It'S Me Jelita

It'S Me Jelita
Menahan Gengsi



🥀


Beberapa hari setelah drama pantai,


Jelita dan Kevin serasa menjaga jarak mereka, Jelita yang masih merasa marah dengan Kevin, sedangkan Kevin masih malu dengan perlakuannya kepada wanita itu.


Kevin juga merasa ada yang kurang di setiap harinya, tidak ada yang sering teriak - teriak, cerewet, dan suka dia godai. Serasa anak kecil yang sedang bermusuhan, saling cuek dan merasa tidak butuh, padahal hati mereka merasa hampa.


Di Kampus, di Cafe mereka benar - benar seperti orang asing. Mengabaikan satu sama lain, ada apa dengan mereka?


Gengsi?


Tentu!! 🤦‍♀️


...----------------...


Kampus


Jelita berada di Perpustakaan untuk mengisi waktu kosong jam mata kuliahnya dengan membaca buku. Memilih tempat sedikit ujung dekat dengan jendela. Suasana siang itu mendung dengan semilir angin dingin yang menusuk tulang. Dengan jaket tebal celana jeans panjang dan rambutnya yang di ikat tinggi membuatnya terlihat manis.


Di depannya buku yang terbuka, tapi pandangannya jauh ke luar jendela. Jelita melamun, merenung, dan kangen. Ya, dia sedang merasa rindu dengan seseorang yang biasanya mengisi hari sibuknya. Dia sudah terbiasa dengan suasana yang baru bersama orang itu. Siapa lagi kalau bukan si kanebo.


" Kenapa aku rindu kepadanya, sikapnya, kakunya, kejailannya... hahhh, aku masih sebel dengan kejadian itu, kenapa dia juga mendiamkanku?


Aaaaarrrggghhhhh....sial.. sial..."


Tanpa dia sadar dia bertingkah aneh dengan mengetuk ngetukan dahinya ke kaca jendela sebelahnya. Itu tidak luput dari sepasang mata yang sedari tadi mengawasinya, dengan senyum kecil orang itu beranjak dari duduknya dan mendekati Jelita.


" Ehemmmm.... bolehkah saya duduk di sini nona?" tanya seseorang yang sudah berdiri di depan Jelita.


" Iya.. silahkan, ini tempat umum, terserah mau duduk dimana." tanpa menoleh Jelita menimpali.


" Terimakasih, apa anda ada masalah nona? saya lihat sedari tadi anda seperti orang yang banyak pikiran?" tanyanya lagi.


" Iya, aku banyak pikiran, entah sepertinya efek belum gajian."


Orang di depan Jelita terkekeh mendengar jawabannya. Dia yakin bukan itu yang sedang di pikirkan gadis di depannya.


" Boleh saya tebak? pasti anda sedang patah hati atau sedang...."


Seketika Jelita menoleh ke orang yang menurutnya cerewet di hadapannya.


Seketika wajahnya terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak terkejut, orang yang diam-diam dia kagumi dari semua manusia di tempat kuliahnya, berada duduk di hadapannya dengan senyum menawan, tentu kegalauannya berganti dengan sipu malu bak orang mendapat hadiah dari sang kekasih.


" Emmm, maaf pak saya tidak tahu kalau yang sedari tadi mengajak saya berbicara adalah anda." Jelita merasa malu dengan semua jawabannya tadi.


" Tidak apa, saya tidak sengaja tadi melihatmu seperti orang frustasi sampai menjedotkan dahimu sendiri ke jendela. Apa ada masalah dengan belajarmu? atau memang benar kamu sedang patah hati?" orang itu masih saja menggoda Jelita.


Juno Prasaja


Dosen muda lulusan terbaik di Amerika, mengajar ilmu Ekonomi di Kampus dimana Jelita menimba ilmu. Paras tampan, ramah, murah senyum di usia yang masih Dua puluh tujuh tahun dengan tubuh atletis yang selalu memakai kemeja ketatnya dan mencetak lekuk tubuhnya yang seksi. Tak hayal banyak kaum hawa terpesona dengan ketampanannya. Dan yang pasti dia adalah saingan dari si Kanebo tampan di mata para gadis, yang memuja dan mengagumi ketampanan mereka.


" Tidak pak, mana ada saya patah hati, punya pacar saja belum."


" Memangnya kalau patah hati harus nunggu punya pacar ya?"


" Tidak tahu juga si pak, kan saya belum punya pacar. Eh, kenapa ini bahas pacar sih."


" Hahaha, ya tidak apa - apa dong, sesekali Jelita hidup itu banyak warna, kadang bahagia, ya kadang kita di uji dengan berbagai rasa."


" Iya juga si pak, Ngomong - ngomong bapak ngapain di sini?"


" Ya baca dong Jelita, memangnya kamu di perpustakaan buat tempat merenung."


" Ehh iya ya pak buat baca,.. hehehe."


" Kamu tuh lucu ya,..."


Merasa menggangu pengunjung yang lain, mereka memutuskan meneruskan obrolan di Kantin Kampus. Banyak pasang mata yang menatap mereka, banyak bisik - bisik dan tatapan tajam tertuju pada mereka. Banyak pertanyaan tentunya, kenapa Dosen ganteng itu mau makan di kantin apalagi bersama gadis yang akhir - akhir ini menjadi bahan gibah karena dekat dengan idola kampus, dan sekarang sedang dekat dengan Dosen idola juga.


" *Apa cantiknya dia sih."


"Abis di campakin Kevin, sekarang cari mangsa baru."


"Dasar cewek ganjen*."


" Kalau kamu tidak nyaman di sini kita bisa cari tempat lain." Juno melihat Jelita yang sepertinya merasa tidak nyaman dengan umpatan sekitarnya merasa kasihan.


" Sudah biasa pak, tidak apa, anggap saja nyamuk."


"Oh iya, sepertinya saya akan kembali karena setengah jam lagi saya mengisi mata kuliah, kamu tidak apa kan saya tinggal."


" Tidak apa-apa kali pak, saya sudah biasa sendiri. terimakasih sudah sudi menemani saya ngobrol."


"Sama-sama, saya juga berterimakasih kamu mau menemani saya ngopi, ya sudah saya pamit dulu ya, see you..."


" Iya pak, silahkan."


Mereka berpisah dan menyisahkan Jelita yang masih setia duduk di kantin itu. Kembali dia terdiam memikirkan satu hal dengan pandangan mata mengedar mencari seseorang.


"*Sepertinya dia tidak masuk, kemana dia? dari tadi pagipun aku tidak melihatnya di kost. Apa dia pindah ya, kenapa tidak ngasih tahu aku.


Lah siapa aku, ngapain ngasih tahu aku, pacar bukan emaknya juga bukan. Terus dia kemana ya*?" Batin Jelita, terbesit rasa khawatir juga, yang biasanya Kevin menjahilinya, beberapa hari ini seolah mereka seperti orang bermusuhan.


🖤


Di Tempat lain,


"Bro, lu yakin mau buka bengkel sendiri?"


"Iya lex, gue juga butuh pemasukan, duwit gue nipis, butuh makan dan bayar kost."


"Lu tu anak orang kaya man, tapi seolah lu tuh kayak anak tiri yang terbuang, kekayaan bokap lu gak bakal habis sampe tujuh turunan."


"Brisik lu, gue cuma pengen buktiin ke keluarga gue, gue tuh bisa mandiri tanpa mereka, gue punya kemampuan sendiri, gue gak mau di paksa ke hal yang bener-bener bukan kemauan gue."


"Ckk, terserah lu lah bro, tapi saran gue, kalo lu emang dah gak kuat, mending lu terima aja tawaran bokap lu, buat nggantiin beliau mimpin perusahaan."


"Iya, crewet banget lu kayak emak emak komplek."


"Sialan..."


Di sinilah Kevin dengan wajah penuh cemong hitam bekas kotoran mesin, setiap dia sedang jenuh maka dia akan habiskan waktu dengan memodif sebuah motor bekas untuk dia jadikan motor modif yang keren. Semenjak Jelita mendiamkannya, dia merasa hidupnya hampa kembali, tidak ada hari ceria lagi, yang selalu dia ciptakan bersama Jelita.


Dia sibukkan dirinya dengan hobinya sampai terkadang lupa segalanya, dari tidurnya, ponselnya, dan teman - temannya yang mencarinya apalagi keluarga. Masa bodo pikirnya, dengan alat tempur bengkelnya dia merasa bisa terhibur dan menyibukkan diri untuk melupakan masalahnya sejenak.


Saat waktu makan siang tiba, dia duduk menyendiri di bengkel temannya yang biasa dia pinjam untuk menyalurkan bakatnya.


"Lagi apa ya cewek aneh itu, nyari gue gak ya?


hah, apa peduli gue coba, cuma masalah sepele aja dia sampe diemin gue?" Kevin berkecamuk dengen pemikirannya, merasa heran kenapa Jelita sampai mendiamkannya berhari - hari karena sebuah ciuman.


Di tengah lamunannya, sahabatnya Deo datang dengan membawa banyak makanan untuk Kevin.


"Bro, ini gue bawain makanan kesukaan lu, lu belum makan kan?" tanya Deo.


"Belum,...


De, lu tadi masuk kuliah nggak?"


"Brangkat, napa? biasanya lu gak pernah nanyain gue masuk pa nggak?" Deo merasa heran dengan sikap sahabatnya akhir ini yang kelihatan aneh menurutnya.


"Lu lihat Jelita masuk nggak?"


"Hah? sejak kapan lu peduli sama orang?"


"Ckkk, tinggal jawab kampret." Kevin melempar lap kotor ke wajah Deo yang tertawa dengan sikap Kevin yang ternyata hanya ingin tahu Jelita.


"Lu suka sama Jelita bro? sejak kapan? wah, seorang Kevin si tuan kaku dah luluh sama cewek aneh." masih tertawa Deo seketika diam setelah sebuah roti Kevin sumpalkan kedalam mulutnya.


"Rasain!!" umpat Kevin berlalu pergi meninggalkan Deo yang masih tertawa.


"Dasar, kalo suka tinggal bilang, gengsi di gedein, kalo gue kasih tau tadi Jelita lagi sama cowok gimana ya reaksi dia. Kalo dia marah fix dia bener suka sama Jelita." Batin Deo.


...----------------...


🖤