mendapat uang yang cukup banyak. Sedangkan Jelita? dia yang bekerja di cafe kakaknya sampe mengeluh seperti ini. Apa gaji dari cafe kakaknya tidak cukup untuk kesehariannya?
"Bukan gitu maksud gue Lit, lu kan bisa minta tolong temen lu apa kak Leon buat nganterin lu pulang. Kalo lu sakit gini kan lu juga yang susah kan? untuk biaya rumah sakit semalem kak Leon hubungin gue, dia yang bakal nanggung biayanya. Karna lu sakit juga karna baru pulang dari cafe dia, jadi lu gak usah kawatir." Kevin berusaha menenangkan kegelisahan Jelita akan biaya rumah sakit.
" Gak usah, tabunganku masih cukup kok buat bayar Rumah sakit, aku gak enak sama pak Leon, dia udah banyak bantu aku, aku masih di terima kerja di sana sambil kuliah aja dah syukur banget."
"Udah gak usah bawel, tinggal trima aja crewet amat!!"
"Ckkk.... dasar pemaksa." gumam Jelita.
"Apa lu bilang?!" tanya Kevin yang samar mendengar Jelita mengatainya pemaksa.
"Nggak, aku gak bilang apa-apa."elak Jelita.
"Yakin? tadi gue denger lu ngatain gue." Kevin mendekatkan tubuhnya ke arah Jelita. Jelita mundur sampai menyandar ke sandaran ranjang pasien.
"emmm, iya aku gak bilang apa-apa kok, eh eh kamu mau apa?" Jelita semakin panik saat melihat wajah Kevin semakin dekat hanya beberapa senti di depan wajahnya yang masuh pucat.
"lu tadi ngatain gue pemaksa kan? tatap mata gue!! gue bakal nunjukin apa itu pemaksa."
"nunjukin apa maksud...emmmmmmm."
Secara mendadak Kevin menyambar bibir pucat Jelita, awalnya terkesan memaksa, memangut dan menggigit bibir Jelita agar terbuka. Jelita mencoba memberontak dengan mendorong tubuh Kevin. Tapi tenaganya habis karna kondisi tubuhnya yang masih lemah, dan tidak di pungkiri Jelitapun menikmati ciuman itu, perlahan dia mengikuti setiap sentuhan bibir Kevin, walaupun dengan kekakuannya.
Kevin memejamkan mata menikmati bibir manis itu, dia tidak menghiraukan Jelita yang tadi sempat memberontak, dan dia tersenyum puas saat Jelita menyerah. Ciuman itu berubah menjadi ciuman lembut. Dia eksplore bibir sampe mengabsen setiap ruang di mulut Jelita. Tanpa sadar lenguhan terdengar merdu di telinga Kevin.
Masih dalam nuansa romantisme perciuman, Kevin menekan tengkuk Jelita agar semakin dalam dia menikmati.....
BRAAAKKKKKK....
"Jelit......aaaaaa????"
...----------------...
ono opoooo ????π²
Ono kalian yang masih setia bersama ku di kehaluan ini.. uhukk
makasih besti masih stay menunggu up yang aduhayyyy kayak nunggu gerhana matahari ππ€£
makasih yang masih setia dengan gift vote komen dan like nya ya gaesπ