It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Kamar Kost



🥀


Kevin mengerjapkan mata, menetralkan pandanganya dengan cahaya dari cela jendela yang menerpa wajahnya. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, dia bingung sedang berada dimana.


Kreeekkk...


Suara pintu kamar terbuka dari luar, dan muncul sesosok wanita dengan pakaian santainya dengan wajah yang segar setelah mandi.


"Elu?! ngapain lu di sini?!" Kevin terkejut mendapati wanita yang menurutnya selalu tertimpa apes setiap bertemu.


"Ngapain? hello, ini kamar aku, ya suka-suka aku dong mau ngapain." jawab santai Jelita.


"Hah, kamar lu?" masih dengan keterkejutannya Kevin mengedarkan pamdangannya kembali.


"Kenapa gue bisa di kamar ni cewek, semalem kan gue berantem... ahh sial gue gk sadar waktu si brengsek itu pukul tengkuk gue." Batin Kevin sambil mengelus tengkuknya yang masih terasa linu.


"Eh kamu kenapa? masih sakit kah?" Tanya Jelita panik, sambil mendekati Kevin.


"Eh eh stop!! mau ngapain lu deket deket." Kevin memundurkan duduknya merasa waspada.


"Ya ampun, kamu pikir aku mau ngapain? semalem yang bawa kamu, yang ngobatin kamu siapa,hah? gak ada makasihnya ya jadi orang, tau gitu aku biarin kamu tidur di jalan semalem." Jelita terlihat kesal dan berjalan menuju meja makan mini yang biasa di gunakannya untuk semua aktifitas seperti makan, menulis dan lainnya.


"Yang suruh lu bantu gue siapa? buat apa gue ngucapin makasih?" Masih dengan arogannya Kevin menimpali, tapi semua ucapannya tidak sesuai dengan kata hatinya, itu semua karena gengsi semata.


"Apa?! ya ampun, nyesel aku bantu kamu, sekarang kamu pergi deh dari kost aku, sana pergi." Usir Jelita yang geram dengan sikap Kevin.


"Eh eh gak gak, gue becanda, lu tega suruh gue balik dengan kondisi gue kayak gini?" Akhirnya si arogan memelas juga.


"Yang tadi ngoceh katanya siapa yang suruh bantu, bla bla bla sekarang bilang becanda, wah bener-bener kamu makhluk planet langka." Gerutu Jelita sambil memindahkan bubur yang tadi pagi dia beli sebelum mandi.


"Di kira gue alien apa, ya sorry dan thanks dah nolong gue, seharusnya semalem lu gak usah bantu gue, gue lebih milih mati dari pada harus ketolong." Kevin menundukan kepalanya dan terlihat kesedihan di sana.


"Eh dudul, aku gak setega itu ya, lagian idup mati Tuhan yang nentuin, adanya aku nolong kamu berarti Tuhan masih nyuruh kamu tetep idup." Jelita sedikit terjengkit ketika mendengar menuturan Kevin yang lebih baik mati daripada tertolong. Kenapa dia?


"Tapi gue ngerasa gak pantes buat idup, percuma gue idup kalo gak bisa nglindungin orang yang gue sayang." jelas Kevin.


Jelita melihat sorot mata sedih dari si arogan itu, sememilukan itukah hidupnya di balik arogansinya. Apa lebih parah dari hidupnya.


"Makan dulu trus minum obat." Jelita menyodorkan semangkuk bubur kehadapan Kevin. Dia mencoba tidak peduli seperti dia bersikap kepada yang lain. Tapi entah kenapa ke Kevin dia lebih penasaran. Dia ingin tahu, tapi apa hak dia.


"Gue gak selera." tolak Kevin.


"Astaga, kamu gak kasihan ma aku, subuh-subuh ke depan komplek buat beliin kamu obat sama sarapan, biar kamu bisa cepet pulih, dan pergi dari sini!" Sebal Jelita.


"Elu ngusir gue?" Kevin melebarkan matanya menatap Jelita.


"Ijinin gue tinggal disini sampe tubuh gue pulih." pinta Kevin.


"Hah? kamu gila apa, ini kost kamar sempit bro, aku kamu suruh tidur dimana hah!" sentak Jelita.


"Pliese, gue males balik rumah, yang ada gue tambah parah ini sakit, gue bayar deh berapa mau lu." Kevin mencoba bernegosiasi dengan Jelita.


"Bukan masalah itu, aduh, walaupun disini bebas tapi aku juga baru kali ini bawa cowok, aku takut..." Jelita menggantung bicaranya. Seperti paham apa yang ada di kepala Jelita Kevin menimpali.


"Takut gue nidurin lu? hahaha ya enggak lah, mana selera gue ma body triplek kayak gitu." Kevin tertawa terbahak-bahak.


"Sialan, kampret, dudul, otakmu astaga... Cepet makan tuh bubur keburu dingin, trus minum tu obat." perintah Jelita setelah melayangkan sebuah pukulan bantal ke wajah Kevin.


Kevin memakan bubur itu dengan pelan, Jelita memperhatikan setiap gerak tubuh Kevin.


"Inikah sisi lain arogan dan kakumu? kamu bisa tersenyum dan tertawa, kenapa tiap hari kamu bersikap dingin?" Batin Jelita masih memperhatikan.


"Kenapa liat -liat terpesona ma gue?" Kevin kembali dengan pedenya menggoda Jelita.


"Terpesona?! pengen nabok iya." Dengan wajah sebal Jelita kembali melayangkan bantal ke lengan Kevin.


"Aw aw aw, lengan gue." Kevin pura-pura kesakitan, dan itu sukses membuat Jelita panik.


"Eh apanya yang sakit, aduh mana mana,maaf aku gak sengaja, salah kamu sendiri ngatain aku terpesona." panik Jelita.


"Hahaha lu ternyata lucu juga pas lagi panik gini." Kevin tergelak melihat kepanikan Jelita.


"Ish nyebelin banget sih, gak lucu tau." Jelita pergi meninggalkan Kevin dengan menghentak hentakan kakinya.


"Eh mau kemana?" Masih dengan kikikannya Kevin menahan langkah Jelita dengan bertanya.


"Cari makan laper." tanpa menoleh Jelita keluar dari kamarnya.


Kevin melanjutkan sarapannya dan meminum obat yang telah di belikan oleh Jelita, dia masih setia menatap kamar kost itu dan merasakan kenyamanan yang belum dia dapat dari sebuah rumah bak istana tapi penuh bencana.


"Kenapa dia bisa betah dengan kamar sempit gini, mana gak ada ac, pake kipas buntut juga, tapi yaaa lumayan nyaman sih." gumam Kevin masih menyorot setiap sudut kamar itu.


...****************...


mana goyangan jempolnya gaes, kuylah rate 5⭐ aku tunggu, likenya dong, komen komen jangan lupa... ehh ehh gift gift kuylah senggol.🤣🤣


makasih masih setia dengan karya ini, 😘


Erna T.u 🖤